100 Hari Menjadi Puteri Joseon

100 Hari Menjadi Puteri Joseon
Akhirnya


__ADS_3

“Arghhhhh sial!!!” pekik Hoon saat kaki jenjang itu mendaratkannya diwajahnya.


“Arghh.” Gadis itu pun meringis merasakan di perutnya juga sakit


“Hah? Aku.. di..” ia mengedarkan matanya saat menangkap tempat yang ia kenali


“Aku kembali lagi?” tanyanya.


Kali ini ia kembali dalam keadaan sadar, tidak harus terbaring dulu seperti sebelumnya,


Sungguh para dewa tengah mempermainkan mereka rasanya,.


“Rasakan ini!!!” Hoon membawa guci dan siap melemparkannya pada Ara, namun sigap gadis itu mengelak.


Hoon merasa heran, daritadi ia mudah menghajar tubuh itu, bahkan bisa dipastikan jika Ara menderita lebam dan luka di tubuhnya. Tapi sedikit lagi pisau itu menancap, ia malah dibalas oleh gadis itu.


“Kau...” Puteri Hwa tertegun melihat Hoon menggila


“Mati kau!!!” Hoon beranjak dan membawa meja kaca.


Prang!!!!


Dengan sekali gerakan memutar, puteri Hwa menendang benda itu hingga pecah dan sekaligus mengenai wajah pria itu lagi.


Tit tit tit


Kode pintu terdengar ada yang menekan, baik puteri Hwa dan Hoon sama-sama menoleh.


“Kau!!! Sialan!!!” Kim Hee Sin yang datang.


Pria itu tanpa banyak bicara lagi, menendang pinggang Hoon hingga terjerungus ke dinding.


“Sudah ku duga, kau dalangnya juga.” Sengitnya menatap Hoon yang mengelap darah di ujung bibirnya.


“Masuk pak, tangkap orang itu.” Sein yang sekarang muncul bersama dengan beberapa pria berjaket kulit. Detektif kepolisian korean.


“Arghhh, kau menghancurkan semua rencanaku, Ara!!!” pekik Hoon.


“Kau menghancurkan mimpiku!!!” lanjutnya.


“Kau tidak apa-apa?” Kim Hee Sin mendekat dan refleks memeluk tubuh gadis itu.


“Tidak orabeoni.” Jawab Puteri Hwa merasa tenang seketika


“Hah!!” Kim Hee Sin tertegun mendengar panggilan itu. Apakah Ara ingat dirinya lagi.?


.


.


.


“Jelaskan!!” titah raja pada puteri Hwa dan putera mahkota yang mengatakan hal konyol barusan.


Di ruangan milik raja. Mereka berkumpul.


Raja, ratu, puteri Hwa alias Ara, putera mahkota dan dayang An.


“Yang Mulia, apakah anda menyadari jika di pergelangan kaki ratu tidak ada tanda berwarna hitam?” tanya Ara pelan. Dari keterangan putera mahkota, ia mendapat informasi bahwa ratu memiliki tanda hitam di tungkai kakinya, tidak akan terlihat jelas jika tidak diperhatikan. Dan Ara pernah melihatnya saat ia dengan percaya dirinya memberikan perawatan tubuh pada ratu.

__ADS_1


Ratu yang menutupi jati dirinya karena merasa puteri Hwa lupa tidak mempermasalahkan hal itu.


Raja membeliakkan matanya lalu menatap ratu.”Buka kaus kakimu Ratu.” Titahnya pada ratu ababil itu.


Ratu menjaga dirinya agar tidak gugup, ia menatap puteri Hwa tajam.


“Yang Mulia, itu tidak benar.” Ucap Ratu.


“Buka!!!” titah raja tak terbantah, hingga ketika dibuka, benar, tidak ada tanda itu.


“Kau bukan isteriku.” Gelegar suara raja di ruangan itu.


Ia memang pernah melihat tanda itu, tapi tidak terlalu kentara. Dan ia merasa istrinya berubah sejak serangan di rumah keluarga pengawalnya.


“Dan dayang itu adalah puterinya. Karena mereka memiliki tanda yang sama, lalu ini catatan.” Ara yang mendapat info dayang Han bahwa puteri Hwa mencatat tanda dayang An adalah puteri ratu.;


Raja membaca hal itu, memanggil dayang yang dimaksud, dan semua terungkap.


“Kau, tega sekali membunuh ratu, puteriku dan pengawalku.” Geram raja meremas kertas itu.


“Pancung mereka di hadapan semua rakyat!!” titah raja.


“Yang Mulia!!!” pekik ratu berusaha menggapai tubuh raja tapi dihempas


“Kau bukan ratuku, jadi jangan sentuh aku.” Tolak raja


“Bawa pergi mereka dari hadapanku.” Teriaknya, dan pengawal pun datang menyeret ratu, dayang An dan beberapa anak buah ratu yang terlibat juga akan dihukum bersama.


“Kau.” Raja menatap puteri Hwa.,


“Aku adalah puteri dari pengawal anda Yang Mulia, ada pamanku yang bisa mengatakannya.” Ucap Ara teringat pada paman rasa kekasih itu


“Terima kasih Yang Mulia,” balas Ara membungkuk.


1 bulan kemudian....


“Eungggghh.” Lenguhnya saat merasa tubuh terasa letih.


“Ara!! Ara!!!” suara itu, Ara kenal. Pasti ia bermimpi.


“Woy, bangun!!!! Kau ada kencan, Kim Hee Sin sudah di depan.!!” Pekik Hana, membangunkan Ara terpaksa


“Apa? Aku di...” ia lega, ada di apartemennya.


“Kenapa? Kau bermimpi aneh lagi?” tanya Hana


“Iya, aku bermimpi aneh. Sepertinya aku harus berhenti menonton drama kerajaan.”sungutnya.


Ia bangun dan bersiap menemui pujaan hati.


PDKT yang dilakukan tidak terlalu sulit, dan pria bernama Kim Hee Sin itu ternyata cukup manis menjadi pacar.


Ia royal, perhatian, dan.... tipe Ara banget


“Beruntung banget deh.” Cetusnya ketika mengoles liptint di bibir tebalnya.


Ceklek


“Kau sudah siap?” Kim Hee Sin berdiri dari duduknya melihat kedatangan Ara yang keluar dari kamar.

__ADS_1


“ehm.” Ara beringsut merangkul lengan kokoh Kim Hee Sin.


Ahhh sempurna sekali rasanya.


Pun demikian di Joseon...


“Bawa Nona Haneul kemari!!” suara gelegar putera mahkota yang kini sudah menjadi raja menyeruak di ruangannya.


Raja turun tahta, dan mengalihkanya pada puteranya. Kini puteranya mendapat gelar raja Joel.


Puteri Hwa atau yang sekarangn bernama Haneul, sibuk menarik anak panah untuk membidik rusa di ujung hutan.


Matanya sudah menatap tajam, hingga


Wush!!!!


Rusa itu sudah tertusuk sedangkan anak panahnya belum dilepas. Ia menoleh.


“Yang Mulia!!!” Haneul kontan langsung membungkukkan tubuhnya saat pria tampan itu turun dari kudanya.


Raja muda.


“Berdiri Haneul.” Titahnya dengan suara beratnya


Haneul tak menanggapi, kini statusnya tidak lain adalah keluarga biasa, meski diberikan kedudukan oleh raja tapi ia tetap harus menghargai status sosial yang dijunjung tinggi.


“Bangun atau aku cium kau.” Ancam pria itu.


Haneul gelegapan, kenapa pria itu malah mengancam demikian. Ia mendongakan kepalanya dan mendapati tatapan pria itu begitu tajam menusuk.


“Hamba hanya rakyat biasa, Yang Mulia. Tidak berhak hamba menatap baginda.” Ucap Haneul menerangkan posisinya.,


Ia sudah beberapa kali diteror pria ini untuk ikut ke istana. Tapi ia selalu berhasil kabur.’


“Kau cukup berani melawanku Haneul.” Ucap raja.


“Arhhhhh.” Haneul memekik saat tubuhnya melayang. Ia sudah berada dalam dekapan raja, yang mengangkat tubuhnya,


“Kaun memang harus ku paksa menjadi istriku, huh?” tanya raja menyeringai.


“Baginda!!!” rengek Haneul.


“Jangan seperti itu, kau semakin menggodaku, Haneul.” Ucap raja merasa rengekan Haneul begitu menggemaskan di telingannya.


“Ayo pulang ke istana dan menikah denganku.” Raja membawa tubuh itu untuk naik ke atas kuda.


“Tapi Yang Mulia...” Haneul ragu, ia tak memiliki kualifikasi itu.


“Kau memang bukan sebagai ratu, maaf kau hanya menjadi isteri keduaku. Tapi aku tak akan melepasmu.” Ujar raja. Merangkul tubuh Haneul dari belakang dan menjalankan kudanya.


“Kau memang pemaksa, baginda.” Ujarnya sebal


“Karena kau tidak mau mengikuti cara baik-baik. Maka kau perlu dipaksa.” Balas raja terkekeh


Raja menikah dengan puteri Kim, namun tak dikarunia anak. Hingga raja memiliki alasan menikah dengan Haneul hingga tahun berikutnya mereka dikaruniai anak kembari, laki-laki dan perempuan.


Baik Ara dan puteri Hwa, mereka sama-sama melupakan kejadian pertukaran jiwa itu, semua diubah menjadi mimpi hingga tak akan ada yang ingat jika hal itu adalah nyata.


END

__ADS_1


__ADS_2