100 Hari Menjadi Puteri Joseon

100 Hari Menjadi Puteri Joseon
Sihir 1


__ADS_3

"35 hari gue dah kesesat di alam ini. Dan gue, belum tahu banyak masalah yang menimpa puteri Hwa selaen....." Ara bergumam seraya jarinya menarik pegangan kuas lalu mulai menggoreskan asal pada lembaran kertas yang masih lebar.


Jemarinya berhenti bergerak, seiring kepalanya terdongak menatap langit-langit ruangan.


"Selaen gue nemuin banyak banget musuh puteri Hwa ini." Ujarnya menerawang jauh.


Tak habis pikir, ia yang merasakan denyut jiwa baik dalam tubuh ini merasa heran, apa saja yang membuat orang-orang di sekitarnya berniat buruk pada puteri ini.


Sangat bisa dipastikan pribadi puteri ini baik, tak seperti si rubah atau puteri Ara itu yang menyebalkan. Karena, Ara tak menemui emosi bergelora atau rasa dorongan melakukan hal buruk dari dalam tubuh puteri Hwa. jadi, ia mencari alasan sebenci apa mereka itu sampai berniat menghilangkan nyawa pemilik tubuh ini.


"Gue, gue merasa situasi di sini banyak dan penuh drama kepalsuan." lanjutnya bergumam. Terkadang, ada beberapa waktu ia merasakan rasa bergetar kala bertemu dengan orang-orang tertentu di sini, hanya ia belum bisa mengartikan getar apa itu.


Rindukah? Takutkah? Atau rasa cemas dan khawatir?


Entahlah, yang pasti ketika bertemu orang-orang itu, ia merasa gejolak dalam tubuh milik puteri Hwa ini.


"Apakah dayang Han ada di luar!!!" Panggil Ara pada dayang penjaga di depan pintu ruangannya.


"Tidak ada Yang Mulia. Dayang Han tadi mengatakan ingin pergi keluar sebentar." Jawab dayang yang membuka sedikit pintu geser.


"Keluar? Kemana?" Ara menanyakan kepergian dayang labil itu malam begini. Karena untuk keperluan dirinya sudah selesai, makan, atau permintaan aneh lainnya.


Jadi, kemana gadis itu?


"Aihh, awas aja kalo dia mojok pacaran." Gumam Ara yang dilirik bingung oleh dayang penjaga karena mendengar kalimat aneh barusan.


"Apa!!!" Ara mendelik melihat hal tersebut.


Tergagap, "Ah, ti-tidak ada Yang Mu-mulia," Jawab dayang tersebut segera menutul pintu geser setelah tertembak laser mata majikannya.


Ara tetap menunggu dayang Han di atas kasur empuk tempat tubuh ini mengistirahatkan dirinya.


Namun, hingga denting pekerja istana yang bertugas menginformasikan sudah menunjukkan waktu 11 malam. Dan Ara masih setia menunggu kedatangan dayangnya yang tetap, nihil.


"Aku mau tidur, kalian bisa pergi." perintah Ara yang pasti terdengar di telinga dayang yang menjaga di luar.


"Awas aja dayang labil itu besok. Gue bejekg Lo." gemasnya, menarik selimut menutup habis sampai kepalanya. Tidur.


Satu jam kemudian, bunyi pintu geser terdengar. Langkah kaki pelan milik seseorang yang mendekat pada tempat pembaringan.


"Yang Mulia. Anda, jadilah pribadi kuat seperti ini terus, dan kembalilah menjadi puteri yang kami lindungi. Karena, putera mahkota sudah merindukan anda." ucap dayang Han yang duduk di sisi puteri Hwa. Dengan wajah cemas dan juga merasa miris akan banyak perubahan majikannya, meskipun hal ini juga terlihat baik karena puteri Hwa yang tak lagi cemas, takut dan tak khawatir menemui siapapun.

__ADS_1


Setelau pintu geser kembali tertutup.


Sosok yang menutup dirinya dengan selimut sutra, menyembulkan kepalanya, puteri Hwa dengan jiwa Ara memperhatikan lekat pintu yang tertutup itu.


"Han-ah.... Siapa kau sebenarnya." gumam Ara. Ia mendengar semua kata yang terlontar dari bibir dayangnya. Meski awalnya ia merasa gemas mau bangun ketika mendengar sapaan dayang itu namun diurungkan ketika kalimat dayang Han bertambah dan membuatnya penasaran.


Nada bicara gadis tadi, berbeda. Terdengar serius meskipun tulus. Harapan dalam tiap untaian kata-katanya ditujukan pada tubuh yang Ara rasuki, namun kalimat akhir itu membuat Ara tertegun kala putera mahkota dilibatkan.


Apa maksudnya pria itu merindukannya?


Bukankah mereka kerap bertemu?


******


"Han-ah." panggil Ara keesokan paginya.


"Iya Yang Mulia." sahut gadis itu yang ikut membantu dayang pengantar sarapan puteri Hwa.


"Kau, kemana semalam? Aku menunggumu loh." Lanjut Ara dengan netranya tak lepas memperhatikan tiap gerik pelayannya.


"Saya semalam dipanggil dayang Min, Yang Mulia." jawabnya tanpa menatap mata si penanya.


Walau sebenarnya ia ingin memberitahu banyak hal tapi melihat majikannya mengubah pribadinya seperti orang yang tak pernah mendapat hal menakutkan sebelumnya, mengurungkan niat dayang Han. Ia khawatir majikannya akan kembali trauma dan mengurung diri lagi.


"Oh ya? Lalu, kau tak kembali ke sini?" tanya Ara memancing kejujuran gadis itu yang ternyata....


"Tidak puteri, saya langsung kembali ke tempat istirahat saya. Karena banyak sekali yang dibahas oleh dayang Min." jawab dayang Han BERBOHONG.


Ara menangkap ketidak jujuran itu, ya jelas, orang ini si labil ngoceh samping dia kok.


'Kau, kenapa dayang Han?' batin Ara menilai.


"Ahhhh padahal aku semalam menunggumu, Han-ah." keluh Ara berpura-pura memasang raut kecewa.


"Maaf Yang Mulia, saya tadi baru tahu dari dayang Mi bahwa anda mencari saya semalam." seloroh ucapan bersalah milik dayang Han.


"Sudahlah. Jadi, apakah kau akan sibuk lagi nanti malam?" Tanya Ara dengan wajah berharap.


"Tidak, Yang Mulia." jawab dayang Han.


"Bagus. Kalau begitu, temani aku ke kediaman ratu nanti malam ya?" ajak Ara penuh harap. Membuat dayang Han sempat tertegun sejenak lalu segera bersikap normal kembali.

__ADS_1


"Baik Yang Mulia." setujunya.


Di suapan pertama, Ara merasakan...


"Arghhhh." ringisnya menyentuh tengkuk belakangnya yang.......


"Apa ini!!!!!" teriaknya tertahan manakala melihat benda kecil yang merayap dan bergerak.


"Heh, ulat darimana ini??" tanyanya menatap hewan kecil putih itu, sementara dirinya bersikap biasa tapi dayang yang ada dihadapannya bergidik takut.


"Yang Mulia!!!" pekik dayang Han menghampiri gadis itu.


"Ini, Han-ah, darimana benda ini, kenapa bisa ada di leherku? Perasaan tadi tidak merasakan apapun." tanya Ara heran.


Dayang Han pun tak kalah heran. Majikannya, kenapa biasa saja dengan hewan yang harusnya menjadi sumber ketakutannya.


Ya, puteri Hwa sangat takut bahkan rela melompat ketika melihat semua yang berupa serangga atau ulat. Namun.... Ini.


"Anda, tidak apa-apa Yang Mulia?" tanya Dayang Han penuh kehati-hatian.


Dengan matanya pun lekat menatap majikannya yang memang,, bersikap biasa saja, malah tak merasa gemetar menampakkan wujud hewan itu di telapak tangan.


"Tidak apa-apa, memang ini dari mana sih?" kembali Ara bertanya heran.


Mereka yang berada dalam ruang itu, sama-sama saling melihat satu sama lain. Heran dan bingung dengan sesuatu yang ditemukan puteri mereka. Padahal dilihat dari sekeliling puteri Hwa, tak satupun jejak alasan makhluk itu di sana.


Sihir????


'Jangan-jangan?'batin Ara teringat.


Pun dayang Han ikut menoleh seolah sama-sama memiliki batin yang berkata sama.


"Puteri Hwa!!!" ujarnya memandang lekat.


Ara mengangguk, betul. Ini sihir, ancaman yang mereka kirimkan berupa boneka ternyata diwujudkan dalam bentuk makhluk kecil ini.


Tapi Ara bingung, kenapa ulat yang dikirimkan, bukan hal berbahaya seperti sihir seharusnya.


"Tapi kok ulat?" Ara menggumamkan pelan yang didengar oleh para dayang di sana, termasuk dayang Han.. Yang memandang puteri Hwa dengan wajah bertanya....


Kenapa puteri Hwa,,, tak berteriak dan melompat sebagaimana ia seharusnya takut akan makhluk menggelikan itu?

__ADS_1


__ADS_2