
Fano masih berdiri mematung di depan pintu kamar istrinya. Dia sangat khawatir dengan keadaan Dakota, apa lagi barusan dia melihat Dakota menangis.
“Kapan semua ini akan berlalu, aku tidak tahan berpisah dengannya, walau itu beda kamar. Aku sangat ingin memeluk tubuhnya saat ini” batin Fano.
Tidak berapa lama, Siti sudah kembali menghampiri Fano sambil membawa handphone milik Fano.
“Presdir” ucap Siti menghadap pada Fano.
“Kenapa?” tanya Fano.
“Handphone Presdir dari tadi berbunyi, saat saya lihat nama kontak yang menghubungi, ternyata tuan besar, sesuai perintah Presdir, saya tidak mengangkatnya, lebih baik Presdir menghubungi tuan besar” ucap Siti menyerahkan handphone itu pada Fano. Walau Siti dan Naon sudah melayani Fano dengan baik, namun untuk urusan pribadi keluarga, seperti mengangkat telvon dari hanphonenya apa lagi yang berhubungan dengan Pak Purnomo, mereka tidak berani mengangkat panggilan, itu memang perintah dari Fano sendiri.
Fano meraih Handphonenya.
“Tolong berjagalah di sisi istriku” perintah Fano.
“Baik Presdir” ucap Siti. Fano langsung beranjak menuju ruang tamu.
Fano sudah duduk di sofa, dia menenangkan dirinya sejenak. Beberapa menit kemudian, Fano kembali mencek hanphonenya, melihat panggilan tak terjawab sudah memenuhi semua panggilan dari Pak Purnomo. Fano kembali memencet panggil atas nama kontak papa.
“Halo” ucap Fano pelan. Fano yakin papanya itu pasti sudah marah padanya.
“Apa kau begitu sibuk, bahkan tidak sempat mengangkat handphonemu” teriak Pak Purnomo dari balik handphone Fano.
“Untuk apa papa menghubungiku, ini sudah larut malam” ucap Fano pada intinya menanyakan tujuan Pak Purnomo menghubunginya.
“Segeralah datang kerumah, aku tunggu” tegas Pak Purnomo langsung mematikan panggilan mereka.
“Apa dia sudah tiba di rumah” batin Fano.
__ADS_1
Mendengar perintah papanya, Fano langsung bergegas masuk kedalam kamar Dakota. Dia sudah menemukan tubuh Dakota tertidur lelap. Fano kembali mendaratkan ciuman pada kening Dakota.
“Siti, tolong berjagalah untuk istriku, aku akan kembali ke rumah. Sampaikan pada Naon, kalau dia sudah selesai mengerjakan tugasnya, langsung saja menghadap ke rumah” ucap Fano keluar dari kamar. Siti mengangguk melaksanakan perintah dari Fano.
# Kediaman Reinhard
Setibanya Fano di Kediaman Reinhard, Fano sudah menemukan sosok Pak Purnomo duduk di ruang tamu di temani ibu Lena, namun wajah ibu Lena terlihat sedih. Pak Purnomo sudah terlihat marah menyambut kedatangan Fano.
“Mama, kenapa mama terlihat sedih, apa papa memukul mama?” tanya Fano menghampiri ibu Lena.
“Mama tidak apa-apa Fano, syukurlah kamu sudah datang, menghadaplah pada papamu, mama ingin istirahat, hari sudah larut” ucap ibu Lena beranjak menuju kamarnya.
“Hal penting apa yang ingin papa sampaikan?” tanya Fano.
“Kau benar-benar payah ya, semenjak kau berumah tangga dengan cucu Admidjaya, satupun perintah yang aku sampaikan padamu tidak bisa kau penuhi” tegas Pak Purnomo.
“Aku sudah banyak masalah akhir-akhir ini, tolong langsung saja pada intinya” ucap Fano.
“Apa? kenapa bisa begitu” ucap Fano heran mendengar Kamila sudah bebas.
“Sepertinya, kau perlu kembali mengasah otak dangkalmu itu. Sudah jelas dia dibantu oleh orang yang peduli padanya, zaman sekarang wanita mengandalkan tubuhnya untuk melakukan apa yang mereka bisa selagi itu untuk keselamatan dirinya. Ada orang berpengaruh yang sudah menyewa pengacara hebat membantu kasusnya. Entah kemana kau selama ini, haih ... aku yakin dia akan kembali lagi jadi bumerang bagimu” ucap Pak Purnomo kecewa pada Fano.
“Sebelum dia jadi bumerang bagiku, aku tidak akan membiarkan hal itu terjadi, untuk Kamila aku sudah punya solusi” ucap Fano.
“Sebenarnya aku tidak ingin mengurusi urusan pribadimu, namun untuk Kamila kau tidak boleh menyepelekan dia. Ada hal lain juga yang harus aku sampaikan padamu. Aku sudah menyelidiki orang yang mengirim email inisial MP padamu juga padaku. Namun aku ragu, inisial MP ini terlihat dua orang yang berbeda. Dari data yang kami dapat, dia berasal dari keluarga Sugiono. Setahuku keluarga Sugiono tidak ada berhubungan dengan kita” ucap Pak Purnomo.
“Maksudmu, Pak Sugiono yang selama ini sudah menyamar memakai inisial MP?” tanya Fano, dia kembali terkejut mendengar ucapan papanya.
“Siapa lagi, sudahku selidiki, ternyata MP itu adalah Mr. Pich. Hanya saja, kedua orang yang memakai samaran ini memiliki tujuan menghancurkan perusahaan juga menghancurkan rumah tanggamu. Kau bisa cek email ini, dia mengirimnya padaku” ucap Pak Purnomo menyerahkan handphonenya. Fano menerima handphone yang diserahkan oleh papanya. Dia langsung membaca pesan email masuk dari anonim untuk Pak Purnomo.
__ADS_1
“Aku baru saja bertemu dengan menantumu, dia terlihat gugup saat melihat wajahku. Haha ... kau memiliki menantu yang cantik, aku akan bermain-main dengannya, jagalah dia selagi bisa kau jaga, aku takut kau tidak bisa menjaganya, mengingat kau tidak menganggap Fano sebagai putramu, aku yakin kau tidak akan peduli padanya” dari MP. Betapa terkejutnya Fano membaca pesan MP tersebut. Dia bahkan tidak menyangka kalau orang yang berinisal MP itu mengirim pesan pada Pak Purnomo untuk urusan pribadinya.
“Sepertinya kau sudah memahami isi dari email itu. Kau sudah bisa bergerak dari sekarang, lakukan penyerangan padanya, untuk mendapatkan bukti yang falid masukkan umpan. Sesuai keinginannya, istrimu yang menjadi umpan” perintah Pak Purnomo memberikan saran.
“Aku sudah katakan padamu, untuk masalah perusahaan aku tidak bisa melibatkan istriku, bisa jadi itu hanya alasan dia saja, selama ini dia musuh lama kita” ucap Fano menolak.
“Apa kau lupa, kenapa dia menargetkan istrimu, itu karena dia berhubungan dengan Pak Admidjaya. Kalau kau bersikeras menolak, maka MP ini tidak akan pernah bisa kau kendalikan, bisa jadi hal ini berhubungan juga dengan keluarga Admidjaya. Aku sudah dengar dari mamamu, Dakota itu cucu kandung dari Pak Admidjaya, dia terlibat dalam insiden pembunuhan Milen” ucap Pak Purnomo.
“Jadi kau barusan memarahi mama karena dia membohongimu selama ini mengenai identitas Dakota. Asal papa tau saja, mama dan aku baru juga mengetahui kalau Dakota itu cucu kandung Pak Admidjaya” ucap Fano.
“Kenapa kau mengalihkan pembicaraan, kau sudah berani melawan pada orang tua. Lakukan saja perintahku, jadikan dia sebagai umpan, kita juga akan mengawasinya, kau tidak perlu terlalu mencemaskan dia, Pak Admidjaya juga ingin kasus pembunuhan Milen segera kelar” tegas Pak Purnomo.
“Saat ini istriku sedang hamil, hal ini tentunya kau tidak peduli” ucap Fano, suara Fano mulai meninggi.
“Apa? kau ... jadi kau sudah menanam benih Reinhard padanya” ucap Pak Purnomo terkejut mendengar menantunya sudah hamil, bahkan ibu Lena tidak memberitahukan kabar kehamilan Dakota padanya. Selama ini Pak Purnomo berpikir Fano menikahi Dakota karena dijodohkan, Fano tidak akan bertahan lama dengan Dakota, namun pandangan Pak Purnomo sudah berubah pada putranya itu.
“Aku mohon padamu dengan segala hormat, tolong terimalah dia sebagai menantumu, dia juga cucu kandung Pak Admidjaya. Jangan paksa aku membuat istri dan anakku sengsara, aku bukan seperti dirimu” ucap Fano meninggalkan Pak Purnomo.
“Ck ... ck ... anak ini berani sekali meninggalkan aku, aku belum selesai berbicara padanya” ucap Pak Purnomo saat Fano sudah menjauh.
“Kalau dia sudah hamil, aku ragu dia dan bayinya akan selamat, apa lagi setiap aku menerima pesan email dari MP, pasti cepat atau lambat dia langsung bereaksi. Apa hubungan Sugiono dengan Dakota. Hah ... Karena dia sudah mengandung cucuku, aku harus melakukan strategi, aku tidak bisa menjamin Fano dapat melindunginya” batin Pak Purnomo.
BERSAMBUNG...............
Hai Reader Wanita Presdir, maaf kalau episode ini pendek, terima kasih sudah mampir ya,🙏
Jangan lupa kasih BINTANG 5, like dan komentar kalian,😊
Sesekali Vote juga😊
__ADS_1
See You 🙋🙋🙋