100 Hari Menjadi Puteri Joseon

100 Hari Menjadi Puteri Joseon
Serangan dari Orang Terdekat


__ADS_3

Won yang meskipun tahu jika gadis yang duduk di hadapannya adalah keponakannya, tapi dirinya masih terlalu canggung menatap gadis ìtu.


"Jadi, wanita yang kini di singgasana itu......" Puteri Hwa merasakan jika tangannya kini sudah berkeringat, bahkan ia menahan diri agar tidak menggubris getaran yang sudah mulai terasa.


"Iya, Haneul, dia bukanlah ratu sebenarnya." Won melanjutkan kata-kata Puteri Hwa yang terpotong.


"Ha-Haneul?" puteri Hwa tertegun kala mendengar sebuah nama asing.


Membuat Won sontak menutup mulutnya menggunakan telapak tangan kanannya.


"Apakah Haneul itu namaku?" puteri Hwa mencoba menebak, meskipun ragu mengiringi kepercaya dirian itu.


Pria yang bernama Won itu mengangguk dengan wajah tertunduk, merasa tidak enak mengatakan hal yang merupakan jati diri puteri Hwa.


"Ooh, jadi namaku Haneul." gumam puteri Hwa.


Di saat keheningan setelah itu, tiba-tiba suara berisik dari arah luar bangunan.


Denting besi beradu pun ikut merasuk di antaranya.


Firasat puteri Hwa tak salah. Dayangnya tentu kini tengah dalam bahaya di luar sana. Tentunya dia termasuk di sana, sebagai target utama.


Berdiri yakin, lalu bergegas menghampiri pertarungan itu.


"Yang......" belum sempat Won menyelesaikan ucapannya, gadis yang juga puteri sekaligus keponakannya itu telah cepat menghilang di balik daun pintu dengan tirai membatasinya.


Ketika puteri Hwa telah berada di luar, benar dugaannya.


Oen, dayang pribadi dan orang kepercayaannya kini tengah mengadu pedang miliknya kepada sosok berpakaian serba hitam lengkap dengan penutup wajah dan senjata.


Puteri Hwa menoleh ke semua penyerang itu,...


'Ada 6 orang' benaknya membatin menghitung musuh mereka.


"Siapa mereka, Yang Mulia." Won sudah berdiri di sisi kiri puteri Hwa yang telah mengeluarkan pedangnya untuk ikut bertarung.


"Aku tidak tahu." setelah mengucapkan jawaban itu, puteri Hwa sudah mendaratkan kakinya diantara pertarungan itu, menyerang mereka yang menggunakan pakaian serba hitam.


Ting


Ting


ting


Crashhhhhhhhh


Ia berhasil merobek penutup wajah salah satu dari mereka, kembali melayangkan pedangnya menuju sosok itu dengan mantap.


"Yang Mulia awasss!!!!" teriak Won yang juga ikut menebas sosok yang hampir saja menancapkan mata pedang itu ke tubuh puteri Hwa.


"Terima kasih." ucap puteri Hwa, lalu lagi-lagi menuju penyerang lainnya.

__ADS_1


Kini, ke enam orang berpakaian serba hitam itu sontak mengelilingi tubuh puteri Hwa, mengabaikan dayang Oen dan Won.


Mereka bertekad menyerang dan menebaskan pedang mereka secara berkelompok pada gadis itu seorang diri.


Tega?


Benar


Pecundang?


Entah, bisa disebut layak apakah mereka yang lebih rendah daripada seorang pecundang.


Puteri Hwa terkekeh.


"Kalian benar-benar berniat membunuhku rupanya." ia mengeluarkan satu pedang dengan ukuran setengah dari pedang satunya.


Menyilangkannya, menerima tantangan keenam pengecut itu.


Ia menduga jika keenam itu adalah para pria kesemuanya. Setelah satu orang sebelumnya telah ke tahui sebagai pria.


"Yang Mulia." Dayang Oen tentu tak tinggal diam manakala melihat majikannya di incar keenam orang itu.


Ia mengambil posisi di hadapan tubuh puteri Hwa. Siap memberikan nyawanya dan menjadi tameng bagi gadis itu.


Sungguh loyal sekali dayang Oen ini.


"Dayang Oen." lirih puteri Hwa melihat sikap berani dayangnya.


"Saya akan melindungi anda bagaimana pun caranya Yang Mulia." Ucap dayang Oen yakin, tak ada ketakutan atau keraguan sedikitpun dari kata-katanya.


Melindungi satu-satunya keluarga yang ia miliki saat ini, meskipun itu masih rahasia.


Kini ketiga orang itu telah siap menyambut serangan enam orang lawan mereka.


Dan.....


Jyaatttttt!!!!


Ting


Ting


Ting


Keenam orang itu, tetap memfokuskan serangan mereka hanya pada satu orang, mengelak dari serangan dayang Oen dan Won, mencoba meraih tubuh puteri Hwa yang membalas serangan dari yang lain.


'Mereka hanyà mengincarku saja.' batin puteri Hwa menatap keenam orang itu mengelak dari Dayang Oen dan Won dan beralih menuju dirinya seorang.


"Yang Mulia. Hati-hati!!!" teriak dayang Oen menangkap serangan salah satu penyerang yang menujukan mata pedang itu kepada majikannya.


Hampir 30 menit mereka terus saling menyerang.

__ADS_1


Puteri Hwa hanya bertujuan untuk menyingkap tabir di wajah mereka semua, dan hanya tinggal satu lagi, namun sangat sulit. Sungguh licin ia meliukan tubuhnya.


Hingga.


Shuuuuupppppp


Satu anak panah menyasar ke tubuh puteri Hwa.


Namun karena ia memiliki insting bagus pada serangan tiba-tiba, maka ia dengan mudah menyingkir dari mata panah itu hingga menancap ke salah satu pohon di sisi kanannya.


"Yang Mulia.!!!!" dayang Oen memekik ketika menyadari serangan mendadak itu menuju majikannya.


Selanjutnya, mereka dikagetkan oleh....


Shuppppp


Shuppp


Sebanyak 5 mata panah kini menuju ke masing-masing tubuh lima orang yang wajahnya sudah tersingkap tadi. Dan melewatkan satu orang yang masih tersisa dan kini telah hilang di kegelapan malam.


"Mereka dibunuh!!" dayang Oen membulatkan matanya melihat tubuh penyerang mereka telah bersimbah darah di kepala mereka berlima.


"Tunggu dulu!!!" puteri Hwa hendak mendekati tubuh yang menggelapar di atas tanah itu namun ditahan oleh suara bariton milik Won.


Puteri Hwa menoleh, "Kenapa?" tanyanya heran.


"Aku hanya mencemaskanmu, Haneul." ucap Won lirih.


"Aku hanya mau memastikan sesuatu." balas puteri Hwa kembali melangkahkan kakinya menuju tubuh mereka, diikuti oleh dayang Oen di belakangnya dengan sikap waspada tentunya.


Mata indah milik puteri Hwa kini menyorot wajah lima orang penyerangnya yang kini sudah tidak menggelepar lagi, sepertinya mereka sudah diambang kematian, dengan mata yang terbuka.


"Dayang Oen." panggil puteri Hwa pada dayang Oen yang berdiri di belakangnya yang kini tengah berjongkong di hadapan salah satu tubuh mayat pria penyerangnya.


"Iya Yang Mulia." jawab dayang Oen pelan.


"Apakah kita memiliki jawaban yang sama?" tanya puteri Hwa tetap pada posisinya.


"Iya Yang Mulia." setuju dayang Oen membenarkan dugaan puteri Hwa.


"Ada apa, Yang Mulia. Apakah kau mengenali para penyerangmu ini?" Won ikut bersuara ketika menangkap ada keganjilan diantara kedua gadis muda ini.


"Iya, paman. Mereka adalah para pengawalku." sahut puteri Hwa pelan.


Membuat Won membulatkan kedua matanya mendengar jawaban tidak masuk akal itu.


"Maksudmu Yang Mulia?" Won tidak paham ucapan keponakannya ini.


"Iya. Mereka adalah penjaga di kediamanku, dan juga sering mengawalku di setiap perjalananku." jawab puteri Hwa jelas.


"Lalu.... Kenapa mereka bisa...." Won sungguh menggelengkan kepalanya mendengar jawaban puteri Hwa. Bagaimana mungkin mereka yang sering menjaga puteri Hwa itu kini dengan beringas dan yakin mengarahkan pedang mereka untuk melukai bahkan mungkin berniat melenyapkan nyawa majikan mereka sendiri.

__ADS_1


"Aku juga baru kali ini di serang seperti ini, paman. Meskipun teror sudah sering aku dapatkan." jelas puteri Hwa.


"Siapa yang menerormu. Yang Mulia? Karena mereka saja orang terdekatmu yang melindungi, malah menjadi musuh terdekatmu yang berniat melukaimu juga."


__ADS_2