100 Hari Menjadi Puteri Joseon

100 Hari Menjadi Puteri Joseon
Ara suka dia, Tuhan


__ADS_3

Saat Ara tengah bertarung kuat untuk menenangkan debar jantung gilanya itu. Yang dengan tidak tahu malu serta enggan bekerja sama dengan barang beberapa menita doang. Eh, si pria menawan ini menambah gejolak itu semakin tak terkendali.


Woy jantung, Ara cabut ntar kalo masih heboh sendiri jingkrak-jingkrak di dalem.


Wait!!! Kalo di cabut, koit dong nie bocah yak. Hehehhe. Habis deh cerita thor kalo begono.


"Puteri, kau. Tidak apa-apa?" Tanya si pembuat onar yang mengacaukan sistem kerja jantung Ara yang siap meledak ini.


Ara terdiam. Membisu seketika berhadapan dengan tubuh saling menempel begini.


Krik krik krik.


Ih jangkrik siapa coba narok deket mereka. Sono bawak balik.


Melihat puteri yang tak merespon panggilannya. Putera mahkota mencoba kembali.


"Puteri. Kau? Tidak apa-apa? Wajahmu memerah begitu." tanya putera mahkota yang menyadari wajah itu memerah bak udang rebus kesiram minyak panas.


Heh??? Ara merona, sadar woy Ara, sadar... Sono buruan...


Hap!!!


Ara beringsut dari pelukan pria idamannya itu. Menyeimbangkan tubuhnya yang sudah berdiri tegak lagi. Merapikan pakaiannya yang sedikit berantakan.


Tengil sih.. Si bar-bar


"Eh, i-iya Yang Mulia." Sahut Ara yang menenangkan nafasnya yang sudah gerak gerak putus gitu.


"Kau, tidak apa-apa?" Tanya lagi untuk ketiga kalinya. Horang tampan mah bebas mau berapa kali ngulang mah. Bebas.


"Tidak apa-apa. Dasar batu siala----...." Ucap Ara yang disambung dengan umpatan yang nyaris melincur sempurna namun kembali sadar saat otaknya menggeplak dari dalam, ada putera mahkota.


"heheheh, bukan apa-apa Yang Mulia." Kekeh Ara yang mengibaskan tangannya, berusaha mengalihkan kalimat bodohnya tadi.


"Ooh begitu. Lalu... bagaimana dengan istirahatmu, kenapa berkeliaran sekarang.?" putera mahkota sedikit bingung akan Ara yang masih bisa berjalan-jalan padahal menurut diagnosa tabib, gadis ini harusnya belum boleh keluyuran.


Halah, itu kalo puteri Hwa ya, lah ini kan si bar bar. Sakit gitu doang mah, kagak ada apa-apanya. Jatoh dari menara namsan aja besok udah bisa salto kok.


"Sudah sehat kok. Ini buktinya." Ara memutar tubùhnya untuk membuktikan bahwa ia sudah sehat dan tidak masalah akan kejadian kemaren.

__ADS_1


"Tapi tabib bilang..." Ucap putera mahkota yang belum sempat menyelesaikan kalimatnya karena keburu disambar oleh si petakilan itu.


"Helehh, tabib kok dipercaya sih. Yang merasakan aku, bukan dia. Dia mah lebay." Sambar Ara mengibaskan tangannya lagi.


Kening putera mahkota berkerut.


"Lebay??" ucapnya mendengar kata ajaib yang meluncur lagi dari bibi sang puteri.


Upsss, kan, dihh tuh lambe kagak bisa dikondisikan yak.


"Maksudnya, berlebihan Yang Mulia. Ya, ya, si tabib itu berlebihan sekali. Buktinya aku bisa berdiri begini, kan?" Jelas Ara tegas.


Putera mahkota menopang dagunya dengan telunjuk yang ia tekuk.


Memperhatikan puteri yang menurutnya.... Baik-baik saja, ya??


"Baiklah kalau begitu. Sekarang kau mau ke mana puteri Hwa?" tanya pria itu melihat arakan Ara dengan gadis itu yang tadi menggunakan payung, dan benda itu kini tergeletak tak berdaya di sudut pohon dekat tempatnya terjatuh tadi.


"Sana." Tunjuk Ara pada jalan yang menuju danau yang ada gazebonya. Ia ingin bersantai di sana. Sembari berpikir keras.


"Hmm, dan itu... Apa.?" Tanya putera mahkota melihat bawaan para dayang yang berupa bungkusan kain berwarna biru, setidaknya ada 3 bungkusan yang ia lihat.


"Manisan buah kesemek? susu pisang?" kerut dahi pria itu terlihat akan penjelasan tentang bawaan para dayang puteri yang cukup membuatnya bingung.


"Iya, aku menyuruh bagian dapur membuat susu dicampur dengan pisang. Itu enak Yang Mulia." Jelas Ara


"Manisan kesemek? Bukankah kau tidak menyukainya?" Tanya putera mahkota tak percaya.


"Kau suka manisan apel kan?" kembali pria itu melempar tanya pada Ara yang untungnya sudah pernah membahas itu dengan dayang Han, baru semalam yak. Jadi masih inget deh.


"Ooo. Aku sudah bosan dengan manisan apel. Dan dulu aku kurang suka, tapi kalau sekarang aku menyukai manisan kesemek, tidak masalah kan Yang Mulia?" Ucap Ara berusaha agar tidak memancing kecurigaan dari pria yang tentu saja punya jalan pikiran serta insting yang bagus, bukan? Calon raja tentu memiliki kualitas yang mumpuni kan? Apalagi otaknya, wahh cerdas pasti. Ara mah gak level, deketin levelnya aja jaohhhhh.


Pria itu tersenyum mendengar ucapan Ara yang seperti menggetu itu.


"Kau, mengomeliku, Ara??" Kekeh putera mahkota melihat Ara yang sepertinya sebal.


"Tidak. Tapi, aku mau jalan-jalan kembali Yang Mulia." Jawab Ara yang walau memang menggerutu tapi tak mungkin mengatakan pada pria itu kan.


"Dan kau, tidak menawariku untuk ikut?" Kembali pria itu melempar tanya yang sepertinya..

__ADS_1


Kok bernada menggoda ya??


Heh, perasaan Lo aja kali Thor.


"Hah?? Yang Mulia mau ikut?" Tanya Ara yang tak memperkirakan serangan tanya itu.


Mengangguk dan melempar senyum menawanya. Pria itu berjalan mendahului Ara..


Menuju tempat, di mana Ara tadi menunjuk.


Area danau dengan gazebo yang terdapat di pinggirnya.


Ya, itu tuh tempat Ara waktu suuzonin si dayang Han.


Oh ya, lupa sama dayang cantik itu yah.


Gadis muda yang sedari tadi memperhatikan interaksi keduanya hanya diam saja, tak paham akan sikap pecicilan majikannya yang... kok gitu amat sih tingkahnya. Perasaan puteri Hwa mah anggun dan, sangat menjaga jarak dengan putera mahkota meskipun itu kakaknya sendiri.


Lah ini,... Mepet mulu.


Bar bah mah kok di maklumin, itu mah jiwa bebas gadis yang katanya mau tobat abis bangkit dari koma waktu itu.


Yang janjinya bakalan mau cuekin si putera mahkota kalau ketemu ntaran. Eh ini baru di ekhemin doang udah gelegapan gitu.


Ara memperhatikan lamat-lamat pria yang sudah berjalan mendahuluinya itu. Dan seolah sadar, ia menoleh ke belakang. Banyak pasang mata yang melirik penuh ke arahnya. Seolah berkata..


Woy kapan jalan, pegel nie diri mulu.


Dan Ara mulai bergerak mengikuti prià yang mengenakan baju kebesaran berwarna biru itu. Berusaha menyamakan langkah kakinya.


Ara, please. Lo puteri sekarang, mbok ya yang anggun deh jalan.


"Puteri, pelan-pelan" ucap pria yang diikuti oleh Ara, kini berbalik menoleh pada gadis yang berjalan cepat itu.


Tapi, si pecicilan mah tetep aja jalan cepet.


Hingga putera mahkota mengambil inisiatif memundurkan tubuhnya. Dengan gaya yang begitu cool, tangan di letakkan ke belakang. Berusaha mendekati Ara di belakangnya.


"Jangan berlari begitu. Aku bisa menunggumu, atau berbalik mendekatimu, bukan?" Ujar pria itu membuat Ara terkesiap akan pesona pria ini yang semakin menambah kesan tertarik Ara.

__ADS_1


Oh God!!!! Please, Ara suka dia.


__ADS_2