100 Hari Menjadi Puteri Joseon

100 Hari Menjadi Puteri Joseon
Antara Hidup dan Mati


__ADS_3

Setelah pembicaraan yang mengundang banyak tanya dengan putera mahkota. Ara dipusingkan akan teka-teki rahasia....


Flashback On


"*Apa kau lupa, rahasia yang kita jaga itu, Hwa-ya?"


Ara bungkam, tak tahu jawab apa.


"Baiklah, kalau begitu..."


"Hanya saja, aku harap, setiap hal yang kita lalui di villa itu.... Suatu saat kau akan mengingatnya*."


Flashback Off.


"Rahasia paan coba."


"Mana urusan ratu yang kayaknya ikut ambil bagian dalam kejadian puteri Hwa."


"Dan itu yang ngebuat gue pusing, kok seorang ibu terlibat dalam kejahatan terhadap puterinya. Si?"


"Walau ada campur tangan oknum lain, tapi tetap saja, apa pemicunya."


"Dan, putera mahkota juga kayaknya kurang respek sama emaknya."


"Permusuhan apa ini." Gumam Ara


Ara yang tengah asik menggumam itu, tak menyadari, ada sosok yang tengah mengawasinya dari balik tirai...


Happppp, ziyaaaatttt.


Pedang, pedang itu nyaris memenggal lehernya.


"Heiiiii." Untung ia bisa mengelak karena melihat bayang dari cermin kecil dekat pot bunga tempatnya mandi.


Melompat keluar dari bak..


"Sialan!!!!" Makinya kesal.


Tapi, kesigapan sosok itu cukup membuatnya kewalahan.


"Woyyy tunggu dulu, sialan banget ya.!!!" teriak Ara mendapati lawannya terus saja bergerak liar mengacungkan pedang itu ke arahnya.


Baju basah yang ia pakai turut membuatnya kesulitan bergerak.


"Apa gak ada yang denger ribut-ribut di sini, huh!!????" geramnya


Meraih benda apa saja yang bisa jadi senjata.... Yang sialnya adalah benda itu jauh banget. Ia hendak menjangkau vas bunga.


"Sial!!!!" ucapnya, hingga, malang tak dapat ditolak.


"Argghhh." Ara meringis ketika pedang tajam itu dengan sukses mendarat di kulit mulus puteri Hwa.


"Siapa kau???" tanyanya di sela gerakan menghindar. Ara tak segesit biasanya, lawannya pintar sekali mencari waktu.


Dan, brettttt!!

__ADS_1


Ara merobek kesal baju mandi puteri Hwa, menyisakan baju yang kini tinggal selutut dan lengan sepundak.


"Kenapa?? Gak pernah liat badan mulus pa??" dengusnya ketika lawannya seolah tertegun menatapnya.


"Mari, siapa yang akan mati di sini." Ara menantang dengan yakin, masa' bodoh ia tak imbang, tapi, ia akan berusaha setidaknya....


Tapi...


"Arghhhhh." mata pedang itu menggoresnya lagi.


Melemahkan pertahanan, kekuatan dan kegesitan Ara.


"Oh God!!!!" ucapnya tertahan, sakit itu cukup membuatnya meringis. Perih.


"Kau akan mati kali ini, tuan puteri." begitu, ucapan lawannya yang sudah siap mengacungkan ujung pedangnya pada puteri Hwa.


"Yang Mulia!!!!" suara itu, setidaknya Ara tak sendirian, walau...


"Argghh." lawannya yang merasa tak memiliki banyak waktu segera menghunuskan senjata pada tubuh puteri Hwa.


Ara, merasakan sakit tak terkira, sudah dikatakan, walau tubuh ini milik puteri Hwa, tapi dirinya juga merasakan apa pun reaksi tubuh ini.


Dan, reflek melalui tangan puteri Hwa, Ara meraba bagian yang sakit, fokusnya tak lagi pada lawannya yang sudah kabur.


Darah, darah sudah merembes dan kini bisa Ara lihat melalui tangan yang digunakannya.


"Han-ah." Ucap Ara pelan, kata terakhir yang bisa Ara sampaikan ketika perlahan, dirinya merasakan rasa kantuk luar biasa, mata indah milik puteri Hwa enggan terbuka, dan pelan teratur menutup.


"Puteri!!!!!!" tangkapan pendengaran Ara terakhir, dan ia terlelap sempurna.


"Kenapa dok, ada apa dengan Ara dok!!!" Hana memberondong dokter yang kini memeriksa keadaan sahabatnya.


"Tunggu di luar ya nona." perawat yang ada di dekat dokter segera meminta Hana yang tak henti bertanya agar keluar dari ruangan.


"Gak, kasih tau saya dulu, dok.!!!" nada suaranya meninggi.


"Lepas!!!" dua perawat langsung memaksanya meninggalkan ruang ICU tempat Ara di baringkan.


"Maaf nona, karena anda dikhawatirkan mengganggu pemeriksaan dokter, anda silahkan tunggu dulu di sini." ucap salah satu dari perawat itu.


Saat mereka hendak masuk, Hana menahan lengan salah satunya.


"Jelasin dulu, jelasin ke saya kenapa dengan Ara." lirih Hana memohon.


"Nanti setelah dokter selesai, anda akan diberi tahu nona." jawab perawat itu, lalu melesak masuk kembali meninggalkan Hana mematung di depan pintu ruangan Ara.


Sebelumnya....


Hana yang sibuk dengan aktifitasnya, mendapati ponselnya berdering tak berhenti, dua kali ia abaikan tanpa melihat dulu. Hingga, pegawainya memaksanya harus menghentikan kesibukannya.


"Ya. Saya Hana." jawabnya pada si penelpon yang diketahui adalah rumah sakit tempat sahabatnya di rawat.


"Ara??? Ada apa dengan Ara!!!!" ia sontak berdiri mendengar penuturan perawat yang menyatakan Ara mengalami kejang tak henti sedari tadi, selama hampir 15 menit sahabatnya itu kejang dan menyebutkan kata "Hwa" berulang kali.


Rumah sakit mengira itu adalah orang yang memantik alam bawah sadar Ara, hingga mereka meminta Hana yang tak tahu akan nama itu agar datang ke rumah sakit.

__ADS_1


Namun, ketika dirinya sudah ada di rumah sakit. Ara yang masih saja mengalami kejut itu, tak sedikitpun diberi tahu apa dan kenapa sahabatnya.


"Ara." ucap Hana pelan, lututnya melemas, tak kuasa menopang berat badannya yang terbilang ramping itu.


"Kenapa Lo kek gini,." Pelan, bulir itu turun tanpa bisa ia kendalikan.


"Jangan pergi, jangan tinggalin gue." rintihnya menutup wajah dengan telapak tangan.


"Kenapa dengan Ara?" suara berat seorang pria, menghampiri pendengaran Hana, ia tahu siapa pria itu. Maka tak perlu ia lihat pun, ia merasa lega.


Ada sosok lain yang ikut memberikan support untuk kesembuhan Ara. Seorang pria yang diketahuinya sebagai penyelamat kala sahabatnya nyaris kehilangan nyawa.


Sosok misterius yang Hana yakini adalah pria baik.


Ia yakin itu.....


******


"Gue di mana???" Ara merasa berada dalam ruang yang gelap, matanya berulang kali mengedarkan ke sekitar, namun tak satupun cahaya yang tertangkap olehnya.


"Woyyyy, mati lampu pa ya????!!!!" teriaknya keras, suaranya menggema, ia seolah berada dalam ruang tertutup.


"Gue gak diculik lagi kan???"


"Ara." sayup dalam kegelapan ia menangkap suara yang tentu ia kenali.


"Puteri Hwa???" dugaannya tak salah, ia yakin itu.


Dan benar saja, seolah mengindahkan jawaban itu, seketika kegelapan sirna. Dan pelan berubah menjadi ruangan putih tak terbatas. Entah Ara tak bisa mengira.


"Di mana gue???" tanya Ara


"Kau berada di dunia yang sama denganku, Ara." pelan terjawab.


"Dunia yang sama???!!" ucapnya terbelalak.


"Gue mati?????!!! Lanjutnya semakin histeris.


"Belum mati Lo, Ara." satu lagi suara merangsek masuk, nenek misterius itu lagi.


"Nenek¿, terus gue artinya apa kalo gak metong." cerocos Ara tak sabar.


"Artinya Lo antara hidup dan mati." Jawab nenek santai.


"Ya Tuhan!!!!. Sama aja mati gue.!!!!" histeris Ara lagi.


"Belum Ara, kalian masih diselamatkan oleh tabib dan dokter." sahut nenek.


"Tabib? Dokter?"


"Iya, ketika dirimu terluka di dunia puteri Hwa, maka tubuhmu yang ada di sana, ikut merespon hal yang sama." tutur nenek


"Maksudnya?" tanya Ara tak paham.


"Artinya, rasa sakit yang kau rasakan dalam tubuh puteri Hwa, juga akan terasa di tubuhmu itu."

__ADS_1


__ADS_2