
Dentuman suara keras di tengah keheningan malam sontak membuat siapapun yang memiliki telinga dibuat terkejut.
Semua mulai mencari arah suara yang menghentak itu secara acak. Hingga yang mengetahui letak suara mulai berteriak.
"Bangunan puteri bangunan puteri Hwa!!!!!!" beberapa suara memanggil semua penghuni istana ke tempat terjadinya perkara.
"Kebakaran!!! Kebakaran!!! Kebakaran!!" pekikan itu semakin bertambah banyak, diiringi derap langkah yang juga sibuk silih berganti.
"Selamatkan Yang Mulia!!!!" lagi. Mereka berteriak keras.
Sementara di tempat lain.....
"Yang Mu-mulia." lirih suara dayang Han, yang kini sudah duduk setelah tadi ia jatuh tertelungkup karena tidak siap saat tubuhnya ditarik kasar ke luar jendela.
"Huftttt, nyaris saja aku ketempelan malaikat maut." Yang dipanggil mendenguskan nafasnya kasar. Terlihat raut wajah cantik itu menampilkan ekspresi kesal.
Tubuh mereka kotor oleh tanah, mungkin lebih tepatnya tanah yang berubah menjadi lumpur karena tadi sempat turun hujan.
"Apa kau baik-baik saja, Han-ah? Maaf aku tadi menarikmu begitu saja." Ara mencengirkan wajah itu. konyol dan tengil.
Dayang Han terbelalak mendengar kalimat tidak masuk akal itu. "Tidak Yang Mulia. Anda tidak salah sama sekali." dayang Han langsung bersimpuh karena merasa ucapan tadi sungguh tak layak ia dapatkan.
Bagaimana pun salahnya majikan, seorang pelayan tidak berhak mendapatkan ucapan permintaan maaf.
"Eihh kau ini, ingat aku bukan puteri Hwa. Aku Ara bukan seorang puteri atau bangsawan. Jadi bersikap lah biasa saja, Han-ah." ujar Ara menolak perlakuan berlebihan dari dayang Han. Padahal sudah berulang kali dirinya menyadarkan jika ia adalah orang lain.
"Sa-saya...."
"Yang Mulia!!!!" satu suara merangsek dan memutus ucapan dayang Han.
Pria yang Ara tebak adalah pengawal, bergegas menghampiri mereka berdua, dan tak lama muncul juga sosok yang berjalan cepat dengan raut wajah luar biasa cemas.
"Hwa-ya." ya, putera mahkota, ia menerobos pengawal yang mendekati puteri Hwa dan dayang Han.
Bruk!!!
Tubuh kekar itu. Ara merasakan jika tubuh itu sungguh peluk-able sekali, keras dan kokoh serta hangat kini melingkupi tubuh yang ia rasuki.
Membuatnya tertegun akan sikap itu.
"Aku pikir, aku pikir kali ini aku akan kehilanganmu puteri Hwa." pelan, sangat pelan. Nyaris berbisik, putera mahkota mengucapkan kalimat yang bisa ditebak Ara sebagai bentuk ketakutan.
Ia masih bungkam.
'Apakah pria ini tahu jika puteri Hwa bukan adiknya? Gue yakin kalo sikap doi lebih mirip dari seorang pria kepada wanitanya.'Ara membatin dengan dugaan ala-alanya.
Hening. Meskipun tak lama. Karena kini Ara merasakan kedua telapak tangan milik putera mahkota sudah berada di sisi bahu puteri Hwa, lengkap dengan wajah cemasnya, terlihat dari sorot mata tajam pria itu.
"Apa kau baik-baik saja, puteri Hwa?" tanyanya cemas.
__ADS_1
Ara sungguh dibuat hangat, perhatian itu terasa hingga ke relung jiwanya, meski berulang kali ia mendapat perlakuan seperti itu di dunianya, tapi sikap pria di hadapannya ini mampu mengobrak-abrik perasaannya.
"Hwa-ya?" panggilnya, menyentak lamunan Ara
"Iya, tentu, tentu saja, tentu aku baik-baik saja, Yang Mulia." Ara refleks berdiri, dengan tengilnya ia menjawab penuh semangat.
Diikuti dayang Han yang juga berdiri di sisi majikannya.
Membuat sudut bibir putera mahkota tertarik ke atas, bersyukur untuk keadaan puteri Hwa.
Flashback on.....
Saat dirinya disibukkan dengan buku di tangannya. Kegiatan di saat ia malas melakukan apapun, ia akan mengurung dirinya di dalam perpustakaan.
Saat itu, ia mendengar keributan di luar.
"Yang Mulia." pengawal pribadinya yang bergegas mengecek hal itu kini kembali dengan wajah cemas.
"Ada apa?" ia menangkap raut tak biasa dan siap menduga,,...
"Kediaman puteri Hwa. Yang mulia." seolah paham maksud pengawalnya, putera mahkota menaruh buku bacaannya begitu saja di atas meja, menarik tubuhnya lalu melangkah dengan cepat menuju tempat yang membuat degub jantungnya berasa akan keluar saat itu juga.
Dan sepanjang langkahnya bergerak, matanya menangkap keriuhan yang kini memenuhi setiap sudut istana yang gelap.
Tak mau kalah, ia menerobos kerumunan itu, berharap kaki panjangnya ini segera sampai ke kediaman perempuan yang membuatnya kelimpungan.
Hingga tatapannya membelalak sempurna, manakala netra tajam gelap itu di suguhi dengan pemandangan mengerikan....
Bangunan tempat puteri Hwa tinggal, dalam keadaan terbakar sempurna.
Jantungnya seakan berhenti berdetak di saat pendengarannya menangkap sayup-sayup suara yang menyebutkan jika puteri Hwa ada di dalam sana, karena salah satu penjaganya mengkonfirmasi kebenaran tersebut.
Jilatan api seolah diberikan santapan lezat hingga bersemangat memakan apapun dari bagian bangunan itu.
"Cepat matikan api!!!!" teriaknya tak sabar, sampai ia mengambil paksa salah satu ember kayu yang di bawa salah satu pengawal dan menyiramkannya ke bangunan terbakar itu.
Byurrrrr
Siramnya, berharap api itu mati segera.
Namun, di saat itu hendak meraih ember lagi, pendengarannya menangkap suara menghebohkan lainnya, dari arah belakang bangunan itu.
"Puteri Hwa di sini!!!!" pekik suara itu.
Dan sontak membuat pria yang tengah diliputi kekhawatiran segera beralih menghampiri suara itu.
Benar saja, nafas yang tadi terasa sesak, jantung yang tadi tak tentu degubannya, perlahan kembali pulih, ketika ia menemukan sosok itu kini terduduk dengan tubuh yang diliputi tanah.
Langkahnya tak bisa dikendalikan, berjalan mengikuti nalurinya, menerobos tubuh siapa saja yang menghalanginya....
__ADS_1
"Terima kasih Hwa-ya. Terima kasih kau tetap hidup."
Ia sangat bersyukur... Karena para dewa kembali memberikannya harapan.
.
.
.
.
Dan di sinilah gadis yang tadi melompat tanpa mengindahkan medan tempat mendaratnya. Mengabaikan bahayakah? Bersihkah? amankah?
Ia hanya mengutamakan untuk keluar saja dari situasi yang jelas-jelas mengancam jiwanya.
Ia masih mau hidup, masih perawan punya, enggan menjadi roh gentayangan karena belum menyempurnakan kenikmatan hidupnya.
"Dayang Han, kenapa kita di sini? Kenapa tidak di villa milikku saja?" celoteh Ara melirik sekeliling bangunan ini, bangunan yang asing baginya karena belum pernah kemari.
"Putera mahkota yang meminta kemari, Yang Mulia." jawab dayang Han yang duduk di seberang majikannya.
Mereka sudah berganti pakaian, setelah sebelumnya membersihkan tubuh dari lumpur yang lengket.
"Ini tempat siapa?" tanya Ara, ia menilai jika tempat ini dipenuhi sisi feminim, dengan beberapa lukisan bunga, dan beberapa hal yang menunjukkan jika ini milik kediaman wanita.
"Tempat puteri mahkota tinggal. Yang mulia." ujar dayang Han.
Ara tertegun!
Bangunan puteri mahkota?
Lalu kenapa dia di sini? Bukankah istana banyak tempat yang bisa di singgahi, dan dari semuanya kenapa ia di taruh di sini?
Bukankah istana punya banyak aturan ketat? Dan apapun alasannya, ia tak berhak berada di sini.
Srettt!!!!
"Puteri!!!" permaisuri, masuk dengan wajah cemas, di belakangnya ada wanita paruh baya yang merupakan musuh Ara. Ratu.
"Apa kau merasakan tidak nyaman di tubuhmu, huh??" permaisuri meraih tubuh puteri Hwa dan menyetuh tangan gadis itu yang berada di atas kasus hangat.
Hangat, perhatian nenek puteri Hwa ini.
Ara baper kan.
"Syukurlah kau baik-baik saja. Kau nyaris membuat nenekmu ini mati." ucap permaisuri tulus. Memeluk tubuh puteri Hwa penuh cinta.
"Terima kasih nenek. Terima kasih berharap aku tetap hidup." jawab Ara, terisak kemudian.
__ADS_1