100 Hari Menjadi Puteri Joseon

100 Hari Menjadi Puteri Joseon
Duel, salam thai boxing


__ADS_3

Bayangan yang mengancam itu, kini sudah menapakkan kakinya di lantai kediaman puteri Hwa, ya.. Kamarnya, tempat di mana Ara yang kini mengisi tubuh puteri malang itu. Kenapa harus pas Ara sih yang ada di moment ini???


Dalam redup temaram cahaya ruangan yang memang hanya mengandalkan lilin yang tak seberapa itu. Ara bisa melihat sedikit, jika... Penyusup itu memang berniat melakukan hal buruk padanya, eh salah, puteri Hwa. Kan doi gak kenal Ara.


Pakaian serba hitam, penutup wajah, dan jangan lupa.. Senjata yang sudah siap ia raih segera..


sheeet sheeet sheeet....


Suara libasan pedang keluar dari dalam sarung yang berada di sisi kiri yang sepertinya penyusup ini adalah pria.


Lalu.. Benar pikiran Ara.


Arah mata pedang itu, menyasar pada..


Tempat pembaringan tubuh puteri Hwa, jika saja Ara tak mengambil tindakan dengan bersembunyi. Maka sudah dipastikan, ia game over kali ini.


"Kosong." Gumam si penyusup menyadari jika ia hanya menusukkan senjatanya pada gulungan selimut kosong. Kema....


Jiaaatttttttthhhhh


Ara muncul sebelum ia keburu ditemukan oleh si penyusup.


Ia mengambil tindakan, menyerang.


"Jiahhttr. Jiaaatt." Dengan menggunakan gulungan kertas tebal yang ia lilitkan pada telapak tangannya. Ara menghalau mata pedang itu yang sigap diarahkan si penyusup saat ia sadar akan pergerakan dari sisi sebelah kanannya.


Ara mengambil langkah lebar, dengan tetap mempertahankan kuda--kudanya.


Menatap si penyusup dengan tajam


"Siapa kau???" Tanya Ara di sela kesempatan bincang-bincang manisnya bersama duelnya.


Tak bergeming untuk menjawab.


Tapi malah membalas dengan ayunan pedang kembali.


"Aiiihh **-* kau.!!!" Geram Ara tatkala pedang itu berhasil mengenai sisi tubuhnya sebelah kiri. Menyebabkan bajunya terkoyak hingga pedang itu mengenai sedikit kulit pinggangnya.


Mengetahui hal itu.


Gadis itu membulatkan matanya lebar-lebar.


"Breng--k, sialan kau!!! Beraninya sama cewek. Bawa pedang lagi. Sini tangan kosong, kau b-nci!!!" Kembali Ara mendesiskan kalimatnya yang bernada marah.


Membuat si penyusup sedikit tertegung.

__ADS_1


'Gila ini puteri, ini beneran target yang akan aku bunuhķan? Kenapa kasar sekali bicaranya' Batin pria itu mendapati umpatan kasar meluncur manis dari bibir seorang puteri kerajaan.


Dan satu lagi, pria itu jelas tak menyangka, bahkan kembali terpesona.. Eh ralat, maksudnya terbelalak kala melihat puteri itu merobek gaun tidurnya yang kini memperlihatkan celana dalaman berwarna putih yang panjang sampai mata kaki.


Lalai...


"Jiaaaatttt, mati kau" Ara berjalan cepat. Lalu membalik tubuhnya untuk memberikan tendangan berputar. Lalu menambahkannya dengan tinju ke pelipis serta menyikut dada pria itu kemudian.


Hayolah, Ara kan jago Thai boxing.


Dan, era ini, tak mengenal tinju modern itu. Hingga decak kagum jelas terlontar melihat gadis itu terus seperti menarikan tubuhnya dengan terus mempertahankan serangannya dan menangkis halauan pedang serta serangan balik dari pria itu.


"Kau, salah orang, man. Aku bukan puteri lemah seperti yang kalian bayangkan. Jadi...." Ara menjeda ucapannya, lalu kembali merangsek mendekati pria itu... Menekan tubuhnya agar bisa sedikit melompat untuk memberikan tendangan sekaligus tinju dari atas.


Dan


Bhaaaaaassss.


Pria itu sudah tersungkur, terbaring tepatnya.


Menyentuh dadanya yang baru di tendang gadis itu. Merasakan jika, apa yang baru ia alami memang bukan hal biasa, melainkan memang sebuah pertarungan...


dan pertarungan itu, belum pernah ia temui selama dalam hidupnya.


Dari mana seorang puteri bisa mempelajari gaya bertarung seperti itu. dapat guru dari mana sih. Bayar berapaan sehh. Dan,,, berapa lama bisa jago kayak gitu.


Heyy, Ara beneran niat ikutan thai boxing, ya, bukan stalker para seleb dan cowok-cowok. Tapi, itu cuma bonus saja.


Ara yang baru mengeluarkan banyak tenaga itu, jelas kini sedikit terengah. Tubuh ini terlalu lembut sebenarnya untuk aktifitas yang ia lakukan. Jelas tubuh puteri ini tak pernah menyentuh hal yang berbau kegiatan lelaki ini. Apalagi thai boxing, yang sangat jauh lebih melelahkan, tentunya.


Gadis itu pelan melangkahkan kakinya mendekati pria yang sudah lemas itu. Walau harusnya untuk seorang petarung, pria itu tak akan tumbang begitu saja kan.


Syappp.


Ara berhasil meraih penutup muka yang sedari tadi membuat gadis itu jengah melihatnya.


"Kau....." Ara tak percaya saat melihat siapa yang kini ada di hadapannya.


Itu...


Itu adalah.....


Penjaga kediamannya!!!!!!!


What the f--k!!!!!

__ADS_1


Oh God!! Tidak mungkin, jelas tidak mungkin harusnya, kan?


"Kau!! Kau penjagaku kan." Desis Ara tak tahan. Di geplaknya lah kepala pria itu dengan gemas.


Ye ilah, ijah..


Sabar, anak orang itu.


"Kenapa kau..." Ara kembali tertegun mendapati rasa tak percaya akan siapa sosok yang tadi jelas-jelas mengacungkan.. Ralat, bukan sekedar itu... Ia menunjuk lukanya.


"Kau,,, kau bahkan.... Wahhhh, tega sekali kau, Siapa yang menyuruhmu, hahhh, kau pasti ada yang memerintahkan!!!" Pekik Ara melanjutkan frustasinya.


Sementara pria itu, yang sudah ketahuan oleh target yang akan dibunuhnya. Jelas kini bergetar, sangay bergetar. Bagaimana mungkin, harusnya... Sangat jelas ia tahu kalau puteri Hwa ini, hanyalah seorang gadis manja yang selalu menutup dirinya seharian di kediamannya. Dan jelas sekali, ia tahu kemana saja gadis itu pergi dari rekan se-timnya yang sama-sama memiliki niat buruk yang sama pada gadis yang kini dengan wajah kesal menatapnya dalam posisi berdiri.


Ia jelas tak mungkin kembali pada pekerjaannya. Dan identitasnya? Sudah ketahuan, dan itu akan semakin mempersulitnya kabur kemanapun. Ia mengepalkan tangannya saat ini.


Sementara Ara, tak berhenti sampai di situ. Ia hendak meraih sebuah benda atau apalah yang bisa menggeplak kepala pria itu biar sadar akan perbuatannya yang berani sekali menggores kulit mulusnya, ya walau pun bukan tubuhnya sih. Tapi kan, ini sekarang dia yang ngontrak yah.


Saat Ara sudah berhasil mendapatkan sebuah kotak berisi tempat tinta.. Yang lumayan berat ya, lumayan buat ngebales nie orang.


Ingat ya, Ara itu pendendam ya...


Jadi pokoknya harus bales, harus, bales, bales.. Titik.


"Raaaaa......" Jeda, kata yang belum lengkap itu tertelan kembali kala matanya menangkap kilau yang kini sudah mendarat manis pada leher pria itu....


"Arrgghhhhhhhhhhhhh!!!!!" Jerit Ara keras. Ia memang suka film action atau film bergenre bunuh atau potong memotong itu. Tapi, tidak untuk adegan live seperti sekarang.


Menggelepar, ya, tubuh yang kini sudah bersimbah darah itu, sudah meregang nyawa.


Woyyy 119,, 119...


Eh, tandu tandu....


"Tolongggggg!!!!!" Pekik Ara.. Memanggil gerombolan langkah yang kini sudah membuka pintu kamar puteri Hwa.


"Puteri!!!" Pekik para pengawal dan beberapa dayang yang berjaga di luar. kejadian tadi bertepatan saat pergantian waktu jaga. Jadi, suara ribut yang terjadi tak terdengar begitu jelas. Hingga pekikan barusan yang memancing mereka mendatangi kediaman majikan mereka.


Menyisakan tatapan tak percaya dari mereka akan pemandangan yang tersaji saat ini.


Tubuh pria yang sudah pucat itu, membeĺalakan mata tak bergerak.


Sementara, gadis yang menjadi sumber suara tadi, kini berpenampilan tak karuan, baju yang robek, serta noda darah di satu sisi tubuhnya.


"Puteri!!!" dayang Han merangsek masuk, mendapati kabar jika ada kejadian di kediaman majikannya.

__ADS_1


"Di--dia.." ucap dayang Han terpotong.


"Ya, dia salah satu pengawalku, bukan? Yang berusaha membunuhku malam ini." Tegas Ara menutup ucapannya, membuat banyak pasang mata menatap tak percaya, bagaimana mungkin yang akan membunuh malah kini terbujur terbunuh?????


__ADS_2