
"Apa yang kau bawa dayang An? Begitu kan namamu?" selidik Ara menatap menyipit pada gadis seusia dengannya itu.
Yang ditanya memberi sunggingan senyum kecil. Tapi Ara tak suka, itu senyum kok buat dia gemes mau nabok.
"Anda mau, yang mulia?" tanya dayang An tak masuk akal. Sungguh aneh bukan kalimatnya barusan? Apa benar itu ditujukan untuk majikannya?
Hayolah, kita bukan bestie!
Ara mengerutkan dahinya mendengar ucapan pelayan songong itu.
"Apa kau bilang? Aku mau tidak?" ulang Ara lagi yang diangguki dayang An.
"Hei, Han-ah, apa kau berpikiran yang sama denganku?" Ara menoleh pada dayang Han yang duduk di sebelahnya.
Dayang Han bergeming.
Lalu kemudian menampakkan ringisan dari sudut bibirnya.
"Iya, yang mulia." jawabnya pelan seperti berbisik.
Ara menyikut dayangnya.
"Kau kenapa sih, takut sama dia?"
"Atau kau kenal dia? Kenal baik?"
Ditanya seperti itu membuat dayang Han tertegun sejenak.
"Ah, ti-tidak Yang Mulia." sahutnya gugup.
Ara menangkap aroma dusta di sini.
Ara jelas menebak, jika dayang yang duduk di sampingnya, mengenal baik dayang tengil yang duduk di seberangnya, dibatasi meja.
"Ah, ada dua lier di sini." ucap Ara menggunakan tata bahasa eranya, yang tentu saja tidak akan dipahami dua gadis itu.
"Mana hidangkan sini." titah Ara mengangkat dagunya memberikan tanda agar baki itu dibuka.
"Baiklah, Yang Mulia." taat dayang An mendekat dengan meja kecil menahan baki di atasnya.
Dayang An menata hidangan yang ditutup kain bercorak kuning keemasan dengan motif bunga kecil berwarna merah di beberapa sudutnya.
Ara bisa melihat sekarang jika hidangan itu, makanan berat semua. Daging yang di sup dalam kuah bening dengan beberapa sayuran di sana, lalu ikan yang dipanggang, daging slice panggang, kimchi lobak, kimchi sawi, dan nasi serta lauk pelengkap lainnya.
Ini dayang mau buat Ara gendut dalam sekejap, huh?
Ini makanan syarat akan karbo semua guys.
Dan Ara?
Menatap dayang An yang sudah menutup baki kosong dengan kain tadi. Lalu mundur ke tempatnya duduk tadi.
Lalu balik menatap puteri Hwa alias Ara yang masih menatapnya.
"Kau..." panggilnya.
__ADS_1
Siapa yang dipanggil prul!!??
"Ya Yang Mulia." dayang Han yang inisiatif sadar jika majikannya pasti memanggilnya.
"Bukan kau, dayang Han." dengus Ara gemas, lagian salah dia sih tak sebut nama. Kan ada dua makhluk hidup yang punya sepasang telinga dengan pendengaran baik di dekatnya.
Dayang An terkekeh pelan, namun Ara mendengar hal itu.
"Kau tertawa?" tanya Ara pada dayang An yang tadi menunduk dengan kekehannya.
"Ah, tidak Yang Mulia. Mana berani hamba begitu pada anda." jawabnya tanpa rasa bersalah atau gugup karena sadar betul dirinya jika puteri Hwa tahu dirinya terkekeh.
Mentertawakan majikannya.
"Sini kau." panggilnya seraya menggerakan telunjuk kearah dayang An yang tertegun dengan cara puteri Hwa yang tidak beretika sekali itu.
Itu kan modelan pria atau rakyat di pasar sana.
Manggil pakek telunjuk gitu.
'Ah, dia kan bukan puteri Hwa. Hanya jiwa sialan yang terperangkap di sana.' batin dayang An sadar.
"Iya Yang Mulia." angguk dayang An seraya mendekat pada majikannya.
Duduk tepat di depan meja dan bersebrangan dengan puteri Hwa yang masih lekat menatapnya.
Gentar? Tidak, dayang An sama sekali tak gentar, gugup pun tak ada.
"Kau, makan semua ini." lagi, Ara bersikap sok bossy terhadap rivalnya ini.
Dayang Han melongok tak percaya.
"Hamba tidak boleh melakukannya, Yang Mulia. Hamba hanyalah seorang dayang rendahan, Yang Mulia." ucap dayang An mengakui.
"Heh, kau mengakui dirimu rendahan?" Decih Ara menyindir dayang An.
"Ekhem..... Bukankah anda juga begitu, Yang Mulia?" serang dayang An tajam. Pelan mencodongkan tubuhnya agar hanya majikannya itu saja yang bisa mendengar kalimat tersebut.
Kurang ajar sekali, bukan??
"Hahahahahahahaah." tak lama setelah kalimat pedas itu terlontar, dengan lapang serta keras, Ara malah membalasnya dengan tawa membahana.
"Kau, kau, ucapanmu barusan sungguh spektakuler." tak hanya itu, Ara menambahkan gerak berupa tepukan tangan riang. Membuat tak hanya dayang An tertegun, tapi dayang Han pun juga tak percaya dengan apa yang dilihatnya.
"Kau ini." lanjut Ara.
"Tidakkah kau sungguh mengagumkan, dayang An. Maukah kau menjadi pelayan untukku saja?" tanpa diduga, Ara memberikan tawaran posisi terhadap dayang An.
"Kau tahu bukan. Aku adalah puteri seorang raja, dan calon permaisuri kerajaan seberang sana. Jadi, kau akan melayani seorang ratu bukan?" lanjut Ara memberikan informasi.
Tidak sama sekali Ara mengingat keberadaan dayang pribadinya yang duduk di sisinya. Mengabaikan.
"Ah, tidak usah Yang Mulia. Terima kasih." sambut dayang An, menolak.
"Oo begitu, wahh aku penasaran sekali dengan loyalitasmu terhadap ratu." Ara menopang dagunya dengan telunjuk yang tertekuk.
__ADS_1
"Apa saja sih tips ratu yang bisa membuatmu takluk pada kuasanya.?" tanya Ara penasaran.
"Hah?" cetus dayang An mendengar ucapan campur aduk dari Ara.
Pendengarannya antara paham dan tidak paham terhadpa ucapan majikannya itu.
Ara menggunakan kata-kata Joseon dan jamannya bersamaan.
"Ah tidak." Ara mengibaskan telapak tangan puteri Hwa.
"Ah lupa ya. Sini, cepatlah makan semua hidangan yang kau bawa untukku."Ara mengingatkan lagi titahnya yang sempat ditolak dayang tengil itu.
"Anda yakin Yang Mulia" dayang An mengkonfirmasi lagi suruhan itu.
"Ya, makan semua." tegas Ara pada perintahnya.
"Kau ini. Menyuruhku mati menelan karbo gini? Gue itu diet karbo berlebih, tahu??!!!" cerocos Ara yang tidak dipahami dayang itu.
"Apa Yang Mulia?" tanya dayang An yang dijawab Ara dengan gelengan kepala.
"Cepatlah makan. Ceriwis deh ih." sungut Ara gemas.
Dayang An mendekat. Perlahan tangannya meraih sumpit untuk ia jepit di sisi jemari lentiknya.
Lihatlah, jemarinya saja seindah milik puteri Hwa.
Pun dengan gesturnya, sangat bangsawan sekali.
Apakah ratu mendidik dayang ini dengan etika kebangsawanan?
Buat apa? Emang anaknya?
heh, mustahull.
Daging yang bercampur kuah sudah berada di antara dua sumpit perak itu. Pelan mendekat menuju mulut dayang An.
Dan Ara tanpa berkedip berusaha mempertahankan agar netra puteri Hwa tetap mengunci pergerakan dayang An.
Dan...
"Bagaimana?" tanyanya tak masuk akal.
Kenapa memangnya prul?¿!??
Kau menunggu dayang An klepek-klepek di lantai dengan mulut berbusa atau mengeluarkan darah, gitu?
Jelas, itu yang ditunggu Ara, tentu ada alasan bagi dayang tengil itu datang membawa hidangan tadi. Karena bukan tugasnya, lalu, bukankah dia sempat membawa hidangan juga di saat pengawla itu mati?
Heh, Ara skeptiz berat dong.
Sementara itu.....
Dayang Han memperhatikan dengan saksama setiap gerakan dayang An juga sikap majikan yang ada di sampingnya.
Sadar betul dirinya jika puteri Hwa sudah mencium aroma tak wajar di ruangan ini, terutama kebohongannya barusan.
__ADS_1
Ia kenal betul siapa dayang An itu, sangat malah.
Si pembunuh pengawal puteri Hwa yang dikirim khusus oleh putera mahkota.