100 Hari Menjadi Puteri Joseon

100 Hari Menjadi Puteri Joseon
Salad, dan ketiga sepupu puteri Hwa


__ADS_3

Ara tengah menatap hidangan di hadapannya.


Rapi


Cantik


Instragamable


Cocok dah buat di bawa foto-foto


"Ayo, puteri." Ajak salah satu dari ketiga sepupu puteri Hwa yang berhanbok krem dengan rok biru tua bunga bernama puteri Yi, dan yang di depannya berhanbok atasan berwarna merah muda dengan rok biru muda bunga bernama puteri Mi dan di sisi kirinya berhanbok atasan krem dengan rok kuning menyala dan juga motif bunga merah bernama puteri Hwi.


"Ok." Jawab Ara semangat


Ketiganya memandang Ara heran, puteri itu berkata apa lagi.


Sadar akan tatapan itu, Ara terkekeh, "Maksudnya mari semua." Lanjut Ara lembut.


Padahal dalam kesehariannya, Ara pun bisa menjadi kucing yang manis. Tapi, rupanya kelembutan itu tidak ada apa-apanya dengan kehidupan istana.


Ok, ia harus berusaha keras.


"Oh." Sahut ketiga sepupu puteri mengangguk paham.


"Puteri, kenapa anda tidak menyentuh makanan yang lain, dan hanya memakan sayuran yang..." Puteri Hwi berkerenyit kala melihat Ara hanya mengunyah sayuran yang terdiri dari kubis, wortel potong, tomat serta irisan jeruk dan potongan buah, dan pesanan Ara tadi yang mengatakan hanya taburan garam.


"Oh, kenapa.?"Tanya Ara balik heran. Tidak ada yang salah dengan saladnya, toh memang begini bentuknya.


"Bukan apa-apa, hanya saja...." Lanjut puteri Hwi yang terjeda kembali.


Paham, Ara mengangguk, "Aneh??" Jawab sekaligus tanya Ara, membuat ketiga puteri itu mengangguk walau kemudian mereka menggeleng, ayolah, yang mereka bantah ini puteri seorang Raja. Mana berani melanjutkan.


"Ini, makanan untuk membuat tubuh tetap langsing." Jelas Ara.


"Langsing?" Tanya ketiganya serempak, tak paham.


"Tidak gemuk." Tambah Ara, membuat mereka menjawab dengan ber 'o' ria berbarengan.


"Apakah enak.?" tanya puteri Li penasaran. Bagaimana mungkin sayur mentah itu begitu lezat tanpa daging di dalamnya.


"Iya, apakah enak.?" Tambah Puteri Mi tak yakin dengan yang disantap Ara.


Ara mengangguk, "Tentu saja enak, terlebih bisa membuat tubuhku sehat dan cantik nanti." Bangga Ara.


ia sebenarnya bingung mengatakan perihal wajah, karena kondisi si pemilik tubuh jelas buruk rupa.


Dan


Benar saja


Ketiganya tertawa bersama


Merasa lucu dengan kata puteri Hwa.


Cantik?


mana bisa


"Saya mau cicip, boleh puteri Hwa?" celetuk puteri Hwi, ia benar-benar penasaran di buatnya.

__ADS_1


Ara memajukan mangkuk berisi salad yang hampir habis itu.


Dan Puteri Hwi, mengambil sedikit sayuran dan memasukkannya pada mangkuk kecil di sisinya.


Lalu


Pelan


Ia memindahkan sayuran itu masuk ke dalam mulutnya.


Ok, kedua sepupu puteri yang lain menatap penasaran kelanjutan dari kunyahan itu.


Apakah memang seenak itu.


Atau


Justeru tak enak.


Dan


"Enak, ini segar sekali." Ucap puteri Hwi memuji makanan Ara. Padahal hanyalah sayuran dan buahan mentah saja. Kok bisa?


"Benarkah?" Celetuk puteri Mi dan Li. Lalu meraih satu Sumpit sayuran dan, ......


Mereka juga memuji hal yang sama..


Ara terkekeh geli. Bagaimana bisa, makanan sehat untuk perempuan itu tak dikenal di zaman ini.


"Baiklah, rasanya enak, Hanya saja, wajah puteri, saya tak yakin jika bisa kembali semula hanya karena sayuran mentah ini. Iya kan?" Ucap puteri Hwi dengan wajah yakin, dan bernada sinis.


Ditanggapi serupa oleh kedua puteri yang lain.


Apa kata puteri sinis itu, ayolah, Ara tak salah dengar kan.


Seperti semula kan katanya tadi? artinya... Puteri Hwa pernah cantik dan wajahnya juga sama mulusnya dengan mereka.


Baiklah, Ara akan mencari tahu lagi.


****


Di kediamannya.


Ara mengetuk meja dengan jarinya... Pikirannya tak henti berkelana.


Dari dirinya yang terdampar di masa ini, sampai mengapa bisa masuk ke tubuh puteri kerajaan yang penuh misteri.


"Tuan puteri, anda sedang memikirkan apa.?" Tanya Dayang Han yang menatap Ara sedang berpikir sambil mengerutkan dahi dalam.


"Ohh, kepo deh kamu." Jawab Ara mencebikkan bibirnya.


Dan mari, bayangkan melihat eksprsi dayang Han.


Cengo abis dia. Kata apa lagi itu, Ki?? ke? atau apa tadi kata si puteri itu.


Brakkk!!!


Ara memukul keras meja tempatnya menopang tangannya itu.


Membuat dayang Han berjengit kaget. Belum lepas penasarannya akan apa yang dipikirkan, sekarang kaget dengan aksi si puteri.

__ADS_1


"ke-kenapa puteri.?" Tanya dayang Han gugup.


Ara menatapnya intens. Bahkan gadis itu memajukan tubuhnya agar lebih mendekat pada si dayang. Meski terhalang meja, tapi ia cukup bisa membuat jarak mereka cukup terjangkau.


"Kamu... Sudah berapa lama melayaniku.?" Tanya Ara menginterogasi.


Dayang Han tertegun, kenapa dengan puteri ini... Apa ada yang salah dengan puteri??


"Apa tuan puteri lupa?" Tanya dayang Han


Lupa? Maksudnya apa?


Oh Gosh, Ara lelet sih loadingnya. Banyakan makan micin nih.


"Mungkin karena terbentur hari itu." Ara menggaruk tengkuknya gatal, berusaha mencari alasan, ayolah, tentu dayang itu curiga kan.


Namun, si dayang ber 'O' ria. Bisa jadi puterinya terbentur keras waktu itu.


"Tapi puteri tidak apa-apa kan.?" Tanya dayang Han khawatir.


Ara mengangguk, lalu kembali bertanya hal yang sama sebelumnya, perihal lama waktu dayang melayaninya.


"Dari usia anda 10 tahun puteri." Jawab dayang Han


Sekarang usia puteri Hwa berapa? Apa seusia Ara yang sudah 27 tahun itu.


"Usia saya berapa sekarang.?" Tanya Ara penasaran.


"Anda 16 tahun puteri." Jawab dayang Han lagi.


What!!! 16 tahun? beda 11 tahun, dan si puteri sudah di jodohkan dan akan di nikahkan di usia muda ini...???


Artinya, puteri ini akan melahirkan dan punya anak,...


Ara bergidik ngeri membayangkannya.


Terlebih jika puteri harus melayani pria yang lebih dewasa katanya.


Dia saja yang sudah melepas keperawanannya saja merasa sakit saat usianya sudah matang, dan ini? masih usia sekolah tentunya jika ada di zaman Ara.


"Baiklah, selama kamu melayaniku, apakah wajahku memang seperti ini.?" Tanya Ara lagi dengan wajah serius kali ini.


Dayang Han kaget, benar saja. Pasti ada yang salah dengan puteri di hadapannya ini.


Ia akan melaporkannya pada Ratu nanti.


Dan melakukan pengobatan bagi si puteri.


Menjawab pertanyaan puteri-nya, Dayang Han mengangguk pelan.


"Apa?? jadi aku pernah cantik?" Tanya Ara bersemangat.


Tentu saja ia yakin demikian, karena, bibit dari raja dan ratu saja sudah paten bagus gitu, buktinya saja putera mahkota yang ketampanannya sudah terjamin. Jadi, tentu puteri Hwa tak kalah rupawan lagi.


"Iya, bahkan, tuan puteri sangat cantik, tapi..." Jeda lama. Dayang Han seperti merasa berat melanjutkannya.


"Tapi kenapa? Apa ada yang terjadi?" Ara bertanya tak sabar.


"Sejak kejadian pagi itu, wajah puteri... menjadi begini, malah terlihat parah, puteri." Jelas dayang Han.

__ADS_1


"Pagi? pagi itu? ada apa dengan pagi itu. Jelaskan!!!" Teriak Ara keras,


__ADS_2