100 Hari Menjadi Puteri Joseon

100 Hari Menjadi Puteri Joseon
Puteri Hwa, alergi Apel???


__ADS_3

"Sembarangan aja lambenya si dayang Han." Ara menopang kepalanya tepat bagian pipi sebelah kiri, dengan bibir berkomat kamit.


"Masa' mau ngedorong gue buat ngebentuk prasangka konyol, heh." lanjutnya disertai dengkusan kasar. Lalu tak lama menggelengkan kepala dan terkekeh geli.


"Han-ah, Han-ah. Ada-ada saja kau. Mana ada ratu yang lembut gitu dituduh sembarangan. Digorok leher baru nyahok." cerocos bibir milik puteri Ara.


Dirinya memang sempat terpengaruh, hanya saja ia percaya sebatas bahwa ratu memegang kendali akan semua wanita di istana. Bukan sebagao tokoh antagonisnya.


Tak habis pikir dirinya pada imajinasi konyol milik dayang Han. Dan lagi, berani sekali sih menuduh ratu, ratu loh!!!!


Meski tak urung. Ia tetap menorehkan kata ratu dj lembaran yang tergantung di dinding balik tirai geser tepat di belakangnya. Tempat peralatan detektifnya berada.


Walaupun, tulisannya kecillllllllll banget. Nyaris tak terbaca, saking tak relanya ia menjadikan perempuan lembut itu sebagai tersangka tambahan.


"Tapi... Kalau bener?" Tanyanya sendiri tiba-tiba.


Dan tak lama menggeleng kepala kasar.


"Aihhh gue dah terpengaruh energi negatif dayang Han deh." ujarnya menolak prasangka.


"Gue bakalan ngelanjutin untuk lihat misterius apa lagi di bangunan villa milik puteri Hwa. Gak mungkin cuma ruang rahasia itu aja, kan?" gumamnya.


"Yang Mulia." Panggil suara dayang di luar ruangan puteri Hwa.


"Ada dayang yang mengantarkan sesuatu untuk anda." Lanjut suara milik dayang penjaga.


"Hidangan???,,, suruh masuk!!!" Sahut Ara dari dalam.


Ketika dayang yang dimaksud sudah menapakkan kakinya. Langkah gontai itu mengayun pelan dan mendekat, membuat indera penciuman milik Ara sontak bangkit.


Apel?


Aroma apel.


Dibukalah baki berisi hidangan yang dimaksud. Hingga.


Terpampanglah, dua mangkuk berisi hidangan yang jelas sekali berbahan apel. Hal yang dibenci Ara.


"Apa ini?" tanya Ara tak paham.


"Ini dari Ratu, sup dingin apel dan manisan apel yang diberi kuah kesemek, puteri Hwa." jawab dayang itu pelan dan bersiap mundur setelah menyelesaikan tugasnya.


"Ratu?" gumam Ara pelan saat dayang tadi sudah menghilang di balik pintu geser.


Ara menatap tajam pada dua benda dari porselain tadi. Memindai tiap campuran makanan yang disajikan untuknya.

__ADS_1


"Apel?" ia bergidik setelah melihat jelas isinya. Meskipun ia sudah tahu karena aroma apel yang menyengat, namun ia tak menyangka jika hidangan itu semuanya berbahan apel.


Noooo.


Tak akan pernah Ara sentuh barang seujung upil sekalipun.


Ia mendorong jauh dua mangkuk berisi hidangan tadi.


Lalu.."Dayang Han!!!!" teriaknya keras memanggil dayang Han yang segera muncul tergesa-gesa.


"Iya, Yang Mulia." jawab dayang Han yang tetap berdiri setelah memberi hormat sebelumnya.


"Duduk." Perintah Ara


patuh. Segera duduk di hadapan majikannya.


"Ada apa Yang Mulia?" Tanya dayang Han kemudian.


Ara memberi isyarat pada wajahnya berupa gerak bibir yang dikerucutkan. Menunjuk dua mangkuk berisi hidangan tadi.


Dayang Han segera mengikuti arah benda yang dimaksud. Lalu menatap kembali puteri Hwa.


"Kenapa, Puteri Hwa?" jelas dayang Han tak paham apa maksud majikannya.


"Kau... Makan dua hidangan itu." Perintah Ara sebagai jawaban. Dengan kedua tangan disedekapkan, menegaskan bahwa itu KEHARUSAN.


"Aihhhsss sudah. Makan sana, aku kenyang." Sahut Ara lagi.


Dan dengan penuh kepatuhan. Dayang Han meraih sendok di sisi mangkuk lalu segera mengambil makanan untuk dibawa ke mulutnya.


Mengunyah sembari dalam pengawasan tatapan Puteri Hwa, dayang Han merasa majikannya tengah menunggu hasil kunyahannya, kah???


"Saya, baik-baik saja, puteri. Jadi, anda bis......." lagi. Ucapan itu terpotong cepat.


"Kata siapa aku bilang itu mengandung racun, huh??? Aku hanya kenyang, dan tak mampu lagi memakannya." Jelas Ara sebal.


Gak mungkin kan dia bilang kalau alergi apel. Lucu lah. Iya, gak?


"Tapi anda kan belum makan siang, puteri Hwa.?" Dayang Han mengingatkan bahwa majikannya memang belum makan, jadi bagaimana bisa ia kenyang.


"Kau cerewet sekali. Aku pokoknya tidak mau. Titik." Ara membuang wajahnya ke sisi kirinya dengan raut wajah yang dilipat banyak pastinya.


Dan dayang Han hanya mampu menyimpan tanya yang hendak ia keluarkan. Tak berani jika melihat raut seseram itu. Ia bersyukur bisa menikmati hidangan mewah ini, bukan? Bukan sibuk ikut campur pada urusan majikannya.


Tapi tanpa diduga, aksi dayang Han, memicu semua awal mula.

__ADS_1


"Puteri" ia menyodorkan sesendok sup apel dengan kesemek sebagai bahan kuahnya pada Ara yang terkejut mendapati hal itu. Hingga posisj dayang Han yang mencondongkan tubuhnya juga terjengkit dan mengakibatkan sendok itu menumpahkan isinya. Tepat mengenai bagian kulit punggung tangan milik puteri Hwa.


"Han-ah, kau mengagetkan saja." hardik Ara melihat perbuatan dayang labil itu.


"Ma-maaf, Yang Mulia." ucap dayang Han menyadari kesalahannya yang.....


"Puteri!!!" Jeritnya tertahan manakala melihat kulit milik majikannya memerah, dan juga Ara yang tak sadar menggaruknya.


"Hah!!!" Ara terkesiap kala menyadari.,... Ia yang menggaruk bagian terkena tumpahan sup tadi menoleh dan melihat kulit itu memerah.


"Kenapa ini?" Tanyanya melihat bergantian pada tangan dan dayang Han yang juga terkejut.


Tanpa banyak berpikir, Ara penasaran. Meraih mangkuk yang berisi sup apel bekas di makan dayang Han. Menyendok sedikit lalu, menumpahkannya pada punggung tangan puteri Hwa.


Menunggu beberapa saat. Dan...


"Bagaimana bisa?" Tanya Ara tak percaya.


Apel? Alergi? Ini jelas gejala alergi terhadap suatu hal. Mirip dengannya. Tapi setahunya, puteri Hwa bukannya menyukai buah apel? Persis ucapan dayang Han dan putera mahkota.


Lalu? Ini? Yang ia lihat sekarang apa? apa mungkin supnya diberi racun? Tapi melihat wujud dayang Han yang bukan lagi memakan sesendok sup, tapi tetap baik-baik saja tanpa kemerahan dk bagian tubuhnya.


Tidak mungkin. Kan???


"Dayang Han." panggil Ara seketika.


"I-iya Puteri." Jawab dayang Han masih gugup.


"Segera. Ambil buah apel atau apapun yang dari apel. Tanpa campuran kalau bisa. Bawa ke sini. Dan jangan sampai ada yang tahu." Ara membisikkan penjelasan perintah pada dayang Han. Yang artinya, hanya mereka berdua yang tahu dan mendengarnya. Dipastikan, jika bocor, maka lambe dayang ini akan ara sumpel bubuk Gochujang semangkok penuh.


Tanpa membantah sama sekali, seolah paham dan tahu, dayang Han segera bangun dan berdiri lalu membungkuk sedikit dan bersegera keluar dari ruangan ini. Untuk mencari benda yang disebutkan puteri Hwa tadi.


Dan, beberapa puluh menit kemudian. Dayang Han muncul dengan benda berupa buah berwarna merah di kedua tangannya. Ia selipkan di dalam baju besarnya agar tidak ada yang tahu.


Di sinilah buah itu sekarang. Tepat di telapak tangan bersih milik puteri Hwa. Lalu, tanpa menunggu lama, Ara segera menarik buah itu masuk ke dalam mulut dan mengunyahnya lama.


Meski ia tak tahan. Tapi ia ingin membuktikan rasa penasarannya.


Yang..


Ternyata....


Benar.....


Apel....

__ADS_1


Puteri Hwa alergi???


Lalu, kenapa mereka bilang ia menyukai buah ini?? Jika reaksinya saja jelas tak nyaman begini???


__ADS_2