
"B-benar." ucap Ara.
Pria itu duduk dengan salag satu lututnya menopang lantai sementara jemarinya tepat mengangkat dagu puteri Hwa.
"Aku rasa bukan,.... Apakah kau mau kita bertualang lagi, puteri?"
Huh!!! Apa maksud pria ini.
"Kenapa Ara-yya?" Putera mahkota menatap ekspresi puteri Hwa yang berkedip berulang kali dengan wajah bingungnya.
"Puteri Hwa?!!" kini ia mengibaskan telapak tangan besarnya dihadapan wajah cantik itu.
Dan berhasil, gadis itu tersadar dan sontak memundurkan kepala.
Terlalu dekat dengan pria ini membuat debam jantung yang terkurung dalam tubuh puteri Hwa menggila seketika.
"Puteri?" pria itu heran dengan gerak puteri Hwa.
"Ah, oh tidak apa-apa." ucap Ara tak jelas.
'Sialan, kenapa lagi nie jantung ngajak balap liar sehh.' batin Ara kesal
Ia kadang-kadang merasa ambigu dengan beragam respon tubuh ini. Apakah itu gerak dari jiwanya, atau justeru dari respon jiwa puteri Hwa.
Kalau memang begitu, artinya apa yang menjadi gosip buruk di istana tidaklah salah.
*Ada Hubungan Spesial Antara Putera Mahkota dan Puteri Hwa.
Ya, hubungan terlarang*
Tapi, melihat sikap perhatian pria ini, tentu Ara tak salah mengira jika itu bukanlah antara adik dan kakak melainkan pria ke wanita.
Duganya.
"Kau kenapa?" putera mahkota menarik duduknya mendekat dan otomatis membuat Ara pun refleks memundurkan tubuh puteri Hwa.
Alis pria itu terangkat.
"Apa ada yang salah denganku, puteri Hwa?" tanya putera mahkota.
Ara menggeleng.
'bukan, bukan begini harusnya. Gue suka. Pakek banget ke nie cowok, tapi kalo dia juga suka dengan gadis ini, gue bakalan tambah kacau di sini.' batin Ara sembari menggeleng kepala.
"Oppa, mundur gih." pinta Ara menaikan dagunya menyuruh.
"Mundur? Kenapa? Kau gugup?" putera mahkota menarik sedikit garis bibirnya dengan mata berkeling, membuat Ara sontak membolakan mata milik puteri Hwa.
Apa pria ini menggodanya?
"Bu-bukan, tap-tapi aku merasa gerah saja." jawab Ara.
"Gerah? Apa itu?"
Ara memejamkan mata, khilaf mengucapkan kata di jamannya.
"Itu, itu..... Mmh,, panas, kepanasan." sahut Ara.
Jelas saja dia merasa gerah, hawa di ruangan ini mendadak panas sejak pria itu datang.
Ara tak pernah merasa begini di jamannya, mau setampan dan sekaya apapun pria yang menghampirinya.
Jadi, ia kadang menduga jika reaksi ini pasti dari puteri Hwa.. walau pesona pria ini juga memikat dirinya.
__ADS_1
"Oh ya? Tapi aku tidak merasakan panas sama sekali?" bantah putera mahkota menolak alasan.
"Aisssy sudahlah, oppa mundur geh, aku sungg......"
Sretttt
"Yang Mulia baginda raja." Ara bergegas bangkit kala mendapati kehadiran raja negeri ini.
'Ke mana sih para penjaga pintu ini, perasaan dari tadi yang masuk kagak ada yang ngebunyiin deh.' heran Ara membatin.
Untung saja adegan romantis sudah selesai, dan sikap Ara sudah siap normal kembali.
Baik ia dan putera mahkota memundurkan tubuh untuk duduk menghadap raja.
Pria tua berbaju merah dengan naga sebagai gambar sulamannya mengambil alih bantalan tempat duduk puteri Hwa.
"Apa kabarmu, puteriku." sapa raja pertama kali.
Ara terjengkit, tak menyangka dirinya di sapa duluan.
"Baik Yang Mulia." jawab Ara lembut.
"Bagaimana dengan ayaaa, eh, baginda raja maksudnya." nyaris saja mulut ini meloloskan kata panggilan ayah. Ia menepuk pelan bibir khilafnya.
"Hahahahhaah, tak masalah anakku, jika kau mau memanggilku..... Ayah." ucap raja membisikkan kata terakhir sembari mengedipkan matanya.
"Hah??!!" Ara cengo dengan kedipan dari raja.
Apakah dua beranak ini memang hobi menggoda wanita?
Ara lama-lama keder, ini mah versi tuanya putera mahkota. Ganteng maksimal di usia senja.
"Kau bisa memanggilku ayah ketika hanya berdua atau seperti ini, puterikum" jelas raja mendapati puterinya seperti bingung.
"Apa kalian ada rencana malam ini?" pertanyaan tiba-tiba itu, membuat keduanya saling bersitatap.
Dan menggeleng bersamaan.
"Baguslah." ucap raja menganggukan kepalanya dua kali.
"Ada apa baginda raja?" tanya putera mahkota yang mewakili tanya Ara pastinya.
"Bagaimana kalau kita melakukan hobi kita bertiga seperti dulu?"
Ara tak paham.
"Ho-hobi, ayah?" balik Ada bertanya.
Putera mahkota melirik puteri Hwa yang tampak tak mengerti.
Baiklah, mungkin karena peristiwa itu ia masih menderita kebingungan, pikirnya.
"Bertualang bersama, puteri Hwa." jawab putera mahkota
"Bertualang?" sama persis seperti ajakan putera mahkota sebelumnya, dan kini jelmaan raja kerajaan Jehwa ini, melakukan hal serupa.
Bertualang gimana atuh???
Ara kan jiwa tersesat, belum banyak tahu kebiasaan di sini.
Apa maksudnya mereka akan melakukan perjalanan ke pegunungan, ke istana lainnya, ke Ming atau... ke pantai.
Terka Ara satu persatu.
__ADS_1
"Bertualang bagaimana, ayah?" tanyanya kemudian.
.
.
.
.
.
.
"Oo berkeliling ke luar istana maksudnya." gumam Ara kala dirinya kembali sendirian lagi di ruangannya.
"Tapi... Kok kagak enak ujungnya ya." monolognya sendiri.
Mengingat pembicaraan mereka bertiga sebelumnya.
"Karena sebentar lagi kita akan melakukan pemilihan puteri mahkota kembali. Maka setelah ini tentu sulit bagi putera mahkota melakukan perjalanan rahasia bersama kita lagi." jelas raja saat itu.
"Wahhh berarti bakalan lenyap dah babang gue." gerutunya.
"Eh tapi, tapi., gue harus inget ini adeknya, kita keluarga, tak baek." lanjutnya mengingat.
"Toh gue kan dijodohin sama pangeran Sin, alias oppa Hoon kesayangan gueeee." senyum sumringah terbit seketika kala membayangkan kehadiran tak terduga di dunia ini, pangeran berkuda putihnya, babang Hoon dalam wujud seorang pangeran negeri seberang sana.
"Eh, tunggu....." Ara sontak teringat hal lain.
"Kalau pemilihan puteri mahkota, itu artinya...... Gue bakalan ketemu sama si julid anaknya mang menteri Kim itu." wajahnya mengeluarkan seringai lebar.
Seolah bahagia bertemu rival keduanya.
"Puteri, ada puteri Ara datang mengunjungi anda." sayup suara dayang di luar pintu menelusup pendengaran puteri Hwa yang asyik berkhayal.
"Masuk." sahut Ara, merapikan penampilannya yang lagi-lagi tampak semrawut setelah rebahan tanpa alas.
Pokoknya jangan sampe ntar puteri Hwa balik tuh tubuh kena encok dan asam urat ya prul.
Srettt
Pintu terbuka dengan wanita baya dengan kecantikan seorang wanit cerdas.
Ara bangkit mengganti posisi.
"Ada apa bibi kemari?" tanyanya setelah duduk nyaman.
"Sebentar." puteri Ara menarik telapak tangan, menyuruh Ara diam.
Karena. Tanpa mereka pinta, jamuan datang, dan diantara para dayang itu, ada dayang An di sana..
Ikut membawa baki berisi hidangan.
'Dayang Han kok lama banget sih peginya.' cetus Ara dalam hati akan dayangnya yang diminta melakukan misi rahasianya.
"Silahkan di......" belum selesai, Ara menarik lagi baki yang dipegang salah satu dayang.
"Kalian benar-benar lupa dengan apa yang pernah aku ucapkan, huh??!!!" delik Ara pada ketiga dayang di hadapannya.
Menyusun asal hidangan itu kembali di atas baki lalu menutupnya kasar.
"Bawa keluar baki ini, atau aku akan membawa kepala kalian yang keluar!!!!" sentak Ara membuat semuanya tercengang, tapi tidak pada dayang An.
__ADS_1