
"Lapar?" tanya Hana membolakan kedua biji matanya seketika.
Puteri Hwa mengangguk yakin.
Ia belum pernah menelan makanan yang seenak di dunia ini kala di istana.
Yakinlah. Santapan yang dihidangkan di tempat ini, semua begitu menggugah air liurnya.
Padahal jika dilihat dengan mata kepala saja, ia yakin makanan ini tidaklah semewah di istana.
Kekuatan micin tuh.
"Cepatlah, aku lapar sekali." dengan santainya ia memberi perintah pada Hana yang kini mengerjapkan matanya.
Apa ia terlihat seperti ijah?
Eihhh, gak lah.
"Ambil sendiri sana, aku tidak ada banyak waktu melayanimu, tuan puteri." Hana menarik dirinya dari kursi, berdiri dan menyedekapkan kedua tangannya di dada.
"Cih, perhitungan sekali." keluh puteri Hwa menatap Hana menyipit.
"Aku sibuk, pekerjaanku kali ini tidak bisa dilakukan dari jauh, aku harus datang ke kantor." jelas Hana akan alasannya.
Semenjak Ara dinyatakan kembali sadar dari koma kedua, ia mendeklarasikan dirinya untuk merawat sahabatnya itu hingga bisa diyakinkan bisa mandiri, minimal di apartemennya sendiri.
Maka dari itu ia meminta asistennya untuk menghandle pekerjaan dan mengawasi beragam desain yang dirancang karyawannya melalui video atay chat saja.
Tapi kali ini, entah kenapa kantornya mendadak membutuhkan kehadirannya tanpa bisa diwakilkan sama sekali.
"Kantor? Kerja?" ulang puteri Hwa bingung.
"Iya, aku kan desainer,...."
Krik krik krik
Hanya tatapan polos tak paham yang dibalas lawan bicara Hana.
Ia menepuk dahinya pelan.
Apakah..
"Apakah kau tidak tahu juga apa itu.... Desainer?" tebak Hana tak yakin.
Tapi pertanyaan itu kembali membuatnya tercengang.
Ara mengangguk perlahan.
Dan Hana menggigit bibir bawahnya dan menatap selidik terhadap Ara.
"Ya Tuhan... Ara." ucapnya meringis.
"Seberapa parah sakitmu sih? Segitunya bangey ya." lagi, ucap Hana mengurut dadanya.
Padahal dengan sangat jelas sekali, bahkan ia mengikuti pemeriksaan ulang untuk menyakinkan dirinya bahwa hasil yang ditunjukkan dokter benar adanya.
Bahwa Ara, sama sekali tidak mengidap amnesia atau apapun yang berkaitan dengan gangguan ingatannya.
Hanya cidera, tapi bukan fatal.
Tapi lagi-lagi...
"Desainer itu, orang yang membuat pakaian." singkat Hana memberi pengertian tanpa panjang kali lebar.
Puteri Hwa berpikir sejenak.
Dan..
"Ooo, penjahit." gumamnya mengartikan maksud Hana akan desainer.
"Penjahit??? Mmmhh, bisa juga." sahut Hana menyetujui pemilihan sederhana yang diucapkan Ara itu.
"Baiklah, aku harus segera bersiap. Dan kau... Itu..." Hana mengalihkan pandangannya yang diikuti puteri Hwa.
__ADS_1
Benda berwarna putih yang tengah menyala berwarna biru.
Pemanas nasi.
"Itu tempat nasinya. Kau, ambil sendiri, ya?" Hana tanpa perlu menunggu jawaban sahabatnya bergegas melangkahkan kakinya, ia diburu waktu setelah melihat chat barusan dari assistennya.
Meninggalkan gadis yang mengenakan gaun selutut berwarna biru muda dengan aksen pita.
Entahlah, Hana saja bingung dengan Ara yang menolak pakaian yang ada di dalam lemarinya sendiri. Padahal bukankah gadis itu biasa mengenakan pakaian mini seperti hotpants dan kaus tanpa lengan jika berada di apartemen.
Sebenarnya gadis itu juga menolak dengan gaun apapun yang ada di atas mata kakinya. Katanya ia malu, ketika bertemu tuan Kim, ia tak kuasa hendak berlari karena malu dengan gaun selutut.
Bahkan dengan entengnya meminta Hana memberinya pakaian berupa HANBOK,.. Ya, kalian tidak salah membaca. Hanbok, pakaian yang menjadi ciri khas orang Korea, era dulu, memang sekarang masih di gunakan, tapi ketika ada acara tertentu, pun kalau dipakai sehari-hari. Itu hanya berlaku untuk para lansia.
Sementara Ara? Ia kan generasi milineal.
"Aku berangkat ya." Hana bergerak cepat mencapai pintu depan.
Sepertinya memang benar, ia diburu waktu.
Meninggalkan puteri Hwa yang juga sudah berhasil mencapai benda yang tadi ditunjuk Hana.
Berkerut dahinya menatap benda yang merupakan cooker itu.
"Benda apa ini?"
"Itu tempat nasinya, kau ambil sendiri ya."
Terngiang kembali ucapan Hana tadi yang mengatakan jika nasi yang dimintanya ada di dalam benda ini.
Diketuknya.
Keras.
"Di mana nasinya?"
"Kenapa kecil sekali tempatnya.?"
"Dan,......"
Dingin.
"Aku lupa menanyakan pada Hana." keluhnya menyesal.
"Bagaimana caranya aku mendapatkan nasi dari benda keras ini?"
Termenung sembari menatap lekat.
Diketuknya.
Dan menaikan intensitas ketukannya.
Klik!
Ow ow ow!!!
Congratulations congratulations gongju.
Cooker itu akhirnya terbuka ketika tanpa sengaja ia berhasil menyentuh tombol digital untuk membukanya.
Melongo ke dalam cooker.
"Wah!!! Ada nasinya." pekiknya riang.
Dan tanpa ba bi bu.
Ia meraih handel pintu kecil yang ada di belakang kepalanya.
Tempat Hana menata perabot makan.
Mangkuk kecil.
"Rumah ini, kenapa semuanya berwarna putih ya benda-bendanya." gumam puteri Hwa.
__ADS_1
"Dan, kenapa hebat sekali nasi tetap hangat di dalam benda tadi." mencari sendok.
"Tidak perlu menghidupkan api untuk memasak nasi seperti di Joseon."
Penuh inisiatif mandiri, puteri seorang raja itu melakukannya sendiri berdasarkan yang sering ia perhatikan jika Hana mempersiapkan hidangan.
Berhenti di depan lemari pendingin dua pintu.
"Dan benda ini juga...." pandangnya
"Bisa mengeluarkan air dingin dan es batu dari sana." ucapnya penuh rasa kagum.
Menoleh pada benda lain di sisi lemari pendingin.
"Dan satu lagi, ini." tunjuknya pada, kompor.
"Kenapa hanya dengan menyentuhnya saja, bisa mengeluarkan api dari sana." tatapnya
"Bangunan ini begitu aneh, mampu memberikan hal yang perlu usaha keras jika ingin mendapatkannya di Joseon."
Melangkah menuju meja makan kembali dengan cola kaleng di tangannya.
Padahal masih pagi woy.
"Hmmmmmmmm." ucapnya dengan tubuh bergidik selepas meneguk cola.
"Aku juga suka dengan minuman ini selain wine atau alkohol itu."
"Minuman ini terasa menggigit lidah."
"Makanannya pun lezat-lezat. Mengalahkan masakan dayang yang selalu mengantarkan ke bangunanku." pujinya pada hidangan.
Bersiap menyantap nasi dan sup hangat berisi potongan daging, sayuran, tahu, serta agak pedas sepertinya.
Klik.
Suara handel pintu depan berbunyi.
Satu suapan berhasil masuk ke mulut.
Tanpa memperdulikan siapa yang kini sudah berdiri menatapnya.
Tajam
Prok prok prok.
"Wahhh!!!" suara wanita menyeruak di pendengaran puteri Hwa.
Gadis yang tengah asyik menyantap sarapannya itu menoleh dengan wajah datar.
Tak peduli.
Mungkin teman Ara, pikirnya.
"Kau masih hidup rupanya. Bahkan bisa memakan makanan itu dengan santai." lantang suara perempuan itu mendekat kearah puteri Hwa.
Tetap bergeming.
Hingga
Brak!!!!!
Sendok yang tengah digenggam beserta cola miliknya bergeser dan jatuh sakin kerasnya orang itu menggebrak meja yang menjadi tumpuan puteri Hwa untuk makan.
"Kau kenapa?" tanyanya masih tanpa rasa curiga.
Menarik kasar pundak Ara hingga tubuh itu dipaksa berdiri.
Dan yang ditarik pun menghempas lebih keras.
"Kau kenapa, dan siapa, hah!!!" delik puteri Hwa pada gadis seksi penuh kemewahan itu.
"Kau lupa siapa aku?" tanya balik tamu tak diundang itu.
__ADS_1
Puteri Hwa tak gentar.
"Kau sepertinya perlu diingatkan lagi, siapa aku, Ara."