
"Baru gitu aja, dah ngambekan. Woooo, dasar baper deh tuh bocah labil." Gerutu Ara tatkala dayang Han sudah menghilang dari balik pintu geser itu. Maka secepat kilat, Ara meraih perlengkapan menulisnya yang diletakan dayang labil tadi di sudut dekat meja yang berlaci. Kalau zaman Ara namanya mah Buffet yah.
"Gimana mau menjadi dayang modelan Dongyi atau Janggeum nie Han, kalo digertak dikit aja, eh mewek tuh bocah." Sembari membawa kotak dan gulungan kertas menuju hamparan kasur yang sudah di tata dayang Han sebelumnya, Ara mulai menengkurapkan tubuhnya pada kasur tersebut, membentang gulungan kertas yang.....
Ribet banget sih, gak bisa apa kecilin dikit kertasnya?
"Mulai besok, gue akan buat model kertas sendiri, panjang banget dan... ribet ah kalo gulungan gini. Mau minta potong aja buat jadi note atau sticky note gitu, sama dayang labil. Hihihi." Meski menggerutu, tapi ia mengakhirinya dengan memberi julukan bagi pelayannya disertai kekehan lucu.
Ya, dayang Han mendapat julukan labil dari Ara. Ekslusif. Hihihi.
Ara mulai menindih hamparan kertas yang tadi digulung. Dengan benda-benda yang cukup berat. Seperti batu gilingam tinta, dan gulungan kertas lainnya. Agar tidak kembali menggulung.
Perasaan di drakor yang Ara tonton. Harusnya kan ada semacam penahan yang mirip bentuk persegi panjang gitu ya, tapi... kok Ara belum melihatnya...
"Aih,, dayang labil. Lupa sama penahan ujung kertas ini deh. Ini nih kalo kebanyakan makan cinta, buciinnnn." Kesalnya yang kembali ditumpahkan pada dayang Han.
"Oke, oke,, hmmmmm, ya, ya, hmmm, ya ya." Gumam Ara sambil terus menggoreskan ujung kuasnya pada kertas.
Menggambar apa sih?? Itu garis? Bola? Atau bangun aritmatika sih?
Ngapain woyyyy.
"Jadi, gini... ya ya ya,,, hmmmm. Oke oke... hmm terus gini,, ya ya ya." Kembali gumaman tak jelasnya mengudara begitu saja. Menyisakan suara sayup-sayup malam itu.
Sesekali ekspresi gadis itu membelalakan matanya, dan sesekali ia akan mengerucutkan bibirnya, dan lain waktu ia akan mengacak bahkan meremas kertas yang sudah ia gambar tadi.. lalu... mengulanginya lagi.
Dengan wajah yang tumben serius, Ara menekuk sikunya hingga kini menopangkan telapak tangannya di dagu. Dan kuas tadi, jangan tanya... sudah ia kaitkan pada daun telinganya, melupakan jika itu tak sama dengan ukuran pena pada zamannya.
Jadi, jangam heran jika penampilan puteri Hwa yang dirasuki jiwa bar bar Ara. Sudah mirip seperti bocah usia taman kanak kanak yang melakukan aktifitas menggambar,,, bisa terlihat penampilan yang penuh tinta, baju, lantai dan juga wajah itu... ya ampun Ara, yang bocah labil mah Lu sekarang. Hahahhaha, tinta semua, yang ditulis kertas atau tubuh sih.
Dan, aktifitas gores menggores itu akhirnya selesai juga, capeķ thor nungguin bocah labil bar bar itu. Gak sabar, apa sih yang ditulis dari tadi. Kepo beneran deh. Banget malahan.
Ara akhirnya membentangkan kertas putih tadi pada kasurnya. Memandangnya sebentar, karya fenomenal seorang Ara.
__ADS_1
"Gak jelek jelek amat kok. Gue mah kayaknya bisa jadi detektif nie. Wahhhh. Perfecto." Pujinya pada diri sendiri setelah beberapa lama mengagumi karya... sendiri. Wiwwwww.
Oke, thor lihat ya, Ara.
Hmmm, kalau dari bentukan gambarnya sih. Ini, ada kotak, lingkaran, garis, dan...love? Buat apaan tuh.
Dilihat lebih jelas lagi. Ara menarik tiap garis pada kotak dan lingkaran, dan ada beberapa bagian yang ia sisipkan love sebagai bentuk tanda, yang entahlah.
Dari bentuk kotak dan lingkaran, Ara menuliskan beberapa kata diantaranya seperti, kronologi ia datang kemari waktu itu, racun, wajah yang rusak, bangunan yang ia kunjungi waktu itu, tamu wanita dan laki-laki, bubuk dan benda yang di konsumsi Puteri Hwa, hingga ia kembali lagi ke sini setelah bertemu si pemilik tubuh ini, dan jangan lewatkan, ia juga menulis kata nenek, yang ia berikan ekstra tinta lebih tebal, dan ada tambahan love yang mengelilingi kotak itu.
Dan, dari sana thor menyimpulkan bahwa.. Ara tengah merangkai kasus yang menimpanya dan puteri Hwa. Dan saat memperhatikan hal itu, Ara teringat akan hal yang ia lewatkan...
Bergegas dirinya meraih kuas dan kotak tinta, menggoreskannya pada kertas yang tadi ia hamparkan.
Menuliskan kata "calon sua-ami." Ujar Ara yang selanjutnya kembali ia melontarkan kata "Putera mahkota istana lain." Angguknya setelah selesai menulis kata tadi.
Setelah merasakan sudah cukup, ia berdiri dengan membawa kertas tadi ke.......
Yap... belakang tirai penutup itu saja, bukankah bagi orang sini, itu cuma sebagai hiasan saja dengan lukisan yang terukir di sana, benda ini kalau di zaman Ara akan digunakan sebagai penutup saat akan mengganti pakaian. Sebuah benda yang bisa di lipat bentuknya.
Ara segera berjalan menuju tempat yang sudah jadi targetnya.
Dan....
"Nah, ini bagus nie. Tapi... nempelinnya pake apaa.?" Tanya Ara yang sadar jika ia tidak mempunyai benda yang bisa menempelkan kertasnya.... lem.
Ia butuh lem. Tapi mau buat, gimana, ini bukan rumahnya, ini istana yang harus kudu keluar dulu, nyari dapur atau tempat penyimpanan yang terdapat lem, dan pastinya, Ara tak tahu di mana itu. Mana gelap. Takut...
Tapi, bukan Ara namanya jika.....
Clap...
Mencabut jepit rambutnya lalu menancapkannya pada dinding di balik tirai geser itu.
__ADS_1
Memundurkan tubuhnya lalu...
Menganggukkan kepala,
"Ya, begini deh kayak yang gue lihat di film detektif dan polisi-polisian di tv." Ujarnya menikmati hasil karyanya yang sudah tergantung, menampakkan jalur garis penghubung pada tiap kronologis antara dirinya dan puteri Hwa utamanya.
Saat ia tengah menikmati hal itu.
Telinganya menangkap derap langkah pelan. Dan itu bukan dari depan alias dari arah pintu yang seharusnya. Tapi dari.....
Ia menoleh, dari luar????
Jelas ia menangkap bukan hanya suara, tetapi juga bayangan gelap di luar sana yang mengendap-endap di luar kediamannya.
Oke... Ini persis seperti adegan yang sering ia tonton di drama kerajaan.
Penyusup!!!!!!! Pembunuh!!!!!!
Dan.... itu artinya, targetnya adalah.... Dirinya?? Eh salah, puteri Hwa maksudnya... Tapi, lah kan sekarang jiwanya yang ada di dalam tubuh ini. Yang artinya, ya... Ara lah korbannya.
Menarik nafas tercekat, Ara panik. Jelaslah, ia belum atau malah tak paham apa yang harus di lakukan.
Ini bukan zonanya.. Ini Joseon bukan Itaewon. Bukan dunianya woyyyy, jadi, jelas ia tidak tahu harus bagaimana. Alat komunikasi tidak ada.. Dan, pastinya, rencana jahat orang di luar sana 101% berhasil, menghilangkan nyawa puteri Hwa, double bonus nyawa Ara juga.
"Oh Goshhhh!!! What can I do for.... This moment?????" Paniknya saat ini.
Krekkkkk
Suara decit jendela terdengar jelas...
"Oh s--t!!!" Frustasi, Ara kini merasa benar-benar bingung mendapati ia tak bisa berbuat apa-apa.
"Apa gue bener-bener gak berhak hidup esok hari kah? Apa bener gue gak berhak hidup bahagia seperti orang lain." ucapnya pelan, miris.
__ADS_1