
Ara mondar-mandir di dalam ruangan yang kata dayang Han menjadi tempatnya sering menyendiri.
Di tatapnya sekeliling ruangan yang didominasi warna putih, ukiran lukisan bunga memenuhi beberapa sudut. Luas, dan tak begitu banyak pernak-pernik di dalamnya.
Dayang Han meneliti gerak tubuh majikannya, tentu ia sangat penasaran, Kenapa putri Hwa begitu sibuk sekali, memeriksa ruangannya sendiri.
Apa yang dicari si putri?
Kini, ia beralih menatap dayang Han. Jelas sekali isyarat gadis itu, tapi tak tertangkap dalam otak dayangnya.
Huft.
Ia mengusir. Tapi si dayang tak paham.
"Hei, Han-ah." Panggil Ara tanpa menyertakan kata dayang pada gadis berbaju hijau itu.
"Hah, Puteri memanggil saya, apa??" Dayang Han jelas merasa aneh, puteri Hwa memanggilnya dengan panggilan akrab, bukan formal.
"Kenapa? kau tak suka ku panggil begitu?" Tanya Ara dengan wajah menyelidik.
Dayang Han tergagap, bingung. Jelas ia suka, tapi, ia tak pantas dengan panggilan itu.
Seolah menyadari, Ara mendekat.
"Selama kita berdua, aku akan memanggilmu demikian, Han-ah" Ara menepuk pelan pundak dayang Han, membuat si empunya menoleh, menatap balik dengan pandangan teduh.
Menunduk kembali.
"Ma-maf tu-tuan puteri, hamba tak pantas anda panggil begitu." Ujar dayang Han.
"Kenapa? Kau milikku kan? Jadi aku berhak bukan?" Tanya Ara, ribet sekali sih pikirnya barang panggilan doang.
Dayang Han mengangguk.
"Nah, kau panggil aku, Ara" Lanjut Ara meminta.
Dan, kali ini dayang Han mendelik tak percaya akan permintaan tersebut.
Ia menggeleng keras, "Tidak tu-tuan puteri, ba-bagaimana bi..." Belum selesai dayang Han berucap, Ara menyambarnya cepat.
"Kenapa? itu nama puteri Ara? adik Raja, begitu?" Ara menangkap hal yang sama ketika ia meminta demikian pada putera mahkota yang ia belum tau namanya siapa. Lupa mulu mau tanya.
Dayang Han mengangguk kembali.
"Sudahlah, kalau kau menolak, kau ganti majikan sajalah. Capek gue" Rutuk Ara
"Lagian, kan cuma kalau berdua saja. Bukan setiap saat." Lanjutnya mengeluh, membuang tatapannya pada pot bunga besar di sudut ruangan itu.
Dayang Han meringis bersalah, satu sisi ia juga bingung, galau berat, mana mungkin ia berpindah majikan. Ia sudah merasa dihargai begitu manusiawi saat menjadi dayang puteri Hwa ini.
__ADS_1
"Ba-baiklah, A-Ara." Cicit dayang Han kemudian, membuat Ara berbalik lalu menghambur dalam tubuh dayang Han. Memeluknya bahagia.
"Thanks Han-ah." Ucap Ara menepuk pelan punggung Han, mungkin sekarang Han sajà ya panggilnya.
Han mengerenyit bingung, "Thanks?" Cicitnya lagi.
Kata apa pula itu. Keluar lagi dari bibir Puteri Hwa.
"Heheh, sorry. Upsss!! gue kelepasan mulu sih." Ucap Ara menambah kebingungan pada gadis berbaju hijau itu.
Karena, makin banyak kata aneh yang keluar dari bibir majikannya kali ini.
So what, apa pula itu.
"Anda..." Belum selesai Han bertanya, Ara memotong kembali.
"Sstt. Sudah, jangan dengarkan apa yang aku katakan tadi, capek gue. Upss,! kan kelepasan lagi" Ara terkekeh mendapati ia kembali mengucapkan bahasa gaulnya.
"Kalau 'Gue', saya tahu artinya puteri, itu, saya bukan?" Han bertanya dengan wajah lugunya.
Ara tersenyum, memberikan jempolnya pertanda benar akan jawaban gadis itu.
Han terkekeh malu dengan pujian majikannya.
"Jadi sekarang, Han-ah" Panggil Ara pelan.
Ara menatap Han lekat, berwajah serius namun tersirat kejahilan di sana...
"Keluarlah, pergilah. Aku mau sendiri sekarang." Titah Ara pada akhirnya, sebenarnya itu adalah isyarat awalnya tadi. Tapi tiba-tiba mengalir begitu saja percakapan antara dirinya dan dayang istana bernama Han.
Han mengangguk, tak tersinggung dengan pengusiran gadis berhanbok mewah itu. Jelaslah, itukan majikannya, puteri sang Raja negeri ini sekaligus adik kandung satu-satunya putera mahkota pewaris raja.
Sepeninggal Han.
Ara yang menyadari satu hal ketika ia sibuk memeriksa ruangan ini.
Segera mendekat dan menyusuri sudut yang membuatnya penasaran karena ada kejanggalan di sana.
Dan
Benar saja
Ia melihat dinding itu agak sedikit merenggang. Dirabanya, dan, ia merasakan ada hembusan angin dari dinding itu.
Ok, sekarang coba menempelkan daun telinganya. Desir suara angin. Ini pasti??
Pintukah?
Ia menekan dinding itu, lalu, mendengar suara derit kecil.
__ADS_1
Betul, perfecto. Ara gadis cerdas, kali ini.
Ini benar pintu.
Setelah ia menekab tadi, dinding itu bergeser. Jujur, ia tengah merasakan denyut jantung berfitnes ria di dalam tubuhnya. Desiran darahnya antusias sekali untuk... Berpetualang. Bolehkah ia masuk ke sana? Menyusuri rasa penasaran akan kemana tujuan pintu ini.
"Siapa tau ini pintu menuju ruang harta karun ruangan ini, kan biasanya gitu.?" Ia bermonolog sendiri dengan tangàn sudah menopang sisi pintu. Matanya nyalang menatap kegelapan di dalamnya.
Begitu kakinya hendak melangkah...
"Tapi, kalau isinya mayat gimana? Kan istana gak ada yang tau bukan? siapa tau ada pembunuhan dan disimpen di dalam sini?? Ihhhh" Ara bergidik ngeri ketika merasa sisi dalam dirinya berlawanan menolak untuk masuk sehingga memunculkan asumsi tak masuk akal itu.
Setelah beberapa lama berpikir, beradu argumentasi dengan diri sendiri. Ia putuskan untuk....
Ceklek.
Menutup pintu rahasia itu. Di salah satu sudut dengan lukisan seorang wanita cantik terpampang di sana.
"Ntaran ajalah, jangan sekarang. Apalagi ada si Han di luar, ntar kalo gue lama ngilang, dan tersesat di dalem sana. Terus ada hantu atau psikopat sembunyi di situ...." Belum selesai dengann kalimatnya, Ara kembali bergidik takut. Merinding, merasakan bulu romanya meremang sempurna.
"Han-ah!!!" Ara berteriak dari dalam memanggil dayangnya yang senantiasi berdìri di teras.
Pintu geser berbunyi, menampakan gadis bernama Han tadi.
"Iya, puteri?" Han masuk dengan wajah penuh tanya setelah mendapati nada suara majikannya seakan berteriak.
"Ayo, kita balik guys," Celetuk Ara lagi.
"Puteri?" Han tentu bingung lagi, nie puteri lupa mulu apa dengan ucapan aneh yang keluar dari bibir tipis merah mudanya itu.
Ara menoleh, "Maksudnya, ayo kembali ke bangunan saya" Ujar Ara menjelaskan maksudnya. Membuat Han mengangguk paham.
Ara segera keluar dari bangunan yang di sini ia menemukan satu rahasia berupa pintu yang entah kemana tujuannya.
Ketika hendak keluar dari gerbang tersembunyi dari bangunan itu. Karena sekeliling bangunan itu dilingkupi daun merambat dan ada bunga di tiap sela daunnya.
Ara dikejutkan oleh...
Ya elah, nie orang.
"Apa yang anda lakukan di sini, Puteri Hwa??" Sapa si penanya yang enggan sekali Ara bertemu di sudut istana manapun.
"Hang-out dan Healing, bibi Ara" Jawab Ara lugas
"Hang, Hang apa kata mu tadi, Puteri Hwa? Lalu, saya adalah puteri Ara, jangan panggil bibi" Ucap sosok seusia ibunya yang wajahnya judus sekali menatap Ara.
"Heumm." Ara mendekat sembari bergumam pelan. Lalu menempelkan bibirnya ke sisi telinga si puteri Ara aliasi bibi puteri Ara. Sebal sekali sih nyebut namanya samaan gitu.
"Rahasia." Lanjut Ara membuat puteri Ara mendelik kaget dengan jawaban puteri Hwa yang.... konyop sekali sikapnya.
__ADS_1