
"Apakah kau bisa memberi tahuku, dunia apa ini?" puteri Hwa, berceloteh dengan nada tak lurus, maklum, doi abis ngeba-ok alias mabok heheh.
"Ahh payah lo, pasti karena sakit, jadi daya tahan mbaok lo di bawah rata-rata." sungut Hana menyipitkan matanya menatap Ara yang duduk melongsor di sofa.
Masih di tempat awal mereka berkumpul bertiga. Ya, bertiga, masih ada tuh tuan Kim, duduk tegap dengan tangan bersidekap. Memandang gadis yang dalam keadaan mabuk itu, terlihat menggemaskan baginya.
Waihhhh, menggemaskan?
Tahan mamas Kim, tahan. Itu masih 20 persen loh pesona tuh orang, belum ngefull.
Ahay
"Kau ini, selalu mengucapkan kata-kata yang tidak aku mengerti." gumam puteri Hwa menggerutu.
Hana dan tuan Kim saling memandang sekilas.
Gadis yang tengah mabuk ini, kerap menggunakan kalimat formal terhadap Hana yang merupakan sahabat karib, dan itu jelas.... Aneh.
"Kau tahu, heiii kau yang bernaka Hana!!!" mendadak puteri Hwa menegakkan tubuh Ara, meskipun masih dengan sempoyongan, tapi ia berusaha keras agar tegap.
Hana mengerenyitkan dahi ketika Ara berteriak memanggilnya dengan kata tak formal kali ini.
"Errggg." puteri Hwa tiba-tiba bersendawa.
Sigap menutup bibir Ara, "Upsss maaf." ucap puteri Hwa meringis malu.
"Ehhh, kenapa aku harus meminta maaf, bukan? Aku seorang Gongju." lanjutnya berucap.
Dua orang yang masih dalam keadaaan sadar, memperhatikan gadis itu dengan ekspresi berbeda.
"Kau yang bernama Hana!!!! Jawab kalau aku memanggilmu!!!" lagi, puteri Hwa memanggil Hana kencang.
"Iyaaa. Kenapa. Kenapa lo manggil gue. Huh!!!." sahut Hana mencibir
Puteri Hwa mengangkat jemari Ara, menunjuk kearah Hana, walau fokus jari itu tak selalu mengarah pada Hana.
Saking mabuknya geizzz.
"Jika saja kau ada di istanaku, kau akan aku pancung langsung di hadapan semua rakyatku." semprot puteri Hwa pada Hana yang bengong mendengar kalimat panjang bernuansa horor itu.
Pancung?
Itu beneran kata yang diucapkan seorang Ara untuk sahabatnya?
Iya, iya, tapi itu bukan Ara, melainkan jin seberang. Hehehe.
"Pancung? Kau ini" sambut Hana yang santainya menarik telapak tangannya lalu..
Plak plak!!!!
Dua kali, iya dua kali.
Hana mendaratkan telapak tangan tadi ke arah pundak Ara.
__ADS_1
"Awwwww, sakittttt." keluh puteri Hwa menjerit sebal.
"Kau benar-benar manusia tidak punya etika dan tata krama yang baik, Hana!!!" hardik puteri Hwa kesal.
"Lalu? Kau mau memancungku lagi, Gongju-ya?" tantang Hana tak kalah sebal.
Ini sungguh menyebalkan, kenapa Ara bisa berubah menjadi gadis yang justeru senang sekali menggoncangkan kesabaran seorang Hana.
"Kalo bukan karena kita sahabatan dari kecil, udah gue tabok pakek botol ini, lo." gerutu Hana.
"Sabar, nona Choi." sela tuan Kim menenangkan.
"Saya sabar, tuan Kim, hanya saja saya merasa gemas dengan Ara." jawab Hana menjelaskan.
"Oho!!! Berani-beraninya kau berbisik dengan putera mahkota, Hana!!" seloroh Puteri Hwa melirik keduanya yang memang terlihat dekat dari arahnya.
Padahal jaraknya lumayan dipisahkan 2 buah sofa.
Lebay kali.
"eihh, kenapa memangnya, cemburu, huh??!!!" omel Hana menatap geli pada Ara yang memicingkan mata lalu membukanya lagi.
Sepertinya kesadaran gadis itu memang sedang di bawah rata-rata.
Sungguh memalukan bagi seorang Ara yang langsung tumbang karena 4 gelas wine yang masih jauh untuk mabuk pada ukuran itu.
"Cemburu? Apa itu?" tanya puteri Hwa tak paham.
"Heh, kau ini... Benar-benar berasal dari luar angkasa sepertinya." Hana, menggelengkan kepalanya tak percaya dengan pemahaman sahabatnya yang kacau itu.
"Huh, apa?" gugup tuan Kim.
"Sudahlah,.." puteri Hwa mengibaskan telapak tangan Ara berusaha mengabaikan kalimat tanyanya tadi.
"Aku kenapa ya? Kenapa di sekitarku berputar semua? Lalu kalian... Kalian kenapa banyak sekali yang mirip, apa kalian kembar?" celoteh puteri Hwa yang bingung akan penglihatannya yang tak biasa.
Wajar, orang mabok coy.
"Dia benar-benar mabuk, tuan Kim." ucap Hana melengoskan nafasnya pelan.
Bersiap bangkit dari duduknya untuk mendekati tubuh Ara, lalu pulang.
Namun,...
Tak diduga.
"Haah!!!" kaget, tertegun atau terjengkit tepatnya.
Tuan Kim tak menyangka jika Ara, akan mendekatinya secepat kilat.
Pun demikian, Hana juga dibuat tak percaya dengan gerak cepat sahabatnya yang kini menghampiri tuan Kim.
"Orabeoni!!" rengek puteri Hwa yang merangkul lengan kokoh terbungkus jaket denim. Tuan Kim dibuat tak berkutik, ia benar-benar tak siap.
__ADS_1
Terlebih...
Terlebih saat ini.
Detak jantungnya entah kenapa berdebam hebat di dalam sana.
Sialan!!!
Sepertinya ia terlalu kaget dengan kedatangan gadis ini, hingga jantungnya saja berdegub seperti itu.
Iya kan?
Bener, kan?
"Woyyy,,, sini." Hana melambaikan tangannya memanggil Ara agar menghampirinya yang sudah berdiri.
Puteri Hwa melirik Hana, lalu mencibirkan lidah, mengejek gadis itu.
"Dasar semprul, sini geh." panggil Hana lagi, masih berusaha lembut.
Awas saja kau di rumah ya!!!!
"Orabeoni, lihat gadis itu." puteri Hwa mengadu pada tuan Kim, dengan telunjuk menuju Hana.
"Huh? Apa?" tanya tuan Kim bingung.
"Gadis itu, si Hana, bukankah dia sangat kurang ajar, orabeoni?" lanjut puteri Hwa yang tidak menyadari kegemasan Hana sudah siap menerkam dirinya yang mengadu dengan orang lain.
Sungguh terlalu sekali kau laiii.
"Apa katamu?? Wahh sungguh luar biasa sekali si tengil ini." Sahut Hana menilai ucapan Ara barusan.
"Lihat, lihat itu orabeoni." lanjut puteri Hwa mengadu.
Tuan Kim yang berada di antara pertengkaran dua gadis sahabatan itu bingung. Bagaimana mungkin dirinya menjawab setiap tanya gadis mabuk ini.
"Harusnya dia duduk menghormati dua orang keluarga kerajaan. Bukannya berdiri dengan menantang seperti itu. Sungguh tak sopan sekali." bait demi bait kata-kata puteri Hwa memantik rasa sebal Hana. Dia sudah mulai menapakkan langkahnya menuju sosok yang mengata-katainya di hadapan orang lain.
"Kau memang harus di kasih sumpalan kaos kaki basah deh prul." Hana sudah siap meraih lengan Ara, tapi dengan cepat tubuh mabuk itu merengkuh tubuh kekar di sisinya.
Bukan main kagetnya tuan Kim, kembali di peluk gadis yang belum terlalu lama di kenalnya.
Dan lagi, kan.... Kan... Jantungnya kaget kembali.
Benar-benar gadis ini. Selalu membuatnya kaget seperti ini, bukan?
"Ayo, pulang. Mandi biar mabukmu hilang." Hana berusaha menarik tubuh Ara
Tapi, semakin Hana berusaha melepaskannya. Semakin kencang kedua tangannya mengunci tubuh kekar milik tuan Kim.
Dan, semakin berdebar pula detak jantung sialan milik tuan Kim.
Kenapa dengan jantungnya? Apa bermasalah? Apa rasa kagetnya tak kunjung reda, sampai semakin kencang begini?
__ADS_1
Tapi kenapa ia justeru jantungnya hanya kaget dengan gadis ini?
What heppen atuh akang?