100 Hari Menjadi Puteri Joseon

100 Hari Menjadi Puteri Joseon
Membuka ruang rahasia


__ADS_3

"31 Hari, ya, 31 hari sudah gue sekarang kejebak di sini." Gumamnya melangkah pelan penuh perhitungan. Memunculkan berbagai spekulasi pikiran liar orang-orang yang ikut mengiringinya di belakang.


Berhenti


Mendadak


Beruntung mereka sigap kali ini.


Berhenti mantap, tidak bertubrukan seperti waktu itu.


"Ada apa Yang Mulia.?" Tanya Dayang Han berjalan mendekati Ara, yang berhenti tiba-tiba.


Mengerucutkan bibirnya.


"Kita ke bangunan tempat permaisuri waktu itu, dayang Han." ajak Ara melihat dayang Han, sebagai pernyataan perintah, bukan pertanyaan meminta persetujuan.


"Bangunan Anda, maksudnya Puteri Hwa?" Tanya balik dayang Han.


Ara berkerenyit?? Oh ya, itukan pemberian permaisuri untuknya. Ia baru ingat.


"Apapun lah. Hayookk!" ucapnya bersemangat.


Setiba di sana.


Setelah meninggalkan dayang Han berikut para rombongan dayang serta pengawal, Ara masuk sendirian ke dalam bangunan. Tempat keberadaan ruang misterius waktu itu.


Tapi???? Yang tau dia dan beberapa orang atau banyak orang? Kalau sudah banyak yang tahu, namanya bukan rahasia lagi dong.


Langkahnya pasti kearah letak pintu itu berada, tapi matanya... Mata itu berseliweran memindai ke bagian ruangan itu. Berharap menemukan hal aneh selain pintu itu.


Krekkk


Suara derit pintu rahasia yang sudah Ara genggam melalui tubuh puteri Hwa sudah terbuka.


Ia melakukan hal serupa seperti saat menemukan pertama kali.


Melongokan wajahnya pada ruang gelap itu. Ia jelas penasaran. Hendak masuk, tapi... Pakai apa ya??


Aha!! Tenang bestie. Ia sudah ada persiapan kok.


Sebelumnya, Ara sudah meminta bantuan dayang Han, cara menyalakan penerangan di sini. Untuk melakukan hal itu, mereka biasanya hanya meneruskan nyala itu dari satu lilin ke lilin yang lain. Namun karena hari sangat terang benderang begini, tidak mungkin kan Ara membawa lilin? gimana tanggapan para penghuni istana nanti.


Oke, Ara melatih hasil privatnya bersama dayang Han, yang nanti siapa tahu bisa ia jadikan konten dengan judul TUTORIAL MENYALAKAN LILIN MENGGUNAKAN BATU, batu???


Iya, kan belum ada korek.


Tass tasss tasss


Bunyi percikan api yang tersulut saat kedua batu di adu satu sama lain.


Nyengir lebar, ketika berhasil.


"Wahh, gue jago nie idup di zaman ini, hihihi" Bangganya yang sudah berhasil menghidupkan lilin besar di ruangan itu.


Berdiri, dengan penerangan di tangan kirinya. Ara sudah mantap di depan pintu rahasia itu.


Menenangkan degub jantungnya yang kini sudah berdentum tak karuan, hampir selevel kalau ia baper dengan putera mahkota.

__ADS_1


"Gilakkk, tenang dulu Ara. Dan yakin, ruangan gelap ini, gak berisi hal-hal absurb mengerikan kayak dalam otak Lo." Sugestinya kini yang menarik nafas pelan dengan hitungan.


Sedari tadi, otaknya tak henti memberi gambaran fantasi liar dan konyol. Banyaknya asumsi mengenai ruangan di hadapan Ara menjadikan langkah gadis itu jelas penuh perhitungan.


Bagaimana jika benar??


Hantu?


Psiko?


Troll?


Kuburan mayat?


Atau.... Ruang penyiksaan? Yang meninggalkan jejak darah dan arwah di mana-mana?


Seram kan? Ia sendirian, mana masih perawan tingting pula. Masih panjang rute impian yang Ara tulis. Dia tidak mau game over di sini. Sebagai jiwa tak berdaya karena terpaksa harus menyelesaikan masalah orang yang tak dikenalnya.


"Kalau gak sekarang, gue belum tentu bisa kemari lagi." Mantapnya mensugesti keberanian dalam dirinya yang ia cari walau hanya 5% saja.


Tap....


Langkah kaki pertamanya di lantai ruangan itu.


"Gue bisa." lanjutnya yang sudah menjejakan beberapa langkah pasti.


Lorong?


Ya, ruangan ini rupanya lebih menyerupai sebuah lorong dengan lebar 90 cm. Meski sempit, tapi tak terlalu jika tubuh ramping seperti Ara atau puteri Hwa, tentu muat dua ini.


Artinya, ruangan di hadapannya itu...????


*******


"Puteri Hwa." sambut dayang Han, ketika majikannya sudah keluar dari pintu geser kediaman tempat permaisuri dulu sering kesini dan setelah itu diberikannya sehingga menjadi tempat peristirahatan milik puteri Hwa.


Ara, yang disambut demikian hanya menarik ujung sudut bibir puteri Hwa. Tak memberikan ekspresi banyak pada dayang Han maupun pelayannya yang lain.


Turun, beberapa undakan tangga itu menjadi ajang berpikir Ara.


"Arghh." nyaris, jika saja dayang Han tak sigap meraih tubuh ramping milik puteri Hwa, bisa dipastikan Ara akan membuat tubuh itu terjatuh sempurna dengan kaki terkilir sebagai bonusnya.


"Terima kasih dayang Han." ucap Ara seraya membersihkan pakaian kebesaran itu.


"Anda baik-baik saja, puteri Hwa?" raut khawatir tercetak jelas diwajah dayang Han.


"Aku baik-baik saja. Ayo kita pulang." sahut Ara yang sudah berjalan meninggalkan kediaman dengan rahasia yang ia bawa.


******


"Bagaimana kali ini?" suara seorang pria, membuka percakapan.


"Kita akan melakukannya, berdasarkan perintah dari nyonya Han. Jika kali ini, puteri Hwa akan kita ancam dengan cara itu." jelas suara milik seorang perempuan yang wajahnya tertutupi jubah. Pun dengan pria yang menutupi wajahnya dengan selembar kain hitam.


"Baiklah kalau begitu. Saya akan mencari orang yang ahli melakukannya." tawar pria itu.


"Tidak, kita.. Kita akan mengancamnya tanpa perlu melakukannya dulu." bantah suara perempuan tadi.

__ADS_1


"Heh?" Bentuk tertegun milik si pria.


"Iya, kita akan menakutinya dulu. Jika puteri Hwa tetap berani, baru kita lakukan hal yang sebenarnya." pungkas suara perempuan yang disetujui oleh pria misterius itu.


Menyisakan semilir angin malam yang mencekam diantara pertemuan dua orang itu.


*****


Di dalam kediaman milik puteri Hwa. Ara mengetuk pelan jemari lentik gadis yang arwahnya entah ke mana.


mengerutkan kening sebagai bentuk kerja kerasnya dalam berpikir.


"Gue, gue ngeliat apaan tadi di sana??" ucapnya bermonolog seorang diri.


Sretttt


Bunyi derit pintu geser yang dibuka, menghentikan aktifitas berpikir Ara. Sontak pula menyadarkan dirinya.


Ketika,, ketika..


Sosok itu, datang....


Putera mahkota dengan baki di tangannya.


"Bawak apaan tuh." gumamnya sendiri.


Berdiri lalu, siap memutari mejanya untuk berpindah posisi dengan pria itu.


"Ada apa, putera mahkota.?" Tanya Ara pada pria yang tengah menuangkan air berisi teh di dua gelas. Miliknya dan pasti buat Ara satu, iya kan??


Pria itu hanya tersenyum menjawab tanya Ara padanya. Ia tetap melakukan kegiatannya, membuka penutup toples yang berisi 4 sekat itu. Ara dapat menangkap isinya yang kalau tidak salah, manisan apel, manisan kesemek, coklat, dan juga kue kering.


"Yang Mulia." Ara kembali memanggilnya.


"Hmmm." sahut pria itu yang kini mencurahkan perhatiannya penuh terhadap puteri Hwa.


Menatapnya lembut, dan penuh kasih...


Heh? Kasih??


Otak Ara menggeplak dari dalam sana


'Doi kan abangnya puteri, Ara. Kagak usah baper Lo.' sergah otak Ara keras.


"Ehem" deham Ara mengawalinya berkonsentrasi lagi setelah nyaris meleleh karena perbuatan pria itu.


"Ada apa Yang Mulia datang kemari, malam-malam begini?" Ulang Ara menanyakan alasan pria itu datang. Tidak mungkin kan untuk membahas wajah lagi?? Bosan Ara, sumpah!


"Kau. Tidak sabaran sekali, puteri. Betapa aku rindu dengan tingkahmu yang ini." Jawab pria itu.


Ara tak paham.


"Kau,...." pria itu melempar kata terputus sembari mengunci mata Ara pada netra gelap miliknya.


Ara tak kuasa.


"Apa kau sudah menemukan, yang kau cari di ruangan rahasia itu, puteri Hwa?"

__ADS_1


__ADS_2