
Puteri Hwa yang baru saja berhasil duduk dengan punggung sedikit menekuk menahan rasa mual itu, meringis ketika mendapat serangan pertanyaan dari Hana.
Dan Hana, melihat raut Ara seperti itu sudah bisa menebak jika gadis itu, ingat kejadian memalukan semalam.
"Kau benar-benar memalukan tauk!!!!" Hana gemas dan bergegas mengambil langkah besar menuju tempat gadis itu bersemayam.
Plak!!!
Benar saja, kontan, Hana memberikan pukulan gemasnya di salah satu bahu Ara.
"Sakit!!!!" pekik puteri Hwa sembari mendelikkan mata Ara setajam-tajamnya.
"Kau, kau itu, duhhh, kok bisa sih." Hana kembali memukul Ara, namun kali ini yang menjadi sasarannya adalah paha gadis itu yang terpampang menjadi tempat empuk dan membekas setelahnya.
"Kau berani-berani sekali memukul keluarga kerajaan!!" delik puteri Hwa mengintimidasi.
"Kenapa? Kau mau memberikan hukuman pancung untuk ku, hah hah, sini, ayo!!" Hana menantang ucapan Ara barusan.
Konyol sekali menurutnya.
Ara benar-benar gila seperti dugaannya.
Maka dari itu, ia tak takut sama sekali dengan imajinasi gadis itu. Karena, di era nya, sudah tidak ada lagi dinasti kerajaan yang mendominasi Korea lagi.
"Oho!!!, kau...... Arghhh." Baru saja hendak menunjuk kearah Hana, puteri Hwa tersentak rasa sakit yang penuh gejolak dari arah perut.
"Hei. Kau kenapa prul, hei." Hana panik
"Perut ku, perut ku sakit sekali." ringis puteri Hwa memegang erat perut Ara.
"Kau. Kau masih merasa efek mabuk? Bentar, tunggu di sini, akan aku ambil obat pereda mabuk dan sup hangat untukmu, tunggu ya." Hana bergegas bangkit berdiri, dan menapaki jalan keluar dari kamar Ara.
Menghilang segera dari pandangan puteri Hwa.
"Arghgghh, aku, aku pu....."
Brakkkkk
Tubuh ramping itu, akhirnya tumbang kembali.
***
"Apa mau mu kemari sebenarnya, puteri Hwa.?" puteri Ara, tetap saja memberi pertanyaan yang semakin menekan gadis di hadapannya ini.
Dayang Im, hanya memperhatikan dari sisi belakang.
"Kan sudah aku bilang, bibi. Ah bibi sudah tua rupanya." Ara menahan kikik di bibirnya.
"Kenapa kau tertawa, huh?" tanya puteri Ara tak terima, merasa jika gadis itu seperti mempermainkan harga dirinya.
__ADS_1
"Puteri Hwa??? Kalian berdua?" baru saja hendak melanjutkan suaranya, puteri Ara dikejutkan oleh kedatangan ketiga puterinya.
"Eh ada kalian rupanya. Sini sini masuk." Itu suara ajakan dari Ara. Memberi akses pada anak si pemilik ruangan, padahal dirinya sendiri saja belum jelas izin masuk ruangan itu.
Songong sekali, bukan??
Timpuk aja lah.
"Kenapa kalian berdua bisa bersama? Dan, itu, apa?" puteri Hwi melirik bungkusan yang ada di sisi kanan puteri Hwa, pun diikuti oleh puteri Yi dan puteri Mi melirik ke arah telunjuk saudaranya. dan mereka sama-sama memicingkan mata masing-masing.
"Oh, ini." sahut Ara mengangkat bungkusan berwarna biru motif bunga emas itu.
Ketiganya mengangguk bersamaan, sementara puteri Ara tertegun dengan bawaan keponakannya, ia tak melihat terlalu jelas saat puteri Hwa merangsek masuk ke ruangannya.
"Hanya ramuan untuk bibi kok." jawab Ara melanjutkan.
"Ramuan? ramuan apa?" ketiga puteri kepo itu berjalan dengan antusias meskipun wajahnya lebih menyiratkan penasaran dan riang. Karena pasti sesuai perkiraan mereka.
Bahwa itu berhubungan dengan kecantikan.
Bruk bruk bruk.
Langkah kencang itu berakhir dengan duduknya ketiga gadis itu, tanpa perlu menunggu bantalan duduk, mereka sudah menaruh bokong masing-masingnya di dekat puteri Hwa. Malahan berebut ingin duduk paling dekat dengan sepupu mereka.
"Apakah itu untuk kecantikan, puteri HwA?"
"Apakah aku akan bertambah cantik jika memakainya, puteri Hwa?"
"Apakah kulitku akan sehalus dirimu jika menggunakannya??"
Ara, tertegun mendengar rentetan kalimat tanya dari sepupu puteri Hwa. Tak habis pikir. Memangnya ia membawa bungkusan ini untuk mereka bertiga? Heh, percaya diri sekali, bukan?
"Hei, hei, kalian bertiga, sok ke PEDEAN sekali sih." dengus Ara merasa lucu akan sikap ketiganya.
"Huh?" ucap ketiganya mendengar penuturan barusan yang tak dipahami sama sekali oleh mereka, termasuk puteri Ara dan dayang Im.
"Maksudnya, kalian percaya diri sekali rupanya. Memangnya aku membawa ini untuk kalian." cetus Ara terkìkik geli.
"Itu juga punya kami, kalau kau memberikannya untuk ibu kami." cetus puteri Mi percaya diri, dan itu di setujui oleh dua saudaranya yang lain.
"Betul itu. Milik ibu kami, juga sama saja milik kami." ujar puteri Yi menegaskan.
"Tapi., masalahnya ini bukan untuk ibu kalian....." ucap Ara tapi belum selesai karena ia dikejutkan oleh ekspresi histeris dari ketiga gadis lebay itu.
"Apa!!!!????" ucap mereka serempak, dengan raut tak percaya dan tak relanya.
"Iya. Ini bukan untuk kalian." ulang Ara meyakinkan.
Ohh, andai ia bisa membawa ponselnya, tentu Ara akan menyorot ekspresi lucu ketiga orang ini, cengo gitu.
__ADS_1
Lucu ih.
"Lalu, buat siapa itu, puteri Hwa?" todong ketiga orang itu bersamaan. tak lupa, tubuh pun mereka condongkam untuk menegaskan antusiasme mereka akan ramuan yang begitu membuat mupeng itu.
"Ya, untukku lah." sahut Ara. Jelas saja itu miliknya, sebelumnya ia sudah meminta dayang bagian persediaan dapur dan bagian obat-obatan untuk menyediakan permintaannya akan beberapa bahan-bahan herbal.
Tentu saja ia akan membuat ramuan mandi, berupa lulur yang setahunya terbuat dari bahan itu, dari interogasinya saat menjadi influecer akan produk sebuah spa.
"Kau akan membuatnya sendiri?" tanya puteri Mi dengan tak sabar.
Ara menganggukkan kepala puteri Hwa sebagai jawaban.
Puteri Mi sekilas menatap satu persatu kepada dua saudaranya yang memberikan anggukan isyarat.
"Puteri Hwa" panggil puteri Mi tiba-tiba, pun ia menggaet tangan puteri Hwa erat diikuti oleh puteri Yi dan Puteri Hwi juga.
Ara terjengkit kaget.
"Eh, eh kenapa ini?" Ara paham kemana arah ketiga orang ini memepet tubuh puteri Hwa.
Jelas...
Ada udang di balik tepung, ada maksud terselubung pasti.
"Ayo.!!" puteri Mi menganggat kepalan tangannya dengan penuh semangat.
"Wahh, ada apa ini. Roman-romannya kagak enak nih." celetuk Ara bersiap.
"Kami akan membantumu membuat ramuan itu, iya kan puteri Yi dan puteri Hwi?" sahut puteri Mi melirik kedua saudaranya.
"Iya, kami akan membantumu, puteri Hwa." setuju puteri Hwi bersemangat.
"Benar, kami akan membantumu, saudariku." sambung puteri Yi berikutnya.
"Kaliam kenapa?" tanya puteri Ara heran dengan tingkah ketiga puterinya ini.
"Ibu, kami akan membantu saudari kami membuat ramuan itu." jawab puteri Yi tegas.
"Membantu?" beo puteri Ara tak habis pikir.
"Iya, ibu, kami kan saudarinya. Tentu saja harus saling membantu, bukan puteri Hwa?" sambung puteri Mi meminta persetujuan dari Ara.
"Heh???" ucap Ara mengerenyitkan dahinya.
Enak aja, sekate-kate Lo.
Ara bangkit tiba-tiba. Membuat genggaman itu terlepas semua.
"Enak aje Lo pada. Kagak, gue gak mau ngajak kalian, pada Kepo sama rahasia gue nanti."
__ADS_1