
Di Joseon...
Puteri Hwa yang sudah memberikan informasi penting pada putera mahkota kini bisa bernafas lega. Setidaknya hal yang sempat tertunda waktu itu bisa dilakukannya. Karena kali terakhir ia keburu di cegat dayang An dan digantung dalam ruangannya.
Berpikir pendek, nyawanya tak akan terselamatkan, dan rahasia kejahatan ratu akan terkubur sempurna.
Tapi para dewa begitu baik padanya, hingga ia dihidupkan lagi namun dalam raga yang lain.
“Dayang Han.” Panggil puteri Hwa
“Iya, Yang Mulia.”
“Kau tahu bukan kalau tubuhku dirasuki jiwa lain.”
“Iya, Yang mUlia.”
“Apakah selama roh ini berada di tubuhku, sudah ada yang dilakukannya untukku”
“Dia menjaga diri anda sangat baik, namun sikapnya yang hamba tidak suka Yang Mulia. Dia tidak ada etika sebagai wanita bangsawan.”
“Oh ya? seru sekali sepertinya.”
“Aku cukup percaya diri sekarang, melihat ratu dan dayang An sedikit gentar dengan ku, padahal dulu mereka sama sekali gencar mengintaiku bahkan terang-terangan mengancamku.”
“Aku berterima kasih untuknya, Ara.”
.
.
.
“Kali ini, pastikan jika puteri Hwa mati ditangan kalian. Karena jika tidak, aku sendiri yang akan membunuh kalian semua.” Sentak ratu di hadapan semua anak buahnya.
Dayang An menyeringai sinis pada semua pengawal dan dayang yang terlibat.
“Baik Yang Mulia.” Jawab mereka bersama termasuk dayang An.
Sepeninggalan semua bawahan ratu, tinggalah dayang An di dalam ruangan rahasia itu,.
“Ibu. Apakah aku saja yang membunuh gadis itu lagi?” dayang An menawarkan diri melakukan hal itu.
“Tidak, ibu merasakan hal yang tidak baik kali ini.” tolak ratu. Nalurinya sebagai seorang ibu mencegah puterinya melakukan tindakan pembunuhan dua kali. Ia merasa akan ada sesuatu kali ini.
“Tapi..”
“Jangan lakukan.!!!”
“Baik Yang Mulia.” Dayang An pun mundur seketika. Namun wajahnya menyiratkan jika ia akan membangkang
“Aku yang akan melenyapkanmu, puteri Hwa.” Ujarnya mengepalkan tangannya.
Ia terpancing karena tantangan dari Ara kala itu...
“Kalau kau penakut, tak perlu melawanku, kalau kau berani, tunggu aku di belakang villaku, aku menantangmu.” Ujar Ara 2 minggu yang lalu. Dengan tengilnya ia menunjuk dayang An agar jangan kabur.
“Aku terima tantanganmu, kau akan mati kali ini, aku dengan senang hati membunuh dua jiwa sekaligus.” Sahut dayang An.
__ADS_1
Dan sekarang, ia menjadi terobsesi dengan jiwa yang kerap kali membuat emosinya terpancing.
Jiwa itu bisa mengimbanginya bertarung, tidak seperti puteri Hwa.
Ia penasaran teknik itu hingga gerakkan selalu mampu dikunci. Bahkan beberapa petarung yang disewa untuk melenyapkan saja kalah oleh jiwa itu.
Malamnya...
“Kau siap dayang Han?” tanya puteri Hwa, ia sudah menggunakan pakaian biasa yang lebih mirip pakaian pria.
Ia akan bertemu dengan dayang An. Sesuai tulisan yang ditulis Ara di balik tirai itu.
Puteri Hwa sedikit banyak bisa membaca tulisan itu. Tidak heran karena ia memiliki otak yang cerdas layaknya puteri Ara.
Sementara putera mahkota mendatangi kediaman ratu. Berusaha mencegahnya padahal ia akan memprovokasi perempuan itu agar mendatangi puteri Hwa.
“Ada apa Putera mahkota malam-malam kemari?” tanya ratu, menyambut kedatanga putera mahkota.
“Aku hanya mengunjungi saja, Ratu.” Jawab putera mahkota.
“Sepi sekali Yang Mulia?” tanya putera mahkota.
Ratu menyadari hal itu, kenapa sunyi sekali suasananya
“Apa mungkin semua sibuk ke villa puteri Hwa?” lanjut putera mahkota
“Maksudmu, putera mahkota?” ujar ratu bingung
“Aku melihat jika dayang An bersama beberapa dayang lainnya mendatangi villa puteri Hwa.” Bohongnya.
Mata ratu membelalak namun segera di normalkan lagi. Pengendalian diri.
“Baiklah kalau begitu, aku akan mengundurkan diri dulu, ratu.” Putera mahkota akhirnya pergi dengan menyunggingkan senyum.
Ia yakin ratu terperangkap.
Dan benar saja. Ia menyerukan kepada dayangnya memeriksa villa yang dimaksud, dan benar, ada beberapa yang kesana bersama dayang An.
Maka ratu pun bergegas ke sana, diam-diam.
Dayang AN sudah tiba, tapi ia lewat jalan belakang, dan yang terlihat tadi tak lain adalah akal-akalan putera mahkota, karena dayang yang terlihat hanya suruhannya.
“Kau sudah tiba rupanya.” Dengus dayang An.
Semenjak bercakap-cakap dengan Ara, ia merasa ucapannya tidak lagi tertata. Terbawa arus Ara. Bebas.
“Kau bisa lihat bukan?” sahut puteri Hwa
“ahhh, kau sudah kembali rupanya.” Dayang An menyadari ada yang berbeda dengan sosok puteri di hadapannya.
Tak ada kesan bar-bar dan etika rendahan, kini yang terlihat justeru keanggunan dari sikapnya, bicara yang menekan tapi lembut. Berbeda dengan puteri sebelumnya, duduk nongkrong, ngomong kasar, dan suka merendahkan.
Tapi pada dayang An saja ia berlaku seperti itu.
“Maksudmu?” puteri Hwa tahu arah bicara dayang An, tentu ia menyinggung Ara.
“Sudah jangan banyak bicara!!!” dayang An segera menyerang, ia sudah membawa pedang di sisi belakang tubuhnya.
__ADS_1
Sementara puteri Hwa sudah menyiapkan pula pedang di kiri dan kanannya.
Pertarungan pun berlangsung, pengawal putera mahkota hanya mengintai, ia diberi tugas untuk membantu ketika puteri Hwa terdesak saja.
Dayang An besar kepala, karena lawannya kali ini masih sama seperti dulu, mudah terbaca gerakannya.
“Sungguh tidak menyenangkan bertarung dengan anda, Yang Mulia.” Cibir dayang An, saat puteri Hwa sudah tersungkur.
“Dia, pernah berhasil membuatku terluka, tapi kau, menjangkau wajah ku saja tidak bisa, cuih.” Lagi ledeknya.
Pedang sudah ditarik, dan siap dihunus.
“Sial!!!” ucap putri Hwa, dayang An giliran tersungkur, karena puteri Hwa menendangnya keras.
“Cih. Sakit, kenapa aku selalu kedapatan sakit sih.”
Dayang An mendelik.
“Kau?!!” ia sudah jika kini lawannya adalah.
ARA
“Kenapa aku harus balik lagi ke sini, sih!!!” sungutnya
“Aku menyelesaikan tugasku di sana, dan sekarang harus kemari juga gerutunya,” ia menendang wajah dayang An. Melampiaskan kesalnya yang terbuang lagi kemari.
“Mati kau kali ini.” ia menarik pedang dan ujungnya siap menusuk jantung dayang An.
Wush!!!!!
Anak panah keburu melesat.
“Aihhh” Ara reflek mengelak. Matanya membelalak sempurna.
“Wah anda datang rupanya.” Ia menemukan sosok ratu yang tadi melempar anak panah tadi.
“Berani kau melukai dayang An. Kau akan mati ditanganku, puteri Hwa.” Kecam ratu, menarik lengan dayang AN untuk berdiri.
“Oo, apa karena dia adalah puteri anda, yang mulia?” cibir Ara.
Ia tahu soal itu.
“Apa maksudmu.?” Ratu tertegun mendengarnya,
“Aishh, aku tahu soal itu.” Ujarnya.
“kalian berbagi tanda yang sama.” Bisiknya
Baik dayang An dan ratu sama-sama membelalak.
“Apa maksudmu puteri Hwa!!!” suara menggelegar itu menyapa telinga mereka hingga baik Ara, ratu dan dayang An sama-sama menoleh
Raja!!! Putera mahkota!!!
“Suamiku.” Ratu beringsut menuju raja dengan langkah gemulainya.
“Maksud puteri Hwa, bahwa dayang An adalah puteri ratu, Yang Mulia.” Ujar putera mahkota
__ADS_1
“Aahh bukan itu ayah.” Timpal Ara
“Ratu bukan istri anda. Dia hanya kembaran ratu yang sebenarnya.” Tambahnya menyengir tengil pada ratu.