
"Hei, nenek!!!" Panggil Ara tak terima mendengar penjelasan barusan.
"Kenapa???! Kau tak terima?" seolah paham akan demonstrasi gadis yang kini sudah berkacak pinggang di hadapannya.
"Oohh jelas, jelas sekali gue gak terima." keluhnya.
"Masa', masa'..." menarik netranya lurus pada puteri Hwa.
"Dia, dia enak banget bisa duduk manis di sini." tunjuknya pada puteri Hwa yang menatapnya balik.
Nenek hanya mengangguk-angguk mendengar keluhannya.
"Nek!!!!" panggil Ara merajuk, mendapat reaksi anggukan tadi justeru...
"Lanjutkan, aku mau dengar, bukankah kau pun begitu, puteri Hwa." membaringkan tubuhnya dengan tangan sebagai penopang. Santai.... Pun puteri Hwa mengikuti hal serupa.
"Ya Tuhan!!!!, kenapa gue terikat takdir gini sih!!!" desisnya
Menoleh bolak balik pada dua orang yang seolah menonton pertunjukkan dengan dirinya sebagai pelakon.
"Pokoknya, gue gak terima. Puteri Hwa enak banget tinggal nungguin hasil kerjaan gue. Sementara di sana, di sana...." Ara mendramatisir dengan menunjuk ke bawah seolah Joseon ada di bawah telapak kakinya.
"Ada apa di sana.???" tanya si nenek berlagak pilon. Menambahnya dengan.... "Apa kau tahu apa yang ada di bawah sana, puteri Hwa???" lanjutnya ke puteri Hwa.
Pun sama, puteri Hwa menggaruk kepalanya bingung, "Tidak tahu, nek." jawabnya pelan.
"Arrghh, kalian berdua, SAME!!!" sebal Ara.
Tak lama ucapan itu keluar, tawa menjadi pengiringnya.
"Hahahaahhaah." dua orang yang masih berbaring santai itu, menguarkan tawa menanggapi keluhan Ara.
"Pokoknya, gue sebel." gerutunya, lagi.
"Nenek tak adil."
"Dan kau.... Puteri Hwa, akan aku pacari kakakmu itu, dan aku akan merebut kerajaan ayahmu." lanjutnya menunjuk puteri Hwa.
Sang puteri mengulum senyum mendengar pernyataan yang serupa dengan ancaman.
"Kau, kau tersenyum???"
"Lakukanlah kalau begitu, aku tak akan mencegahnya, Ara-ya." sahut puteri Hwa menanggapi Ara.
"Wahhhh,,, kau, kau...." Menggelengkan kepala tak percaya.
"Kau belum tahu puteri Hwa, Ara. Lakukanlah banyak hal yang menurutmu perlu. Dia akan menerimanya." Tambah si nenek.
"Kalian berdua, memang luar biasa." Ara menepuk tangan.
"Di paksa masuk ke dalam tubuh yang gue gak kenal, sementara jiwanya duduk manis di sini."
"Dan gue, gue harus tertidur di saja."
"Dan tubuh gue seperti yang katamu tadi, juga..."
"Juga...."
__ADS_1
"Juga merasakan dampak buruknya jika aku terluka di Joseon sana??" lirih Ara mengulang, dan diangguki si nenek.
"Itu tak adil, nek!!!!" gerutunya, lagi.
"Lalu, aku harus apa, Ara?? Apa yang mau aku lakukan??" nenek merespon santai, mengorek telinganya dengan batang ilalang yang entah dapat darimana.
Ara menatap serius.
"Gue, gue, gue mau, puteri Hwa yang mengisi tubuhku sekarang."
"Gue mau dia juga ngerasain gimananya berjuang di tempat yang gak di kenalnya." Lanjut Ara.
Nenek mengangguk kembali. Sementara yang diperbincangkan hanya menatap datar.
"Puteri Hwa." panggil nenek selesai si bar-bar berceloteh.
"Iya, nek." jawabnya lembut.
"Bagaimana? Apa kau bersedia masuk ke dalam tubuh orang itu." bisik nenek tapi....
"Orang itu??? gue bisa dengar nek!!!" ucap Ara gemas.
"Hehe... Maaf geizz." sahut si nenek.
"Bagaimana? Kau bersedia?" ulang si nenek pada puteri Hwa.
"Kenapa nenek harus meminta persetujuan puteri Hwa?? Sementara ke gue, kagak ada deh kayak gini dulu." sambar Ara merengut.
"Kapan aku tak mengajukan hal demikian, Ara.?" tanya nenek.
Bagaikan slide bergerak... Melihat potongan-potongan kilas balik dirinya saat itu... Di tempat yang sama mungkin...
"Bantulah Hwa keluar dari dunia gelapnya. Selama 100 hari, kau akan terus di sini sampai Hwa kembali."
Ara melihat dirinya tertegun, ia yakin kala itu tentu saja tak paham, kenapa tahu-tahu terperangkap dalam tubuh orang lain, pun di era yang berbeda.
"Kenapa harus aku?"
"Kau seharusnya meninggal Ara, kau ingat apa yang terjadi dengan tubuhmu, di dunia mu sana. Kau sekarat sekarang Ara."
Ia kini bisa melihat ekspresi wajahnya tercengang. Siapa yang tak akan memasang muka gitu coba? Thor?
"Kau sekarang berada di rumah sakit, terbaring koma. Kau baru bisa kembali jika selesai membantu Hwa di sini."
Ya, ia ingat, dirinya memang terbaring di ruangan berbau obat menyengat itu. Karena ia pernah sempat kembali ke sana, meskipun pada akhirnya ia harus kembali lagi ke Joseon dengan tak rela tentunya.
"Lalu, kalau aku tidak berhasil, bagaimana dengan diriku.?"
"Maka kau akan meninggal, begitu pula dengan Hwa. Kalian akan akan sama-sama meninggal."
Menatap cermin dirinya yang lagi lagi... terkejut, bahkan wajahnya pusat pasi mendengar kalimat tersebut.
"Bagaimana Ara,? Apa kau bersedia membantu Hwa dan keluar dari sini lalu hidup kembali di duniamu sana?" Tanya si nenek, seolah memberikan penawaran pada Ara.
Ara menoleh, dengan kepala yang dianggukan keras. Ia menjawab, "Iya, aku, aku siap dan aku mau." Jawab Ara Yakin.
"Baiklah Ara, berjuanglah kalau begitu."
__ADS_1
"Bagaimana? Bukankah kau juga pernah diperlakukan yang sama, Ara?" ujar nenek ketika bayangan itu pelan menghilang. Menyadarkan Ara bahwa, konsekuensi penerimaannya kala itu bukanlah kebohongan semata.
Dan mempertegasnya menjadi, TIDAK ADA YANG GRATIS DI DUNIA MANAPUN, bahkan di alam maya pun begitu.
"Iya, ya, aku ingat." sahut Ara membuang muka.
"Tapi, kini giliran dia juga dong yang ikut dalam permainan mu, nek." lanjutnya, mengingatkan permintaannya.
"Maka dari itu aku nanya ke puteri Hwa, Go Ara." sahut nenek gemas.
"Bagaimana puteri? Bersedia?" ulangnya pada puteri Hwa.
"Baiklah, aku bersedia, nek." jawab Puteri Hwa. Ara menoleh untuk melihat keseriusan itu. Dan tak sedikitpun tertangkap keraguan di sana.
"Oke kalau begitu, jadi kita imbang, bukan?" tanya Ara.
"Aishh, kau saja yang perhitungan, Ara." cibir nenek
"Eihhh, kenapa begitu, bukan perhitungan nek. cuma, cuma, cuma...."
"Cuma apa??"
"Meminta keadilan para dewa akan nasib gue yang kegoncang sana-sini gak jelas."
"Jiwa Gue yang kerja keras, banting keringat, darah, luka sana-sini, dan di sana tubuh gue juga kerja." cerocosnya
"Kalau tugas gue berhasil, bukan nyawa gue aja yang balik, tapi dia juga." tunjuknya pada puteri Hwa.
"Padahal dia nyantai aja di sini." kicaunya
"Maka dari itu, dia juga harus bekerja di sana. Bantu tubuh gue tetap gerak, sebagaimana tubuhnya gue jalankan dengan baik."
"Iya, iya, Ara-ya. Kau, cerewet sekali, sih." puteri Hwa yang selama ini dinilai lembut setahu Ara, menimbrung dengan nada sebalnya.
"Ya Tuhan!!! Kau bilang gue cerewet? Pikirmu kau itu pendiam? Aku tak percaya." balas Ara tak kalah sengit.
"Pastikan jika kau mengurus tubuhku dengan baik di sana. Jangan ada kekurangan sedikitpun, dengar???!!!" delik Ara pada puteri Hwa yang menatapnya dengan mata menyipit.
"Sudah, sudah. Kau percaya saja dengan puteri Hwa, Ara."
"Heleh." dengkus Ara.
"Kan sudah ku bilang, kau belum kenal siapa puteri Hwa, bukan? Maka lihat saja, sebaik apa ia menjaga dirimu di sana."
******
Tap tap tap...
seorang perawat berjalan cepat keluar dari ruangan ICU.
Derap langkah kencang itu, membuat Hana yang terlelap di kursi tunggu terbangun.
Mengucek mata..
"Ada apa, dokter???! Tanyanya ketika gerombolan berpakaian dokter mengarah pada ruangan di depannya. Tempat Ara terbaring.
"Nona Ara, terbangun."
__ADS_1