100 Hari Menjadi Puteri Joseon

100 Hari Menjadi Puteri Joseon
Pertemuan Ara dan Kim Hee Sin


__ADS_3

Ara sudah dibantu oleh Hana untuk berbaring di atas queen size ranjang gadis itu.


Kakinya yang terkena pecahan kaca sudah dibalut sementara lebam yang menghiasi beberapa bagian tubuh juga sudah diberi pereda sakit.


“Kenapa aku di sini?” gumamnya melihat sekeliling yang tampak benar ini memang kamarnya. Apartemennya.


“Sepertinya ada yang salah lagi di sini.” Lanjutnya bermonolog sendiri.


Ceklek


Hana masuk dengan membawa nampan yang entah berisi apa, tak lupa senyum manis gadis itu sudah menghiasi wajahnya sejak pintu dibuka.


Ara hanya menatap penuh rasa tidak percaya.


Ia bingung apakah dirinya berada di mimpi atau nyata kali ini.


Padahal jeritan kerasnya saat di obati Hana tadi sudah jelas membuktikan itu nyata atau halusinasi dan mimpi.


“Kau kenapa?” Tanya Hana sembari meletakan nampan bawaannya tadi.


Ara mencium aroma manis di sini...


“Kau membuat sup labu, Hana?” Ara bergegas bangkit dari posisi baringnya saat makanan kesukaannya terhidang di meja.


Hana tersenyum lega, sangat lega kali ini...


Ara sudah kembali, begitu pikirnya.


“Bantu aku memakannya, Hana. Buruan, laper jadinya.” Pinta Ara pada Hana yang sudah duduk di sisi ranjang itu.


“Bawel.” Cetus Hana yang dijawab Ara dengan cibiran lidahnya.


“Hmmm, aku benar-benar rindu, di sana tak ada yang tahu aku merindukan ini.” Ucap Ara saat sendok berisi sup itu sudah ditarik dari mulutnya.


“Di sana?maksudmu?” Hana bingung mendengar ucapan barusan.


“Ya di sana, Joseon.” Jawab Ara tak peduli.


“Joseon?” sepertinya ada yang salah dengan Ara, baru saja Hana sudah lega, harus menghela nafas berat lagi.


“Kenapa? Kayak beban hidup numpuk banget.” Celetuk Ara yang belum menyadari dampak ucapan sebelumnya.


“Ah, gak, gak ada apa-apa.” Elak Hana, sepertinya Ara belum sepenuhnya sembuh, tapi setidaknya ia sudah ingat apa saja yang menjadi kesehariannya.


“Hei. Mana ponsel gue.” Tanya Ara mengingat benda penting miliknya yang sudah lama sekali tidak bersamanya.


“Nah.” Hana mengulurkan benda pipih milik Ara yang jarang sekali dibawa akhir-akhir ini oleh pemiliknya. Jadi tumben sekali gadis itu menanyakan keberadaan benda itu.


Semua gerak-gerik yang dilakukan Ara tak luput dari perhatian intens Hana.


Lancar, itulah kata yang tepat disematkan pada Ara saat ini. jemarinya begitu lincah bergerak di atas gadget itu. Tak ada keraguan atau bertanya-tanya bagaimana dan apa yangharus dilakukan pada ponselnya.

__ADS_1


Tak lama...


“Hai gengssss, apa kabar kalian semua.” Mengabaikan penampilan, Ara mengarahkan ponsel itu ke wajahnya.


Hana bingung, ngapain itu semprul?


“Ngapain?” tanya Hana penasaran.


“Nyapa fans gue.” Ara menggeser ponselnya dan berbisik menjawab Hana.


“Ooo, tumben.” Celetuk Hana


Hana mendengar bunyi bel pintu di sela Ara sibuk di dunia maya.


Bergegas melangkah mendekati pintu.


Kim Hee Sin? Melihat tampilan layar di sisi pintu.


Ceklek


“Selamat datang tuan Kim. Silahkan masuk.” Hana mempersilahkan Kim Hee Sin masuk. Pria itu membawa bungkusan berupa kotak kecil dengan tulisan susu pisang.


Aihhh pasti untuk di gesrek itu.


“Tapi tuan Kim...” Hana menjeda ucapannya, tak mungkin Ara bisa mendatangi ruang tamu ini dengan kaki yang terluka tentunya.


“Ya, ada apa nona Choi?” Sahut Kim Hee Sin.


“Hah? Apa? Di mana dia sekarang?” paniknya mendengar kabar barusan


Lebai? Mungkin. Tapi entah nalurinya untuk cemas merebak begitu saja.


“Dia ada di kamar. Tadi terpeleset dan terkena pecahan kaca akuarium di kamarnya.” Jelas Hana.


“Nona Choi, apakah aku boleh menjenguk Ara di dalam sana?” tanya Kim Hee Sin memohon izin.


Hana berdiri, “Mari aku antar.” Jawab Hana mengizinkan


Mereka berdua menuju kamar gadis itu.


Sampai di ambang pintu, Kim Hee Sin cukup tertegun akan tingkah gadis itu yang lincah, gerak tangannya, ekspresi wajah cerianya.


“Ara, ada tamu.” Ujar Hana mendekati tempat Ara diikuti Kim Hee Sin di belakangnya.


Ara terbelalak. Melihat sosok yang berjalan mendekatinya.


Kim Hee Sin? Pemilik perusahaan raksasa dan kerap tampil di majalah bisnis itu?


Ara belingsatan, penampilannya tak memungkinkan.


“Kenapa lo?” Hana bingung dengan raut wajah Ara yang gusar.

__ADS_1


“Sini.” Ia mengisyaratkan panggilan untuk Hana dengan gerak telapak tangannya.


Meninggalkan Kim Hee Sin yang masih berdiri, Hana menghampiri Ara yang hendak berbicara pelan padanya.


“Itu,, kenapa pria itu di sini? Kau tahu kan siapa dia?” Ara bertanya dengan nada bicara yang menyiratkan ada rasa ketidak percayaan melihat sosok besar itu di sini, di kamarnya.


“Kenapa memangnya, dia kan sering kemari.” Jawab Hana santai. Toh memang seperti itu kan kenyataannya. Apalagi jika yang Hana tebak, pria itu menaruh perhatian besar pada sahabatnya.


Untung saja belum terendus media, perihal kedekatan mereka, padahal sudah beberapa kali mereka terlibat kebersamaan di dunia nyata.


“Mari silahkan duduk, tuan Kim.” Hana malah melengos tak memperdulikan tatapan Ara yang masih butuh penjelasan darinya.


Pria itu duduk di sisi ranjang Ara. Setelah menaruh kotak minuman kesukaan gadis itu. Setelahnya, menatap Ara lembut, dengan senyum rupawan pria itu tentunya.


“Aku ambil minum dulu ya.” ujar Hana, matanya menangkap tatapan Ara yang menggelengkan kepala agar jangan pergi dulu, atau maksudnya jangan meninggalkannya bersama pria ini.


Tapi Hana, pergi begitu saja.


Yaaaaa!!!! Gimana dong, Ara gugup.


“Apa kau baik-baik saja, Ara-ya?” tanya Kim Hee Sin saat dirinya tinggal berdua dengan Ara.


Ara masih menormalkan otaknya, lalu mengangguk sebagai jawaban.


“Apa perlu ke rumah sakit saja? Siapa tahu nanti infeksi.” Ujar pria itu lagi.


“Tidak perlu tuan, saya baik-baik saja.” Jawab Ara.


“Tuan?” Kim Hee Sin tertegun akan pemilihan kata Ara kali ini.


“Iya. Tuan Kim Hee Sin, kan?” sahut Ara.


“Ahhh, begitu.” Kim Hee Sin segera sadar juga. Mungkin Ara tengah lupa lagi sepertinya. Toh sudah bukan hal aneh jika gadis itu selalu melupakan sekitarnya setelah insiden yang melukai tubuhnya.


“Apa ada hal yang perlu kita bicarakan, tuan?” dengan kata-kata tersusun secara formal, Ara berbincang dengan Kim Hee Sin.


Ara tahu siapa pria ini, sangat tahu, menjangkaunya susah, ketemu di club malam saja tak tersentuh bahkan bayangnya, tapi sekarang, kenapa tiba-tiba berada di kamarnya.


Apakah mereka sudah saling kenal?


Apakah Ara meninggalkan hal yang menarik selama ia berpiknik ke Joseon sana?


Ahhh, pasti puteri Hwa itu yang tahu akan hal ini...


Dan...


Tunggu dulu


Ara baru sadar, ya baru menyadari....


Pria ini.... bukankah putera mahkota????

__ADS_1


Pria itu terkekeh, mengetahui Ara dari tadi menggunakan kosakata formal padanya. “Iya, aku merindukanmu, Ara-ya.”


__ADS_2