
Ara dengan cekatan. Menggoreskan make up pada wajah salah satu geng sepupu puteri Hwa.
"Bisakah, kau diam dan tenang Puteri Hwi. Aku akan hentikan jika kau masih tidak mantap." Ara kesal, puteri Hwi yang ia tengah dandani kenapa tak tenang sedikitpun. Sesekali ia mencari bayang dirinya di depan cermin, sesekali melempar pandangannya kearah 2 sepupunya yang lain. Hingga, Ara yang menjadi korban kegondokkannya.
Ia butuh konsentrasi woyyyy!!!!
"Mantap?? Apa itu, puteri Hwa?" mata puteri Hwi berkedip-kedip bingung mendengar kata asing menurutnya.
Double kesal.. Ara merutuki bibirnya yang kini harus menjelaskan juga artinya pada gadis labil ini.
"Tenang." jawabnya datar. Membuat alunan chord bersamaan 'oooo' dari tiga bibir gadis di ruangan itu.
"Bagaimana, Puteri Yi dan Mi?? Apa aku sudah terlihat cantik???" tanya puteri Hwi tak sabar.
"Belum terlihat cantik, tapi.. Wajahmu mulai bersinar, puteri Hwi." puteri Mi memberi komentar jawaban yang diangguki oleh puteri Yi sebagai pendukungnya.
Kembali bertingkah, "Oh ya? Aku sudah tak sabar. Bisakah lebih dipercepat, puteri Hwa, aku ingin melihat hasilnya." buru puteri Hwi.
Ara, tangannya begitu gatal, ingin menggeplak kepala si puteri di depannya ini. Apa dia lupa? Bukankah dia yang memaksanya tadi meminta di make over? Dan apa dia lupa? Siapa yang tengah diperintahnya kini? Hwa itu puteri raja.. Adiknya putera mahkota sang calon raja? ini alien lupa apa, huhh???,,!!!!!
FLASHBACK ON
"Puteri Hwa!!!!" rengek tiga suara gadis yang menjadi tamu menyebalkannya hari itu.
Padahal moodnya baru saja tengah terisi setelah sempat mengeluarkan kekesalannya dihadapan permaisuri tentang dayang Han. Dan ketika hatinya sudah mulai rileks. Makhluk Tuhan yang bentukkannya ginian, kenapa harus datang ke kediamannya. Dari semua bangunan yang berpuluh-puluh di istana ini, kenapa harus tersesat di sini?
Oh God! Sabarkan Ara.
Ara berpura-pura menuli akan rengek lebay itu. Ia kenal betul, itu hanya sifat manja anak bangsawan yang keinginannya harus dituruti.
Tapi, ayolah... tubuhnya seakan menolak untuk bersabar. Berkhianat akan hipnotis otaknya agar jangan dengarkan, meskipun kini tangannya mengibaskan agar menyuruh mereka diam. Menghentikan tangis menjijikkan itu.
"Kau, kau mau kan??" puteri Yi merangsek maju mencondongkan tubuhnya pada meja yang menjadi pembatasnya dengan puteri Hwa.
Ara hanya berdeham.
"Betulkan? Kau tidak berbohongkan?" kali ini puteri Mi yang memutari meja dan mendekat pada tubuh puteri Hwa. Bersiap meraih tangan, namun Ara sudah membaca gerak itu hingga ia segera menarik tangan puteri Hwa dan mengarahkannya pada rambut di dekat telingannya yang rapi itu.
Dan puteri Hwi, yang masih duduk di tempat, berdiri tegak. Bersorak.
__ADS_1
"Yeahh.!" teriaknya histeris, hanya beberapa detik, karena ia langsung menyadari tingkah konyolnya, dan kembali bersikap anggun sebagaimana seorang puteri bangsawan harusnya.
Cihhh!!
"Tapi, ada syaratnya.." Ara menginterupsi tiga orang menyebalkan itu.
Menatap puteri Hwa bersamaan. Intens, lekat, fokus.. Menunggu.
"Tidak perlu seperti itu juga melihatku." gerutu Ara, biasa ajalah gak usah segitunya menatapnya. Jengah juga.
Mereka mengangguk manis, bak anak anjing lucu.
"Pertama, jangan memprotes apapun yang aku lakukan.." Ara menjeda. Menunggu persetujuan yang langsung tanpa membutuhkan waktu lama dianggukkan mereka bertiga.
oke, next.
"Kedua..." Celetuk puteri Mi.
Ara menatapnya menyipit, hingga cengiran terbit di bibir puteri Mi.
"Kedua, jangan mengganggu apapun yang akan aku lakukan. Aku butuh waktu berkonsentrasi." Lanjut Ara yang kembali diiyakan mereka bertiga.
"Ada lagi, puteri Hwa?" cetus puteri Yi kali ini, membuat Ara mencebikkan bibir. Ia sedang berpikir, jangan diganggu.
Berdeham keras, Ara bersuara lagi "Terakhir,... Apapun hasilnya, tolong, jangan bertingkah berlebihan,." Lanjut Ara, menatap satu persatu wajah ketiga puteri di dekatnya.
"Setuju?" Tawar Ara, yang tentu saja kembali di setujui mereka, segera meraih telapak tangan puteri Hwa yang Ara ulurkan. Berjabat tangan bersamaan.
Ara menghela nafas kasar. Ia bertanya pada semua organ tubuhnya, benarkah keputusannya ini? Atau justeru menjerumuskannya pada kesalahan?....
Dan hal itu...
Tentu ia rutuki sekarang setelah.
FLASHBACK OFF....
PROTES yang tengah disampaikan puteri Hwi sebagai media uji coba membuktikan kebenaran akan make over Ara, ya, orang ini baru saja memprotes, memburu Ara agar cepat menyudahi riasannya.
Dan tentu saja itu mengiringi untuk melanggar perjanjian yang kedua. MENGGANGGU kegiatan yang butuh konsentrasi itu, dengan kerap menggerakkan wajah, senyam-senyum sendiri, tak jelas sekali. Dan terkadang ikut bersuara serta menyentuh perlengkapan make up yang Ara gunakan.
__ADS_1
Menanyakan ini apa lah, itu apa lah, dari apa lah, dapat dari mana lah... Ara pusing!!!!!!!
Dan kini.... Perjanjian ketiga itu, menjadi pelengkap pelanggarannya..
Dengan... BERLEBIHAN
Manakala. Ia melihat hasil perbuatan Ara terhadap wajahnya.
Mengerutkan alis, mengerucutkan bibir. Terdiam sejenak, dan bersorak kembali.
Bersamaan dengan dua puteri yang lainnya. Yang juga berseru senang melihat sepupunya sudah sangat cantik saat ini.
"Puteri Hwi,!!!" itu teriakan puteri Mi yang segera menghambur ke tubuh puteri Hwi.
"Aku cantik sekali bukan, puteri Mi??" tanyanya yang mendapat anggukan setuju dari yang ditanya.
"Kau sangat cantik sekali!!!" kini puteri Yi yang merangsek pada obrolan lebay itu.
"Iya, aku tak percaya dengan gosip yang mengatakan bahwa tak satupun dayang yang menghias wajah puteri Hwa..." Ujar puteri Hwi.
"Setelah kita membuktikan langsung kebenaran itu, iya kan?" Lanjutnya bertanya yang lagi mendapat gerak kepala mengangguk dari kedua sepupunya.
Tanpa Ara duga. Kini..
"Terima kasih, puteri Hwa!!!" Ara mendapat hantaman keras pada tubuh puteri Hwa yang pelakunya adalah si media make upnya tadi. Puteri Hwi.
"Kau, kau benar-benar, sangat pandai membuat wajah menjadi cantik, tanpa perlu bantuan dayang sekalipun." pujian, yang itu jelas pujian yang keluar dari lambe sepupu puteri Hwa, meskipun lebay kedengarannya, namun Ara merasakan jika itu tulus tanpa dibuat-buat.
"Iya, sudah ya, lepas gih." Ara berusaha memundurkan tubuhnya yang menempel dengan gadis ini. Ya kali kalau putera mahkota yang meluk, Ara mah oke oke aja tujuh hari tujuh purnama.
Wajah suka cita itu, adalah pemandangan yang jengah sekali ia lihat.
"Kalian, padahal di awal sudah..." Ucap Ara memecah sorak sorai itu. Namun ia hentikan. Percuma, mereka gadis labil yang wajar jika menggilai suatu hal yang bernama keindahan, terlebih jika hanya mereka yang menggunakan. Kesan ekslusif kental menempel rasanya.
Ara hanya menghela nafas lagi, sudahlah, toh tidak apa-apa membantu orang untuk terlihat cantik. Toh di dunia sana, ia kan memang melakukan hal demikian, menyalakan akun sosmednya, sembari memberikan tutorial cara menjadi cantik, dengan bahan mahal atau yang sifatnya bisa dicari di rumah dan murah.
Oke, tak apa sesekali ia membahagiakan orang di sini kan,,, tidak akan dua ka...
"Puteri Hwa, sekarang gantian, buat aku secantik puteri Hwi ya?" Suara itu, suara yang menjeda pikiran Ara untuk tidak melakukan dua kali.... Kini meluncur manis tanpa embel embel basa-basi dari bibir puteri Mi. Membuat Ara bergidik horor. harapannya bahkan belum selesai ia ucapkan, dan disambung dengan yang sempat jadi objeknya pengharapannya.
__ADS_1
Ara rasanya butuh pintu doraemon, sewa boleh deh barang sehari buat mindahinnya dari ruang berisi geng labil.