100 Hari Menjadi Puteri Joseon

100 Hari Menjadi Puteri Joseon
Kebenaran 3


__ADS_3

Setelah mengirimkan rekaman itu, kini Ara sedikit tenang. Cindy menepati janjinya untuk tidak mengusik hidupnya.


Namun, yang menjadi masalahnya saat ini adalah...


“Bagaimana? Apakah kau menyukainya, Ara-ya?” tanya pria yang masih membuat Ara pusing dan kelimpungan.


Kenapa ia selalu di kunjungi, ditelpon bahkan dikirimkan bunga oleh pria itu.


Apakah puteri Hwa sudah memikat hati pria kaya raya ini?


“Iya, terima kasih, oppa.” Jawab Ara, ia memaksa lidahnya merangkai kata oppa. Mungkin memang ada hubungan antara keduanya, kan?


Mendengar oppa dan bukan orabeoni, membuat Kim Hee Sin lagi-lagi tertegun.


Apakah ia tidak dikenali gadis ini lagi?


“Apakah ingatanmu sudah kembali, Ara-ya?”


“Ingatan?”


Ara berpikir keras di sini, apa mungkin karena Kim Hee Sin memiliki perawakan mirip dengan putera mahkota membuat gadis kerajaan itu akrab dengan pria mapan ini.


“Apa ada sesuatu yang begitu dekat antara kita?”


“Maksudmu?”


“Ya mungkin kita sudah ada ditahap yang..” Ara kesulitan melanjutkan, takut nanti ia salah bicara karena besar kepala.


“Kalau kau bingung...” Kim Hee Sin mendekat ia pelan meraih jemari kelingking Ara lalu menatap mata gadis itu yang tiba-tiba tak fokus.


“Apakah kau mau memulai dari awal lagi, Ara?”


.


.


.


“Hana!!!” panggil Ara saat ia mendengar sahabatnya sudah masuk


“Tak usah teriak-teriak woy tarzan.” Sambut Hana yang tahu posisi Ara ada di balkon.


“Sini” panggil Ara melambaikan tangan


Hana mendekat, menjinjing blazernya. Tampak letih.


“Ada apa.?” Tanya Hana saat sudah duduk di kursi bulat sebelah Ara yang leyeh-leyeh berbaring di sofa panjang.


“Apa aku cukup dekat dengan Kim Hee Sin?” tanya Ara, ia tentu yakin tepat mempertanyakan hal ini, karena bisa dipastikan Hana selalu berada di sisinya selama ia sakit.


“Euhmmm, lumayan.” Jawab Hana cepat


“Apakah sampai melakukan...” Pipi Ara merona seketika ketika mengajukan tanya yang tak lengkap itu.


“Sampai apa?”


“Ahhh sudahlah jangan dilanjutkan.” Lah, dia yang nanya, dia pula yang berenti.

__ADS_1


“Jadi kami akrab?” ujar Ara bertanya yang diangguki Hana.


“Kenapa? Kau melupakannya pula?” todong Hana menatap tajam.


Ara mengendikkan bahunya, bingung mau jawab apa.


“Kalian lumayan akrab, sampai menggunakan banmal.” Cetus Hana. Artinya mereka tidak menggunakan kosakata formal.


“Iya kah?” tanya Ara termangu


“Iya. Makanya jangan sok lupa-lupa deh, itu cowok loh yang nyelametin nyawa lo waktu di siksa Cindy.” Ucap Hana, memberi informasi yang tidak diketahui Ara.


“Apa??!!” Ara membulatkan matanya mendengar cerita barusan


Benarkah? Bukankah saat itu suasananya sangat sepi, letak danau itu jauh dari jalan, jauh dari jangkauan yang berwujud manusia.


“Iya, gue cuma dikasih tahu dari telpon kalo lo diberi tindakan medis.” Jelas Hana.


Darimana pria itu tahu soal Hana, bukankah semua peralatan komunikasinya rusak karena ia sudah ditenggelamkan.


“Jangan lupa, dia seorang konglomerat, mudah baginya menghubungiku dari ponselmu itu. Mungkin diperbaiki oleh ahlinya langsung.” Cetus Hana seolah tahu pikiran Ara.


“Ohh ya, aku lupa.” Sahut Ara nyengir


“Tumben pakai aku?” cibir Hana


“Entah, terserahlah, dih.” Balas Ara.


“Lalu bagaimana pembicaraan kalian tadi.” Hana tahu perihal pertemuan mereka.


“Oh ya??” Binar sumringah muncul dari wajah Hana


“Seneng banget.” Cibir Ara


“Ya jelaslah, cowok baek-baek, mapan pula, mumpung.” Kekeh Hana


“Ck. Kau ini.” Cibir Ara


“Apa kau masih ngarep oppa Hoon, huh?” tanya Hana mencebikkan bibirnya


“Hoon? Jangan kau sebut lagi nama dia, Hana.” Tiba-tiba tubuh Ara bergetar hanya menyebut nama pria itu.


Hana menangkap ada yang aneh, “Kenapa? Bukannya kau akrab dengannya baru-baru ini?” tanya Hana heran


“Aku? Akrab dengannya? Ya Tuhan!!!” ucap Ara frustasi


“Bagaimana mungkin, aku tak akan pernah mau dekat dengannya lagi.” Pungkas Ara


“Tapi kenapa? Oppa Hoon kan baik orangnya, kau saja suka.” Ucap Hana masih bingung mencerna semuanya


“Kau tahu siapa yang mencelakaiku selain Cindy?” tanya Ara dengan wajah serius.


“Hah!!!” Ucapan Ara berhasil membuat Hana membelalakkan matanya


“Kau yakin?” Hana bertanya ulang, seolah masih belum percaya yang diucapkan Ara tadi.


“Iya, aku saja kaget saat ditempat penyekapan itu, ada Hoon di sana, dan ia menggandeng Cindy di sana.” Ujar Ara

__ADS_1


“Tapi terakhir kali ia sering kemari, Ara.” Tutur Hana memberi tahu


“Ya Tuhan!!! Jangan-jangan dia yang memberi akses masuk Cindy waktu itu.” Duga Hana mulai mengingat


“Sudahlah, lagian Cindy pasti sudah membalas perbuatan Hoon pada Frangkie.” Ucap Ara


“Maksudmu?”


“Aku memberikan rekaman suara di mobil Frankie pada Cindy, sebelumnya aku memang pernah naik ke mobil itu saat diantar Frankie. Jadi kau tahu kebiasaanku bukan?” tanya Ara


“Hmm, menaruh alat penyadap dimanapun kau naik mobil pria.” Cetus Hana yangdiangguki Ara.


“Betul, dan aku menaruh itu juga dimobil Frankie, tapi rupanya itu bermanfaat untuk ku dikemudian hari.” Ara lega rasanya saat tahu kebiasaan anehnya itu berguna juga.


“Rekaman itu terhubung dengan tabletku dan juga ada rekaman terakhir Hoon dan Frankie dari kamera dashboard mobilku yang malam itu berdekatan dengan mobil kakaknya Cindy itu.” Jelas Ara.


“Syukurlah.” Hana merangkul tubuh Ara yang masih berbaring.


“Terima kasih sudah kembali Ara. Aku bersyukur sekali.” Ucap Hana tulus, seketika hati Ara menghangat.


‘Bagaimana dengan puteri Hwa, bukankah masih ada sisa 2 hari lagi?’ batin Ara sembari membalas pelukan Hana.


“Semoga setelah ini tidak ada lagi drama itu, Ara.” Harap Hana


“Semoga Hana.” Balas Ara berdoa.


1 minggu kemudian, tanpa diduga.. Hoon muncul di apartemen Ara


Bahkan pria itu mengejutkan Ara yang baru saja keluar dari dapur setelah mendengar ada yang masuk. Ia menduga Hana kembali karena ada yang tertinggal.


“Kau?” Ara kaget menemukan Hoon dengan santainya duduk di sofa dan menaruh kaki di meja.


“Apa kau merindukanku, Ara-ya.” tanya Hoon menyeringai. Ia memainkan sebilah pisau di tangan kirinya.


“Apa maumu kemari!” sergah Ara. Ia harus waspada, karena sudah pasti pria itu akan menyerangnya.


Ara sudah memasang sikap siap. Kuda-kudanya sudah mantap.


Tanpa Ara duga, sebuah pot kecil keramik melayang kearahnya. Ia yang kaget belum sempat menghidar.


“Awww.” Ringisnya merasakan sakit, perlahan wajahnya dialiri darah segar.


“Dasar pengecut.” Cibir Ara menatap tajam pada Hoon yang sudah berdiri.


“Kau tidak lupakan Ara, jika aku yang membawamu waktu itu dari sini sampai ke danau itu.” Hoon berjalan pelan, mengintimidasi Ara.


“Apakah kau masih ingat menjerit minta diampuni, Ara.” Hoon mengambil ponselnya lalu menekan sesuatu di sana, dan terdengar rekaman suara di sana....


“Tolong maafkan aku oppa, maafkan.” Itu suara Ara


“Hiks... hiks.. hiks.” Tangis pilu terdengar


“Oppa tolong lepaskan.... arghhhhh.” Tak lama suara jeritan pun memecah kehening keduanya. Sungguh menyayat siapapun yang mendengarnya.


“Bagaimana, merdu sekali bukan?”


Dasar Psikopat!!!

__ADS_1


__ADS_2