
Asap mengepul memenuhi ruangan yang tak kurang dari 4x3 meter persegi itu. Pernak-pernik aneka patung dari ukuran terbesar sampai pada yang paling kecil menjadi pemandangan utama di ruangan tersebut. Warna dominasi merah berbalut emas dan kuning serta biru menjadi tangkapan warna di mata. Dan, utamanya, sebuah meja dengan beberapa perlengkapan serta sosok di balik meja-lah yang merupakan objek utama pemilik ruangan tadi.
Saman. Atau lebih dikenal dukun era Joseon.
Tok tok tok
Suara ketukan di malam hari itu, menyapa telinga wanita usia kisaran 50 tahunan ke atas itu.
"Siapa?" tanyanya seraya berdiri. Namun langkahnya terhenti manakala ia merasakan jika tamu tersebut, bukan orang biasa.
Dan.
Srettt
Benar, tangkapan mata batin saman tadi.
"Selamat datang Yang Mulia." sambutnya pada dua orang tamu yang mengenakan tudung masing-masing berwarna biru tua dan ungu tua gelap.
"Silahkan masuk, yang mulia." saman tua itu segera menyingkirkan tubuhnya ke pinggir, memberi ruang bagi tamu agungnya agar bisa masuk ke gubuknya yang tak seberapa itu.
Ratu pun bersama dayang pribadinya menapaki ruangan yang cukup membuat nyali siapapun akan merinding seketika, meskipun tak menyimpan benda menyeramkan, namun aura yang diciptakan ruangan itulah yang membuat tingkat horor tercipta.
Perlahan, ratu duduk dengan bantalan yang sudah disediakan saman. Menyusul kemudian, si pemilik bangunan segera duduk berhadapan dengan ratu yang didampingi sebelahnya yaitu dayang tadi.
"Aku rasa. Kau sudah tahu maksud kedatanganku, saman." ujar ratu membuka percakapan pertama.
Saman pun menyunggingkan senyumnya, lalu, tangannya meraih sejumput benda yang ditaburkan di atas sebuah benda bulat lalu setelahnya munculah asap putih mengebul sedikit.
"Saya rasa, apa yang saya tangkap melalui mata batin saya, semoga memang itu tujuan dari kedatangan yang mulia kemari." sambut saman penuh percaya diri. Ia memperkirakan maksud wanita bangsawan itu datang, tentu saja sama dengan tempo waktu itu, ketika bangsawan istana lain mengunjunginya.
Puteri Ara.
Mereka berdua rupanya sama-sama punya tujuan yang sama.
"Apakah, yang mulia, juga hendak menanyakan tentang puteri Hwa, kah?" saman melontarkan perkiraannya yang mampu membuat ratu berikut dayangnya memandangnya takjub.
Heleh, memang itu kerjaannya, kaleee.
"Kemampuanmu memang terbukti rupanya saman." puji ratu pada tebakan saman.
__ADS_1
Dan saman pun merasa bangga akan kalimat yang jelas itu bentuk pujian terhadapnya.
"Tak salah jika kakiku melangkah kemari, bukan?" tanya ratu kemudian.
Saman pun kembali menyunggingkan senyuman, merasa jika kemampuannya dihargai oleh seorang bangsawan nomor satu di negeri ini. Ratu.
"Terima kasih banyak, yang mulia. Namun, kemampuan saya hanyalah sebagai seorang dukun yang tak berharga, yang mulia." ucap dukun merendahkan dirinya.
Karena di jaman tersebut, seorang dukun tak ubahnya seorang tukang jagal yang dipandang remen dan hina. Terlebih dukun, mereka harus tinggal jauh dari pemukiman karena membawa banyak keburukan di sekelilingnya. Bagi masyarakat Joseon, memiliki kemampuan sekelas dukun atau saman sama saja dengan memberi status di bawah seorang rakyat jelata. Padahal banyak dari kaum rendahan hingga bangsawan bahkan istana mendatanginya.
Ironi bukan?
"Heh, cepat, tunjukkan apa yang aku mau, saman. Jangan bertele-tele." perintah ratu yang enggan berlama-lama berbasa-basi pada si saman.
"Baiklah, yang mulia." jawab saman menyanggupi. Ia harus semakin membuktikan jika niat ratu datang untuk meminta bantuannya tidaklah salah. Ia butuh sebuah pengakuan.
Namun, ia menangkap hal berbeda dalam diri ratu ini.
Di tengah tangannya yang mulai beraksi menabur kembali pada wadah yang akan mengeluarkan asap. Tiba-tiba berhenti.
"Kenapa saman. Apa kau menemukan jawaban yang kami minta?" dayang ratu menanyakan pada saman ketika dukun itu menghentikan aksinya cepat.
"Apakah gadis ini, bukan puteri anda, yang mulia?" tanya saman yang mendapat ilham ketika memulai ritualnya. Karena dari pertama kali ia melihat ratu, cukup aneh jika wanita bangsawan itu mendatanginya karena puterinya sendiri.
"Kurang ajar sekali kau!!" hardik si dayang pada pertanyaan yang dinilai terlalu ikut campur.
Namun tangan ratu terangkat sempurna, menghentikan celotehan protes dari dayangnya.
Ratu lantas melempar tatapan menyelidik pada dukun wanita itu. Dan....
"Hahahahhaha," tawa ratu seketika menjawab tanya si dukun. Membuat dayang yang berada di sisinya tertegun seketika, pun dengan si dukun sendiri.
Tak menyangka akan reaksi yang dikeluarkan ratu akan pertanyaannya tersebut.
"Kau. Kau memang bisa diandalkan, saman." sisa tawa ratu masih menyertainya saat ia melontarkan kalimat barusan.
"Dan, segera kau cari apa yang aku inginkan." titah ratu lagi, tegas dan terkesan tak ingin menunggu terlalu lama.
"Baik yang mulia ratu." jawab saman menyanggupi perintah ratu lagi.
__ADS_1
Meskipun ia tahu maksud kedatangan ratu, namun, ia ingin menegaskan lagi dengan aksi dukunnya.
Menyeruaklah asap dari bakaran benda-benda beraroma menyengat itu, menambah nilai horor di ruangan tersebut semakin kental.
Butuh 20 menit bagi si saman mencari keinginan sang ratu dengan lebih detail dan banyak info penting.
"Gadis yang bernama puteri Hwa..." ucapnya mengakhiri aksi perdukunannya.
Ratu dengan lamat-lamat mendengarkan kalimat si dukun yang terpotong. Menunggu sembari tangan mengepal di atas pangkuannya.
"Cepat katakan!!" sergah ratu tak sabaran.
"Seperti yang anda inginkan dan bingungkan. Gadis alias puteri Hwa ini... Memang bukan jiwanya yang merasuki tubuhnya kini." Lanjut si saman pada kalimat sebelumnya.
Ratu dan dayang pun benar-benar terkejut, ekspresi mereka tak bisa ditutupi.
"Jangan main-main dukun!" hardik dayang lagi, seolah tak terima dengan informasi barusan.
Namun si saman tak gentar sama sekali. Tubuh ringkihnya menegaskan bahwa ia menjamin informasi yang sensitif itu.
Tentu saja jika ia salah, lehernya siap tertebas saat itu juga.
"Saya bisa menjamin hal itu, yang mulia." yakinnya menatap ratu lekat.
Ratu membalas tatapan itu lebih tajam lagi, mencari di kedalaman mata tua itu kejujuran dan kebohonan. Meskipun, ratu menangkap kejujuran sempurna di sana.
"Oh ya? Lalu, puteri Hwa tengah dirasuki jiwa lain, begitu maksudmu saman?" tanya ratu mengkonfirmasi keraguan dalam dirinya.
"Iya yang mulia." sahut saman membenarkan.
"Lalu, jiwa siapakah yang masuk ke raga puteri Hwa? Berani sekali memasuki tubuh seorang bangsawan." ujar ratu dengan wajah tak suka.
"Yang merasuki tubuh puteri Hwa adalah jiwa perempuan yang berasal dari masa depan, yang mulia." lagi, saman menjawab tanya sang ratu.
"Jiwa perempuan dari masa depan?" ulang ratu pada kata yang dominan di telinganya.
Saman mengangguk pasti.
"Lalu, kemana jiwa sang puteri?" ratu lagi-lagi penasaran. Jika jiwa orang lain yang merasuki puteri Hwa, lalu, kemana jiwa si pemilik tubuh itu?
__ADS_1
"Jiwanya saya tidak tahu ada di mana, yang mulia. Bisa jadi ia tengah merasuki tubuh gadis yang saat ini ada di tubuh puteri Hwa." terka saman.
"Berani-berani sekali!!" ratu menggeram marah, ketika tahu, jiwa yang merasuki puteri Hwa adalah milik orang lain.