
Puteri Hwa tengah memandangi kumpulan bunga di salah satu paviliun belakang istana. Bangunan yang pernah di tinggali oleh permaisuri yang menjadi neneknya dulu. Dan diberikan padanya, sehingga dengan sangat suka cita, Puteri Hwa menjadikan tempat itu menjadi taman bunga dengan bangunan gagah yang terlihat tua menjadi lebih berwarna.
Puteri Hwa sering menyendiri tanpa memberi tahu siapapun. Walaupun pada akhirnya, satu sosok yang sudah pasti menemukannya. Dayang Han.
Gadis itu, entah bagaimana bisa selalu mampu menemukan Hwa di manapun berada.
"Dayang Han, terlambat sekali kamu menemukanku pagi ini." Cicit Hwa sembari membersihkan rerumputan liar yang mengganggu tanaman bunganya.
Hening.
"Dayang Han... Anda.?" Hwa tersenyum tatkala melihat sosok yang datang menghampirinya, ternyata bukan dayang Han.
"Apa kabarmu, ayo mari masuk." Ajak Hwa mulai berdiri dan melangkah anggun menaiki satu persatu anak tangga yang berjumlah 8 itu.
Sosok yang nampak dari belakang itu, mengenakan jubah berwarna biru gelap, rambutnya tergerai dengan kepang manis berhias jepit rambut.
"Baik tuan Puteri, bagaimana dengan anda.?"Tanya sosok perempuan itu.
"Baik, coba kau lihat, saya dapat kiriman dari utusan putera mahkota. Apakah wajahku tampak lebih menarik ?" Tanya Hwa menunjukkan wajahnya yang tadi dipoles bedak.
Perempuan itu tampak menegang terlihat dari bahu belakangnya yang bergetar.
"Tapi puteri, saya tidak menemui satu pun utusan putera mahkota Sin lebih dari 1 bulan yang lalu." Jelas perempuan yang wajahnya kini terlihat setelah membuka tabirnya.
"Lalu, perempuan itu siapa?" Tanya Hwa terkejut.
"Saya tidak tahu Puteri, dan.. Putera mahkota tidak pernah memiliki utusan perempuan. Anda tahu bukan?" Lanjut perempuan itu.
Hwa kini menegang. Menatap kotak kecil yang berisi bedak yang tabur dan juga agak basah.
Dan, sudah hampir 2 jam ia mengenakan benda itu.
"Puteri?!!" panggil perempuan itu.
Karena mendengar langkah kaki terburu-buru, perempuan itu menyelinap dan mengambil jalan keluar seperti biasa.
Sebuah pintu kecil di belakang tempat duduk Hwa.
"Puteri!!" Panggil suara yang dikenali Hwa sebagai Dayang Han.
Hening
"Put..." Dayang Han membeku kala melihat Hwa bergetar hebat. Bahkan.. tampak meringis.
Dayang Han berjalan cepat menghampiri Hwa.
"Ada apa Yang Mulia." Dayang Han begitu khawatir, terlebih tidak lama setelah itu,
"Arghhhggg Panasssss.!!!" Jerit Hwa merangkum wajahnya.
Dayang Han semakin panik.
"Puteri, ada apa dengan anda." Ucap dayang Han menyentuh tubuh sang puteri.
Dan,,,, kepanikan itu berubah semakin mencekam.
__ADS_1
Tatkala, wajah Hwa berubah memerah dan,,, mengelupas.
***
"Apa kau melihat dan mendengar siapa yang menganiayaku hari itu.?" Tanya Ara setelah mendengar penuturan dayang Han tadi.
Dayang Han mengerutkan dahi... "Menganiaya?" Tanya dayang Han.
Ups!
Baiklah, Ara lupa lagi untuk memilah kata yang tepat pada era ini.
"Maksudku, apa ada yang memukulku, atau meracuniku.?" Jelas Ara kemudian dengan nada tanya di ujungnya.
Dayang Han menggeleng. "Hari itu, anda sendirian Yang Mulia, di dalam paviliun permaisuri." Jawab dayang Han yakin.
Ara menajamkan alisnya.
Benarkah? Jelas sekali jika wajah ini rusak karena zat yang asing dan pasti mengandung racun.
"Kalau aku sendirian, kemana kau dan para dayang serta pengawal lainnya?? Apa aku di culik dan di sekap di sana.?" Lanjut Ara menginterogasi dayang Han lagi.
Ara antusias sekali sepertinya.
"Anda tidak di culik puteri, dan biasanya pergi sembunyi-sembunyi ke sana puteri. Biasanya saya yang akan menemukan anda di sana." Jelas dayang Han.
Ara menatap lekat dayang muda itu, dan, tampaknya gadis itu berkata jujur, di lihat dari ekspresi serta gestur tubuh yang tak mencurigakan.
Ara mencoba berpikir keras.
"Lalu, siapa yang mengurus wajah dan penampilanku.?" Tanya Ara kemudian, jelas sekali rasa penasaran meliputi wajahnya.
"Para dayang dari departemen perawatan dan tubuh anda, Puteri." Jawab Dayang Han.
"Apakah tidak ada yang aneh dengan semua bedak untukku.?" Ara bertanya lagi.
Dayang Han menggeleng yakin.
"Semua yang Anda gunakan tidak ada yang terlihat aneh atau membahayakan. Sudah biasa seperti sebelumnya Yang Mulia." Ujar dayang Han yakin.
Ara tak yakin malah.
Ia melipat kedua tangannya, lalu mengangkat salah satunya, menggenggam telapak itu lalu menopangnya di dagu.
***
Ara berteriak kencang, malah sangat kencang
Ia berlari dalam suasana gelap, tanpa alas kaki dan memakai hanbok lengkap di tubuhnya.
Berlarian tanpa jelas arahnya kemana. Lalu.
Byurrrr!!!!
Ia sudah berada dalam kumpulan air yang menyelimuti seluruh tubuhnya.
__ADS_1
"Arghhh, hmmmpppppp." Ara memberontakkan tubuhnya.
Semakin ia berusaha menggerakan tubuh, maka semakin dalam ia terjerumus pada kegelapan air.
'Siapapun itu, tolong gue. Gue janji jadi anak baek mulai sekarang, janji Tuhan, Dewa dan semua petinggi langit.' Teriak batin Ara penuh harap.
Ketika tubuhnya sudah dalam batas akhir bertahan. Tak berdaya dan pasrah terus masuk pada kegelapan.
Ia melihat satu kilat cahaya dari atasnya.
Menggapai pasrah, Ara menjulurkan tangannya ke atas. Dan....
"Te-terima kasih." Ucap Ara setelah sampai di daratan kembali. Menarik nafas kuat dan mendongakkan kepala..
Siapa itu?
"Aku salah satu dari yang kamu sebut tadi." Wanita tua yang Ara perkirakan seusia neneknya atau lebih tua lagi, kini terkekeh setelah mengucapkan hal itu
"Hah?? aku di mana?" Tanya Ara masih berusaha menarik nafas.
"Kamu ada di tempat yang membutuhkanmu, Ara." Jawab nenek itu.
Ara diam mendengarkan.
"Bantulah Hwa keluar dari dunia gelapnya. Selama 100 hari, kau akan terus di sini sampai Hwa kembali." Jelas nenek tua itu lagi.
Ara tertegun, Membantu Hwa, kenapa??
"Kenapa harus aku?" Tanya Ara tak percaya. Apa urusannya hingga harus ikut campur dengan hidup si Hwa ini.
"Kau seharusnya meninggal Ara, kau ingat apa yang terjadi dengan tubuhmu, di dunianmu sana. Kau sekarat sekarang Ara." Papar si nenek.
Ara terkejut, jelas, sangat terkejut.
Seberapa parah tubuhnya hingga bisa sekarat. Lalu, di mana tubuhnya sekarang.
"Kau sekarang berada di rumah sakit, terbaring koma. Kau baru bisa kembali jika selesai membantu Hwa di sini." Seolah paham dengan jalan pikir Ara, si nenek menjelaskan maksudnya.
"Lalu, kalau aku tidak berhasil, bagaimana dengan diriku.?" Tanya Ara dengan suara yang nyaris tercekat.
Nenek tua itu menatap Ara dengan wajah tegas.
"Maka kau akan meninggal, begitu pula dengan Hwa. Kalian akan akan sama-sama meninggal." Jelas nenek.
Ara kembali terkejut, bahkan wajahnya pusat pasi mendengar kalimat tersebut.
"Bagaimana Ara,? Apa kau bersedia membantu Hwa dan keluar dari sini lalu hidup kembali di duniamu sana?" Tanya si nenek, seolah memberikan penawaran pada Ara.
Ara menoleh, dengan kepala yang dianggukan keras. Ia menjawab, "Iya, aku, aku siap dan aku mau." Jawab Ara Yakin.
"Baiklah Ara, berjuanglah kalau begitu." Ujar si nenek yang perlahan suaranya sayup-sayup menghilang dan tak terdengar lagi.
Ara yang merasakan kegelapan tadi, perlahan melihat secercaha cahaya temaram, membuka mata pelan dan...
Ia kembali melihat ruangan ini, ya.... Tempat Hwa tinggal, bangunan sang puteri kerajaan ini.
__ADS_1