100 Hari Menjadi Puteri Joseon

100 Hari Menjadi Puteri Joseon
Meeting Ratu-Pangeran Sin


__ADS_3

"Paduka," Suara ratu terdengar gusar kala duduk menata teh bunga untuk raja di sebuah gazebo dekat kediaman ratu.


"Ya, ratuku." Jawab raja mengulas senyum untuk isterinya.


"Hal apa yang membuat wajahmu tak begitu cerah, ratu.?" Raja memperhatikan raut kecemasan di wajah isterinya. Menduga pasti ada hal yang mengganggu si empunya.


Mendesah berat, "Aku khawatir jika puteri Hwa akan menolak lagi perjodohan dengan pangeran Sin." Cerita ratu sendu.


"Lalu apa yang harus kita lakukan, ratu. Jika memang puteri Hwa tidak ingin, maka kita harus mengikutinya." Jawab Raja bijaksana.


ratu menggeleng pelan, tak setuju.


"Apa yang akan dikatakan kerajaan Joela jika kita menolak perjodohan ini. Bukankah, mereka menginginkan pernikahan dua kerajaan ini." jelas Ratu.


"Ya. Tapi, bagaimana jika...." perkataan raja dipotong segera...


"Putera mahkota akan naik tahta. Dan kita perlu pendukung kuat agar pelaksanaannya berjalan lancar, paduka." lagi, ratu berusaha mengembalikan rencananya.


"Betul. Tapi ratu kita tidak bisa memaksa puteri Hwa." aku raja juga bertahan pada pendapatnya.


Meskipun perjodohan ini menguntungkan kerajaan, tapi raja tetap bersikap sebagai seorang ayah bagi puterinya. Ia jelas melihat raut penolakan pada puteri Hwa, terlebih ia mendengar jika puteri Hwa memiliki seseorang yang ada di hatinya.


Ia sebagai seorang ayah, tak bisa merenggut kebahagiaan puterinya hanya demi kerajaan.


"Ayah." Suara anak kecil yang lucu menyapa pasangan ini.


Anak lelaki yang mengenakan hanbok berwarna hijau dan merah di beberapa sisi serta topi hitam di kepalanya, dengan riang menghampiri raja yang tengah duduk santai.


"Pangeran Yoon. Jaga panggilanmu." Titah ratu tegas pada putera kecilnya.


Raja terkekeh yang memangku Yoon, pangeran atau putera kedua raja.


"Jangan begitu, ratuku. Biarlah, sesekali ia perlu memanggilku ayah juga, betul Yoon-ah?" ujar Raja menepuk punggung pangeran kecil itu. Membuat bocah yang berada di pangkuan raja tertawa riang.


Ratu mengangguk pelan mendapati ucapan raja barusan. Namun segera ia kembali ingat tujuannya.


"Kita harus segera mendekatkan puteri Hwa dan pangeran Sin, yang Mulia. Kita tanya sekali lagi, pendapat puteri Hwa tentang perjodohannya segera." pinta ratu dengan nada tegas.


"Baiklah." Angguk raja setuju.


*******

__ADS_1


"Bagaimana pangeran Sin. Apakah kau masih menginginkan puteri Hwa sebagai isterimu?" Ratu, yang setelah bertemu raja segera memanggil pangeran Sin yang masih berada di sekitar istana.


Tersenyum dan juga mengangguk.


"Iya, yang mulia. Setelah penolakannya, saya semakin ingin menjadikannya sebagai puteri di kerajaan saya." jawab pangeran Sin tenang.


Tersenyum, "Kalau begitu. Bagaimana pertemuan dengan puteri Hwa tadi? Apakah ia kembali menolak kehadiranmu?" Tanya ratu yang tahu jika pangeran Sin ternyata diterima masuk di kediaman puteri Hwa, bahkan yang mengejutkan adalah pangeran Sin berada cukup lama di dalam ruangan itu.


"Puteri Hwa sempat menyatakan kalau ia merindukanku, ratu." Jawab pangeran Sin senyum bahagia. Ia masih bisa membayangkan betapa wajah cantik itu merona di depannya, ya, merona. entah untuk alasan apa puteri Hwa bisa bersikap layaknya seorang wanita terhadap kekasihnya.


Ratu tertegun, "Benarkah? Aku pikir kau akan dilempari cangkir, pangeran Sin." Ratu terkekeh walaupun jujur dirinya juga tak percaya dengan penyampaian pangeran Sin.


Ratu memang merasa ada perbedaan besar pada gadis itu, tapi untuk sebesar in???? Ia tak yakin.


"Baguslah, kalau begitu... Mari kita teruskan rencana kita, pangeran Sin. Memberikan puteri Hwa agar bisa membantu tahta kita berdua." Lanjut ratu pada rencananya.


Wait, bentar!!! Ratu jahat gak sehhh?¿ kok bau-baunya ada kejahatan di sini ya?


Entahlah, mari kita sama-sama bersuuzon yak. Eh maksudnya menduga-duga.


"Ya, yang mulia." jawab pangeran Sin.


Di lain tempat.......


"Benarkah!!!!" suara puteri Mi menyeruak diantara pertemuan tiga trio kwek kwek.


"Sungguh!!!!!" tambah Putri Hwi.


Berdecak, "Kalian ini, berlebihan sekali sih!!" Desis kesal yang dikeluarkan oleh puteri Yi.


Ia baru saja mendapat kabar dari beberapa dayangnya yang mendapatkan gosip terbaru perihal pangeran tampan dari kerajaan Joela yang datang hari ini.


"Iya, aku mendengar begitu dari dayang-dayangku." ujar puteri Yi, menarik buah jeruk kecil yang warnanya begitu oranye terang.


Mengupas lalu menelan belahannya.


"Ihh, dayang-dayangku kenapa belum memberikan kabar padaku. Awas saja mereka." Decak puteri Hwi pada dayangnya yang kurang up to date padanya.


"Hei, puteri Hwi." panggil puteri Mi. Menarik pandangan puteri Yi dan Hwi serempak.


Memandang penuh selidik.

__ADS_1


"Kenapa puteri Mi, apa ada yang salah dengan wajahku?" tanya puteri Hwi yang dipandang lekat oleh puteri Mi, hingga puteri Yi menggeser matanya pada Hwi mengikuti hal serupa.


"Kau., wajahmu kenapa masih seperti itu, huh? Bukankah kau sudah melihat cara puteri Hwa mendandanimu waktu itu?" selidik puteri Mi


Membuang muka kasar pada hamparan taman di luar gazebo tempat mereka berkumpul.


"Kau tidak tahu apa, sulit tahu!!!" jawab puteri Hwi.


"Tapi kan kau sudah bertanya banyak hal pada puteri Hwa, apa saja bahan dan caranya? Kau ini, hiiwwwww otakmu itu juga." Gemas puteri Mi lagi.


Puteri Yi terkikik mendengar kalimat yang keluar dari bibir puteri Mi, namun kembali normal ketika puteri Hwi segera membalik wajahnya dan melempar tatapan tajam pada puteri Mi lalu puteri Yi bergantian.


"Memangnya otakmu itu sebaik aku, puteri Mi? Aku pikir otakmu tak jauh lebih baik dari aku,." Sahut puteri Hwi kesal, lalu...


"Kau pun juga puteri Yi." Menunjuk puteri Yi yang diam seketika.


"Ada apa ini, para puteri cantik." Suara berat, seksi dan mempesona itu menyela perdebatan absurd ketiga puteri ini. Hingga suara bising tak jelas itu diam dan menoleh bersamaan....


"Pangeran Sin!!!!" ucap mereka bertiga bersamaan dengan wajah terkejut, lalu terpesona....


Pria itu segera menghampiri dan menaruh bokongnya di ujung bangunan itu. Menebar senyum ramahnya yang tentu saja menawan. Hingga tiga gadis, eh tidak, bukan hanya tiga gadis itu tapi para dayang mereka pun yang mencuri pandang ikut meleleh oleh pesona itu.


"Kalian tadi membahas puteri Hwa? Kenapa?" tanya pangeran Sin yang secara tak sengaja mencuri dengar.


Meneguk ludah berat, puteri Mi, Puteri Yi dan puteri Hwi saling melirik satu sama lain dan melempar perintah melalui tarikan alis serta dagu yang diangkat, meskipun dari mereka sama-sama memberikan jawaban gelengan tak berani.


"Ada apa, puteri-puteri?" tanya pangeran Sin penasaran.


"Puteri Mi, boleh aku tahu?" pangeran Sin melempar tanya langsung pada puteri Mi yang duduk tak jauh darinya.


Meringis pelan, puteri Mi mengangguk, "Kami tadi membahas kemampuan puteri Hwa yang bisa mendandani wajah puteri Hwi." jawabnya...


"Kau tahu bukan pangeran Sin. Wajah puteri buruk rupa itu, sudah menjadi cantik lagi sekarang." lanjut puteri.


Mengangguk, sebagai jawaban pangeran Sin.


"Maka dari itu dia kembali menerima perjodohan ini, bukan? Karena puteri Hwa tak lagi berwajah jelek." Sambar puteri Hwi tak lama dari itu.


Membuat kening pangeran Sin berkerut sempurna.


Dan, menggeleng, "Kalian salah, bukan aku yang menolak, tapi puteri Hwa sendiri yang menolakku." Pungkasnya menutup bibir tiga gadis absurd itu.

__ADS_1


__ADS_2