100 Hari Menjadi Puteri Joseon

100 Hari Menjadi Puteri Joseon
My Crush, where are u???


__ADS_3

"Dayang Han." Panggil Ara di sela mengunyah camilan manisan kesemek yang sangat ia sukai.


Dayang muda itu menoleh ketika matanya yang sudah setengah mengantuk itu.


Sadar ya, duhai dayang Han. itu majikan Lo kerasukan jiwa si tukang begadang di club malam yang kalo pulang sampe subuh noh.


Sabar ya.


"Iya Yang Mulia." Sahut dayang Han


"Kau, apakah seharian ini tidak ada sama sekali jejak putera mahkota datang ke sini.?" Tanya Ara mengiggiti buah kesemek kering yang tinggal separuh itu.


Dayang Han mengerenyit bingung. Kenapa lagi ini orang. Tumben nanyain putera mahkota.


"Tidak Yang Mulia." Jawabnya lagi.


Ara menghela nafas berat.


Dan hal itu tak luput dari pendengaran serta penglihatan dayang manis itu.


"Ada apa memangnya Puteri, kalau boleh tahu.?" Tanya dayang Han penasaran.


Wahhh, dayang Han kagak peka yak. Tuh bar bar lagi merindu woyyy.


"Tidak ada apa-apa." Sahut Ara mengambil kembali manisan kesukaannya itu.


"Puteri sepertinya sangat menyukai manisan buah kesemek, ya?" Tanya dayang Han sedikit heran akan kebiasaan baru Puteri Hwa menurutnya.


Menarik alis ke atas.


Ara bingung. Kenapa memangnya? ada yang salah?


"Iya, kenapa memangnya? Ada yang salah?" Ucap Ara sekaligus bertanya


Dayang Han tersenyum lembut sembari menggeleng. "Tidak Puteri, hanya saja. Kali ini Anda begitu sering mengkonsumsi camilan itu. Padahal dulu anda malahan suka sekali dengan manisan apel." Jelas dayang Han


Ara menaikkan dahinya lagi. Manisan apel?


'Gue gak suka Apel.' Sungutnya dalam hati


"Manisan apel? Puteri Hwa?" Tanya Ara tak paham


Kenapa gadis ini yang tubuhnya sedang ia rasuki malah menyukai makanan yang ia tak sukai. Ya, apapun yang berbahan dasar buah apel, Ara tak suka.


Titik.


"Puteri Hwa?" Tanya dayang Han yang bingung, ini kenapa pula majikannya.


Ups!!! Ara lupa kalau yang disebutnya barusan, ya gadis yang tubuhnya ia gunakan.


"oohhh, kepalaku tiba-tiba terasa pusing sekali. Aku mau tidur dayang Han." Kilah Ara yang lari dari kekacauannya barusan.


Dan dayang Han dengan taatnya, mengangguk.

__ADS_1


Menggeser meja yang penuh bekas makan Puteri Hwa yang kenapa banyak remah-remah gitu sih. Lupa didikan keanggunan apa?.


Tanpa rasa curiga sedikitpun, dan mengira bahwa majikannya pasti memang belum sehat sehingga mengatakan hal sekonyol itu. Dayang Han tak begitu menghiraukannya lagi.


Mengambil perlengkapan tidur, selimut dan bantal. Benda lembut dan indah bersulam benang emas dengan banyak bunga di setiap sulamannya. Dayang Han membentang lebar, dan merapikan hingga siap untuk ditiduri majikannya.


Sedangkan Ara yang pura-pura menguap. Terus memperhatikan dayang itu hingga selesai.


"Sudah, Puteri." Ucap dayang Han.


Dan Ara mendekat pada kasur pembaringannya. Menepuk pelan seperti kebiasaannya. Lalu mengambil bantal kecil itu dan menggesernya.


"Puteri??" Panggil Dayang Han heran


Kenapa pula, hah?


Menoleh pada dayang Han yang masih tak jauh posisi duduknya dari Ara.


"Ada apa, dayang Han.? Jawab Ara dengan nada bertanya.


"Itu" Tunjuk Dayang Han pada benda yang di pegang Ara


Dan Ara yang belum paham, mengangkat benda kotak persegi, yang lembut itu.


"Kenapa dengan bantalnya?" Tanya Ara heran sekaligus biasa saja perasaannya.


"Bukankah anda selalu menggunakannya sebagai bantal kepala?" Tanya Dayan Han menjelaskan meskipun nadanya pun tak jauh dari tanya.


Ara hanya mengendikkan bahunya.


"Guling?" Tanya dayang Han, tak paham kata apa pula kali ini.


Menyadari kebingungan di wajah dayang Han.


"Ya guling. Tau kan??" Tanya Ara gemas.


Menggeleng yang ditanya. Ayolah Ara, di jaman ini belum ada guling.


"Tidak Yang Mulia. Memangnya guling itu, apa?" Tanya dayang Han begitu saja. Orang dia memang beneran gak tahu kok.


Sementara Ara, menghela nafas frustasi.


"Banyak banget kebiasaan dunia gue yang belum satu frekuensi sama keadaan sini." Gerutu Ara pelan yang terdengar di telinga dayang muda itu.


"Apa Puteri?" Tanya Dayang Han, lagi.


"Oo, bukan apa-apa. Jadi gini..." Ara malas menjelaskan dalam bentuk kata-kata. Jadi mending...


Praktek langsung ajahhh ijahhh.


Ara mendudukan bokongnya di kasur lembut itu. Memposisikan tubuhnya untuk berbaring, tanpa bantal kepala yang kini sudah ia letakkan sebagai benda yang ia peluk.


Noh getooh.

__ADS_1


"Kau paham tidak??" Tanya Ara sembari tetap berbaring.


"Kalau digunakan seperti itu. Lalu kepalamu? Apa perlu saya ambilkan bantal lagi, puteri??" Ujar dayang Han merasa aneh saja dengan bantal kepala malah di letakkan di badan gitu.


"Dan, buat apa di taruh seperti itu, Yang Mulia?" Lanjut dayang Han. Nanya lagi.


"Buat nyaman aja, karena tidak ada yang saya peluk. Paham" Jelas Ara tanpa filter. Biarin aja lah sebel sih.


Membelalakan matanya. Dayang Han tak percaya kata seperti itu.... Keluar dari bibir majikannya yang mulutnya kan ikut sekolah kepribadian para bangsawan itu.


"Sudah ah sana sana. Gua mau tidur." Usir Ara semakin gemas dengan kepolosan sikap dayangnya saat ini.


Mengangguk, dayang Han mencondongkan tubuhnya ke depan, membungkuk sedikit. Lalu berbalik dan mengarah ke pintu geser, keluar.


Selepas dayang itu pergi.


Sungutan tak henti keluar dari bibir gadis bar bar itu.


"Giliran pas gue kagak sadar aja. Dia katanya rutin ke sini, pagi, siang, sore bahkan malem." Ucapnya dengan bibir yang dimajukan


"Tiba sekarang aja. Gue sadar, eh, gak muncul sekali waktu buat nengok gue. " lanjutnya menggerutu


"Awas aja ya kalo ketemu. Jangan harap gue tegur. Gue lengosin aja orangnya, huh sebelll." Teriak Ara frustasi dengan mengigit selimutnya agar meredam jerit konyolnya itu.


*******


Keesokan paginya.


Dengan diiringi dayang Han berikut beberapa dayang lainnya. Puteri Hwa alias Ara bar bar siap untuk berjalan-jalan, menghirup udara segar hari ini.


Dengan menggunakan payung kecil berwarna merah muda berhias lukisan bunga cantik biru dan putih. Ara menutupi tubuhnya sendiri setelah berdebat dengan dayang Han yang bersikeras untuk memegangi benda itu. Dan tahulah, jika Ara pasti akan selalu menang. Maka kini ia dengan sumringah menggerak-gerakkan payungnya sembari sesekali melirik dayang Han.yang sebal di belakangnya.


"Tenanglah dayang Han. Kau tidak akan dihukum hanya karena aku memegang payung sendiri." Ujar Ara yang paham dengan ekspresi pelayannya itu. Segini aja mah Ara gak butuh bantuan orang. Bisa lambat semua gerakannya nanti.


Di saat langkahnya siap menjejak jembatan yang menutupi danau yang jernih airnya.


Ara dikejutkan oleh....


"Ekhem." deham itu...


Dan...


"Kakakkk!!" Sahut Ara dengan wajah yang, sumringah banget, cerah, penuh pelangi, dan senyumnya tolong jangan lupakan, manis banget.


Woyyy, katanya mau cuekin nie orang. Tapi...


Berbalik dan dengan langkah gontai, Ara berjalan menuju sang pria idaman. Saking bar barnya tuh cewek.


Gubrakk


Sukurinnnnnnn jatoh kan..


Tapi...

__ADS_1


"Oh God. my heart, please stop to hard beat. S--t!! My heart please." Ujar Ara ketika tubuhnya dengan sigap di raih rengkuhan sang putera mahkota.. Alias pria cem ceman si Ara.


Jiahhhhhhhh, seneng Lo yaakkkk


__ADS_2