
"Han-ah." Panggil Ara kala dayang Han tengah menata tempat tidur milik puteri Hwa.
Menoleh, "Ya, Yang Mulia." menghentikan kegiatannya sebentar.
Duduk, menopang kepala bagian kiri di atas meja. "Aku mau menanyakan sesuatu, Han-ah." ucapnya melirik pada manik mata dayang labil di seberangnya.
Melempar senyum sebagai jawaban dan menunggu kelanjutan ucapan majikannya.
"Sebenarnya, bagaimana hubungan antara ratu dan putera mahkota sekarang, lalu juga aku dan Kim So Yoon itu? Kenapa dia begitu membenciku, Han-ah, padahal sepertinya ia begitu mengenalku baik?" tanya Ara penasaran.
"untuk jawaban perihal ratu dan putera mahkota, maaf saya tidak tahu, puteri. Tapi, jika mengenai nona Kim, Anda memang cukup mengenal satu sama lain dengan nona Kim dan juga Nona Min." Jawab dayang Han singkat.
"Min?" Gumam Ara mencoba mengingat satu sosok yang setahunya berani menyebut nama puteri Hwa.
"Apa salah satu gadis yang bertemu denganku di depan bangunan tempat seleksi puteri mahkota. Han-ah?" Ara mencoba menyebut sosok itu. Gadis yang sok akrab sekali pada tubuh ini. Namun. Tak seperti si Kim itu. Judes, nona Min terlihat cukup ramah padanya.
Dayang Han mengangguk.
"Lalu, kenapa nona Min bisa tetap baik padaku. Sementara nona Kim, tidak.?" tanya Ara kembali.
Membayangkan perbedaan besar antara sikap nona Min dan nona Kim yang jelas terlihat oleh mata siapapun itu.
Ramah dan bermusuhan.
"Saya hanya tahu, bahwa setelah Anda berbincang dengannya di bangunan villa Anda, saat itu, baik anda maupun nona Kim tak akrab lagi. Malahan nona Kim sering bersikap kasar setiap bertemu anda setelah wajah Anda...." Dayang Han menjeda ucapannya, tertegun sejenak.
"Kenapa?" Tanya Ara mendapat tatapan selidik itu.
__ADS_1
"Kenapa anda bertanya pada saya, Puteri? bukankah harusnya anda lebih tahu?" dayang Han bertanya hal yang memang benar, harusnya yang bertanya jauh lebih tahu, bukan??
"Aku lupa.!!" Dalih Ara, beranjak seketika menuju pembaringannya. Meraih bantal yang masih berada dalam genggaman dayang Han.
"Sana keluar, aku mau tidur." usirnya. Menaruh bokong puteri Hwa, berbaring dan menarik selimut. Mengabaikan ekspresi bengong dayang Han yang masih diam di posisinya.
Melihat tetap diam. Ara mengibaskan tangan.
"Ihhh nie dayang labil kagak peka. Sana.!" lagi, usirnya.
"I-iya Yang Mulia. Maafkan hamba." menarik dirinya untuk bangkit berdiri.
Membungkuk, lalu melangkah keluar.
Meninggalkan Ara yang berpikir keras. Bertanya tentang hal apa yang membuat rubah betina itu begitu benci dengannya. malahan melaporkan kegiatan kencannya dengan putera mahkota.
Dan lagi, melihat interaksi yang canggung malahan tak baik antara ratu dan putera mahkota tak urung mengundang tanya di benak Ara. Mengapa, pria tampan itu tak ramah pada ibunya? Bukankah ratu begitu baik dan lembut? Ara aja mau copas bentukkannya kok. Lah ini, kurang etika banget itu laki, bisa turun pamor kalau tak mampu bersikap baik sebagai anak.
"Apa ini sama dengan serial kerajaan yang biada gue tonton.? Permusuhan antara keluarga kerajaan dan teman baik seorang puteri?" angannya membentuk asumsi dari fakta drama tv.
"Kalo iya, berarti gue bakalan harus mulai mikirin apa aja dugaan masalahnya dong," lanjutnya menerka.
"Sahabat yang tak bisa dijadikan ipar karena sifat asli ketahuan? Sementara kedua ibu begitu akrab satu sama lain, atau malahan suksesi ini karena kedudukan raja dan menteri Kim yang begitu dekat dan saling memberi keuntungan? Sementara Puteri Hwa berusaha menggagalkan dan kakaknya setuju?" Runtutan perkiraan yang Ara padu padankan atas dasar serial drama tontonannya.
"Aha!!!! Sepertinya begitu." ucapnya, segera bangkit dan meraih lembaran sticky notenye.
******
__ADS_1
Sementara di lain tempat.
Bangunan milik pria yang kini tengah dihadapkan seorang pria dengan pakaian hitam biru lengkap pedang yang diletakkan di lantai sisi kirinya.
"Bagaimana laporanmu, pengawal Choi?" Tanya putera mahkota serius.
"bukan pihak menteri Kim yang mendalangi insiden puteri Hwa, Yang Mulia." jawab pengawal Choi untuk laporan pengintaiannya.
Yang bertanya mengerutkan kening. "Bagaimana bisa? Harusnya puteri menteri Kim adalah alasan besat untul melemparkan kebenciannya pada puteri Hwa setelah pertemuan mereka di bangunan villa waktu itu?" lagi, putera mahkota melempar tanya karena jawaban tadi tak puas rasanya.
Hening, tanya tadi menguap saja, bukan sebagai tanya membutuhkan jawaban, tapi pernyataan dari pria pemilik bangunan.
"Lalu, apakah kita tetap mengawasi puteri Hwa seperti ini, atau mendekat di sisinya seperti waktu itu?" tanya pengawal Choi.
Menaruh kedua tangan kokohnya pada meja, putera mahkota menatap lurus benda tempat tangannya bertopang.
"Tetap awasi dari jauh saja, pengawal Choi. Karena....." Jedanya....
"Kau tentu tahu apa yang terjadi sekarang pada puteri Hwa, bukan? Ia seolah melupakan kita semua." Lanjutnya berucap yang ditanggapi anggukan dari pengawal Choi.
"Kita tak bisa mendekat seperti dulu, saat dirinya terancam dan kita selalu mengawasinya dan mengawalnya dari dekat. Pun, dayang Han, tak mengerti akan perubahan puteri Hwa, tapi, menaruhnya tepat disisi Hwa-ya, akan memberi kita banyak informasi dan juga bisa melindunginya sebagaimana dayang Han bersama mu dulu berada di sisi puteri Hwa." jelasnya.
Ya, pria yang sempat diberitahu oleh dayang Han ketika Ara bertanya adalah pengawal milik putera mahkota, hanya saja dayang Han tidak menceritakan sosok perempuan yang sering menemui puteri Hwa kala itu adalah dirinya. Karena, insiden yang mengancam nyawa itu.... Kini terlupakan oleh sosok yang mereka lindungi. Menjelma menjadi gadis riang dan juga kembali cantik sebagaimana dirinya yang belum terjamah ancaman dari orang-orang tak kasat mata.
Maka dari itu, putera mahkota membatasi jarak dengan puteri Hwa dengan mengawasi gadis itu dalam jarak yang tak akan disadarinya. Meskipun, pengawalnya nyaris dikenali ketika kepergok dan dikejar Ara waktu itu.
Pria itu, tetap berusaha melindungi puteri Hwa, dari segala bentuk kejahatan buruk yang mengancam keselamatan maupun ketengangan puteri Hwa. Walaupun, dari informasi yang diperolehnya melalui pengawal pribadinya. Tak satupun dugaan terhadap pihak yang ada dalam benaknya menjadi tersangka kejahatan. Sementara sejauh ini, beberapa pihak yang menjadi pesuruh itu, tak lain selalu berakhir pada kediaman maupun kenalan dari menteri Kim. Jadi tak salah jika tuduhannya mengarah ke sana dengan ratu diikut sertakan karena jelas ambil bagian keuntungan dari keturunan marganya yang menyetujui segala hal yang berhubungan dengan keluarga menteri Kim, termasuk di antaranya, ajang perjodohan yang melibatkan nona Kim So Yoon sebagai penerus harapan menteri Kim.
__ADS_1
"Aku berharap, Hwa-ya bisa kembali mengingat semuanya. Meskipun, kenangan menyedihkan itu, akan kembali padanya." putera mahkota berucap dengan nada sendu, berharap akan hal yang terasa baik saat ini ketika puteri Hwa seolah melepas sesak dengan melupakan permasahannya, namun justeru mengundang bahaya karena musuh yang semakin gencar melakukan aksi, di saat puteri Hwa, sempat berujar......
///Kakak, aku akan memberi tahu kegundahanku selama ini. Termasuk siapa yang mendalangi kejahatan terhadap diriku//// isi surat milik puteri Hwa yang tergenggam di telapak tangan kanan putera mahkota.