
# Reinhard Group
Setelah Fano mengetahui ada penyusup mendatangi kantor istrinya. Pikiran Fano sudah tertuju pada istrinya. Disela-sela kesibukan Fano, sambil bekerja Fano memperhatikan foto istrinya.
“Sayang, aku tidak akan pernah membuatmu menderita lagi” batin Fano menatap wajah Dakota dari layar handphonenya.
“Presdir” ucap Naon menghadap pada Fano.
“Hum” singkat Fano menjawab.
“Untuk penyusup yang mendatangi Nyonya Muda saat ini sudah diketahui, dia bukan wanita yang berbahaya, dia memiliki satu anak perempuan masih berumur 3 tahun, nama anaknya Simas. Untuk nama penyusup itu adalah Kela. Wanita itu hanya disuruh mengantarkan serangkai bunga mawar berwarna merah dan diberi uang yang banyak. Karena keadaan ekonomi dari Kela tidak baik, suaminya juga seorang penjudi, dia menerima tawaran itu. Untungnya Kela lumayan cerdik, dia mengenali wajah dari orang yang menyuruhnya, ternyata orang yang menyuruhnya adalah Irma Sugiono” ucap Naon menjelaskan masalah penyusup yang menghampiri Dakota.
“Sudah kau kirim mata-mata kita untuk mengawasi pergerakan dari Irma?” tanya Fano.
“Sudah Presdir, saat ini Irma yang mengambil alih perusahaan kakeknya dibantu oleh seorang pria pebisnis gelap, Presdir juga kenal dengannya namanya Beni” ucap Naon.
“Beni?” ucap Fano tidak percaya.
“Saya baru mendapatkan informasi dari Siti, sesuai dengan ucapan Septa kemarin, Irma, Sena dan Mia, mereka adalah bawahan dari Mr. Pich. Kalau tidak salah Sena merupakan orang yang paling dekat dengan Mr. Pich. Begitu juga dengan Beni, ternyata Beni juga bawahan dari Mr. Pich” ucap Naon.
“Jadi benar perkataan Septa. Lalu ... kenapa ketiga perempuan ini membenci istriku?” tanya Fano penasaran.
“Ceritanya panjang Presdir, kalau tidak salah mereka satu sekolah dengan Nyonya Muda sewaktu di SMA Z yang ada di Kota Malang. Karena kesalah pahaman dari Irma dan kedua temannya beranggapan bahwa Nyonya Muda merebut Janter Sucipto dari Irma. Diketahui Janter adalah tunangan Irma saat itu. Mereka bertiga mensekap Nyonya Muda di dalam toilet wanita yang ada di Sekolah. Saat itu Janter Sucipto yang membawa Nyonya Muda ke Rumah Sakit. Setelah kejadian pensekapan Nyonya Muda, Haris langsung menekan perusahaan milik ayah Irma, serta keluarga Sena dan Mia. Ketiga keluarga itu dalam waktu seminggu langsung bangkrut. Saya rasa setelah mereka bangkrut, saat itulah mereka bergabung dengan Mr. Pich” ucap Naon.
“Saat ini Mia ada dimana?” tanya Fano.
“Kemungkinan besar, saat ini dia masih bersama dengan Mr. Pich” ucap Naon.
“Jika sedari awal mereka sudah membenci istriku, berarti saat pertemuanku dengan Sena di Paris dulu adalah unsur kesengajaan. Namun saat itu Sena belum tahu kalau aku sudah menikah dengan istriku. Kemungkinan Sena mendekatiku karena perintah dari Mr. Pich. Kemarin saja saat aku kepergok makan siang bareng dengan Sena, istriku sudah sangat marah padaku walau bukan aku yang mengajak Sena. Apa lagi saat di Paris waktu itu, aku sengaja membiarkan Sena makan semeja denganku dan istriku langsung keluar. Ternyata aku sudah salah tidak mengenal istriku selama ini” batin Fano.
“Presdir” ucap Naon membuyarkan lamuman Fano.
“Bagaimana dengan Acaara Mancanegara yang sudah di rencanakan oleh Tuan Rapijay?” tanya Fano saat kesadarannya sudah kembali.
“Untuk Acara Mancanegara, rencananya akan dilaksanakan seminggu setelah acara pemeran IndoBuotik. Untuk perencanaan acara Mancanegara kali ini, Haris dan Tuan Rapijay yang bertanggung jawab dan untuk pelaksanaannya diadakan di Hotel Reinhard” ucap Naon.
“Berarti istriku akan menari di acara itu” ucap Fano.
“Belum tahu pastinya gimana Presdir, tergantung dari Nyonya Muda, lebih baik Presdir mendiskusikan hal ini dengan Nyonya Muda” ucap Naon.
“Tidak ada lagi yang mau kau bahas?” tanya Fano.
“Siti sudah mengirim hasil rekaman percakapan Sena dan Beni saat makan siang hari ini di Restoran IndoBoutik” ucap Naon menyerahkan tabletnya pada Fano.
Fanopun meraih tablet Naon dan langsung melihat hasil rekaman CCTV dari Restoran IndoBoutik. Begitu terkejutnya Fano mendengar rencana dari Sena dan Beni.
“Ternyata Beni mendekati istriku karena perintah dari Mr. Pich, tapi aku tidak menyangka kalau Beni juga menyukai istriku. Mari kita mainkan permainan ini sampai Mr. Pich tiba diacara Mancanegara nanti, aku berharap bisa mengakhiri semuanya. Aku ingin lihat seperti apa wajah dari Pamanku itu, sayangnya Yohana saat ini sedang mengandung, hanya sedikit peluang melibatkannya, Haris tidak akan membiarkan istrinya ikut terlibat nanti” batin Fano.
__ADS_1
Fano mengcancel semua undangan yang datang untuk mengundangnya ke acara pertemuan, dia bahkan pulang lebih awal dari Kantor untuk menjemput istrinya. Sebelum menjemput istrinya, Fano singgah sebentar ke Salon langganannya untuk mencukur brewok dan kumisnya sesuai dengan permintaan Dakota.
“Presdir sudah kembali telihat muda lagi” batin Naon memandangi wajah Fano.
“Naon, aku sudah terlihat tampan?" tanya Fano sambil mengelus wajahnya.
“Sudah Presdir” ucap Naon.
“Apa kau tidak berencana untuk merapikan rambutmu?” tanya Fano sambil bercermin.
“Tidak Presdir” ucap Naon.
“Naon ... kemarilah” ucap Fano. Naonpun melangkah dari kursinya menghampiri Fano. Fano langsung menghadapkan tubuh Naon di depan cermin yang ada di Salon.
“Lihat dirimu, sejak aku mengenalmu hingga saat ini, penampilanmu tetap saja sperti ini, gaya rambutmu juga tidak berubah, belah dua ... gaya apaan ini? Ubahlah sedikit penampilanmu, aku tidak mau kau jadi lajang tua, kasihan Siti juga ikut melajang tua. Usiamu saat ini sudah 33 tahun, nanti Siti diembat orang lain” ucap Fano sambil mengacak rambut Naon.
Wajah Naon langsung malu-malu mendengar Fano menjodohkannya dengan Siti.
“Siti sudah dewasa saat ini bahkan usianya sudah 28 tahun, usianya sudah pantas untuk menikah. Kau tidak takut nanti dia mencari pria lain, karena kebodohanmu” ucap Fano sambil menjitak kening Naon.
“Aduh ....” ringis Naon memegangi keningnya.
“Ceko, tolong ubah penampilannya” ucap Fano pada penata rambut pria. Fanopun mendorong tubuh Naon untuk menghadap pada Ceko.
“Maaf Presdir, lebih baik kita segera menjemput Nyonya Muda” ucap Naon menolak untuk diubah penampilannya.
“Tuan Fano tidak usah khawatir, akan saya ubah rambut Naon” ucap Ceko.
# IndoBoutik
“Siti, kenapa mereka lama sekali” gerutu Dakota sembari memperhatikan jam tangannya.
Dakota sudah rindu pada Alfata, apa lagi barusan Alfata menghubunginya dan berpesan pada Dakota untuk segera pulang. Alfata juga sangat rindu dibuatkan ayam geprek buatan Dakota. Handphone Dakota pun bergetar pertanda pesan baru dari whatsappnya. Dakota langsung membuka layar handphonenya dan melihat foto terbaru dari Fano dan Naon yang baru saja dikirim oleh Fano.
{My. Misua: Sayang, Naon tampankan, tolong tanyakan pada Siti, apa dia masih menyukai Naon}. Dakota sudah senyum melihat foto yang baru saja dikirim oleh Fano. Dakota sudah melihat foto Fano dan Naon sedang berada di Salon.
“Dia mengatakan Naon tampan, bilang saja aku juga tampan, apa salahnya menanyakan penampilan pada istri sendiri” ucap Dakota dalam hati. Siti sedang sibuk memainkan handphonenya.
“Siti” ucap Dakota.
“Iya Nyonya” ucap Siti. Siti sudah menoleh pada Dakota.
“Kau tidak berencana untuk menikah, usiamu sudah 28 tahun” ucap Dakota langsung melaksanakan perintah dari suaminya. Siti sudah diam mendengar ucapan Dakota.
“Apa tidak ada pria yang kau sukai?” tanya Dakota kembali.
“Tidak Nyonya” ucap Siti menunduk.
__ADS_1
“Bagaimana dengan Manajer Naon?” tanya Dakota.
“Nyonya, kami hanya rekan kerja” ucap Siti. Wajah Siti sudah malu-malu mendengar nama Naon disebutkan.
“Manajer Naon juga tampan, hati-hati loh ... nanti kalau kau terus menganggapnya sebagai rekan kerja saja, bisa jadi dia diembat orang lain” ucap Dakota memancing emosi Siti.
“Nyonya kenapa bahas masalah pribadi saya” ucap Siti.
“Sudah bisa ditebak, ternyata Siti menyukai Naon” batin Dakota.
Tidak lama kemudian, Fano dan Naon sudah tiba di IndoBoutik. Begitu terpukaunya Dakota melihat penampilan terbaru dari suaminya.
“Wow ... dia semakin tampan saja, sangat berbeda dari foto yang dikirim tadi, aslinya lebih tampan, apa ini suamiku?” batin Dakota.
“Serius ini Manajer Naon, biasanya dia terlihat bodoh” batin Siti memandangi penampilan Naon. Naon sudah salah tingkah dipandangi oleh Siti.
“Ayolah puji penampilanku, aku yakin saat ini aku sangat tampan” ucap Fano dalam hati memuji dirinya sendiri.
“Kenpa kalian begong, kita harus pulang” ucap Fano membuyarkan lamunan istrinya. Dakota mengangguk sambil memperhatikan wajah suaminya.
“Manajer Naon, kau sangat tampan” ucap Dakota memuji Naon. Dakota langsung menyenggol lengan Siti.
“Nyonya Muda bisa saja” ucap Naon mengelus kepalanya. Rambut Naon sudah telihat lebih pendek dari biasanya.
“Bagaimana denganku?” tanya Fano pada Dakota.
“Tentu saja, kau juga tampan” ucap Dakota langsung meraih tubuh suaminya. Fano balas langsung memeluk tubuh Dakota. Melihat Fano dan Dakota sudah berpelukan, Naon dan Siti langsung kompak menutup mata mereka. Mereka yakin akan ada adegan yang tidak pantas untuk mereka lihat.
“Ada apa dengan kalian?” ucap Fano melepas pelukannya dari Dakota. Fano dan Dakota sudah senyum-senyum melihat kepolosan Naon dan Siti.
“Presdir, kalau bermesraan tunggu saja sampai di rumah, tidak baik ditempat umum” ucap Naon.
“Bodoh, siapa yang bermesraan” ucap Fano mendorong tubuh Naon untuk dekat dengan Siti. Dakota ikut ambil andil, karena mereka masih menutup mata, Dakota juga mendorong tubuh Siti.
“Kalian serasi juga” ucap Fano.
“Presdir ....” teriak Naon saat tubuhnya sudah memeluk tubuh Siti. Siti langsung melepas tubuhnya dari Naon.
“Kau ... beraninya memelukku” ucap Siti memukul lengan Naon.
“Siapa juga yang memelukmu, dasar wanita bar-bar” ucap Naon sambil memegangi lengannya sudah terasa sakit.
Fano dan Dakota kembali tersenyum melihat tingkah Naon dan Siti.
BERSAMBUNG...........
Hai Reader Wanita Presdir, terima kasih sudah mampir. Jangan lupa like dan komentar ya, di Vote juga boleh🙏
__ADS_1
See You🙋🙋🙋