100 Hari Menjadi Puteri Joseon

100 Hari Menjadi Puteri Joseon
Kembalinya Ara di tubuh puteri Hwa


__ADS_3

"Enghh." geliat gerak kepala dari pasien bernama Go Ara pelan. Karena seorang bangsawan sejati, tentu cara bangun pun berkualitas. Ya, dong, gak kayak Ara yang harus ngulet kiri lalu menggulung tubuh dengan selimut kemudian bangun saat waktu sudah sangat terlambat.


Hari masih terbilang gelap, tubuh itu sudah duduk di pembaringan. Namun ia bergeming. Melihat ada sosok lain yang meletakkan kepala di sisinya tidur, dengan posisi duduk.


"Siapa?" gumamnya lirih menatap Hana yang masih lelap tertidur.


Mengintip sekilas pada si pemilik tubuh itu.


"Ini gadis yang kemarin." lagi ucapnya, mengenali Hana.


Namun tak ada sedikitpun ketertarikan dalam dirinya untuk membangunkan Hana. Ia malah berniat menegakkan tubuh ini.


"Ini kenapa tanganku terikat?" menoleh heran pada selang infus yang menahan tangannya.


"Bagaimana melepasnya?." memperhatikan lekat benda itu. Hingga matanya bisa menangkap benda kecil yang menancap di punggung tangannya.


"Jarum? Apa aku harus melepas ini?" pikirnya, lalu, tak sampai beberapa detik.


Jarum itu sudah teronggok tak berdaya di atas brangkar bersama selang infus.


Namun ia kembali heran mendapati tempat ia berbaring tidaklah rata dengan lantai.


"Kenapa tempat tidurnya tinggi sekali.?" menoleh ke bawah, tak seberapa tinggi kalau ia menurunkan kaki.


"Kenapa banyak sekali benda aneh di sini.?" matanya tak henti menemukan benda ajaib yang tak ada di penglihatan terakhirnya di Joseon.


Hap.


Kaki jenjang itu berhasil menapak di lantai itu.


"Dingin!!! Kenapa dingin sekali kakiku." ujarnya menjinjit sesaat ia sudah berjalan, meski...


"Argghhh. Ada apa dengan tubuhku." linglung dan sempoyongan, tentu,, karena tubuh Ara sudah terhitung 1 bulan tidak berjalan, maka sendi tubuh itu jelas saja melemas.


Menumpu tubuh pada benda yang bisa ia jangkau.


"Aku harus kuat." semangatnya memapah tubuh sendirian.


Langkah kakinya sudah jelas akan mengarah ke mana. Sudut itu sudah menarik perhatiannya saat sadar pertama kali. Dan, ia ke sana....


Sreetttt


Pelan, ia menarik kain besar berwarna merah muda yang menggantung cantik di dinding. Hingga,...


"Wahhh!!! Apa ini??" takjub, matanya tak henti membelalak penuh sesaat gorden jendela itu berhasil ia singkap sempurna.


"Di mana aku???" lanjutnya bertanya.


Saat ia menatap pemandangan di luar ruangannya yang berada di lantai 4, pelan netra itu menangkap bias bayangan lain dari pantulan jendela yang masih menyisakan bayang tubuh yang tengah ia tatap.


"Siapa itu?" puteri Hwa berkerenyit heran, menatap intens bayangan seorang gadis yang tengah menatapnya dari jendela yang sama dengannya.


"Apakah itu hantu?" tanyanya, mencoba menyentuh jendela pelan, namun bayang itu membalasnya melakukan hal serupa.


"Kau siapa?" tanyanya, dan bibir bayangan itu pun melakukan hal sama lagi.


"Arrgghhhhhhh.!!!!!!" puteri Hwa berteriak ketika menemukan, bahwa ia kenapa berubah menjadi sosok itu, sosok gadis yang juga berteriak dari balik cermin itu.


******

__ADS_1


"Kapan aku turun, nek?" Ara tampak sekali bosan duduk di sebelah nenek. Sudah hampir 3 jam ia mengaduk-aduk asap putih di sekelilingnya.


"Kenapa? Kau bosan?" tanya nenek yang asik membaca buku. Entah buku apa itu.


"Hooh, aku sangat bosan." jawab Ara jujur.


"Ya sudah maen sana kalo bosan."


"Heh? Maen? Maen apa?"


"Apa aja lah."


"Nenek lihat, di sini cuma ada hamparan asap tak jelas. Jadi aku maen apa di tempat yang daritadi gini mulu bentukkannya." keluh Ara


"Ya terserah kau. Sekreatif mungkin lah jadi orang. Guling-guling, melompat, lari-larian., apapun sesuka hatimu." jawab nenek santai.


"Bosan.!!!! Gue bosan, gue bosan." kicau Ara memukul asap.


"Kalau begitu. Tonton lagi drama itu." nenek membuka asap putih itu melebar, menampakkan lagi bayangan Joseon.


"Nah. Gini dong. Penasaran up datenya." ucap Ara girang. Bersila.


Joseon>>>>>


Isak tangis memenuhi tiap sudut istana, berkabung, mereka berkabung semua.


Memakai pakaian putih pertanda semua berduka, selama beberapa hari harus dikenakan.


Dan yang menjadi bahan duka cita itu, kini terlihat terbaring manis di atas sebuah ranjang seukuran dirinya, memakai pakaian putih, tanpa topi putih seperti layaknya mayit umumnya. Hanya menampilkan tubuh kaku yang di rias natural, wajah buruk rupa itu pun juga di tutup sehelai kain putih.


"Kasihan sekali puteri Hwa." seorang dayang bercengkrama saat hendak mengganti lilin yang sudah menipis.


"Maaf kan kami puteri Hwa." salah satu dayang hendak mendekati pembaringan puteri Hwa.


"Hei, mau ke mana. Kita akan terkena masalah nantinya." ucap teman dayangnya yang kaget melihat dayang itu terbawa emosi.


"Hei,!!" lirih bisiknya memanggil temannya itu.


"Tarik temanmu itu. Sebentar lagi permaisuri akan kemari." lanjutnya lagi menoleh pada dayang lainnya.


Sedikit lagi mencapai tempat puteri Hwa.


Sretttt


Suara pintu geser itu terdengar di telinga ketiga dayang itu.


"Yang mulia." para dayang yang mengurus perlengkapan disekitar jenazah puteri Hwa membungkukkan tubuh ketika sosok itu tiba.... Tapi...


Ratu? Bukankah permaisuri yang akan memberikan penghormatan dan salam terakhir pertama kali kepada puteri Hwa rencananya.


"Ratu." ucap ketiganya heran namun tak ditunjukkan.


"Kalian keluar semua." perintah ratu pada dayang yang harusnya sudah selesai menata ruangan puteri Hwa.


"Baik, yang mulia." ucap mereka bersamaan, menarik langkah pelan keluar meninggalkan perempuan yang merupakan ibu sang puteri.


Sepeninggal ketiganya....


Ratu, berjalan pelan mendekati pembaringan itu.

__ADS_1


"Hwa-ya. Kau,....."


"Bagaimana rasanya sekarang, Hwa-ya?"


"Bukankah ini yang selalu kau hindari, bukan?"


"Tapi, nyali sok beranimu baru-baru ini, malah mengantarkan dirimu sendiri terbujur di sini., heh." dengus ratu berujar, sementara tangannya membelai lembut rambut yang gelungannya sudah di juntaikan di sisi tubuh sebelah kiri puteri Hwa.


Ara yang melihat dari atas sana, mengerenyit tak percaya.


"Apa maksudnya itu, nek?" tanya Ara menggumam.


"Lihat sendiri, aku lagi sibuk membaca." sahut nenek masa' bodo.


Ara menatap lagi adegan drama ibu dan anak itu.


"Jika saja kau menjadi puteri penurut seperti sebelumnya....."


"Saat sebelum kita saling menghancurkan seperti ini." ratu menghentikan belaian itu,.


Menyeringai.


"Ah, tapi percuma aku mengeluh, bukan?"


"Karena kau sudah akan menyusul ibumu yang sudah pergi duluan." kekehnya pelan saat menyelesaikan kalimatnya.


"IBU!!!!!" Ara histeris sembari membelalakan matanya.


"Ibu puteri Hwa? Apa itu artinya ratu, ratu..." cerocos Ara menoleh liar ke kiri dan kanan.


"Nenek!!!!!" teriak Ara tak sabar.


"Ckk kau ini." balas nenek sebal


"Itu, itu bagaima........."


"Syuhh sana pergi!!!" nenek menendang kasar Ara menjauh.


"Arghhhhhh." pekik gadis itu kala tubuhnya terjengkang menukik, dan......


Bampppppp


Ara merasakan jatuh ke dasar gelap kini.


"Di mana gue??" gumamnya mencari cahaya.


Namun, saat ia sibuk mencari, telinganya menangkap sayup suara....


"Maka dari itu., selamat tinggal puteri Hwa yang malang." Ara mendengar suara itu, suara ratu.


Apa kini ia kembali lagi ke.....


"Enghhhh." desis Ara yang merasakan berat menahan geraknya. Matapun berusaha ia buka katupnya yang laksana di lem setan.


"Enghhh." suara itu membesar, hingga....


"Arghhhhhhhhhhh." mata dan telinganya menangkap gurat takut dan juga jeritan dari ratu, perempuan itu berteriak histeris ketika menatapnya yang sudah bisa melihat sekitar.


Ya, Ara..... Bangun,,, dengan tubuh puteri Hwa lagi.

__ADS_1


__ADS_2