100 Hari Menjadi Puteri Joseon

100 Hari Menjadi Puteri Joseon
Lagi Butuh


__ADS_3

"Yang mulia...."


Yang dipanggil masih sibuk menopang sisi kepalanya dengan salah satu tangannya yang ditekuk serupa sudut siku.


"Yang mulia, puteri Ara..." dayang Im memelankan suaranya, dengan nada yang mirip memelas.


Berharap majikannya membalas tatapan serta panggilannya.


Dayang yang sudah sepuh itu menyadàri jika kini majikannya memikirkan hal yang sayangnya itu jangan dipikirkan.


Ya...


Setelah berbisik di telinga dayang An, puteri Ara tak henti berdecak senang. Gestur tubuhnya pun menguarkan ekspresi antusias itu.


Seolah, sedikit gerak tubuh kaget yang diperlihatkan dayang An, adalah jawaban sempurna yang diinginkan oleh puteri Ara.


"Heh, sudah ku duga." dengus puteri Ara menggumam, menimbulkan kerenyitan di dahi dayang Im yang tidak menangkap dengan jelas gerak bibir tuannya itu.


"Puteri.!" suara dayang Im mulai sedikit naik, barangkali saja puteri Ara tidak mendengar panggilannya dari tadi.


"Aihhh, aku dengar dayang Im. Kau ini, mengganggu saja." tegur puteri Ara, sebal dengan pelayannya, maka dari itu ia enggan menanggapi panggilan sedari tadi.


Salah sendiri, tuannya siapa, tapi yang membuat bungkam malah orang lain.


Terlebih....


"Yang mulia. Apakah kesalahan hamba kali ini?" tanya dayang Im, meski tahu betul kesalahannya, tapi ia tidak mau meyakini hal itu.


Eihh sok pura-pura belagak pilon nie dayang🤣.


Puteri Ara terpancing akan pertanyaan yang dianggapnya tentu sangat konyol dan menggelikan itu.


Ia jelas merasa dianggap seperti anak-anak di sini.


Mencondongkan tubuhnya lebih menempel pada meja kecil yang menjadi pembatas dirinya dengan dayang Im. Puteri Ara menunjukkan keseriusannya di hadapan dayang yang berpura-pura tidak mengetahui kesalahannya itu.


Menaikkan dua lengannya lalu mengaitkannya agar menjadi penopang dagu lancipnya.


"Kau, sungguh tidak bisa aku kenali dengan baik, dayang Im." puteri Ara menegaskan tiap suku katanya. Membuktikan keseriusannya.


"ma-maksud yang mu-mulia?" jelas dayang Im membantah tuduhan itu, walau sikap gugupnya pun menjelaskan bahwa ia tertangkap basah akan sikap bodohnya.


"Aku pikir, sebaiknya kau pulang saja ke kampung halamanmu dayang Im." tanpa pikir panjang, tanpa banyak jeda, puteri Ara memberi keputusan yang mampu membuat mata dayang Im terbelalak sempurna.


Dan...


Brukkkk.


"Yang mulia!!!!." seruan dayang Im menyembur menutup kalimat pamungkas puteri Ara. Tak menyangka jika tuannya memintanya angkat kaki dari istana yang sudah sejak ia masih kanak-kanak melayani banyak tuan.


Tubuh renta itu membungkuk sempurna. Tak kuasa akan kekuatan yang menghilang manakala ia terancam diusir dari sini.

__ADS_1


"Kau memang tidak bisa lagi melayaniku, dayang Im. Kau sudah menyalahi sumpahmu untuk patuh, tunduk pada tuanmu." jelas puteri Ara pelan.


Ia memang tidak tega sebenarnya. Namun, ia harus memberi pelajaran penting pada dayang yang sudah melayaninya semenjak remaja.


Ia harus membuat dayang tua itu menyadari dan tahu betul, siapa majikannya, yang harus dilayaninya, yang ditakutinya, yang menjadi tempatnya setia.


Bukannya orang lain, apalagi pada dayang tengil bernama An itu.


Cukup sudah puteri Ara harus berhadapan dengan sosok tengil, tidak untuk orang kedua lainnya.


Bisa semaput otak mendadak dianya nanti.


"Puteri,, hiks hiks hiks." suara isak mulai merangsek di tengah sembah sujud dayang Im.


Tapi, adegan melow itu tak menurunkan rasa kesal puteri Ara.


"Sudahlah. Aku tidak akan terpengaruh akan derai air matamu, dayang Im."


"Kau sudah cukup membuatku seakan sebuah boneka bodoh selama ini."


"Tak ubahnya hanya tempatmu untuk melancarkan niat majikanmu yang sesungguhnya."


"niat buruk yang sangat memalukan."


"Sama-sama orang lain, dan dari kalangan rendahan."


Kalimat per kalimat yang diucapkan puteri Ara memang sangatlah pedas, cukup membuat dayang Im merasa sesak


Bahwa dirinya. Telah berkhianat, membelot pada sang ratu.


Dan dengan lucunya, tuannya itu tahu akan tindak-tanduknya.


"Dan lebih mengecewakan aku....." puteri Ara menatap dayang Im lekat. Dengan sorot mata yang memancarkan kesedihan dan....


Kecewa.


"Kau bahkan tega menyetujui perintah mereka untuk membunuhku juga." lanjut puteri Ara, suarany cukup bergetar.


Tapi hanya ia yang merasakan, enggan jika dirinya bersimpati nanti.


"Yang mulia, hamba, hamba tidak bermaksud demikian, yang mulia " jelas dayang Im yang kesekian kali menolak tuduhan jelas itu.


"Benarkah?" tanya puteri Ara meminta jawaban yang sayangnya malah diangguki dayang Im sebagai persetujuan.


"Heh." decak puteri Ara berat.


Ingin rasanya ia mengangkat meja di hadapannya lalu melemparnya kearah dayang Im.


"Apa yang kau cari dayang Im?" tanya puteri Ara menuntut jawaban.


"Ma-maksud an-anda yang mulia?" tanya dayang Im tak paham. Ia serius tidak memahami maksud yang diucapkan puteri Ara tadi.

__ADS_1


"Apa yang kau cari hingga rela menjual kesetiaanmu pada ratu itu." sahut puteri Ara menekan ucapannya.


Membuat nyali dayang Im langsung menciut seketika.


Dayang Im paham betul sebagai seorang pelayan. Ia telah mengkhianati majikannya yang harus dilayani sepenuh hati dan jiwa.


"Yang mulia...." panggil dayang Im pelan. Suaranya terasa berat... Berikut kesedihan yang terpancar di sana.


"Sudalah, dayang Im. Tak usah menangisi perbuatanmu itu. masih untung jika aku tak melaporkanmu pada yang mulia raja." ucap puteri Ara kesal.


Andai saja, andaj saja majikan dayang Im bukanlah seorang puteri Ara, maka bisa diyakini jika kehidupan dayang Im terancam hilang saat ketahuan.


"Yang mulia." hanya seperti itu dari tadi kata-kata yang dilontarkan berikut hela nafas memburu itu.


"Cari saja majikanmu yang baru. Aku muak dengan sikap palsumu dayang Im."


"Kau yang pernah mengabdi pada ratu negeri ini yang tidak lain adalah ibuku sendiri, berikut ibu dari seorang raja......"


"Maka sudah sepatutnya jug melayaniku dengan baik."


"Jadi, kemasi barang-barangmu, dan kembalilH ke kampung halamanmu, dayang Im." lanjut puteri Ara yang sekuat tenaga tegar itu.


"Tapi, yang mu----....." belum selesai kata itu tersusun, pintu geser ruangan puteri Ara tersingkap sempurna.


Sretttttt


Memunculkan sesosok mahkhluk tak kasat mata..


Oh oh, maaf ya prul...


"Wahh sepertinya aku meninggalkan drama segar nih." cetusnya setelah dengan tengilnya membuka ruangan puteri Ara dengan beraninya.


"Puteri Hwa?" ucap puteri Ara spontan.


Lalu....


'Huh??? Apakah gadis kurang ajar ini mendengar semua pembicaraan kami?' batin puteri Ara berasumsi kasar.


"Iya, iya, aku mendengar alias menguping percakapan kalian tadi. Hehehhe." seolah bisa membaca batin puteri Ara, si tengil itu menjawabnya secara naluriah.


"Puteri." ujar dayang Im, serupa dengan sikap tertegun majikannya. Eh, atau lebih pas mantan majikan nih.


"Ada apa puteri Hwa, anda kemari ke bangunan milik bibimu ini." ucap puteri Ara dengan nada tanya.


"Aku tak sengaja lewat. Eh, malah mendengar pengusiran itu." jawab Ara santai.


Hening..


Dan...


"Jadi, apakah aku bisa menampung pelayan anda, yang mulia? Aku lagi butuh nih." pungkas Ara

__ADS_1


__ADS_2