100 Hari Menjadi Puteri Joseon

100 Hari Menjadi Puteri Joseon
Wine


__ADS_3

'Di mana ini' batin puteri Hwa menatap ruang gelap gempita itu.


Tubuhnya mematung, namun justeru menjadi petaka baginya.


"Auwwwww." jeritnya, meringis sakit kala tubuh Ara tertubruk tubuh yang tak jelas siapa pemiliknya.


"Auwww." tak mampu berdiri, karena tak paham situasi, belum lagi, gelap dan......


"Hai cantik... Kenapa di sini." suara bass seorang pria menyapa pendengaran puteri Hwa, samar ia melihat, raut pria itu, jelas tak senonoh menatapnya.


"Mau saya bantu, sayang." tanpa permisi, tangan kurang ajar itu menyentuh punggung mulus Ara, membuat puteri Hwa kontan menjerit.


"Arrghhhh." jeritnya keras, namun nihil, suaranya kalah dengan pekik musik di club malam itu.


"Tenang saya...." belum selesai pria itu mengucapkan kata-katanya.


Tanpa perhitungan, puteri Hwa menepis kasar tangan liar itu, dan bahkan ia mendorong keras tubuh pria yang meskipun cukup lumayan tampan, tapi kekurang ajarannya menjatuhkan nilai manusia seperti itu minus dobel.


"Wawww. Kau ternyata suka kekerasan ya." decak pria itu mendekati tubuh Ara tempat Puteri Hw bersemayam.


"Jangan berani mendekat." ancam puteri Hwa siap berdiri.


Ketika tubuh itu sudah setengah berdiri, cepat tangan pria itu menggapai tangan Ara.


Tapi....


Brakk!!!!!


Riuh kegiatan para manusia di club malam mendadak berhenti, menyisakan musik yang pelan ikut berhenti.


Hening.


"Dasar Jal--ng!!!" pekiy pria itu marah. Menatap tubuh Ara yang sudah menendang keras tubuhnya hingga mendarat di meja tempat para muda-mudi tengah bercumbuu dengan pasangan.


"Oho!!!! Kau bilang apa????? Dasar priaa tak tahu di unt....."


"Hah!!" puteri Hwa langsung tersentak ketika mendapati lengannya ditarik paksa sosok dari belakang tubuh ini.


"Waaah nona ini, bukankah, kau,,, Ara???" pria lain muncul mencekat lengan mulus milik Ara. Membuat jiwa yang merasuki tubuh itu mendelik tak suka.


"Siapa kau. Lepas!!!" hardik puteri Hwa tak suka.


Satu pria lagi muncul menilai dirinya.."Benar, dia si bintang idola kita. Gadis cantik yang sudah membuat banyak pria patah hati karenanya." sambung pria baru itu.


"Lepas!!! Atau jika tidak..." ancam puteri Hwa bersiap. Sumpah!!! dia enggan memberi peringatan lagi kali ini.


"Oh ya, kau mau apa? Hayo, hayo sini." pria itu malah balik menantang, membuat puteri Hwa dengan senang hati menerimanya.


"Hei, kau lupa apa, dia itu jago thai boxing, kau tak lihat teman kita tadi?" bisik temannya yang lain. Memperingatkan jika gadis yang ditantangnya bukan gadis lemah seperti lainnya.


"Minggir kau, kau pikir aku tak bisa mengalahkan kucing cengeng itu?" dengusnya.


"Kucing kau bilang?" puteri Hwa mendengar ucapan lucu itu untuknya.


"Hajar dia, hyung!!!" jerit pria yang sudah terduduk posisinya setelah dibuat terjengkang oleh puteri Hwa tadi.

__ADS_1


Dan, benar saja, pria pengecut itu langsung melayangkan tendangannya tanpa peduli dengan lawan bertarungnya.


Pengecut sekali, bukan?


Cih.


Tapi, bukan puteri Hwa namanya jika tidak bisa menangkis tendangan tak jelas itu.


Ia mendapat predikat perempuan yang mampu beladiri di era nya, meskipun ia melakukannya sembunyi-sembunyi, bersama seorang pelatih yang menjadi tuan Hwang.


Dan..


Tanpa membutuhkan banyak buang-buang waktu dan tenaga.


Pria itu, sudah ikut terjengkang, tak jauh dari posisi temannya tadi.


"Rasakan itu." sembur puteri Hwa. Menoleh ke sisi tempat komplotan pria itu berdiri.


"Maaf Ara. Kami tak akan menyerangmu." ngibrit, itulah kata yang pantas menggambarkan mereka berdua yang sudah berlari mendekati orang temannya yang terjatuh tadi.


"Woy, semprul!!!!" Hana, eih, mirip banget dah kayam sinetron, orang dah kelar dikeroyok, baru dateng.


Macem film mana coba yang datengnya telat??


Di susul pria yang puteri Hwa kenal.


Tuan Kim.


"Apa!!!??" cetus puteri Hwa menatap Hana kesal.


"Orabeoni!!" tanpa aba-aba, gadis itu menubruk keras tubuh kekar milik tuan Kim.


Membuat semua mata menatap tak percaya.


Apa itu kekasih Ara?


Apa itu yang berhasil merebut hati gadis dingin namun ramah itu?


Apa itu prianya Ara, si tukang PHP?


Wahh, pantas saja, pilihannya tak salah.


Pria kaya raya yang pantas diperhitungkan sebagai menantu di seantero Korea.


Pemilik K-G Corporate. Kim Hee Sin.


Hana pun begitu, ia ternganga oleh tindakan sahabatnya itu.


Selama ia bersama Ara, yang memeluk tubuh gadis itu sebagian besar adalah para pria. Ia hanya membalas sebentar.


Tapi ini?


Jelas Hana menaruh rasa bingung serta penasaran, apa iya jika Ara terperangkap oleh pesona pria itu? No, jelas bukan!


"Aku marah sekarang." bukan isakan yang harusnya mereka dengar, namun gerutuan kesal yang dilontarkan gadis itu.

__ADS_1


Tuan Kim tak bisa berkutik, ia tak bingung harus bagaimana dengan pelukan mendadak ini.


Terlebih, ia dan Ara, belumlah saling mengenal.


"Ayo. Sudah ah, malu tauk." Hana menyelamatkan degub jantung sialan milik tuan Kim.


Hana menarik tubuh Ara mundur, melepas pelukan itu.


"Ayo kita masuk." Hana merangkul tubuh Ara menuju sebuah tangga menuju sebuah ruangan bertuliskan VVVIP. Kelas 1 dan paling mahal di club malam itu.


"Kita di mana.?" tanya Puteri Hwa bingung mendapati ruangan biru lembut kini menyapanya, meski tidak terang namun tidak seredup ruangan di bawah tadi.


"Ini tempat tertenang di sini. Bukankah kau selalu mengimpikan masuk ruangan ini, huh?" tanya Hana menyikut lengan Ara dengan mata jahil.


"A-aku? Kapan?" puteri Hwa tak merasa mengucapkan hal itu, kemari saja baru ini.


Oh ya, mungkin si pemilik tubuh.


Si Ara.


"Ayo duduk." tuan Kim sudah duduk di kursi utama, menuangkan segelas air lalu menyodorkannya pada Ara.


"Tadi kau kemana?" Puteri Hwa yang selesai mereguk air putih segar itu, menatap Hana penuh selidik.


"Kupingmu semenjak sakit, juga ikutan sakit, ya? Gue tadi kan udah kasih tau pas masuk, terus mana hp Lo?" cerocos Hana tak terima jika dituduh meninggalkan sahabatnya itu.


"Aku tak dengar, tempat tadi begitu memekakkan telingaku, belum lagi lampunya banyak yang mati." jelas puteri Hwa memberi alasan.


"Heh?" sahut Hana tertegun.


Macam baru pertama kemari saja. Padahal mereka nyaris tiap malam kemari.


"Kau benar-benar sakit rupanya." dengus Hana, meraih sebuah gelas piala ramping, dan juga botol berwarna bening, menampilkan cairan ungu .


Menuangkannya pelan. Penuh keanggunan.


"Lo mau juga?" tawar Hana ketika mendapati sahabatnya tengah menatapnya lekat.


"Apa itu?" tanya puteri Hwa penasaran. Di tempatnya, tak pernah sekalipun ia melihat beragam minuman berwarna seperti itu, apalagi dengan kemasan berupa botol kaca berbentuk unik,


Ah, mungkin apa karena dirinya tidak gaul sama sekali?


"Ini, wine, wine terbaik yang akan Lo minum." jawab Hana.


Mengambil satu gelas lagi, lalu menyodorkannya.


"Cheers!!" Hana mengangkat gelasnya, ditiru puteri Hwa.


Lalu berangsur mereguk habis.


Enak!!!


Gambaran rasa yang dicicip puteri Hwa.


Selanjutnya...

__ADS_1


"Aku mau lagi... Wine itu."


__ADS_2