
Kini, gadis yang malam sebelumnya sudah sempat jumpa temu kangen dengan malaikat maut hingga di beri belaian di pinggangnya berupa luka sabetan pedang dari sosok kasat mata yang berwujud pengawalnya,... Dan kini pengawal itu sudah menuju keharibaanNya, bersama sang angel.
Ara, menikmati acara mandi-mandiannya. Ini salah satu yang ia sukai ketika nyrungsuk ke dunia ini, terlebih ia beruntung menjadi seorang puteri raja. Double keberuntungan bagi si bar bar. Ia sangat suka kala tahu jika ternyata kegiatan mandinya begitu wah. walau bukan di ruang berlapis emas dengan berlian dan permata di mana-mata, atau bak pemandian yang sebesar ranjang king size itu. Tapi, ini jauh lebih ekslusif menurutnya.
Mandi di lingkungan kerajaan, bersama statusnya sebagai seorang puteri.
Tuhan begitu baik untuknya!!!
Dan, Ara tengah menggosok tubuhnya dengan beberapa ramuan yang harumnya saja begini mewahnya, jelas ia mendapatkan keEKSLUSIFAN di ruang yang tak akan siapapun bisa nikmati jika bukan keluarga raja.
Rambutnya tergerai indah, hidungnya sesekali menarik dalam nafas untuk mengingat lebih banyak aroma di sini. Dan matanya, sesekali pun ikut terpejam dan membuka lagi, sebagai tanda ia begitu puas akan layanan para dayangnya.
Ia teringat saat pertama kali menjejakkan kakinya ke ruangan ini.
Mulutnya nyaris terbuka sampai menyentuh rahangnya (kalau bisa yak), dan kesulitan untuk kembali menutupnya, jika saja otaknya tak menerjangnya dari dalam agar segera sadar di mana dirinya kala itu.
Jujur, ia bukannya ndeso atau primitif ataupun tak pernah menyentuh hal-hal yang berbau kemewahan. Jelas saja Ara kerap mendapatkan kesempatan itu. Ke salon ternama (sesekali) dan ke salon yang premium saja yang kerap ia kunjungi, ke spa, melakukan perawatan dengan merk yang bisa ia jangkau dengan mudah. Walau ia bukan dari kalangan kaya, tapi penghasilannya sebagai seorang blogger dan kegilaan para pria yang berebut untuk mendekatinya dengan banyak hadiah serta fasilitas mewah pun menjadi alasan ia bisa mendekati hal yang orang berduit bisa dapatkan.
Dayang Han pun awalnya sedikit tak percaya akan sikap majikannya yang terlalu kelewat terpesona dengan area pemandian miliknya yang rutin di jalankan sebagai seorang puteri.
Bagaimana dayang itu tak luput memperhatikan sosok puteri Hwa yang kerap berdecak dan ber "Wow" serta mengatakan kata asing yang aneh menurutnya "amazing" "so luxury"... Anehkan?
Ara pun tak sampai di sana merasa terkejut dengan isi ruangan itu, karena ia kembali di buat ternganga akan perlengkapan mandinya, reramuan semerbak, lilin aroma terapi, dan ada dayang yang melayaninya dalam urusan basuh, gosok menggosok bagian tubuhnya.
Super sekali layanannya kan??
"Gue, gue penasaran, gimana reaksi Hana kalo diajak dimari yak?? Pasti lebih lebay dah dari gue waktu itu. Hihihi" kekeh Ara menyadari tingkah sahabatnya jika diajak ke ruangan ini. Tentu saja ia hapal sekali akan ekspresi Hana yang dari kecil sudah menjadi bagian hidupnya itu.
Ara kembali menggosok tubuhnya dengan reramuan tadi.
"Dan, gue juga penasaran,...." Jedanya sembari memposisikan tubuhnya kini menghadap ke langit-langit ruangan mandi itu.
Matanya menatap jauh, seolah membayangkan hal yang sangat serius dan dalam.
"Kenapa si puteri Hwa ini, begitu banyak yang ingin membunuhnya, ya?" Ujarnya bertanya pada diri sendiri, atau kalau ada jin dan demit di dalam sana, bisa jadi Ara mengikutsertakan mereka agar mendengar dan mendapatkan jawaban dari kaum astral itu.
__ADS_1
"Dan, sebenarnya, sudah berapa kali sih, orang-orang nyoba buat ngehilangin nyawa dia. Segitu bencinya, sih. Memang dia salah apa?"
"Apa dia puteri yang sombong?"
"Sok kecantikan?"
"Sok kecentilan?"
"Atau ngerebut pacar orang?"
"Atauuuùu........" Dialognya yang panjang lebar itu, dengan beragam ekspresi itu terhenti seketika, saat ia mencoba mengutarakan argumentasinya yang dapat dari mana coba?
"Hmm, gak mungkin deh, ya?" Ara menggelengkan kepalanya saat ia terpikir oleh alasannya tadi, kini ia menarik kedua telapak tangannya, menutup wajahnya, atau wajah milik puteri Hwa ya, yang mengalami kerusakan parah pada bagian wajahnya.
Hingga beberapa saat kemudian
Byarrrrr
Suara hempasan air terdengar dari dalam bak mandi yang terbuat dari kayu terbaik itu.
Dan hal itu, membuat....
"Yang Muliaaaa!!!" dayang yang bertugas mengurusi mandi sang puteri bergerak mendobrak pintu (maksudnya menggeser dengan kasar, biar ada drama gitu) dan bergegas masuk satu persatu.
Membuat Ara...
"Arrghhhhhhhhh" menjerit histeris seketika. Manakala tubuhnya... Ya, tubuhnya, saat itu terekspos sempurna, setiap lekuk dan pernak-pernik tubuh itu terpampang jelas.
Eh, tunggu!! Tapi kan itu tubuhnya puteri Hwa, ya?? Kok Ara yang heboh sih?? Bukan tubuh dia juga kan? Harusnya mah, fine fine aja kan?
Thor!! Ara kan pernah bilang, memang bukan tubuhnya. Tapi, saat ini jiwanya yang merangsek ngontrak sementara selama 100 hari, jadi dia juga merasa satu tubuh saat ini.
Jadi maluuuu woyyy.
ketiga dayang yang masuk bergerombol itu, kini sadar akan jeritan sang puteri dan menundukan wajah seketika, meski mereka melayani mandi gadis itu. Tapi, mereka tak lantas berhak memandang tubuh itu ketika mereka di sana.
__ADS_1
"Keluarrr!!!!!!" jerit Ara melengking.
"Tap-tapi Yang Mulia, Anda tadi....." Selalu, Ara sepertinya memang ahli dalam menyela ucapan siapapun ya.
"Lihat, aku tidak apa-apa, aku hanya bangun mendadak. Jadi...." Potongnya sembari tangannya menggebrak riak air... Hingga membuat dayang-dayang itu terjengit bersama.
"Keluarrrrr!!!!!" Teriak Ara lagi. Dan, ketiga pelayan itu mengambil langkah seribu, segera menyingkir dari kekacauan yang hampir saja mereka lakukan.
"Ada apa?" Dayang Han, yang tadi bertugas mengambil pakaian puteri, tiba dengan wajah heran melihat geng dayang itu memasang wajah bingung.
"Dayang Han.." Ucap salah satu dayang, memecah suasana canggung yang tercipta karena ulah mereka.
Tapi, kan Ara yang buat ya,?? Kekacauan tadi?
"Hmmm." Sahut dayang Han bergumam.
"Itu, besti kau." Lanjut si dayang tadi.
"Puteri Hwa?" Tanya dayang Han sembari menunjuk ruang pemandian dengan dagunya.
"Iya, tadi kami mendengar suara keras dari dalam. Lalu kami masuk bersama, dan saat itu puteri tidak memakai apapun, padahal kan kami selalu melihatnya." Jelas dayang itu lagi
"Lalu?" Lanjut dayang Han penasaran.
"Puteri Hwa marah, dan mengusir kami semua. Bukankah aneh, Dayang Han? Puteri Hwa kan, selalu lembut dan..... Tidak pernah marah apalagi semarah itu." Ujar dayang satunya lagi memberikan penjelasan.
"Mana aku tahu, pastinya kalian menurut saja apa kata puteri Hwa." Kata dayang Han memberikan jawaban yang gampang, agar jauh dari masalah.... Solusinya, jangan mancing dan duel si masalah.
"Apa kau selalu diperlakukan seperti itu oleh puteri?" Tanya dayang yang terakhir.
Menggeleng... "Tidak, tidak pernah sama sekali. Malahan, puteri Hwa, memperlakukanku seperti temannya.." Jelas dayang Han.
"Maka dari itu,,, puteri memanggilku, Bestie. Yang artinya sahabat dekat." Lanjut dayang Han, menyebutkan kata bestie dengan mengaitkan dia telunjuknya agar menyatu.
"Dadah guys." Lambai tangan dayang Han yang langsung masuk ke ruang pemandian puteri, meninggalkan 3 dayang yang saat itu bergumam akan kata BESTIE yang mungkin...... Kini sudah terprogram di otak mereka.
__ADS_1