Wanita Presdir

Wanita Presdir
Episode 114


__ADS_3

Fano langsung beranjak mengawasi Alfata. Dia sangat khawatir melihat anaknya itu nanti kembali main game. Sementara Dakota sudah beranjak kedapur menemui ibu Lena.


“Sayang, kau sudah bangun” ucap ibu Lena. Ibu Lena sudah sibuk membersihkan udang bersama pelayan.


“Udah ma” ucap Dakota. Dakota langsung ikut mengambil alih untuk memasak.


“Mama minta maaf sudah membangunkanmu. Sebenarnya Yohana akan datang kemari malam ini. Dia sudah kangen denganmu. Kebetulan dia sedang mengidam masakan ikan asam yang biasa kau masak. Aku meminta pada Fata untuk memanggilmu” ucap ibu Lena.


“Gak apa-apa ma. Aku akan masak ikan asam kesukaannya” ucap Dakota mengambil ikan Mujair yang sudah dibersihkan oleh palayan.


“Tadi saat Haris menjemput kami di Bandara, dia bilang Yohana belum bisa keluar. Apa dia memaksakan diri ingin bertemu denganku. Aku juga sudah rindu padanya” batin Dakota.


Dakota dan ibu Lena melaksanakan tugas mereka di dapur. Walau di bantu oleh pelayan, namun karena ibu Lena sudah terbiasa memakan masakan Dakota. Ibu Lena sangat senang karena bisa mencicipi masakan rumahan setiap hari. Bahkan saat di Jermanpun lebih banyak Dakota yang memasak.


Sementara itu, Fano sudah heran melihat putranya Alfata begitu akrab dengan papanya. Kalau Fano mengingat kembali, belum pernah dia melihat Pak Purnomo dekat dengan anak kecil selain Yohana sewaktu kecil dulu.


“Kakek, tolong ajari aku” ucap Alfata memberikan handphone Pak Purnomo.


“Ini game untuk orang dewasa. Kau belum cukup umur” tolak Pak Purnomo.


“Ayolah kakek” rengek Alfata.


“Besok kakek belikan yang baru” ucap Pak Purnomo.


“Kakek, ayolah ... kenapa kakek sama dengan kakek buyut” ucap Alfata membujuk Pak Purnomo. Fano hanya bisa diam, tidak ikut campur urusan anak dan papanya. Fano kembali memperhatikan istrinya sudah merapikan hidangan di meja makan.


“Dia masih saja sama, padahal begitu banyak pelayan dirumah ini untuk memasak. Memang istriku ini yang terbaik. Bahkan dia sudah dewasa sekarang” gumam Fano memandangi tubuh Dakota. Dakota sudah sadar sedari dia merapikan sajian di meja makan, dia sudah sadar di pandangi oleh suaminya. Saat Dakota mengarahkan pandangan matanya kearah ruang tamu tidak sengaja pandangan matanya bertemu dengan Fano, Fanopun langsung main mata pada Dakota. Hal itu membuat Dakota semakin salah tingkah. Bahkan Dakota langsung berbalik badan.


“Ada apa dengan suamiku ini. Kenapa jantungku rasanya deg-degan ya ... aku bahkan tidak nyaman sudah dipandangi olehnya” gumam Dakota.


“Kenapa dia malu-malu begitu” gumam Fano tetap memandangi istrinya.


Tidak berapa lama, sesuai dengan ucapan ibu Lena tamu yang mereka tunggu sudah tiba. Haris dan Yohana sudah masuk ke Kediaman Reinhard bersama dengan ibu Endangsi.


“Nenek” ucap Alfata menyambut ibu Endangsi.


“Ya ampun, Fata kita baru saja bertemu tadi” ucap ibu Endangsi balas memeluk Alfata. Ibu Endangsi sudah heran melihat cucunya rindu padanya, padahal mereka baru berpisah hari ini.


“Beb” ucap Dakota langsung memeluk sahabatnya Yohana.


“Beb, aku kangen padamu” ucap Yohana melepas pelukan mereka.


“Hai Fata” ucap Yohana mengelus pipi Alfata.


“Bunda, kakak cantik ini siapa?” tanya Alfata memeluk Yohana.


“Reinhard kecil, kau panggil istriku ini tante” ucap Haris.


“Kakak cantik, kau sudah punya suami”


ucap Alfata melepas pelukannya.


“Sudah sayang” ucap Yohana kembali mengelus pipi Alfata.


“Yah, sayang sekali. Kalau saja kau belum menikah, aku mau menunggumu sampai aku besar nanti” ucap Alfata main mata pada Yohana, Alfata langsung kembali beranjak kepelukan Dakota.


Dakota langsung menggelengkan kepala melihat tingkah Alfata. Sudah banyak wanita cantik yang sudah di goda oleh Alfata terutama gadis-gadis bule yang bertamu kerumah Pak Reinhard. Dakota tidak tahu anaknya itu meniru siapa. Bisa jadi Alfata mendapatkan pengetahuan itu dari Pak Reinhard.


“Beb, aku khawatir dengan Fata. Bisa jadi besok dia jadi pria playboy” ucap Yohana menatap Haris.


“Kemungkinan Fata meniru Omnya” ucap Yohana kembali menyindir Haris.


“Walau aku playboy, aku tidak akan menggoda wanita yang lebih tua dariku. Fata tidak meniruku, bisa saja dia meniru ayahnya” ucap Haris menatap pada Fano. Fano langsung menatap sinis pada Haris. Hal itu membuat Haris tersenyum.


“Lebih baik kita segera beranjak ke meja makan” ucap Pak Purnomo mengajak tamu mereka.


Semua orang langsung mengangguk. Makan malampun berjalan dengan baik, Bahkan Yohana sudah menghabiskan semua ikan asam yang sudah dimasak khusus oleh Dakota untuknya. Setelah makan malam, mereka kembali berbincang-bincang. Kaum pria sudah sibuk berbincang dengan sesama kaum pria, begitu juga dengan Dakota. Dakota memilih berbincang dengan sahabatnya yang sudah dia rindukan.

__ADS_1


“Hamilmu sudah berapa bulan beb” tanya Dakota mengelus perut Yohana.


“Sudah jalan 4 bulan beb” ucap Yohana.


“Hem ... kamu tidak perlu banyak gerak dulu beb” ucap Dakota.


“Beb, aku mau tanya padamu, saat kau hamil muda dulu, kau berhubungan tidak dengan suamimu” bisik Yohana pada Dakota. Dakota mulai malu mendengar bisikan dari Yohana.


“Aku tidak berhubungan dengan suamiku beb, Dokter bilang kandunganku masih lemah, tapi saat aku hamil tua, aku beberapa kali berhubungan dengan suamiku. Lebih baik kau konsultasikan saja pada Dokter” bisik Dakota.


“Begitu ya beb, aku kasihan pada suamiku, dia terlihat merana akhir-akhir ini” bisik Yohana. Mereka kembali berbisik-bisik.


Fano sedari tadi berbincang dengan Haris dan Pak Purnomo sesekali melihat istrinya berbisik-bisik malu. Fano sangat penasaran entah apa yang sudah dibisikan oleh istrinya itu pada Yohana.


Waktu terus berjalan hingga larut malam. Karena Yohana sedang hamil, mereka tidak ingin kembali terlalu larut lagi. Setelah melepas rindu dengan Dakota. Mereka langsung pamit pulang.


“Nenek, kau akan ikut dengan Om Haris” ucap Alfata menahan tangan ibu Endangsi.


“Fata, kau sudah punya kakek dan nenek disini” ucap Dakota meraih tubuh Alfata.


“Nenek harus sering berkunjung kemari” ucap Alfata sedih. Ibu Endangsi mengangguk pamit pulang. Fano langsung mengantar ibu mertuanya masuk kedalam mobil. Hingga mobil Haris membawa ibu mertuanya itu menjauh dari kediaman Reinhard.


Fano kembali masuk beranjak kekamarnya. Dia sudah mendapati anaknya Alfata belum juga tidur.


“Fata, kenapa kau belum tidur juga” ucap Dakota mengelus punggung Alfata.


“Aku kangen kakek buyut” ucap Alfata merengek dipelukan Dakota.


“Kamu sudah janji tidak akan menangis lagi” ucap Dakota mengingatkan janji Alfata saat dia ikut pulang ke Jakarta.


“Fata” ucap Fano meraih tubuh Alfata dari istrinya.


“Aku kangen kakek buyut. Dia pasti tidur sendirian” ucap Alfata dipelukan Fano.


“Ini sudah larut malam, kakek buyut juga sudah tidur, besok saja kita hubungi” ucap Fano mengelus punggung anaknya. Lama Fano menenangkan Alfata dipelukannya untuk segera tidur. Namun Alfata belum juga tidur.


“Nak, kau sudah lelah seharian ini bermain belum juga istirahat” ucap Fano mencemaskan Alfata. Fano memegangi kening Alfata.


“Apa dia selama ini tidur dengan kakek” tanya Fano pada istrinya.


“Tidak setiap hari, dalam seminggu ada 3 malam dia memilih tidur disamping kakek” ucap Dakota melepaskan kunciran rambutnya. Dakota langsung masuk ke dalam kamar mandi untuk membasuh wajahnya.


Sambil menggendong Alfata Fano langsung beranjak kekamar mamanya dan mendapati papa dan mamanya sedang mesra-mesraan. Fano lupa kalau orang tuanya itu sudah baikan. Seperti biasanya kalau Fano masuk kekamar mamanya dia langsung masuk saja. Saat dia masuk, Fano sudah sadar masuk diwaktu yang salah. Fano langsung menutup wajah Alfata.


“Maaf, aku akan keluar” ucap Fano.


“Nak, kenapa kalian kemari” ucap ibu Lena menghampiri Fano.


“Fata tidak bisa tidur” ucap Fano.


“Nenek, aku kangen kakek buyut” ucap Alfata pelan. Sebenarnya mata Alfata sudah berat.


“Sini, biar Fata tidur dengan kami” ucap Pak Purnomo meraih tubuh Alfata. Alfata mengikut saja kepelukan Pak Purnomo.


“Sudah, kau keluar saja. Kau bahkan tidak bisa membujuk anakmu” ucap Pak Purnomo mengusir Fano dari kamar itu.


“Perasaan dulu aku tidak diperlakukan dengan lembutlah seperti Fata saat ini” gumam Fano memandangi papanya mengelus punggung Alfata hingga Alfata tertidur dipelukan Pak Purnomo.


“Nak kau juga istirahat saja, biar Fata tidur disini” ucap ibu Lena menyuruh Fano untuk segera keluar dari kamar itu.


“Baiklah” ucap Fano beranjak keluar dari kamar orang tuanya.


“Padahal aku sangat ingin tidur dengan anakku” gumam Fano. Sesampainya Fano di dalam kamar dia sudah mendapati istrinya baru selesai memakai masker.


“Suamiku, Fata dimana?” tanya Dakota melihat Fano masuk sendiri kekamar mereka. Dakota berpikir suaminya itu keluar dari kamar untuk menenangkan anaknya.


“Fata tidur dengan papa” ucap Fano membaringkan tubuhnya ketas kasur.

__ADS_1


“Bukannya kamu ingin tidur bersama dengan anak kita” ucap Dakota membaringkan tubuhnya menghadap pada suaminya.


“Aku juga inginnya begitu. Fata terlihat nyaman bersama papa” ucap Fano menatap wajah Dakota.


“Mungkin karena Fata mirip denganmu, makanya papa mertua sayang dengannya” ucap Dakota mengelus brewok Fano. Dakota mendekatkan kedua tangannya meraba wajah suaminya itu.


“Wajah ini wajah yang aku rindukan” bisik Dakota mendekatkan wajahnya pada wajah Fano hingga hidung mereka bertemu. Fano balas memeluk tubuh Dakota.


“Besok kau akan melakukan konferensi pers, apa kau sudah siap” tanya Fano menatap mata istrinya. Dakota menganguk.


“Ini waktu untuk kita berduaan, kenapa bahas yang lain” rengek Dakota mengelus pipi Fano.


“Oya, kenapa kau minta aku mencukur kumisku ini, aku sudah betah dengan penampilanku ini” ucap Fano menangkap tangan Dakota.


“Aku sudah disini, aku ingin lihat suamiku seperti dulu.”


“Maksudmu aku bukan orang yang sama begitu.”


“Bukan begitu, aku memintamu memanjangkan kumismu supaya wanita lain tidak melirikmu” ucap Dakota jujur.


“Jadi, kau tidak suka aku apa adanya, cepat atau lambat aku akan tua juga, bisa jadi kumisku ini akan panjang kembali” ucap Fano. Tangan Fano mulai membuka kancing baju tidur istrinya.


“Kau itu suamiku, tidak akan ada yang bisa menggantikan posisimu, selamanya kau adalah priaku” ucap Dakota mengecup bibir Fano.


“Sayang, aku sudah menahan sedari tadi, aku ingin” pinta Fano meminta izin pada Dakota. Dakota mengangguk membiarkan Fano melaksanakan aksinya. Fano langsung tersenyum bahagia, dia mendaratkan kecupan pada bibir istrinya.


Malam itu menjadi malam yang panjang bagi kedua insan itu.


BERSAMBUNG...............


Hai Reader Wanita Presdir, penulis mengucapkan terima kasih untuk semua Reader yang sudah setia mendukung Novel ini. Terlebih pada Reader yang sudah ikhlas memberikan Vote pada Wanita Presdir.🙏🌹


Rahmih Rahmih


Ayu dan Restu


Fitri Rahayu


Ellen Wibisono


Riolina Johan


Irma Nurifa


Dhia Uter


Tiya Khoiriyah


Devi Hidayani


Biqy FitriS


Ida Mawarnati


Nurhayati


Astutyalmughni


Ema


Frisca CC


Thika Chanta


Trian


Imayy Hpsr

__ADS_1


Aisyah


See You 🙋🙋🙋


__ADS_2