
"Eunghhhhhh." puteri Hwa menggeliatkan tubuhnya, secercah cahaya benderang. Ya.. Malah sangat benderang menelusup ke dalam indera penglihatan yang ia pinjam dari Ara.
"Oh tidak... Aku bangun terlambat." gusarnya seketika. jelas panik yang tergambar di wajah sayu Ara.
"Awwwww. Aduh kepalaku pusing sekali." ketika ia sudah mendudukkan tubuh ramping itu, kontan saat itu juga ia di serang rasa pusing luar biasa.
Kepalanya terasa berat, dan tubuh ini pegal belum lagi gejolak dari dalam perutnya menyeruak hendak keluar.
"Kenapa tubuhku sakit sekali. Kepalaku, kepalaku.... Dayang Han!!!" pekiknya tak lama itu.
Refleks ia memanggil pelayan pribadinya. Untuk mempertanyakan kondisi aneh yang menimpa tubuhnya.
"Dayang Ha...." baru saya ia hendak menyelesaikan perkataannya, mata itu, mata itu menangkap pemandangan.....
"Aku lupa." ia menepuk pelan dahi Ara, saat sudah menyadari jika ia masih berada di dunia aneh ini.
"Sepertinya aku bukan bermimpi tingga di tempat ini." lanjutnya bergumam.
"Tapi, kenapa dengan tubuh ini. Apakah....." puteri Hwa sejenak berpikir keras akan alasan kenapaa tubuh yang ia gunakan merasakan hal yang tidak nyaman sekali.
Dan...
Plak!!
Ia kembali menepuk dahi Ara. Tapi kali ini cukup keras hingga membuatnya mengadu sendiri.
"Oh para dewa!!!." ucapnya lagi.
Karena.....
Ia mengingat sesuatu yang membuatnya tertegun tak percaya.
Puteri Hwa menorehkan rasa malu ketika ingatan itu melintas sempurna meski hanya sekilas.
Flashback on...
"Kau, kau tampak mempesona sekali orabeoni." puji puteri Hwa saat ia dengan tindakan kejutannya memeluk tubuh tuan Kim saat masih di ruangan club malam itu.
Bahkan, jemari Ara tanpa sadar di peralat dan di salah gunakan oleh si tukang kontrak, alias puteri tengil.
Dalam penglihatannya, jelas sekali pria itu seolah membalas sikap puteri Hwa dengan senyum rupawannya.
"Aku sungguh merindukanmu, orabeoni."
"Kau tahu, aku bermimpi hal menggelikan sekali tadi."
"Oh ya? Apa itu.?"
"Aku seolah-olah berada di dalam dunia yang sangat aneh, orabeoni."
"Aneh?"
"Iya."
"Apa itu, coba ceritakan padaku."
"Begini orabeoni.... Aku tiba-tiba berada di tempat yang banyak hal aneh, dari perkataan, benda-benda, pakaian, bahkan, bahkan ada benda berjalan tanpa perlu petugas mengangkat kita." Cerita puteri Hwa.
__ADS_1
"Belum lagi...."
"Orabeoni." panggil puteri Hwa kemudian.
"Hmm ada apa.?" sahut tuan Kim
"Kau, kau juga kenapa aneh seperti ini, putera mahkota?" tanya puteri Hwa melirik setelan pakaian yang tengah dikenakan oleh tuan Kim.
"Apakah aku juga masih bermimpi berada di dunia itu, ya?" ucap puteri Hwa pelan.
"Woy prul, buruan balik, sini." sergah Hana di sela obrolan absurd yang di dengarnya.
"Nah, perempuan itu!!! Ya, perempuan aneh itu!!." teriak puteri Hwa menunjuk bengkok ke arah Hana yang berdiri tak jauh dari tempatnya duduk.
"Ngomong paan sih, ayok pulang."
Dan.....
Ingatan selanjutnya yang tertangkap di ingatan puteri Hwa.
"Bawa aku pulang putera mahkota, bawa pulang." Pinta puteri Hwa yang mendekap tubuh itu lagi ketika berada di anak tangga terakhir saat mereka sudah turun dari ruang club malam itu.
"La la la la la." dendangnya riang. Tak lupa ia meliukkan sedikit tangan gemulai itu sehingga menambah riuh sekitarnya.
Bagaimana tidak, gadis itu merusak liuk goyangan orang yang heboh di sekitarnya.
Puteri Hwa tanpa rasa malu, karena tegukan alkohol sebelumnya sudah merusak syaraf kesadaran Ara sepenuhnya.
Hingga, tatapan sekitarnya diabaikan saja.
"Kau, kau ini siapa huh, memberi perintah seenaknya padaku." balas puteri Hwa.
"Ooo, kau, kau si Ara songong itu ya?" tanya lawan nya itu.
"Ara? Cih. Semua memanggilku dengan Ara Ara Ara dan Ara."
"Aku ini puteri Hwa. Puteri kerajaan Jehwa tau!!!!" sergah puteri Hwa
Dan drama selanjutnya adalah.....
Adegan tarik menarik rambut antara puteri Hwa dan gadis berpakaian mini lilac itu.
"Lihat, dia adalah putera mahkota, orabeoni ku. Kau, kau akan dipenggal oleh ayahku yang tak lain adalah baginda raja, ingat itu!!!!" tunjuk puteri Hwa dengan penampilan berantakkannya.
Ya ampun, malu sekali malam itu.
Tenang. Tak cukup hanya membayangkan penampilan kacau dirinya di hadapan pria yang ia sangka orabeoni-nya itu, tapi kini puteri Hwa lagi-lagi di sodorkan potongan ingatan yang kurang ajar sekali menghampirinya.
"Emmmhh, pangeran Sin???" ucapnya manakala netra hitam bulat itu menangkap siluet tubuh pria yang dikenalnya sebagai pangeran Sin.
"Kau, kenapa muncul di sini dengan penampilan aneh seperti orabeoni-ku, huh???" sergah puteri Hwa heran melihat penampilan Hoon mirip dengan tuan Kim, kasual tapi menawan, terperangkap sempurna dengan pakaian yang begitu pas membalut tubuh pria itu.
"Orabeoni?" tanya Hoon tak paham.
"Iya, dan, dan... Kau, kau....." sepotong demi sepotong puteri Hwa berusaha merangkai kata yang sulit terucap dari lidah itu.
Ia menarik turun diafragma dalam tubuh Ara.
__ADS_1
Dan...
PLakkkkkkk!!!!
Keras, sangat sekali ia menggeplak kepala Hoon.
"Hahahahahaha." gelak tawa puas menguar dari bibir Ara. Yang tentu terniat dari Puteri Hwa sebagai pelakunya.
"Awww." keluh Hoon mendapat kekerasan dari gadis itu
"Rasakan itu." ucap puteri Hwa.
"Kau tahu itu, aku, aku sudah menunggu waktu ini, pangeran Sin." curhat puteri Hwa riang. Seolah setelah melakukam aksi barusan.
"Kau itu sungguh mengesalkan sekali, sudah itu, kau, kau terlalu sering tertangkap tengah bersama perempuan ******. Jadi rasakan itu, aku aku tak akan sudi menerima lamaran darimu... Meskipun dua kerajaaan akan berperang karena penolakanku, aku tak peduli." cerocos puteri Hwa di sela mabuknya.
Astaga, apa yang sudah aku lakukan pada pangeran Sin!!!!
Puteri Hwa tak menyangka ia akan bertindak berani seperti itu.
Bagaimana ini, apakah, apakah kerajaan pangeran Sin akan membalas perbuatanku itu?
tak hanya itu, ternyata masih tersisa ingatan sialan yang menyentak puteri Hwa.
Masih ada lagi kah???
"Ahaaaa, lihat orabeoni, lihat, kita ada di benda aneh, bukan?" teriak puteri Hwa kala mereka sudah menapaki lantai ruang lift menuju lantai tempat tinggal Ara.
"Kau akan terkejut, orabeoni, lihat dan tunggulah."
Seakan memberi tanda pada tuan Kim.
"Kau akan terkejut ketika keluar dari ruang sempit ini, oraboni." jelas puteri Hwa memberi tahu.
Ting!!!!
Pintu lift terbuka.
Puteri Hwa tanpa aba-aba sama sekali, berjingkrak menapaki lantai yang dituju mereka semua.
"Nah, orabeoni, dan kau pangeran Sin. Lihat, sekali kan dunia tempat gadis ini tinggal." Puteri Hwa menunjuk Hana tiba-tiba.
Puteri Hwa bertingkah absurd, ia menari, tertawa, bernyanyi, mencolek tuan Kim dan Hoon.
Dan itu membuatnya *Aku sungguh sudah menjatuhkan harga diriku semalam.
Aku seorang puteri, huhuhuhu*
bagai menyadari hal memalukan itu, ia kini hanya meratapi penyesalan yang terlambat itu.
Di saat ia sibuk meratap... Handel pintu berbunyi.
Ceklek...
Memunculkan...
"Bagaimana tuan puteri, apa kau sudah mengingat hal memalukan semalam???"
__ADS_1