
Lamat-lamat, bayang puteri Hwa mengabur dari pandangan Ara. Gadis yang sedari tadi kong kalingkong bersekutu dengan nenek goib itu menatap Ara dengan wajah yang,,,,,,, yang,,, itu wajah jahil!!!!
"Kenapa pulak dengan seringainya itu. Kok gak suka gue liatnya ya." komentar Ara pada puteri Hwa yang sudah hilang dari rapat mereka bertiga.
Sementara satu lagi, si nenek berbaring membelakangi Ara.
Tak peduli mau ngapain tuh bocah.
"Hei nek." panggil Ara setelah 30 menit dirinya masih diam di sana. Karena biasanya ia akan lenyap dan kembali ks Joseon.
"Hai juga Ara." balas nenek melambaikan tangan dengan posisi yang masih sama.
"Aku tak menyapa, aku manggil nek. Buruan liat aku, gak enak banget digituin." gerutunya
"Ngomong aja, toh aku bisa tahu apapun yang kau lakukan di belakangku....."
"Termasuk saat kau menjulurkan bibir dan lidah tadi."
Heh??
"Hihi, ah nenek, jangan negatif ah. gue canda doang." kelesnya.
"Kau mau bilang apa?"
"Apa kau mau menanyakan *Nek, kenapa aku belum kembali ke Joseon?*" duga nenek.
"Eh, kok nenek tahu sih??" Ara merangsek merangkul tubuh nenek saking antusias akan tebakan tadi.
"Ihh sana-sana sana.... Syuhhhh syuhhhh." tepis nenek, lalu duduk dan menatap Ara.
"Ihhh nenek." cemberutnya.
"Kau belum bisa kembali ke Joseon, karena memang belum waktunya." jelas nenek.
"Belum waktunya?" beo bar-bar
"Lihat." sebuah bayang besar terlukis di hamparan depan mereka.
Ara bisa melihat, itu adalah., sekumpulan anggota kerajaan dan tabib serta.....
"Itu, itu puteri Hwa kenapa???" histerisnya bertanya.
"Nonton aja sih, banyak koment banget tuh lambe." kritik nenek
"Kan gak tau. Ihhh, nenek kalo sama puteri Hwa baek banget, sama gue kagak. Gak boleh pilih kasih." sergah Ara sebal.
"Makanya, jadi anak manis kalo mau di belai-belai." kekeh nenek membelai kepala Ara yang direspon gadis itu dengan mendelik.
"Lihatlah sana. Kau akan tahu segera Ara." perintah nenek lagi.
Kembali pada gambaran di ruangan yang terbaring puteri Hwa di sana.
Jika dilihat, Ara bingung untuk menebak, karena ia tak mau itu benar. Horor tahu..... Walau.
"Puteri!!!!!!" ratu meraih tubuh puteri Hwa dalam dekapan eratnya, sementara raja menunduk, terlihat ia mengusap wajahnya. Apakah raja menangis? Lalu putera mahkota yang duduk di ujung kaki puteri Hwa tak sedikitpun melepas pandangannya pada tubuh ringkih itu.
__ADS_1
Dayang Han? Ia terlihat bergetar menahan sesuatu dalam tubuhnya.
"Ada apaan sih di bawah sana?" gumam Ara bertanya.
Hingga tanya itu terjawab tunai....
Ara termenung, matanya tertahan untuk berkedip,....
"Puteri Hwa!!!!!" Para pelayan sontak menyembahkan tubuh mereka, manakala, yang mereka panggil penuh haru itu sudah mulai tertutupi kain putih keemasan dari sutra. Ratu terlihat direngkuh oleh raja, putera mahkota kini menunduk dalam.
"Yang mulia!!!!" lagi. Mereka berteriak dengan iringan isak tangis berjamaah.
"Nek." Ara mengalami kesulitan berbicara, berat rasanya ia mengeluarkan satu kata itu.
"Apa?" jawab sekaligus tanya kesan santai si nenek.
Pelan, Ara menarik telunjuknya menuju adegan yang terhampar itu.
"Ke-ke-kenapa de-dengan pu-puteri Hwa??" kelunya merangkai kata demi kata.
"Lihat saja." tanggap nenek kembali santai seolah apa yang dirasakan Ara adalah hal biasa saja.
Tak terpengaruh.
"Nek!!!" Kelu itu merangkak menghasilkan jeritan menyayat, pun ditambah dengan derai air mata.
"Sudahlah Ara. Kau belum melihat semuanya. Jadi tenanglah. Lebay banget sih Lo." komentar nenek.
"Bagaimana gue bisa tenang, nek!!!"
Ara melotot histeris.
"Itu artinya dia meninggal."
"Itu artinya gue juga bentar lagi koit di sana."
Nenek merespon dengan gelengan kepala.
"Ckckckck, kau ini. duduklah dulu, nikmati apa yang bisa kau lihat." ujar nenek pelan.
"Gak, gue katanya belum mati. Katanya kami bertukar jiwa, itu sama aja dengan gue hidup." sanggah Ara menolak, menolak mati maksudnya.
"Makanya duduk, kau ini bandel sekali sih." gemas nenek melihat Ara.
Dan....
Tanpa bisa dikendalikan, Ara merasakan tubuhnya digiring paksa, duduk. Tertahan dan tak bisa bergerak. Pun dengan..
"Hemmmppp hemmmpp hemmppp." mulut Ara terkunci rapat. Sekeras apapun ia berucap atau menjerit. Tetap saja bibir itu enggan terbuka.
"Makanya diem tuh congor. berisik banget sih." kicau nenek.
Dan kembali ke Joseon...
"Puteri Hwa." Isak tangis ratu menguar memenuhi ruangan. Ditambah sayatan pilu para pelayan yang juga melakukan hal serupa.
__ADS_1
Setelah kejadian perkelahian di tempat pemandian puteri Hwa, dengan penusukan tertancap dalam di perut sebelah kirinya. Usaha pertolongan terhadap nyawa puteri Hwa rupanya tak mampu dilakukan oleh tabib ketika perlahan tubuh itu pelan kehilangan denyut jantungnya.
"Aku, aku, aku, aku akan membuat perhitungan yang lebih parah terhadap mereka semua."
"Akan aku balas lebih kejam untuk tiap luka yang mereka goreskan di tubuhmu."
"Aku berjanji, Hwa-ya." pelan, putera mahkota menggumamkan dendam kesumat dalam dirinya.
******
"Ara, ba-ba-bangun???" Hana tak percaya ketika mendengar penuturan barusan. Tubuhnya belum bisa bekerja sempurna, setelah ia diguncang oleh spekulasi dokter akan nasib sahabatnya yang tinggal menunggu hari. Tapi sekarang, sekarang ia malah mendengar kejutan yang bisa dipastikan mengacaukan kerja jantung dan otaknya yang belum siap.
"Sus...!" ia menarik cepat perawat yang baru saja akan melewatinya untuk masuk ke dalam ruangan tempat Ara dinyatakan terbangun.
"Iya nona? Ada yang bisa dibantu." tanya perawat wanita itu.
"Sahabat saya, sahabat saya yang ada di dalam dan yang bernama Ara kan yang tersadar???" Hana butuh konfirmasi jelas mengenai hal itu. Enggan rasanya berhalusinasi atau salah paham nanti.
"Iya nona. Sahabat anda yang di dalam, atas nama pasien Go Ara baru saja tersadar kembali." terang perawat lengkap.
"Oh Tuhan!!!!!" menutup mulutnya dengan dua tangan...
Bersimpuh.
"Thanks God. Terima kasih Tuhan, para dewa, para leluhur dan semuanya." lirih ia menguraikan air mata, terharu.
Ia menatap pintu ruang ICU yang sudah tertutup kembali ketika perawat memasukinya.
"Ara... Hiks hiks hiks." isaknya terdengar
"Makasih udah kembali, hiks hiks hiks." lanjutnya.
Di dalam ruangan......
"Periksa denyut jantung, dan lainnya perawat." dokter yang berdiri memberi perintah pada para perawat.
"Semua normal, dokter." jawab perawat setelah selesai melakukan perintah tersebut.
"Baiklah." giliran dokter memastikan kembali, menggunakan tangan serta stetoskopnya, meraih pergelangan tangan Ara. Lalu mengangguk. Kemudian bergeser pada area dada, dan mengangguk lagi.
"Semua bagus." ucap dokter yakin.
"Tapi nona Ara mendadak menutup mata lagi, dok. Apakah itu syok saja atau..."
"Ia sudah normal, mungkin sebentar lagi akan sadar." jawab dokter
Ketika sang dokter akan menyinari mata Ara yang tertutup.... Kelopak mata itu pelan terbuka.. ..
"Nona Ara?" panggil dokter.
Mata itu berkedip 3 kali, dan....
"Arrrrgggggggģhh siapa kalian!!!!!!" teriak gadis itu tiba-tiba hingga para petugas kesehatan refleks bergerak mundur.
Sementara yang berteriak duduk, menatap tajam mereka semua.
__ADS_1
"Berani sekali kalian menyentuh tubuh seorang puteri. Akan ku hukum pancung kalian!!!!"