100 Hari Menjadi Puteri Joseon

100 Hari Menjadi Puteri Joseon
Hangatnya, Cinta Ibu...


__ADS_3

Ara yang saat ini tengah bersama dayang Han, di hebohkan oleh suara berisik dan malah terkesan ribut di luar kediamannya.


"Siapa sih, berisik amat, ganggu anak orang, taukk!!" Gerutu Ara yang tengah membuka bajunya, hingga kini menampakkan kulit putih bersih bahkan glowing, di mana ia hanya melepas Jeogorinya saja hingga kini terlihat kain yang menutupi bagian dada. Karena baru sebatas pakaian luar saja.


Kalian tentu khatam sekali kan pernak-pernik pakaian wanita korea, terlebih era Joseon.


Atasannya, roknýa, belum rok tambahan, dalaman yang terdiri dari dalaman atas, bawah, celana panjang dalaman.


Yang bagi Ara, saat pertama kali menggunakannya.... Ribet walau ia juga beberapa kali menggunakan di eranya tapi kan tidak terlalu sering seperti di sini, setiap waktu!!!!.


Oke dia orang Korea asli, dan bisa dibuktikan kebenarannya. Pakai apa? Kartu keluarga? Kartu identitas? Izin mengemudi? Atau... Ah, susah mah buat bilang Ara itu hoak produk korea. Orisinil punya, wujudnya aja jelas. Hahaha. Tapi, menggunakan hanbok yang tak kenal waktu ini, cukup mempersulit Ara yang petakilan ini.


Oke, balik lagi pada dua orang gadis yang satunya tengah membuka pakaian, dan satunya sesekali mencuri pandang lalu menunduk lagi.


"Han-ah. Coba kau tolong bantu aku membuka kain panjang ini." Perintah Ara saat ia kesulitan membuka dalaman atasnya.


Namun, tak kunjung ada pergerakan.


Ara ngomong sama siapa sih. Orang kan??


Menoleh pada yang disuruh.


Nunduk? Tepuk jidat.


"Dayang Han!!!" Panggil Ara melihat pelayannya tak jua menjawab.


Gelegepan dah anak orang, di teriakin gitu.


"I-iya, Yang Mulia." sahut dayang Han, akhirnya.


"Sini, ihh, gemes deh lama-lama" Seru Ara tak tahan. Pegel taukkk


Mendekat, pelan... kayak si Gery hewan peliharaannya Spoengbob Squarepants.


"Cepet, ih. Gue tarik ntar." Ujar Ara lagi.


"I-iya, Puteri. Ini saya ke sana." Gugup dayang Han.


Seolah sadar. Ara paham akan situasi leletnya dayang muda itu yang tak kunjung sampai walau sejengkal jaraknya.


"Kau, kau malu melihat penampilanku??? Kau gugup karena...." Ara tak percaya akan sikap konyol menurutnya itu.

__ADS_1


Hayolah, ia bukan laki-laki!!! Mereka memiliki apa yang... Ya memang sama-sama punya.


Jengah. Ara menarik lengan dayang Han saat jarak sudah semakin terkikis.


Hingga membuat pelayan itu terjengkit seketika.


"Kau, mau melihatku mati dengan darah mengucur tanpa diobati, huh????" Desis Ara, biarlah, ia gemas dan sebal sekaligus marah sedikit dengan sikap tak masuk akal ini.


"Cepat, bantu aku, buka penutup dada ini sampai pinggang." Perintah Ara sekali lagi yang di iyakan oleh dayang Han, walau dengan tangan bergetar.


Saat pengait itu sudah terbuka, kain yang menutupi dada puteri Hwa pun perlahan ikut terulur pelan. Menampakkan belahan bagian privasi puteri itu.


Dayang Han menutup mata sembari tangannya tetap membuka kainnya yang cukup panjang itu.


"Sudah woyy. Sampai kapan mau bukanya.?" Ara menghentikan pergerakan pelayan itu yang ia sadari tak menatapnya sama sekali.


"Ma-maafkan hamba puteri." Lirih dayang Han menjawab


"Kau, ambil itu." Ara menunjuk sebuah kotak yang tadi di mintanya pada seorang tabib saat datang untuk mengobatinya. Dan Ara menolak keras, dengan dalih ada dayangnya yang bisa melayaninya.


Meskipun tak mempan, namun sikap keras Ara yang mengancam jika ia saat itu tidak mempercayai siapapun yang membantunya. Karena sangat jelas sekali, nyawanya nyaris melayang di gondol malaikat maut oleh orang yang selalu berdiri tegap di depan kediamannya.


Hingga tabib dan dayang yang awalnya hendak membantu malah diusir dan diancam akan diberi hukuman jika tidak patuh.


"Dan,, aku tidak mau diobati dengan mata tertutup, ya" Lanjutnya lagi.


Menyadarkan dayang Han akan perbuatannya sebelumnya.


"Hah!!??" Sekelumit ucapan bentuk rasa terkejut dayang Han saat ia ketahuan.


"Kau.. Kau itu pelayanku, Han-ah, dan aku menaruh rasa percaya yang sangat besar terhadapmu. Jadi, melihat bagian tubuhku pun tak akan masalah bagiku jika kau yang melihatnya." Jelas Ara dengan nada rendah, mirip seperti rasa frustasi campur gemas.


Dayang Han, tertegun akan kalimat panjang kali lebar di tambah hasil lingkaran.


"Ayoo, buruan, cepet." Perintah Ara yang segera dilakukan dayang Han.


Namun, kembali... Drama ribut-ribut di luar sana kembali terdengar.. Dan malah semakin jelas.


"Siapa sih. Ganggu beneran deh. sudah dibilang gue gak mau ganggu." Desah Ara sebal.


"Apa perlu saya lihat, Yang Mulia." Tanya dayang Han pelan sembari tangannya mengoles luka yang tak terlalu dalam pada tubuh majikannya itu.

__ADS_1


Ara mengibaskan tangan, pertanda tak perlu. Peduli amat dia dengan drama lebay di luar sana. Tak paham apa tamu-tamu di luar itu, jika Ara baru saja sowan dengan malaikat maut. Jadi trauma lah.. apa lagi lihat adegan gorok menggorok secara live. Kalau Ara masang kamera di ruangan itu, jelas ia akan mendapatkan penonton yang banyak di kanal U-tube, dan Istagramnya. Heheheh.


"Yang Mulia, Yang Mulia..." Suara yang semakin dekat itu, semakin jelas tertangkap telinga Ara...


Gebrakkkk


"Puteri tidak bis......" Ucapan tak lengkap itu terbawa angin seketika, manakala sosok yang kini hadir itu sudah membuka paksa pintu geser ruangan tempat Ara tengah diobati yang dibantu dayangnya. Mengakibatkan refleks cepat dayang Han meraih helaian baju milik sang puteri sebelum beberapa pasang mata melìhat tubuh sang majikan.


Bagoos Dayang Han. Gue suka gercep Loe deh. Salute.


Ternyata, yang membuka keras pintu tadi, adalah sang Ratu.


Yang tadi sempat memasang wajah kesal atas perlakuan dayang yang mendapat perintah Ara agar jangan ada yang diperbolehkan masuk bahkan lewat pintu luar sekalipun.


Tapi, ratu adalah orang yang berkuasa atas semua wanita yang ada di dalam istana. Hingga merasa tersinggung atas perlakuan pelayan rendahan yang berani menghalangi jalannya masuk.


"Puteri!!!!" Jerit sang ratu manakala kakinya sudah menapak dan menangkap bayang puteri yang duduk dengan tangan menyentuh baju bagian depannya setelah sikap tanggap dayang di sampingnya.


Langkah kaki sang ratu semakin cepat untuk mengikis jarak dengan sang puteri.


Hingga.


Gerakan yang cukup membuat terjengkit siapapun itu.


Ratu meraih tubuh ramping puteri Hwa. Memeluknya dengan lembut dan dengan tambahan efek isakan kecil yang perlahan semakin bertambah ritme volumenya.


"Ratu....." Desah Ara menanggapi perlakuan hangat perempuan yang menyatakan dirinya sebagai ibu sang puteri.


Sungguh, Ara menginginkan moment hangat ini.


Sungguh, suerrr!!! Please copy paste satu dong bentukan ibu kayak ratu gini. Ara mauuuuu!!! Please!!!!


"Puteri, Puteri, Hwa-ku...hiks... Hiks." Isak sang ratu menambah desir aneh dalam hati yang Ara rasuki.


Ara menikmati perlakuan sang ratu yang memberikan ketenangan padanya setelah mengalami hal yang sangat amat buruk tadi.


Dan, tak lama. Pelan... Dan pelan Ara merasakan....


Oh, please. Ara bisa gak sih bawa ini ratu buat jadi ibu di masa depan.. Pleaseee.


Ratu membelai rambut panjang sang puteri dengan sebelah tangan kanan, sementara tangan satunya membelai punggung sang puteri...

__ADS_1


"Maafkan... Maafkan ibu, Hwa.. Maafkan Ibu.." Sekali lagi lirih suara ratu menambah gejolak hangat dalam diri Ara yang selama hidupnya tak pernah merasakan belai hangat seorang ibu....


__ADS_2