100 Hari Menjadi Puteri Joseon

100 Hari Menjadi Puteri Joseon
Aku Puteri Hwa


__ADS_3

Puteri Hwa merasakan sekujur tubuh yang tengah ia tumpangi ini mendadak panas.


Seolah ada serangan hawa api di sudut itu.


Ya...


Menoleh.


Kan


Bener


Ada sesosok makhluk tak kasat mata, memandanginya dengan sorot mata tajam, bahkan didukung oleh sinar cahaya panas di sana.


Hana.


"Kenapa cuma di liatin aja, takut gue racun?" todong Hana dengan tuduhannya.


Menatap intens terhadap gadis yang duduk kaku itu.


'Kenapa banyak kata-katanya yang sulit aku pahami, ya?'batin puteri Hwa mencerna tiap kosakata yang di lontarkan Hana barusan.


Srettt.


Hana menarik kursi makan di sebelah puteri Hwa.


Letak tempat makan di apartemen Ara sangat minimalis, ia menata ruangannya seminim mungkin agar space atau ruang semakin lengang alias luas.


Maka dari itu. Ara cukup memiliki perhitungan yang sangat baik. Menaruh letak kursi dan meja makannya tepat mengarah pada atau malah menempelkan meja makan itu pada kaca balkon di sisi kaca pembatas kamarnya.


Sehingga. Dari sudut itu. Dirinya bisa leluasa menyantap makanannya dengan mata menatap pemandangan dari atas ketinggian apartemennya.


Tanpa mengganggu sisi balkon yang memiliki kursi panjang dengan beberapa pot besar yang berisi tanaman lidah mertua dengan garis kuning dan hijau, pohon bonsai sakura yang hanya setinggi pinggangnya, dan sri gading merambat yang ia tata mengelilingi pagar pembatas balkonnya.


Selain itu. Ara menaruh letak dapurnya yang juga lagi-lagi menghadap sisi balkonnya, dengan pantri seluas 2x2 meter persegi cukup menonjol di antara semua ruangan, Ara memberi warna biru, kuning dan merah muda fanta di dinding dapurnya, sedangnya pernak-pernik dapurnya di dominasi oleh warna putih.


Sedangnya ruang tamu yang merangkap tempat serbaguna itu ia beri warna putih dan peach dengan perlengkapan di dominasi warna putih kembali. Dan area kamar, yang ia kelilingi dengan kaca pembatas itu, ia tutupi dengan tirai bermotif warna biru dengan bunga putih di beberapa sisi tirai.


Dan jika memasuki area kamar gadis itu, kembali, kita akan menemui dominasi warna putih di dalamnya.


Gadis ini memang pecinta warna putih sepertinya.


Dan melirik perabotan apartemen itu, tak sedikitpun kita menjumpai benda-benda yang tidak berguna. Ara bukan tipikal orang yang suka mengkoleksi perabotan banyak. Ia hanya menaruh beberapa hal yang cukup, namun terkesan memberi tonjolan kemewahan di benda itu, seperti dua lukisan di ruang tamu, foto besar dirinya di sisi dapur, rak berisi koleksi miniatur kartun kesukaannya yakni kelinci, Rabbit Invasion. Rak berisi guci berwarna hitam dengan line emas, dan tv LED yang ia sembunyikan di sebuah meja dengan sound system menempel di sisi meja tersebut dengan rak kaca berisi buku menutupi sisi belakang meja tv tersebut.


Pun dengan bagian kamar gadis itu. Tak banyak barang tak berguna di sana.


Hanya ranjang berukuran queen size. Rak kaca berisi skincare, parfum dan make-upnya dengan kaca oval di tengah rak tersebut. Sedangkan koleksi baju, tas dan lainnya, ia tata tepat di belakang rak kaca tadi, berupa ruang kecil berwarna hitam dengan perabotan justeru berwarna gold dan merah. Sedangkan kamar mandi kamar itu di letakkan di dinding belakang ranjangnya, agak tersembunyi.


Jadi. Dengan identitasnya sebagai seorang sosial media itu, rupanya tidak ia tampakkan di rumahnya yang meskipun ada di apartemen kawasan mahal tapi isinya sederhana sekali.

__ADS_1


Pencitraan kali ya.


Heheh.


"Aku banyak tak paham kata-katamu itu. Hana." cetus puteri Hwa menatap hidangan di hadapannya.


"Oh ya? Memang sekarang kau akan membahas dirimu sebagai siapa lagi? Puteri lagi? dari luar dunia lain? Begitu?" runtutan kalimat tanya Hana menguar menutupi pendengaran puteri Hwa.


Gadis itu mengangguk.


"Iya. Aku kan pernah mengatakan jika aku adalah seorang puteri, kan?" puteri Hwa malah membalikkan kalimat tanya Hana dengan kalimatnya.


"Heh."dengus Hana merasa konyol.


"Padahal dokter waktu itu berulang kali mengatakan jika kepala ini baik-baik saja ya." Hana menoel kepala Ara dengan santai.


Tapi justeru memantik geraman puteri Hwa.


"Ohooo!!! Beraninya kau menyentuh kepalaku." sungut puteri Hwa tak suka.


"Lalu, kau akan memancungku, heh?" tantang Hana tanpa melepas pandangannya pada gadis yang kini mulai membalas tatapannya.


Mengepalkan genggaman tangan Ara, puteri Hwa jelas sebal dengan perempuan bernama Hana.


"Lihat saja, kau akan aku laporkan pada kakakku." ucap puteri Hwa menggunakan bahasa dinasti Ming.


Yang tak dipahami Hana sama sekali.


"Kau, ngomong apa barusan?"


"Kenapa?" menggunakan bahasa Ming lagi


"Ngomong paan sih?"


"Kenapa?" lagi, membalas hal serupa.


"Ingat, setiap kau menggunakan bahasa anehmu. aku akan membalas hal serupa." ucap puteri Hwa. Percaya diri.


"Bahasa aneh? Yang kayak apa?"


"Gini, paan, gue, lo... Dan banyak lagi." jawab puteri Hwa mengingat kosakata yang aneh itu.


"Heh? aneh katamu? Gue, eh aku juga belajar dari lo, eh dari kamu lagi." Hana tak terima, justeru Ara yang menyesatkannya dengan bahasa gaul itu.


"Terserah. aku tidak mau mendengar bahasa aneh itu lagi. Paham!!" tegas puteri Hwa, bak memberi titah pada rakyat jelatanya.


Dan lucunya, Hana mengangguk patuh begitu saja.


Seolah darah bawahan mengiringinya.

__ADS_1


"Bagus." lanjut puteri Hwa mendapati kepatuhan Hana.


"Ini apa?" puteri Hwa yang kembali kepercayaan dirinya, menunjuk hidangan yang tertata sederhana di hadapannya.


"Sup penghilang mabukmu itu." jawab Hana sekenanya.


Puteri Hwa meraih sendok putih panjang di sisi kanan mangkuk yang berwarna putih juga.


Lalu mengangkatnya mendekati bibir.


Srupppp.


Pelan.


Seorang puteri loh.


"Hmm, enak." celetuknya menilai masakan Hana.


"Kenapa bisa enak sekali. Dan juga hangat di perutku." tambahnya.


"Baru tau masakanku enak? Bukankah memang seperti itu." balas Hana.


"Oh iya, kau kan lupa ya. Eh, atau bukan Ara?" lanjut Hana menerka asal


"Iya, aku memang bukan Ara." sambut puteri Hwa, melanjutkan mengambil sumpit putih lalu mengarahkan pada kimchi lobak serta telur gulung.


Kenapa mendadak perutnya merasa lapar sekali.


"Hmm begitu." jawab Hana.


Eh tunggu!!.


"Tunggu!."


"Jika kau bukan Ara, lalu kau siapa, puteri nyasar?" tanya Hana merasa konyol kembali.


Puteri Hwa mengangguk sembari meresapi rasa lezat masakan Hana.


"Heh??" Hana.


"Sebentar." Puteri Hwa kembali meraih telur gulung.


Hana melirik intens.


Ara yang tengah makan itu, begitu menikmati, namun dengan gaya yang sangat anggun, tidak grasak-grasuk seperti biasanya.


Memang bukan kali ini Hana memperhatikan gaya makan Ara yang baru, tapi sejak di rumah sakit, tingkah gadis itu begitu anggun, bak keluarga elit dengan pola etika.


"Aku bukan Ara, aku Hwa. Puteri Hwa, dari kerajaan Jehwa." jawab Puteri Hwa.

__ADS_1


Hana melongo mencerna kata-kata absurd itu.. Hingga ia kembali dibuat tak percaya ketika...


"Apakah kau punya nasi? Aku lapar."


__ADS_2