100 Hari Menjadi Puteri Joseon

100 Hari Menjadi Puteri Joseon
Jangan jawab!!!!


__ADS_3

"Ada apa ini?" suara berat milik putera mahkota merangsek masuk saat Ara dan Kim So Yoon tengah berkonsentrasi perang syaraf.


Sama-sama tak menyadari.


Kapan si babang Tamvan masuk?? Ada tiga pasang telinga di si...


Eh tunggu.


Ara menoleh pada dayang Han yang sudah tidak ada...


Wah, dayang itu tahu!!!!!


Baik Ara dan Kim So Yoon menjauh satu sama lain. Berusaha mengembalikan sikap biasa. Kalau Ara mah biasa, tapi si rubah menambahnya menjadi menjaga keanggunan luar biasa.


Lihat pose itu,,


Mana betina yang tadi sinis itu, heh!!!??


Ini, kayak ieewwww jaim banget.


"Saya hanya datang mengunjung......." Kalimat Kim So Yoon


Di patahkan,,, "Kau, tidak apa-apa?" Tanya putera mahkota yang berbicara sembari melangkah menuju bantalan duduk puteri Hwa.


Manyunlah Kim So Yoon. Pun disadari Ara ketika dengan santainya pria itu tak menghargai ucapan gadis itu.


"Ti-tidak apa-apa, Yang Mulia." Jawab Ara mendadak canggung.


Segera duduk sesuai posisi masing-masing.


Selama 10 menit. Tidak ada yang memulai obrolan. Diam satu sama lain. Hanya saja, Ara merasakan dua tatapan mengarah padanya yang menunduk.


Jelas dari Kim So Yoon dan putera Mahkota.


Hanya saja, saat ia mengangkat kepala puteri Hwa.


Ia melihat sorotan berbeda.


Kebencian dan...... Pemujaan???


Heh?? pemujaaan? Dan itu bukan milik Kim So Yoon, tapi... Pria itu. Ya, Ara menangkap pandangan berbeda di sana. Bukan tatapan seorang kakak kepada seorang adik, melainkan, dari seorang pria pada wanita.


what the HEll!!!!!


Situasi apa lagi ini.


"Ekhemm!!!" Deham keras Ara yang merasa suhu ruangan itu mendadak gerah. Termasuk hati dan jantungnya yang jungkir balik salto di dalam sanam


Sialan!!!!


Namun yang didapatnya adalah senyum racun pria itu berikut lirik yang semakin tajam dari Kim So Yoon.


Tak ingin berlama-lama dalam objek sasaran tembak 4 mata ini. Ara berinisiatif duluan.


Hareudang euyyy Onah!!!!


"Ada apa Oppa datang kemari?" tanyanya.


"Oppa?" Gumam Kim So Yoon, mendengar kata aneh keluar lagi dari bibir puteri Hwa.


Terkekeh. Dan tak menurunkan pandangannya, membuat Ara gemas mau mencoloknya.


"Apa aku dilarang ke sini, Hwa-ya?? Lalu, apa kau yang akan mengunjungiku?" Tanya balik pria itu lembut.

__ADS_1


Hayolah!!! Ara gugup!!!


"Bu-bukan begitu." Sebal Ara mengerucutkan bibirnya.


"Hahahahahahhaa." Tanpa di duga, pria penjual racun pemikat itu tertawa keras, hingga Kim So Yoon terbelalak melihatnya. Mupeng geto??.


Wihhh, terpesona kah??


"Yang Mulia, aku tengah berbincang serius dengan nona Kim...." ujar Ara memberi tahu.


Putera mahkota mengangkat alisnya, "Lalu???" Tanya pria itu kemudian.


Menarik nafas pelan dan mengembuskannya berat, gemas. Tak peka!!!


"Yang Mulia.. Mengganggu kami." Jawab Ara menoleh asal takut bicaranya salah.


Tapi lagi-lagi. Ia mendapat tawa keras dari pria tampan itu.


Hingga, tak urung ia mengerucutkan bibirnya.


"Apa kau merasa terganggu dengan kehadiranku. Nona Kim??" Kini pria itu melempar tanyanya pada Kim So Yoon dengan nada datar, tapi berhasil membuat gadis itu terjengkit tak siap.


"Ti-tidak, Yang Mulia." jawab Kim So Yoon.


Bernafas pelan.. "Kami tidak membicarakan hal serius kok." Lanjutnya.


Paan ini. Dia mau mematahkan ucapan Ara??


Wah!!!!! Kau rubah betina ekor 11!!!!


"Oh ya?? Hwa-ya, kau memang ingin mengusirku, padahal kalian hanya mengobrol biasa saja." keluh putera mahkota pelan.


Ara membuat ekspresi mendelik tajam pada Kim So Yoon lalu melemparnya pula ke putera mahkota.


"Masalah??" putera mahkota melirik Kim So Yoon mencari jawaban.


Namun, rubah hitam itu,, "Puteri Hwa, kau terlalu berlebihan. Kita hanya berbicara tentang kisah kita dulu. Bukan masalah, kau tersinggung dengan perkataanku tadi ya? Maafkan kalau begitu." Kim So Yoon melempar kata lembut penuh rasa bersalah di sana.


Tersinggung?? Maksudmu??


Sialan, kau mau memfitnah Ara lagi ya!!!!????


Ara menarik sudut bibir puteri Hwa. Menyeringai sinis dan mengejek.


"Oh ya? Lalu bagaimana dengan ucapanmu yang terakhir, nona Kim?? Haruskah???" tantang Ara yang dibalas Kim So Yoon dengan mata membulat.


"Yang Mulia, Aku....."


"Tunggu, Hwa-ya. Kau ini. Jangan serius lah. Iya aku salah sudah membuatmu marah tadi." Kim so Yoon langsung menyambar ucapan berbahaya yang akan dilontarkan Ara.


"Ada apa ini? Kalian bertengkar?" Sela putera mahkota.


"Tidak Yang Mulia." Jawab Kim So Yoon segera.


Ara menganggukkan kepala puteri Hwa, paham. Rubah ini, harus diberi pelajaran.


"Nona Kim tadi, menantangku Yang Mulia." Ara membuka langsung inti masalah yang ditakuti rubah betina itu.


Yang kini terlihat menggelengkan kepalanya berharap Ara tak melanjutkan.


Tapi..


"Nona Kim tadi memintaku bertanya pada Oppa.... Perihal, apakah Yang Mulia akan menuruti permintaanku agar menolak nona Kim menjadi puteri Mahkota?"

__ADS_1


Duarrrr!!!! Kim So Yoon terbelalak mendengar kalimat barusan.


Sementara putera mahkota yang telah melirik puteri Hwa, segera mengalihkan pandangannya pada gadis yang sudah tak nyaman lagi dalam duduknya.


Memasang wajah serius. "Haruskah??" ucap pria itu dingin pada Kim So Yoon.


*****


"Apakah aku selalu memintamu untuk membatalkan perjodohan. Yang Mulia?" Ara yang kini sudah berjalan-jalan di luar kediamannya, tepatnya di taman dekat dengan gerbang atas istana.


"Kata siapa, Hwa-ya?" Berbalik tanya, pria itu menatap Ara bingung.


"Entahlah, aku mendengar seperti itu." jawab Ara menatap ke luar gerbang yang penuh hamparan rumput di luar sana.


Ara tak menduga. Pun tak menjamin kekuatan jantungnya atau lebih tepatnya milik puteri Hwa bisa bertahan berapa lama. karena kini......


Pria itu tanpa aba-aba, menggenggam telapak tangan puteri Hwa.


"Oppa?!!" Ara melirik sekitar, para dayang cukup jauh untuk bisa melihat apa yang tengah terjadi.


Tapi Ara gugup. Oke, jika sebelumnya skinship tak menjadi masalah bahkan diharapkannya. Tapi tidak kali ini...


Ia merasa ada yang salah pada situasi sekarang, kenapa, kenapa ia merasa degup jantung puteri Hwa semakin berpacu saat ia merasa bahwa tubuh ini.......


Mendamba???


Apa???!!!!!


Ara menoleh, dan benar, pria itu menatapnya memuja lagi.


Tunggu, apa benar jika.....


"Yang Mulia..... Apakah...??" Ara berusaha mengumpulkan keberanian menyusun kalimatnya.


"Hmmm." deham pria itu.


"Apakah, apakah.... Kita memiliki perasaan lebih dari saudara.???" tanya Ara yang berperang merangkai kata.


Lagi, pria itu mengunci netra puteri Hwa, menjaganya jangan sampai lolos dari tatapan mata hitam legamnya.


"Jawaban apa yang kau inginkan, Hwa-ya?" tanyanya balik.


"Jujur." Jawab Ara singkat.


Ketika bibir pria itu mulai bergerak, Ara secepat kilat memotong... "Tunggu, Yang Mulia." Ucap Ara gercep.


"Ada apa, Hwa-ya?" bingung pria itu.


"Aku, aku, aku ingin mengatakan jika.... Aku ingin menemui pangeran yang dijodohkan padaku." Lanjut Ara pelan dengan tubuh bergetar.


Ia mencari cara agar jangan berada pada situasi yang membenarkan ucapan Kim so Yoon tadi.


Tidak mungkin dua beradik ini terlibat perasaan, bukan?? Ia punya calon, dan pria ini pun juga punya calon dan sedang berlangsung malah.


"Kau, mau bertemu pria itu. Lagi??" decak putera mahkota dengan wajah berkerut.


Lah. Kenapa memangnya???


Ara mengangguk.


"Pria brengsek itu.... Tak pantas menjadi suamimu, Ara." jawab pria itu yang membuat Ara tertegun dengan pemilihan kata kasar pria itu pada calon suaminya.


Apa katanya tadi? Pangeran itu pria brengsek???

__ADS_1


__ADS_2