100 Hari Menjadi Puteri Joseon

100 Hari Menjadi Puteri Joseon
Make over!!!


__ADS_3

Jauh di dunia lain...


Tahun 2022....


Seorang gadis yang baru saja mengambil kursi, kini menaruhnya tepat di samping brangkar tempat menyimpan sosok yang masih terbujur di pembaringannya.


Hana, menatap miris pada Ara yang kembali harus mengalami koma setelah 6 hari sadar.


Memang cukup mengejutkan, pasien yang mengalami luka serta syok pada tubuhnya dan koma selama 2 minggu, ajaib bisa mengalami peningkatan signifikan layaknya hanya luka biasa saja. Ara dalam waktu 6 hari mampu berjalan meski dibantu oleh tongkat atau kursi roda.


Pun ia tak mengalami keluhan apapun diakibatkan memar dan cidera otaknya. Sungguh, dokter mengatakan, Ara cukup berhasil melalui hal parah yang dikatakan dokter di awal gadis itu masuk di rumah sakit.


Lalu, tanpa hujan, angin atau petir, Hana, yang pagi itu sempat mengobrol bahkan bercanda dengan Ara, kembali mendapat panggilan dari pihak rumah sakit yang mengatakan bahwa sahabatnya terjatuh dari tangga yang menuju atap gedung rumah sakit.... hingga, mengakibatkan kini, gadis itu harus tertidur kembali di brangkarnya. Yang kini sudah 5 hari lamanya.


"Lo, kemana sih, prul? Gue kangen tau." ucap Hana lirih. Sungguh ia merasa sangat sedih dengan keadaan sahabat yang juga dianggapnya saudara itu.


"Lo itu ngapain sih di atap hari itu? Bukan buat lompat kan? Awas aja kalo niat gitu, gue gak kuburin mayat lo, gue ceburin di laut biar di makan ikan buntal." Gerutunya sebal. Namun, seiring berakhirnya ucapan itu,, riak genangan di matanya pun terlihat. Ia menangis, tergugu malah. Membenamkan kepalanya di sisi tubuh Ara.


"Lo jahat, Ara. Lo jahara tau." lagi, ia menggerutu di dalam benaman kepalanya.


"Lo enak-enakkan mengembara di sono, ninggalin gue sendirian. Memangnya ada cogan apa di sana, huh? Bagiin satu kek, kan gue jomblo, tauk." ucapnya, yang kini sudah menepikan kepalanya menatap Ara kembali. Dalam baringan miring kepalanya.


"Jangan lama-lama maennya, prul. Cepet pulang gih. Gue sepi tau, jamuran ntar gue nungguin lo lama ngebolangnya." Lanjut Hana.


Membelai wajah tenang sahabatnya, ia kembali menangis. Dalam hening malam itu. Hana terisak, menggenggam jemari Ara yang meskipun tertidur lelap, namun masih mampu meninggalkan jejak hangat di dalamnya.


"Gue kangen Lo, Ara. Cepet pulang ya." Ucapnya kemudian, lalu menutup perlahan kelopak matanya, menyusul sahabatnya yang terlelap, berharap bisa bertemu di alam mimpi.


*****


Sementara yang dirindu...


"Gue mau balikkk makk!!!!" Lirih teriakan tertahan Ara yang terbaring di tempat tidur lembut dari sutra terbaik.

__ADS_1


"Lo ngapain di sana, prul. Gue kangen tau." Ucapnya. Membayangkan sosok sahabatnya, Hana.


"Lo ngapain ya di sana? Awas aja kalo lo seneng-seneng, ngedugem dan haha hihi di sana ya tanpa gue, gue kekep lo." Lanjutnya menggerutu.


"Coba di sini ada modelan kayak tempat nongkrong gitu, kan gue gak bosen. Bengong aja kayak ayam nelen karet gini." Keluhnya, lagi.


"Arrghhh, gue bosen, mau hang-out gueeee!!"" Teriaknya kemudian yang memancing dayang yang berdiri di depan pintu kamarnya.


Srettttt


"Yang Mulia, apa anda berteriak barusan?" Tanya dayang yang usianya kisaran 40 tahunan itu dengan wajah khawatir.


Yang ditanya langsung menoleh, masih dalam posisi berbaringnya.


"Tidak ada apa-apa, sana keluar." Usirnya dengan kibasan tangan, yang mendapat anggukan si pelayan.


"Gercep banget sih nongol, kepo deh, gak bisa denger ada yang aneh dikit sih?" lanjutnya


Kembali menelentangkan tubuh di hamparan kasur tipis yang tak sebesar queensize ranjangnya, namun lembut rasanya. Ia menerawang lalu....


Perubahan, ia butuh itu. Setidaknya untuk memberikan gertakan pada geng bunga aroma apel itu. Ia semakin gemas, siapa bos mafianya. Awas aja kalau bertemu, gulet deh Ara jabanin guys.


*****


Dan keesokan harinya. Setelah ia selesai membersihkan diri. Di mana sebelumnya ia sudah memberi perintah pada dayang bagian pemandian untuk menyiapkan beberapa hal untuknya.


Maka, saat ini. Ia yang telah bersih, duduk di hadapan cermin buram, mengambil benda persegi yang berisi 2 buah mangkok ukuran sedang, yang telah ia isi dengan bahan-bahan terbuat dari bengkoang yang dihaluskan, madu, irisan timun, ia campurkan lalu mengoleskan di wajah menjadi masker, sementara timun ia letakkan diatasnya pun kelopak mata tak luput ia taruh.


Beberapa saat kemudian, ia telah selesai. Sedikit segar rasanya.


Melanjutkan... Mengambil peralatan makeup si puteri, melihat ada apa saja di sana.


Hingga ia menemukan, bahan yang ia perkirakan adalah bedak, menaruhnya di meja di hadapannya, lalu perona bibir. Tapi sebelum itu, ia telah menyiapkan bahan lain,, berupa tepung jagung, biji pala yang sudah dihaluskan, serta bubuo cocoa, setelah mencampurnya, ia meraih sebuah tempat berisi air dari ekstrak bunga mawar sebagai pelarut bahan tadi. Ia mulai bereksperimen membuat fondation alakadarnya.

__ADS_1


Setelah mendapat takaran sempurna. Sesuai dengan tipe tone warna kulit puteri Hwa. Gadis itu mulai Memoles pelan pada wajah yang sebenarnya lembut namun rusak oleh oknum geng bunga aroma apel itu.


Awalnya ia tak mendapat hasil yang diinginkan. Lalu Ara menambahkan pewarna lain yaitu kuning berasal dari ekstrak air labu kuning yang di haluskannya, yang tentu saja semua bahan yang diperolehnya dari para dayang ia perintah semalam.


Hingga, setelah cukup lama, ia coba kembali...


Lumayan.


Setelah merasa bahwa fondation alias alas sebelum bedak telah menyatu dan sedikit menutupi jerawat yang mengganggu pemandangan itu.


Ara...


Menepuk bubuk bedak sebagai tahapan menutup kerusakan. Meski hanya tersamarkan. Tapi cukup untuk tidak terlihat dari jarak jangkauan mata.


Mengambil perona bibir, mencolek sedikit lalu memolesnya sebagai perona di bawah kelopak mata, pun bibirnya juga. Lalu, melihat baki berisi tinta...


Aha, Ara butuh itu. Coba dulu lah. Kan bukan dari bahan kimia, bukan?


Setaunya itu dari bahan berupa batu yang di haluskan...


Meraih sedikit tinta tersebut dan mengaplikasikannya pada bulu mata, dan ia poles juga pada sisi kelopak matanya. Semoga kagak kenapa-kenapa deh. Pikir gadis itu, dalam uji cobanya.


Lo mah enak, itu kan tubuh orang Ijah!!!


Tapi,....


Hasil yang Ara uji cobakan, tak begitu buruk, kok.


Buktinya, kini, dayang Han sebagai penilai pertama, sempat merasa terkejut dengan penampilan puteri Hwa dalam pandangannya.


Ara berdiri dan memutar tubuhnya, meminta penilaian pada dayang itu.


"Bagaimana, bestie?" Tanya Ara menunggu jawaban, yang langsung di acungi jempol oleh dayang Han.

__ADS_1


"Aku, tak perlu ini, kan?" Tanya Ara yang mengangkat tangan kanannya, sebuah benda tipis berwarna merah muda dari bahan sutra halus itu. Cadarnya. Yang sesaat kemudian ia lempar percuma di sembarang arah.


__ADS_2