100 Hari Menjadi Puteri Joseon

100 Hari Menjadi Puteri Joseon
Kunjungan tak terduga


__ADS_3

Ara... Atau lebih cocoknya untuk puteri Hwa, yang dalam satu hari ini mendapatkan banyak kejutan tak terduga. Ia tak memperhitungkan hal ini dalam misi kemanusiaannya, tujuannua hanya pamer untuk organisasi berinisial sebut saja bunga itu. Tapi kini....


Matanya mengerjap melihat siapa yang duduk di singgasananya.


Permaisuri alias ibunya raja alias nenek sang puteri Hwa. Duduk dengan aura keanggunan paripurna.


Ara menilai, jika perempuan ini hidup di jamannya, tentu akan aktif mengikuti up to date segala perkembangan fashion. Lihat saja, yang digunakannya,


Wahhh, meski hanya giok, tapi... Ara ngiler lihatnya. Coba!!! Berdegub jantung si penggila fashion itu manakala melihat benda spektakuler itu menempel di beberapa bagian tubuh permaisuri itu.


"Puteri Hwa!!" panggilnya yang mengulum senyum melihat puteri Hwa tak melepas pandangan darinya. Terlebih pandangan itu, benar-benar pantas disebut sebagai MENGANGA.


Segera menarik rahang bawahnya, berikut iler yang menderas sampai ke bawah (canda). Ara menutup mulut yang sedikit terbuka ketika dikejutkan oleh suara yang menginterupsi pemujaannya akan benda berkilau itu.


"Y-ya, permaisuri." Jawab Ara menunduk malu. Ketahuan memperhatikan lama.


"Kenapa, puteri? Apa ada yang salah dengan penampilan nenekmu ini.?" tanya perempuan tua itu.


Mengangkat wajah, Ara menggeleng cepat, "Tidak Yang Mulia. Anda, sangat keren." Jawab Ara dengan telunjuk diacungkan ke atas. Memuji.


"Keren? Apa itu?" tanya yang dipuji, heran.


Ara memberikan cengiran lebarnya, "Itu artinya, penampilan nenek sangat luar biasa" jelas si tengil.


"Bukankah, aku selalu seperti ini, puteri? Kau merendah sekali, hihihi" kekeh permaisuri mendengar pujian dari puteri Hwa yang berlebihan terhadapnya yang memang seperti ini biasanya.


Semakin malu. Ia nyaris tertangkap ketahuan menilai hal yang memang sudah menjadi keseharian anggota kerajaan.


Berpikir. "Apakah nenek datang mengunjungiku karena perubahan yang terjadi padaku, nenek?" Tanya Ara to do point, ia enggan berbasa-basi, tahu pasti alasan perempuan ini yang tentunya sama dengan raja yang beberapa waktu yang lalu meninggalkan kediaman milik puteri Hwa.


Tergelak pelan. Permaisuri segera menutup mulutnya meski tawa itu belum lenyap.


"Kau, puteri Hwa. Begitu terus terang sekali. Hahahaha." jawabnya lalu kembali mengumbar tawanya tanpa ditutupi telapak tangannya.


Ara heran, ini kenapa malah ketawa sih??


Melihat lipatan dari wajah sang puteri, permaisuri menghentikan tawanya walau binar itu tak kunjung lenyap dari wajah tuanya.


"Aku bahagia, puteri, jadi jangan melihatku seperti itu." ucapnya menarik nafas karena sisa tawa yang menjadi gurat senyum kini.

__ADS_1


"Bahagia?" Ulang Ara tak paham, bahagia apa coba??? Perasaan dirinya tidak melakukan parodi apapun yang bisa membuat tawa itu menggelegar tak henti.


Permaisuri pun mengangguk mengiyakan. "Iya, puteri. Begitu banyak kejutan yang kau beri baru-baru ini." ujarnya.


"Kau, tak hanya sudah sering keluar dari kediaman yang sesak ini. Tapi kau juga sudah bisa kembali ceria, tertawa dan mau berbicara dengan orang-orang, bahkan mau bercanda dengan dayang mu itu. Siapa namanya?? Han bukan?" jelas permaisuri.


Ara mengangguk sebagai jawaban, "Iya. Han-ah." jawab gadis itu.


"Han-ah?" kini sang permaisuri yang melempar tanya pada Ara.


"Iya, dayang Han atau aku memanggilnya Han-ah nenek, itu kalau aku sebal padanya." jelas Ara yang mengakhiriny dengan wajah sebal dan memajukan bibirnya.


"Sebal?" ĺagi, tanya itu terlempar dari perempuan tua yang anggun itu.


"Kesal, nenek" jawab Ara singkat


Membuat gelak tawa itu menguar kembali, dan tak urung itu menjadikan wajah sebal itu semakin berkerut.


"Nenek menambah rasa sebal itu, kini." keluh Ara


"Maaf, maaf puteri, kau lucu sekali. Aku sangat merindukan waktu dirimu seperti sekarang. Lagian, sepertinya kau sedang sebal pada dayang Han rupanya" tebak permaisuri karena sikap gadis muda di hadapannya itu jelas sekali raut sebalnya.


Lalu, yang menjadi objek ghibahan mereka baru saja membuka pintu geser, sembari membawa baki berisi hidangan.


Mendapatkan tatapan dari dua orang secara bersamaan namun berbeda cara itu. Dayang Han heran.


'Ono opo iki toh?' batinnya bergumam ketika berhasil mencuri lirik pada dua orang bangsawan yang menatapnya lagi.


Satu menatapnya dengan wajah penasaran dan satunya lagi dengan aura mencekam. Dan kalian tak perlu di beri tahu siapa pemilik aura itu, hihi.


Menaruh baki perlahan, lalu perlahan membuka tudung kain penutup hidangan. Menaruh piring-piring kecil berisi beberapa camilan kemudian menata pula cangkir berikut teko berisi teh bunga di hadapan majikannya.


Dan. Tatapan itu, masih bertahan untuk dayang Han. Gugup? Tentu saja, ada apa ini sebenarnya, apa ia salah mengenakan pakaian? Hiasannya aneh? Atau ada kesalahan lain yang ia lakukan terhadap dua orang itu.


Hingga, yang diharapkannya terwujud.


"Kenapa, puteri?" Pecah sudah tanya itu yang terlempar dari mulut sang permaisuri.


Ara menangkap arah tanya itu, pasti buat sosok yang mereka ghibahin barusan.

__ADS_1


"Dia, dayang Han, dia membuatku kesal, nek, sangat." Jawab Ara dengan netranya mengunci tubuh dayang Han yang duduk jauh dari mereka menunduk, namun mendongak segera ketika mendengar dirinya yang menjadi target si lambe bar bar itu.


Sementara sang permaisuri menahan tawanya atau ekspresi apapun yang mengarah pada hal itu. Menunggu alasan absurb apa yang akan keluar dari bibir cucunya.


"Dia, dia masih saja menyuruhku ini dan itu. Tadi pagi, dayang masing ikut melayaniku mandi, terus memakaikanku pakaian, dan, dan.. Ahhh aku sebal, aku bisa sendiri." cerocos Ara bak kereta ekspress jepang itu.


"Lalu? Bukankah itu memang tugas mereka melayanimu, Puteri?" tanya permaisuri heran.


"Benar, tapi, tapi sesekali aku ingin melakukan sendiri.. Lalu, dia enggan sekali menurutiku untuk, untuk didandani, sebal." lanjut gadis itu, kerenyit heran itu jelas terpampang di wajah permaisuri. aneh? Jangan dengarkan doi nek, memang gitu orangnya. Gaje.


"Di dandani?" tanya permaisuri akhirnya.


Dan mengalirlah alasan itu, dan tak butuh waktu lama. Gelak tawa yang tertahan dari tadi akhirnya muncul sudah. Membuat dayang Han malu bukan main mendengar alasan itu kini diketahui permaisuri.


Dasar Ara!!!


******


Tak lama kunjungan itu, datang pula gerombol trio kwek kwek yang awal mula Ara tiba di dunia ini, tak jelas sekali membenci puteri Hwa.


"Puteri Hwa!!" mereka segera mengambil duduk yang sedekat mungkin dengan pemilik ruangan.


Ara malas. Ia hanya berdeham saja menanggapi panggilan itu.


"Tolong, ajari kami. Menjadi cantik sepertimu itu." Alasan mereka datang sudah pasti diketahui Ara. Kan. Benar.


"Ajari bagaimana, kalian punya wajah cantik, dayang yang bagus untuk menghias wajah itu. Lalu, perlu apa lagi." jelas Ara menatap mereka dengan kepala digelengkan.


Serakah sekali sih trio kwek kwek ini.


"Tidak, tidak, tidak. Kami ingin sepertimu, puteri Hwa, jawab, apa benar kalau kau yang melakukannya sendiri?" tanya mereka beruntun.


Hening.


"Kenapa memangnya?" Tanya Ara menunggu.


"Karena kami tak percaya, para dayang rendahan di luar sana bilang kalau kau yang menghias wajahmu itu. Heh, mana mungkin kan?" Itulah alasan sebenarnya, menguji kebenaran dan meminta pengajaran. Ara paham para makhluk serakah itu.


Berdiri, angkuh. Ara membuat mereka mendongak paksa, "Ya, aku yang melakukannya sendiri, kenapa? Kalian tidak percaya pada seorang beauty influecer ini?" pungkas Ara

__ADS_1


__ADS_2