
Menghitung mundur, baik Ara maupun puteri Hwa, sama-sama diliputi kecemasan luar biasa.
Mereka memiliki ketakutan yang sama.
Tujuan mereka bertukar tubuh dirasa sangat konyol, tidak saling kenal, tapi diharuskan mengemban tugas yang bukan urusan satu sama lain.
Mana beda zaman pula.
Di tambah sungguh konyol rasanya.
"Kau kenapa prul?" sapaan Hana yang sering menjadi asupan panggilan kepada dirinya tak lagi dipedulikan. Puteri Hwa pun tak pernah bertanya arti panggilan itu.
Pun jika dipanggil Ara pun, ia masa bodo', orang-orang membuatnya jengah, sudah jelas ia berulang kali mengatakan jika ia puteri Hwa bukan Ara, tapi masih konsisten dengan Ara
"Aku merasakan pusing." jawab puteri Hwa
Ia sedari kemarin siang mendadak terserang rasa sakit kepala luar biasa. Bahkan tubuh ini bergetar tanpa tahu apa alasannya.
"Nanti kita ke dokter aja kalo begitu." seru Hana.
Pun dengan kòsakata Hana yang kerap didengar puteri Hwa perlahan sudah ia pahami. Ya salah satunya bahasa gaul anak muda itu.
"Iya." sahut puteri Hwa menganggukkan kepala
Siang harinya.....
Kini puteri Hwa sudah duduk manis di sofa dalam apartemen miliknya setelah selesai pulang dari periksa ke dokter. Menurut dokter, dirinya hanya stress dan kelelahan saja.
Padahal, serangan sakit itu di luar prediksi itu
Kelelahan?
Stress?
Gak ada sama sekali. Kadang ia sedang makan, menonton tv, tiduran, mandi, bahkan diam pun rasa sakit itu muncul seketika.
"Ada apa dengan diri ini ya? Apakah Ara mempunyai penyakit parah?" duganya.
Ting tong.
Ting tong
Suara bel pintu berdering, menyadarkan puteri Hwa dari lamunannya.
Langkahnya segera menuju arah pintu depan.
Mengklik layar di sisi pintu itu.
Tenang, ia sudah mendapat privat ekspress dari Hana dalam menggunakan berbagai benda di dalam ruangan ini, termasuk cara membuka pintu.
Munculah sosok di layar itu.
"Siapa?" tanyanya bermonolog sendiri.
Ia tak mengenali tamu yang ada di balik pintu itu.
Seorang pria.
Namun tanpa ragu, ia membuka pintu itu.
__ADS_1
Klik.
"Kau siapa?" tanyanya menyembulkan kepala, pintu ia buka namun tertahan oleh rantai kunci terlebih dahulu, agar ia tetap aman.
"Saya suruhan tuan Kim, nona." jawab pria itu memperkenalkan dirinya
"Tuan Kim" tanyanya berulang.
Ah mungkin pria yang mirip orabeoninya, sudah lama sekali ia tak berjumpa pria itu.
"Iya nona. Tuan Kim meminta anda bertemu dengannya." lagi, ucap pria itu.
Puteri Hwa mengerutkan dahinya. Kenapa dengan pria itu. Dan apa alasannya menyetujui permintaan pria yang tak dikenalnya ini.
"Tuan Kim mengalami kecelakaan beberapa hari yang lalu, sehingga ia tidak bisa menemui anda."Jelas pria itu menyadari guratan bingung di wajah gadis ini.
"Hah!!!! Kecelakaan?!!!" puteri Hwa membelalakan mata mendengar kata itu, ia sudah tahu arti kecelakaan, artinya orang itu mengalami luka karena kejadian tertentu.
"Iya nona. Maka dari itu, tuan Kim ingin bertemu anda." ucap pria itu lagi.
Krekk.
Tanpa pikir panjang, puteri Hwa membuka rantai pintu dan melebarkan pintu tadi.
"Ayo aku mau melihatnya."
Mengiringi langkah pria berbaju hitam jas lengkap itu, kini,,, puteri Hwa sudah hilang di balik pintu lift.
.
.
.
.
Ia menatap kagum pada bangunan ini. Indah, penilaiannya. Karena di beberapa sudut halaman tercetak taman bunga yang bermekaran.
"Mari nona." pria tadi sudah berdiri di sisi pintu penumpang yang sudah terbuka.
Puteri Hwa diam sejenak. Menarik nafas, lalu menurunkan kaki jenjang milik Ara.
Menapaki jalan yang juga tak kalah mengagumkan. Ini bukan batu, tapi bukan pula tanah, apalagi rumput. Tak ada gelombang, atau kotor sekalipun. Ia tak bisa menjelaskannya.
Pintu besar dengan patung garuda di sisinya terbuka.
"Mari nona. Tuan Kim ada di dalam." pria itu merentangkan tangan kanannya mengajak puteri Hwa memasuki bangunan ini.
"Wah. apakah ini rumah?" decaknya mengagumi.
"Ini lebih dari istana." lagi
"Apakah tuan Kim juga keturunan bangsawan?" cetusnya pelan sembari melirik ke sekeliling ruangan besar ini.
Sepi.
Tak ada siapapun di sana. bangunan megah ini hanya ramai oleh benda-benda menakjubkan saja.
Hingga tibalah ia di depan pintu berwarna coklat setelah sebelumnya melewati sebuah lift terlebih dulu.
__ADS_1
"Kita mau kemana?" tanya puteri Hwa, karena sedari tadi masih belum sampai-sampai.
"Tuan Kim ada di dalam."
Grekkkkk
Pintu gagah itu terbuka.
Menampakkan suasana maskulin saat netra pertama melihatnya.
Puteri Hwa melangkah memasuki ruangan yang aroma pria begitu menyeruak dominan.
Namun matanya mendadak membulat ketika kini menangkap bayang tak biasa. Tubuhnya berbalik ke arah pintu tadi. Namun sudah tertutup sempurna.
Ia bergerak meraih handel pintu namun, suara yang tak asing di telinga ini menahan langkahnya.
"Datang juga akhirnya kau jal**ng." Cindy, menyapa puteri Hwa dengan kata yang begitu tajam serta sinis.
Puteri Hwa sontak memutar tubuh kearah sumber suara.
Benar saja. Gadis yang menyerangnya tanpa alasan waktu itu. Di apartemen Ara.
"Kau, kenapa di sini?" tanya puteri Hwa bingung. Belum habis rasa bingungnya mendapati sosok yang sudah pasti bukan tubuh Kim, kini, ia di sambut oleh Cindy dengan aura permusuhan begitu kentara.
"Kenapa memangnya?!! Ini rumahku. jelas aku ada di sini." jawabnya angkuh. Ia melangkah menjangkau tubuh Ara lalu dengan kasarnya menarik lengan gadis itu.
"Lepas!!!" puteri Hwa memberontak.
"Diam!!!" pekiknya.
Hingga, kedua gadis itu sudah berdiri tepat di sisi brangkar yang menyimpan tubuh pria yang terbujur kaku lengkap dengan banyak benda melekat di tubuhnya.
"Siapa di-dia.??!" puteri Hwa tertegun.
"Cih. Kau berpura-pura lupa." Cindy mendecih mendapati respon Ara pada kakaknya, Lee Frangkie.
"Aku benar-benar tidak mengenal pria ini." puteri jelas kekeuh tak mengenal, karena memang tidak tahu.
"Lihat!! Lihat benar!!!" Cindy meraih tengkuk belakang Ara dan menekannya menunduk agar lebih dekat pada wajah kakaknya.
"Dia, dia pria yang kau buat sekarat dan tak bangun-bangun sampai sekarang!!!" ucapnya setengah berteriak.
Bahkan puteri Hwa merasakan jika tangan Cindy bergetar, seolah menahan marah yang masih tersisa.
"A-apa??!!!" puteri Hwa membulatkan matanya.
Tidak.... Tidak... Bukan dia. Bukan dia pelakunya.
Dia tak mengenali pria ini.
Dia tak menyakiti pria ini
"Arghhhhh, kepalaku sakit!!!" puteri Hwa meringis. Menegakkan leher yang masih ditahan Cindy secara paksa.
"Lepas!! Aku tidak mengenali kalian!!!." balas puteri Hwa yang sudah berhasil menegakan kepalanya.
"Ohhh kau sepertinya perlu diingatkan dengan kejadian waktu itu." Cindy menekan tombol berwarna kuning di atas nakas samping brangkar.
Memunculkan pria yang membuka pintu tadi.
__ADS_1
Ada 4 orang, dua diantaranya yang pernah bertarung dengannya saat itu.
"Mau apa kau??!!!" puteri Hwa merasakan sesuatu yang mengancam dirinya.