
“Mungkin kamu butuh istirahat Ara. Aku akan pergi kalau begitu.” Ucap Kim Hee Sin saat merasakan aura sekitar tidak cukup untuk memulai pembicaraan
Gadis yang ditatapnya tak memancarkan binar sebagaimana sebelumnya, akan menyambut, tersenyum, bahkan cenderung tak mau berpisah.
Tapi sekarang, ia merasa asing.
“Ahh, oh baiklah kalau begitu.” Kosakatanya saja terjaga sekali formalitasnya.
“Sampai jumpa lagi, Jo Ara.” Kim Hee Sin melambaikan tangannya lalu menghilang di balik pintu kamar.
Beberapa hari setelah itu, semua aktifitas Ara kembali normal. Ia sudah kembali memulai kegiatan berselancar di dunia mayanya sebagai influencer.
Dan Hana pun senang akan kenyataan bahwa sahabatnya sudah kembali seperti semula. Namun, Kim Hee Sin semakin canggung mendekati gadis itu sehingga ia hanya sesekali saja menghubungi Hana untuk menanyakan keadaan Ara.
Sementara di Joseon...
Puteri Hwa yang sudah siuman, menjalankan aktifitasnya kembali. Awalnya ia tercengang mendapati wajahnya sudah tidak mengenakan cadar lagi.
Ruam yang memenuhi sudut wajahnya perlahan tersisa sedikit dan itupun hanya seperti bayang saja, samar.
“Tuan puteri.” Panggil dayang Han memecah lamunan puteri Hwa yang melayang entah kemana.
“Ya dayang Han.” Nada bicara anggun adalah seharusnya yang dimiliki semua bangsawan, dan itu pun kembali didengar dayang Han dari majikannya.
“Bukankah anda mau mengunjungi ratu, Yang Mulia.” Dayang Han mengingatkan rencana yang sempat tertunda, Ara yang punya rencana sebenarnya, tapi tak menampik puteri Hwa pun memang berniat mengunjungi ratu.
“Baiklah. Ayo dayang Han.” Puteri Hwa bangkit, merapikan hanboknya, lalu bergegas menggapai pintu.
.
.
.
“Hari ini, bawa gadis itu menghadap ku lagi.” Titah keras dikeluarkan Cindy pada pengawalnya.
Ia sudah menunggu dengan kesabaran setipis tisu dari Ara yang kabur kala itu.
“Baik, nona.” Sahut pengawalnya.
Ara yang tengah berada di pusat perbelanjaan tengah menenteng paperbag di kedua tangannya, sampai di mobilnya ia bergegas memasukkan belanjaannya. Namun baru saja hendak meraih handel pintu kemudi, wajahnya sudah dibekap dari belakang.
“Eummmm, euhnnnnmmm.” Ia berontak sekuat tenaga tapi pelan matanya menutup, kesadarannya hilang bersamaan obat bius yang merasuki hidungnya.
Beberapa jam kemudian.
Mata itu membuka, namun tubuhnya lemah. Ada apa ini?
__ADS_1
“Sudah bangun nona muda?” suara itu, membuat bulu kuduk Ara berdiri sempurna, tubuhnya merespon dengan keringat yang membanjiri.
Ini adiknya Frank.
Dan benar, saat mata Ara mengedar, ia menangkap bayang gadis itu yang duduk di sisi kirinya, memegang pisau kecil di tangan kirinya. Memainkannya bak benda tak berbahaya.
“Bagaimana sayang?” dan suara lain memasuki ruangan yang sama dengan mereka.
Hoon? Itu dugaan Ara.
Benar saja
“Kau!!!!” Ara menggeram sempurna saat pria itu sudah berdiri di sisi Cindy. Ia ingat betul perbuatan Hoon padanya waktu itu, bersama pengawal Cindy, pria itu tega menyiksanya bahkan menenggelamkannya.
“Wahh, sepertinya kau sudah ingat kembali, Ara.?” Cibir Hoon yang tertawa sinis menatap Ara.
“Apa kita akan berpesta, sayang.?” Tanya Hoon yang diangguki Cindy.
Sial!!!! Ara harus bertarung dalam keadaan tak siap begini.
Belum lagi reaksi tubuhnya tak bersahabat sama sekali, alam bawah sadarnya mengurungnya dalam trauma.
Cindy berdiri, ia menatap Ara penuh rasa lapar, seolah ia akan memakan gadis itu utuh.
“Mau apa kau?” Ara menegakkan tubuhnya, bersikap waspada.
Plak
Plak
Plak
3 kali, telapak tangan Cindy bersarang mudahnya dipipi kanan Ara, membuat wajah Ara sontak kebas sebelum merasakan rasa sakit.
“Sial.” Maki Ara menatap Cindy nyalang.
“Apa katamu?” cindy sudah mengangkat tangannya lagi.
Dan... plak!!!! Kembali tamparan itu diberikan pada wajah Ara.
“Frank begitu bukan karena aku yang melakukannya!!!” pekik Ara menggema.
Ia merasa jika pelampiasan Cindy akan keadaan kakaknya sungguh diluar nalar sehat. Bagaimana mungkin begitu mudahnya seorang Frank yang berpikiran terbuka dan tidak baperan bisa melakukan tindakan bunuh diri begitu saja.
Hei,,, Ara sudah bisa melihat kepribadian Frank yang tidak akan mengambil keputusan mengerikan seperti itu.
“Kau tanya pada pria brengsek di sana. Tanya kepadanya yang terakhir kali bersama Frank malam itu!!!!” Ara menunjuk lurus tepat kearah Hoon yang tertegun dengan tuduhan itu.
__ADS_1
“Hah, kau menuduhku?” Hoon balas mencibir.
“Bukankah memang begitu kan, malam itu kau bersama Frankie saat jam 11 malam dari club malam XJ kan? Aku melihatnya karena malam itu Frank bertemu denganku dan kami mengobrol biasa tanpa alkohol.” Jelas Ara geram.
“Tanpa alkohol katamu?” Cindy yang terkekeh saat ini.
“Jal—g pembohong, kakakku kecelakaan karena minum alkohol banyak!!!” jerit Cindy, ia mendengar cerita Hoon kalau malam itu Ara menolak keras kakaknya dihadapan banyak orang. Hingga Frankie mabuk dan mengendarai mobil.
“Kau tidak lupa kan Hoon?” Ara sedikit lega saat ini.
“Aku memiliki bukti rekaman itu.” Ara menarik ujung bibirnya, kini tersenyum sinis pada Hoon yang terkejut mendengar penuturan itu.
“Apa maksudmu, huh!!!” Cindy merasakan ada yang tersembunyi di antara keduanya.
“Aku memiliki rekaman hari terakhir Frankie yang pergi bersama Hoon. Bahkan rekaman suaranya pun ada.” Jawab Ara santai.
Ara memang punya kemampuan melindungi diri yang bagus. Sadar posisinya yang dikelilingi pria, dan kerap menolak mereka membuat Ara selalu membawa benda kecil untuk merekam suara ketika dirinya ada di mobil pria yang mengantarnya selepas dari club malam atau sekedar mengajak jalan.
Ia hanya waspada, siapa tahu ada yang sakit hati, menculiknya?
Maka dari itu ia menaruh benda kecil yang ia tempelkan di sudut kursi penumpang, dan semua rekaman itu akan otomatis masuk ke dalam tabletnya yang tersimpan di kamarnya setelah ia kirim melalui ponselnya.
“Hoon-sshi?” Cindy bergantian menatap Hoon, menuntut penjelasan itu.
“Kau percaya begitu saja, sayang? Itu adalah cara tengik itu mengelabui kita berdua.” Tolak Hoon akan tuduhan itu. Meski apa yang diucapkan Ara sepenuhnya benar.
Ia malam itu yang menaruh banyak alkohol dalam mulut Frankie setelah mereka bertengkar hebat, karena pria yang menjadi sahabatnya itu menolak mentah-mentah perasaan Hoon yang menyukai adiknya. Selain itu, Hoon ingin menguasai bisnis bersama yang dirintis keduanya namun Frankie yang mendapat nama sementara dia kerap dijadikan pembicaraan orang-orang sebagai parasit.
Cindy menoleh pada Ara dan Hoon bergantian. Ia mencium ada yang berbeda dari keduanya.
“KAU!!! Bawa rekaman itu padaku, kalau semua bohong maka akan aku bunuh kau saat itu juga!!!” titah Cindy keras.
Ara mengangguk pasti, ia yakin dengan dirinya.
Pengawal membawa Ara pulang ke apartemennya. Dan Ara bergegas mencari tabletnya. Lemari!!!
ketemu.
Ia men-scroll layar tabletnya hinggga senyum itu tersungging.
“Ketemu.” Ucapnya lega.
Ia akan membuktikan dirinya tidak bersalah atas kejadian yang menimpa Frankie.
Mengambil ponsel dan mengirim rekaman itu kepada Cindy.
“Rasakan itu Hoon. Dasar pengkhianat brengsek!!!” ucap Ara marah.
__ADS_1