100 Hari Menjadi Puteri Joseon

100 Hari Menjadi Puteri Joseon
Oppa Hoon?


__ADS_3

"Oho!!! lancang sekali kau, huh!!!" omel puteri Hwa kala menapaki langkah keluar dari ruangan tempat mereka berkumpul sebelumnya.


"Aha Oho Aha Oho, diem deh tuh lambe." sahut Hana yang cukup kesusahan memapah tubuh ramping Ara.


Ia kesulitan karena si empu tubuh kerap kali menggeliat bak cacing kena sianida.


Tak mantap sedikitpun.


Belum lagi itu bibir, sering sekali mengucapkan kata hardikan, cacian, bahkan makian.


Yang kesemuanya bukan kosakata era sekarang, melainkan bak logat si pemilik panti tempat mereka kecil dulu.


Ya, logat wanita baya yang begitu kental nuansa utara.


Lah, sekarang, ini tengil pun.


Apa ia sudah menenggak racun drama Si Hyun Bin dan istrinya yang terjebak di negeri utara itu. Atau drama kerajaan yang sering ditongkrongin Ara, terlebih ketika dirinya stress berat.


"Turunkan tangan mu Hana-ya!!!!!" suara yang dikeluarkan puteri Hwa semakin kencang. Hanya saja teredam oleh debam musik club malam. Tapi.... Tetap saja tidak berlaku ditelinga Hana. Gadis itu bergidik mendengar lengkingan itu.


"Kalo bukan dari kecil kita dan sama-sama. Udah gue lempar ini tubuh ke bawah." gerutu Hana berusaha menstabilkan langkahnya agar tidak terjatuh.


"Nona Choi, apa kau kesulitan? Apa perlu saya bantu membopong tubuh nona Go Ara." tuan Kim dari arah belakang sudah menyamakan posisinya di sisi Hana, menawarkan bantuan padanya.


"Ah? Oh tidak perlu tuan Kim. Saya masih sanggup membawa tubuh ini demit." sahut Hana.


"Demit?" ulang tuan Kim menahan simpul senyumnya.


Ia tak habis pikir dengan dua makhluk di sisi kirinya ini. Selalu melontarkan kata-kata se-absurd bahkan segila itu untuk masing-masing dari mereka, tanpa tersinggung sama sekali.


Iri


Pasti


"Sejujurnya, saya tidak pernah kesulitan membawa Ara.. Hanya saja malam ini, kenapa tubuhnya menggeliat bak terkena kuah rujak gitu." lanjut Hana dengan kata uniknya lagi


"Apa nona Ara sering mabuk seperti ini?" tanya tuan Kim penasaran.


Karena, dari yang ia lihat melalu sosial media Ara.


Eh ciee yang stalking sosmed orang.


Penasaran yak?


Okeh lanjut...


Tuan Kim pemuda gagah nan kaya raya ini, bisa menilai dengan mudah jika Ara bukan sosok lemah seperti ini


Harusnya, satu botol wine itu tidak akan mampu menumbangkan tubuh gadis tengil ini.


Belum lagi, tubuhnya yang ramping itu, cukup sehat dari beberapa olahraga yang digeluti Ara.


Thai boxing, yoga, tenis, hingga futsal.

__ADS_1


Lah,... Kebanyakan olahraga pria, loh!!!


Tapi begitulah,.


Belum lagi, melihat beberapa aktivitas Ara yang juga sering mengunjungi club malam ini, ya.. ada juga beberapa club lain, hanya saja ia sering kemari, karena circle gadis itu bukan kalangan biasa. Tapi, kenalannya cukup diperhitungkan.


Salah satunya Frankie. Lawan bisnisnya yang entah kemana rimbanya kini.


Menghilang untuk waktu yang cukup lama.


Perlahan menuruni anak tangga,,, Hana berusaha langkahnya tetap terjaga, karena tentu sekaligus melindungi dua orang. Dirinya dan si tengil yang ia papah ini.


Salah langkah sedikit saja, tentu dirinya akan ikut salto menghitung anak tangga, di saksikan banyak pasang mata orang elit, berikut video viral keesokan harinya akan terpampang memenuhi info sosial media mereka berdua.


Malu woyy.


Oke, pelan- pelan, pelan-pelan.....


"Woy, Ara. Diem dikit bisa gak sihhh!!!!" Sentak Hana gemas, karena tubuh Ara kumat lagi menggeliat dalam dekapannya.


"Oho. Berani-beraninya kau meninggikan suaramu!!!" puteri Hwa tak mau kalah. Ia jelas membalas balik ucapan Hana lebih keras lagi.


"Aihh kau ini. Membantah lagi." keluh Hana menguatkan dekapannya di pinggang ramping Ara.


"Dan aku, aku, aku, bukan Ara.!!!" lanjut puteri Hwa memberi tahu.


"Ya, ya, ya, terserah kau saja." sahut Hana malas.


Pasti kumat lagi kehaluannya


"Iya, gongju." jawab Hana menimpali.


"Orabeoni?? Kau kah itu???" puteri Hwa yang menelengkan kepalanya menangkap bayang tuan Kim yang lagi-lagi dianggapnya sebagai putera mahkota.


Tuan Kim menoleh membalas tatapan itu. Lalu tersenyum sekilas.


"Ya, kau, kau orabeoni-ku." teriak puteri Hwa tiba-tiba...


Pun, ia tiba-tiba menggerakkan tubuh Ara tanpa perhitungan dan dugaan tuan Kim maupun Hana.


Ya... Gadis itu menegakkan tubuh lalu memutar Hana. Dan....


"Hah!!!???" Hana melongo, manakala tubuh yang ia papah sudah lenyap,...


Lebih tepatnya, sudah berpindah alam... Eih salah. Maksudnya pindah sanderan. Yang lebih saderable.


Ahayyy.


"Ohh!!" pun yang mendadak jadi sanderan tak kalah terkejut.


Ketika seorang gadis sudah mendekap tubuh atletisnya tanpa kata sama sekali.


Berakibat besar.

__ADS_1


Jantungnya kembali, berdebam hebat. Mengalahkan hentakkan musik keras club malam ini.


Sialan!!!!


Gadis ini lagi-lagi mengejutkannya..


Hingga jantungnya kaget lagi, kan???


"Nona Go Ara???!!" ucap tuan Kim kaget.


"Oohh, kau juga Orabeoni. Kenapa suka sekali memanggilku Ara???" ucap puteri Hwa dengan nada tanya tak sukanya.


Plak!!!!


"Aduhhhhhh!!!" pekik puteri Hwa tiba-tiba.


"Woyyy, kau ini!!!"


Tangan yang mendarat cantik di lengan mulus itu, tak lain dan tak bukan, Hana.


Gemas sekali dirinya.


"Makan tuh.!!!" balas Hana menyipitkan matanya.


"Kau, kau. Akan aku pancung kau!!!" ancam puteri Hwa, namun hanya decak geli yang dibalas Hana.


"Beruntung sekali kau berpindah ketika sudah berada di tangga akhir. Kalau masih di atas tadi, pasti sudah menggelinding kita, tau!!!!" semprot Hana memperingatkan.


Berbahaya sekali, bukan???


"Orabeoni, lihat, kau lihat kan. Berani sekali dia menyentuhku dengan keras seperti itu." adu puteri Hwa.


"Kau itu mabuk, ya. Tapi kok masih bisa sih nyebelin gitu." sambar Hana mewakili tuan Kim atas ucapan Ara tadi.


"Ayo orabeoni, kita pulang. Ini, ini, ini bukan dunia kita. Di sini sangat aneh. " ucap puteri Hwa yang berjalan kesusahan itu.


"Pulang???" beo tuan Kim tak paham.


Semoga hanya Hana saja yang mendengar. Jila orang lain, tentu akan langsung salah paham mendengar ucapan barusan.


Terlebih mereka berdua bukan orang biasa. Sama-sama figur sosial. Bedanya satu sosialita, dan satunya sosial dalam bisnis.


Lingkungan mereka tentu tahu, bahkan netijen bermulut tajam pun kenal mereka.


Dan, lihat saja, dari salah satu sudut club malam. Sudah ada beberapa pasang mata menangkap mereka berdua. yang tengah berdekapan. Atau lebih tepatnya, Ara alias puteri Hwa yang nempel bak lintah mengikat pinggang liat milik tuan Kim.


Dan, dari beberapa pasang mata itu.... Tentu saja, para paparazi dan wartawan sudah siap dengan teman alkohol mereka, santapan lezat para penikmat berita gosip.


Dan.....


"Ara-sshi?"


Sebuah suara, menyambut mereka yang sudah berhasil menyentuh tangga kecil menuju pintu keluar.

__ADS_1


"Oppa Hoon??" Ya, itu suara Hana. Terkejut mendapati pria yang di sukai Ara, berpapasan dengannya.... Dengan gadis itu, berada dalam dekapan pria.... Lain.


__ADS_2