
"Setelah kejadian yang kita di datangin adeknya si Frank itu. Lo ya, masuk sini. Koma." Jelas Hana pada Ara yang sebelumnya menanyakan kenapa ia bisa terdampar di rumah sakit ini dengan tubuh yang terlilit banyak kabel serta selang infus. Dan jangan lupakan dengan peralatan yang berada di sisinya yang kalau Ara tak salah itu gunanya untuk deteksi jantung seseorang.
Dan apa kata Hana tadi, Ara Koma???
Masak sih???
"Gue, koma? Berapa lama." Tanya Ara lagi.
"2 mingguan." Jawab Hana mengira-ngira dengan jemarinya.
"Dua minggu??" tanya Ara, ia segera berpikir. Menyatukan rasa penasarannya akan kondisi komanya dan waktu keberadaannya di.....
Joseon.
Dan itu
Sama!!!!
Jadi,,, itu bener gak sih.
"Gue diapain aja sih sampe gue koma. Dan, kenapa sakit semua sih badan gue." Ucap Ara mengingat alasan keberadaannya lagi.
Hana mengambil kursi yang di letakkan di sisi kiri ranjang Ara.
Menghela nafasnya berat.
Serius nie kayaknya. Pakek acara tarik-tarikan nafas seh.
"Napa sih. Serius gitu kayaknya?" ucap Ara bingung
"Lo gak inget sama sekali??" Tanya Hana
Menggeleng pertanda Ara tak ingat sama sekali.
"Lo, waktu kita di datengin adeknya Frank di apartemen waktu itu. Lo itu di culik mereka, jujur, gue dah siap mau lapor, tapi.. Gue juga akhirnya diancam mereka, semua fasilitas yang ada di ambil mereka. Dan gue diawasin. Dan gue gak tau Lo di bawa ke mana sama mereka. Sampe akhirnya Lo ditemuin orang katanya ada di pinggiran danau." cerita Hana panjang lebar. Wajahnya mengisyaratkan rasa cemas dan juga sedih.
"Bentar." Ara mencoba meraih ingatan terakhirnya yang bisa ia gali.
Lalu.
"Arghhh." Erangnya menyentuh kepalanya yang tiba-tiba merasa sakit.
__ADS_1
"Eh, Lo napa, prul." Panik Hana melihat Ara mengerang menahan sakit.
"Gak tau, kok kepala gue tiba-tiba sakit sih." Cicit Ara
"Sudah-sudah. Jangan dipaksain nginget apapun Ara. Sekarang Lo cuma butuh istirahat dulu." Pinta Hana khawatir.
Tidak, Ara jelas merasakan kejanggalan besar di sini. Selain insidennya yang kenapa tidak ada investigasi di sini, lalu kisahnya yang ada di Joseon yang jelas sekali itu terasa sangat nyata.
Tapi saat ini, memang ada baiknya jika Ara harus puas bisa kembali bangkit dan menghirup udara bebas dan merasakan hidup kembali.
mungkin saat ia sudah baikan, dan tubuhnya kembali bugar.. Ia akan mulai merangkai teka-teki misteri kejadian dalam hidupnya selama dua minggu ini.
*****
"Hai, cewek. Gimana, ada yang dirasakan sakit atau tidak enak di tubuhnya.??" Tanya sosok berbaju biru dengan stetoskop di lehernya. Dokter.
Pria yang Ara terka berusia akhir 30an itu begitu menawan meraih pergelangan tangan Ara untuk dirasakan detak nadinya.
Menggeleng
"Tapi dok..." Ara menggantung tanyanya. membuat si pria tampan itu dengan senyum menunggu kelanjutan Ara.
Tersenyum
Ihh si babang dokter murah banget sih sedekahin senyumnya berkali-kali. Ntar Ara meleleh loh.
"Dalam ilmu medis, keberadaan jiwa seseorang yang koma itu bisa dikatakan tidak sadarkan diri untuk waktu yang lama. Koma adalah tingkatan paling dalam ketika seseorang tidak sadarkan diri. Orang yang mengalami koma tidak dapat merespons terhadap situasi di sekitarnya sama sekali. Penderita koma tidak akan melakukan gerakan, mengeluarkan suara, apalagi membuka mata, meskipun sudah dicubit." jelas sang dokter
"Terus jiwanya?" Tanya Ara lagi
"Jika dalam medis, mereka tertidur akan tetapi tidak bisa merespon apapun rangsangan di sekitarnya. Akan tetapi, dalam beberapa kasus, terkadang ada pasien yang perlu mendapatkan rangsangan agar bisa kembali sadar. Tapi untuk jiwanya yang berada di alam lain, kami para dokter belum bisa membuktikannya." lanjut dokter tersebut.
Dan Ara hanya ber 'o' ria saja mendengar penjelasan yang kurang memuaskan itu.
Hayolah, Ara bingung banget loh beneran, suwer tekewer kewer loh.
"Memang, Ara merasakan kemana saja?" Tanya dokter menanggapi kerutan dahi Ara yang tak puas akan penjelasannya tadi yang panjang dan lebar banget.
Sejenak Ara terdiam, mengerutkan dahinya sedikit.
"Saya, saya merasakan ada di dunia lain, dok." ucap Ara kemudian.
__ADS_1
Dokter pun mengangguk menanggapi ucapan pasiennya tersebut.
"Bisa jadi jiwa kamu memang berkelana, Ara. Dan dalam pendapat para pasien lainnya, mereka seperti memasukki alam yang menjadi pilihan mereka untuk kembali atau malah meneruskan langkahnya." Tanggap sang dokter.
"Dan, Ara.. Kamu memilih untuk kembali ke alam ini kan." Lanjut dokter menunggu jawaban persetujuan dari Ara.
Dan Ara tak merespon sama sekali.
"Oke Ara, nanti kalau kamu kembali ingin menanyakan hal-hal lain atau yang sama lagi. Kamu bisa ajak saya cerita lagi. Oke." Tawar dokter tampan itu.
Dan Ara menoleh sekilas pada si dokter walau ia tak merespon dengan persetujuan akan tawaran barusan.
Selang kepergian sang dokter.
Hana yang merasakan kegundahañ Ara mendekat dan mènyentuh telapak tangan sahabatnya lalu merengkuh hangat.
"Napa sih, gak puas ama penjelasan si abang dokter tampan tadi, ya?" Tanya Hana seolah bisa membaca gurat di wajah Ara.
"Banget malahan. Tapi ya sudahlah. Mau gimana lagi coba,, ya kan?" pasrah Ara kemudian. Karena, jangankan orang lain atau dokter sekalipun, dirinya saja yang terlibat langsung saja tak bisa menemukan kejelasan dari situ.
"Sabar, makanya sehatin dulu badan sama pikirannya. Ntar kan sedikit demi sedikit Lo bisa inget sama hal yang Lo penasarin banget itu. Ya sayang??" Jelas Hana mencoba menghibur kegundahan sahabatnya.
"Terus, gimana dengan adeknya Frank itu. Gak ada polisi yang berhasil nangkepnya?" tanya Ara teringat akan si pembuat keonaran hingga dirinya terdampar di rumah sakit ini dengan tubuh yang sakit di sana sini.
Hana menggeleng pelan, dengan wajah frustasi yang melekat di wajahnya, "Gak ada, dan gue juga penasaran selama Lo di bawa kesana, gak ada satupun orang yang ngaku ngeliat Lo di culik saat keluar dari apartemen itu." Jelas Hana.
"Gue juga heran, di jam segitu, kenapa gak ada yang tau dan lihat Lo di bawa mereka, padahal kan cukup ramai harusnya." Kembali Hana menjelaskan rasa curiganya.
"Kok, bisa ya?" Tanya Ara bingung
"Tapi sudahlah yang penting Lo selamat dan bisa bangun lagi itu udah buat gue bahagia banget Ara." Cicit Hana senang
Dan Ara, tentu saja bahagia melihat ekspresi sahabatnya yang menyambut kehadirannya. Meskipun rasa penasarannya membuncah tak terhingga dalam dirinya, memberontak untuk meminta penjelasan segera.
Terlebih ketika Ara mengingat akan perkataan nenek yang menyebutkan jika Ara tidak akan bisa kembali sebelum menyelesaikan misinya tentang permasalahan yang menimpa seorang puteri di era kerajaan joseon itu.
Tapi sekarang, kenapa? Dari semua hal yang menyebabkan dirinya kembali, harus melalui peristiwa keracunan itu.
Dan apakah omong kosong ini benar adanya???
Ayolah, ini beneran omong kosong tidurnya saja kan?..
__ADS_1