
"Selidiki semua tentang perusahaan itu, sekecil apapun." perintah Kim Hee Sin menutup rapat yang hanya dilakukan bersama asistennya, Sein.
.
.
.
.
Drtttttt drrtttt drttttt
Ponsel Kim Hee Sin tak berhenti bergetar beberapa kali, sebenarnya ia sudah mengabaikan meski belum tahu siapa yang menghubunginya.
Drttt drrttt drttt
Lagi.
Huftt.
"Tidak tahu diri sekali yang menelpon, apakah aku pengangguran? Betapa tidak tahunya dia sibuknya aku?" gerutunya masih menandatangani berkas di map berwarna kuning.
Berhenti.
Ponselnya tak lagi bergetar.
"Siapa sih?" tanyanya tiba-tiba muncul dengan tangan meraih benda pipih itu.
"Nona choi?" gumamnya pelan.
Dan..
"Halo nona Choi. Ada apa menelpon saya tadi? Saya kebetulan sedang......."
"Orabeoni!!!!" pekik suara di ujung telpon sana.
What?? Apakah ini?
Ya, tidak salah, yang memanggilanya dengan sebutan demikian hanya gadis itu.
Jo Ara.
"Nona Ara? Kau kah itu?" tanyanya meminta konfirmasi.
"Iya, iya ini.. Aku Hwa, Orabeoni. Berulang kali aku mengatakan namaku Hwa!!!" saat gadis itu menjawab nyaris tentang Ara, ia sadar jika ia Hwa.
"O,o i,iya. Maaf Hwa." aku Kim Hee Sin kemudian.
"Kau di mana, orabeoni? Kenapa hanya ada suaramu saja? Tanya puteri Hwa yang merasa aneh dengan keberadaan Kim Hee Sin yang hanya menggemakan suara saja.
"Heh?" Kim Hee Sin
"Iya, kau di mana?" tanya puteri Hwa.
"Aku di perusahaanku, K-G Corporate." jawabnya jujur.
"Di mana itu, apa itu K K K G Ko ko.... Susah sekali menyebutkannya." gemas puteri Hwa kala ingin mengulang nama perusahaan milik Kim Hee Sin.
"Kau tidak tahu perusahaanku?" aneh. Begitu pikir Kim Hee Sin.
__ADS_1
Menurutnya, Ara yang seorang influrcer dan kerap tertangkap bersama dengan beberapa pengusaha muda yang menggilainya, malah tak mengenal perusahannya yang sudah mendunia?
Tak masuk akal
Konyol
Aneh
Pikir Kim Hee Sin.
"Tidak. Aku tidak tahu, apa yang kau sebutkan dari tadi." jawab puteri Hwa enteng tanpa beban.
"Kau mau bicara apa sih, Ara. Jangan menggangu tuan Kim. Dia sangat sibuk pasti." Hana menggerutu di ujung telpon sana, mengomentari Ara yang pasti mengganggu waktu kerja Kim Hee Sin.
"Dia sibuk apa? Aku juga tidak melihatnyA mengerjakan apapun. Wujudnya saja aku tidak tahu di mana." bak menjadi cenayang. Puteri Hwa menerka keberadaan Kim Hee Sin, di sekelilingnya, barangkali saja pria itu bersembunyi di sekitarnya, kan?
Tak lama....
Tling tling
Suara meminta pengalihan telpon menjadi mode video ditampilkan di layar ponsel yang dipegang puteri Hwa.
"Kenapa ada...."
Pikirnya merasa aneh.
"Tarik tombol hijau itu, Ara." Perintah Hana pada Ara.
Bingung? Begitu yang tertangkap oleh mata Hana.
"Huftt, kau tidak tahu menarik tombol di layar itu? Ayo buruan, Tuan Kim mau melakukan panggilan video." gemas Hana pada Ara yang masih memperhatikan layar ponselnya.
Baik Hana maupun Kim Hee Sin sama-sama tertegun mendengar ucapan pasrah yang keluar dari bibir Ara.
Dia tidak tahu?
Padahal hanya perlu menarik tombol itu saja dan semuanya selesai.
Lalu kenapa sampai tidak tahu?
Segitu parahnya kah hilang ingatan yang dialami Ara?
Mustahil.
Separah apapun amnesia seseorang, ia tak akan melupakan kebiasaan yang sering dilakukannya.
"Tinggal tarik aja, gini." Hana mempraktekkan tepat di depan kedua bola mata sahabatnya yang memperhatikan lamat-lamat.
Dan...
Tampil lah wajah tampan seorang Kim Hee Sin, dengan kacamata bertengger mantap di hidungnya. Menambah karisma pria itu.
'Bagaimana mungkin? Kenapa wajah Orabeoni ada di dalam benda ini?' benak puteri Hwa menatap takjub pada ponsel yang masih menempel di tangan Ara.
"Maaf atas waktunya yang terganggu tuan Kim." ucap Hana memohon maaf mewakili Ara tentunya yang masih bengong menatap ponsel.
Entah ponsel atau pria itu yang menjadi objek tatapannya.
"Hai. Hwa." sapa Kim Hee Sin setelah sebelumnya menerima permintaan maaf dari Hana.
__ADS_1
Tak Kunjung di jawab, apakah Ara melamun?
"Hei, kau kenapa?" Kim Hee Sin melambaikan telapak tangannya untuk menarik fokus Ara.
"Ara!!" Hana menepuk bahu gadis itu yang langsung terjenkit kaget.
"Kau kenapa sih? melamun?" tanya Hana yang kemudian dibantah puteri Hwa dengan gelengan kepala.
"Lalu?" tanya Hana lagi.
"Aku hanya merasa aneh, kenapa orabeoni berada di dalam benda kecil ini? Kenapa ia terkurung di dalam sana?" pertanyaan yang keluar dengan lancar dari bibir gadis itu, memantik rasa tertegun baik Hana dan Kim Hee Sin.
Terkurung katanya?
Ya Tuhan!!!
Demi apapun itu.
"Dia tidak terkurung, Ara. Memang begitu jika kita menelpon seseorang." jawab Hana merasa konyol.
"Menelpon?" tak paham, kata baru lagi.
"Ya, kau berbicara dengan orang yang berada di jarak yang jauh." seakan mengajarkan pada anak kecil, Hana gemas karena secara nyata ia menjelaskan pada manusia dewasa.
"Hei Hwa. Saat kau ingin berbicara dengan orang yang tidak bisa kau lihat dari dekat, benda yang sedang kau pegang bisa membuatmu berbicara dengan orang itu, di manapun." jelas Kim Hee Sin dengan sabar.
Hana merasa aneh, kenapa pria itu tak ada geramnya sedikitpun akan tingkah konyol sahabatnya ini.
"Ooo begitu." hanya itu jawaban singkat dari puteri Hwa.
"Kau berada di mana. Orabeoni?" tanya puteri Hwa. Padahal sebelumnya sudah di jelaskan keberadaan pria itu yang sedang berada di perusahannya.
"Perusahaan, tempatku bekerja, Hwa." jawab Kim Hee Sin.
"Hmmm. Tempatmu bekerja sepertinya sungguh menakjubkan." puji puteri Hwa kala menangkap sisi kemewahan yang ada di belakang Kim Hee Sin.
Ia mampu menatap langit dengan beberapa gedung yang tak terlalu tinggi itu.
"Jelas saja, Ara. Itu K-G Corporate." Hana menepuk pelan paha Ara.
"Boleh sewaktu-waktu aku mengunjungh tempatmu bekerja, orabeoni?" tanpa basa-basi, puteri Hwa membuat permintaan yang membuat Hana membelalakan bola matanya.
"Hei. Jangan sembarangan. Kita bukan siapa-siapa." Hana segera membatalkan ucapan Ara, berharap gadis itu tidak serius dan sadar akan ucapannya.
"Kenapa tidak? Tentu kau boleh kemari, Hwa-ya." Hana pasrah, mana kala pria itu justeru menyambut dan mengabulkan permintaan Ara tanpa berpikir lagi.
"Betulkah?? Apakah bisa hari ini?" antusias, itu yang ditampilkan puteri Hwa.
Ia tak sabar, penasaran dengan keberadaan pria itu di mana.
"Jangan. Kau harus pulih dulu. Nanti biar sopirku yang menjemput kalian untuk datang ke kantorku." tutur Kim Hee Sin.
"Tapi aku baik-baik saja. Itu hanya pisau kecil. Tidak ada apa-apanya dengan pedang, panah serta racun yang pernah melukaiku." jelas puteri Hwa ketika mengingat perlakuan geng apel.
"Hah? pedang?" Kim Hee Sin
"Panah?" Hana
"Ra-racun???!!!" Kim Hee Sin dan Hana kompak menyebutkan kata itu ketika mendengar dengan santainya Ara menyebut pisau ukuran 30 cm dengan pisau kecil.
__ADS_1