
"Yang-yang mu-mulia."
Dayang Han mendapati puteri Hwa sudah duduk dengan matanya tepat mengarah lurus ke pintu yang baru saja terbuka, dan sepertinya netra itu memang sudah dipersiapkan menanti dan melahap siapapun yang berani melangkah masuk.
Dan yang sialnya,... Itu Dayangnya sendiri, Han-ah, si labil.
"Kenapa berdiri di sana, dayang Han. Kau tidak akan masuk?" kalimat pertama yang menyambut dayang Han yang tengah mematung, dengan raja ada di belakangnya.
Sama-sama tak aman, bukan?
'Oh para leluhurku, selamatkan nyawaku, aku hanya yatim piatu miskin.' batinnya berdoa.
"I-iya, yang mulia."
Sementara Ara tentu tak melewatkan sosok ayah puteri Hwa yang membayangi tubuh dayang Han.
"Yang-yang mulia, paduka raja." Ara sok merasa gugup ketika raja sudah terlihat jelas wujudnya masuk ke ruangan puterinya.
"Duduklah, tidak perlu memberi hormat dan menyambut." Raja menggerakkan telapak tangan dengan 4 jari di lambaikan ke bawah, mengarahkan agar puteri Hwa tetap duduk.
Menurut. Ara yang baru saja separuh badan hendak berdiri, duduk kembali.
"Apakah aku diperbolehkan masuk karena aku adalah raja, puteri Hwa??"
Menggerakkan kepala puteri Hwa ke kiri dan kanan.
"Tidak, yang mulia."
"Lalu, aku masuk bukan karena keterpaksaan kamu menerima, bukan?"
Lagi. Menggeleng.
"Anda, eh, kau adalah ayahku, raja. Sebagai seorang ayah yang begitu mencintai puterinya, sungguh tidak tahu diri jika aku menolaknya, bukan?"
Dan sungguh juga, Ara merasakan gemuruh hebat di dalamnya, bagaimana tidak, ia tak pernah sekalipun, merasakan hangatnya cinta dari seorang ayah dan ibu.
Meloww.
Tes, tes...
Bulir bening itu, jatuh.
"Hwa-ya?"
"Puteri Hwa"
Baik raja dan dayang Han heran dan terkejut melihat puteri Hwa sudah membasahi wajahnya.
"Ada apa, Hwa-ya? apakah ayahmu yang bodoh ini mengganggu istirahatmu?" raja meneggakan punggungnya, mendekati puteri Hwa setelah menggeser meja yang menghalangi mereka berdua.
Menggenggam tangan puterinya.
__ADS_1
"Ayah...!!!! Huaaaaaaa." isak itu kini berubah menganak sungai bahkan sudah ada volume serta iramanya.
Raja tertegun mendapatkan pelukan dari puterinya. Bagi Ara, di zamannya tidaklah aneh anak dan orang tua saling memeluk tubuh, bahkan ada yang mencium pipi, dahi dan tak jarang juga mencium bibirr anaknya tanpa dasar nafsu tentunya.
"Puteriii." dayang yang melihat dari luar pintu, ikut larut dengan drama di dalam. Tak kuasa menahan gelombang tangis haru mereka. Berlaku juga bagi dayang Han.
"Hwa-ya. Tenanglah, apapun masalahmu, ada aku sebagai ayahmu, dan juga kakakmu, bukan?"
"Iya, dan kami berdua adalah pria terkuat yang tentu bisa melindungimu, bahkan membantumu menyelesaikan masalah."
Suara putera mahkota merangsek masuk, saat dirinya yang sebelumnya sudah lama berdiri di luar bangunan, menunggu masuk.
Ia tahu ada larangan tamu berkunjung, melihat permaisuri yang berpapasan dengannya saja menyatakan hal serupa, ia nyaris kembali, namun kehadiran raja membuatnya yakin, ia bisa masuk.
Benar saja, mendapati sosok ayahnya tak jua kembali, meyakinkan putera mahkota bahwa ayahnya berhasil menerobos larangan itu, entah dengan ancaman apa, ia tak peduli.
Kini....
Ia sudah bisa melangkahkan kakinya, menuju dua orang manusia yang berpelukan hangat.
*****
"Aku mendengar jika, dirimu mengunjungi villa itu lagi, Hwa-ya. Apa yang kini tengah kau cari di sana?"
Sosok tampan, rupawan dan pesonanya yang selalu bisa mengalahkan pembatas tinggi seorang Ara. Yang tersisa bersamanya di ruangan puteri Hwa.
Raja sudah pulang setelah selesai melakukan pengambilan gambar drama keluarga antara ayah dan puterinya.
"Wah, kau sangan up to date, oppa." seloroh Ara merobek lembaran kertas menjadi kecil-kecil.
Menepuk dahinya keras.
"Apa gue berdosa besar ya, mencampur adukkan bahasa di zaman yang belum terlalu paham akan bahasa itu. Hangeul pun masih yang lama." gumam Ara, tapi mampu terdengar di telinga putera mahkota.
"Hangeul? Kenapa dengan tata bahasa kita, Hwa-ya.?" lagi, pria itu menanyakan sesuatu yang berbeda.
"Ah, bukan apa-apa, oppa." sahutnya.
Tubuhnya merasa panas, menoleh. Benar saja, ia tengah ditatap intens oleh lawan bicaranya.
Yang sepertinya meminta penjelasan atas kata absurd yang berulang di muntahkan Ara.
"Aku bersungguh-sungguh, oppa. Aku tak mengatakan hal yang penting." jawab Ara mengerucutkan bibir puteri Hwa.
"Dan maksud ku tadi. Kau begitu cekatan memperoleh informasi perjalananku hari ini." lanjut Ara.
"Bukankah kita berpapasan dan aku sudah mendengarnya banyak sekali sedari tadi. Dari permaisuri hingga....."
"Apa???? Oppa sudah sejak tadi berkunjung? Dan tak melapor pada dayangku?" potong Ara terkejut.
Pria itu mengangguk.
__ADS_1
"Kenapa tidak mengabarkan kedatanganmu?" tanya Ara.
"Permaisuri saja tertolak, bukan?"
"Dan, ya.. Aku juga sempat menguping, perkataan dayang Han yang mengatakan jika selain ratu, raja, permaisuri, aku pun termasuk yang dilarang masuk, kau tega sekali, Hwa-ya." keluhnya.
"Hehehe, aku lelah sekali."
"Aku memang pergi ke villa itu. Dan...."
Menatap lekat putera mahkota.
"Apakah kau juga mengetahui, mengenai berbagai hal yang tersembunyi di bangunan itu? Putera mahkota?"
Yang ditanya membalas menatap puteri Hwa.
Degab degub gab gab gub gub gub...
Bunyo jantung puteri Hwa dirasakan Ara saling bergulat di dalam sana.
Sialann!!!!!
Ini yang Ara rasakan, atau puteri buruk rupa ini pula merasakan?... Kalau iya, Ara tak terlalu malu tentunya.
Ara membuang muka dengan canggung. Tangannya mengepal di bawah meja, menjalin jemari yang membuktikan ia gugup.
"Bukankah. Kau harusnya paling tahu dalam hal ini, Hwa-ya.??" pria itu tetap menahan matanya memindai puteri Hwa. Dirasakan begitu jelas oleh Ara. Bahwa tubuh yang ia gunakan ini, seolah memanas dan bergelenyar aneh war biasyahhh.
"What the fu--!!! gue kenapa lebay banget sih???!!!. Please, gue ini laris manis di dunia sana. Masa' timbang cowok satu gini doang, jantung yang gue gunain kayak mau meledak." gerutu Ara.
"Kau bicara apa, puteri Hwa??" putera mahkota juga menjadi saksi bibir itu sedari tadi berkomat-kamit tak jelas. Kalaupun terdengar, dirinya tak mengerti gadis itu mengucapkan kata apa.
"Apa kau hanya datang untuk penasaran apa yang aku cari....."
"Dan juga penasaran apa yang aku dapatkan dari bangunan itu, putera mahkota??" Ara berujar dengan wajah beredar ke mana-mana. Masih belum bisa menstabilkan deru sialan dalam tubuh ini.
"Hwa-ya!!!" panggil putera mahkota, mengalihkan jawaban yang harusnya ia ucapkan.
Mendengus..
"Bukan itu yang aku ingin dengar, putera mahkota." ucap Ara tetap belum siap membalas pandangan pria itu.
Ia yakini bahwa, wajah yang jiwanya entah berada di mana kini, pasti akan merona bak udang rebus. Merah...
"Hwa-ya.!!" lagi, ia dipanggil.
Tetap tak menoleh.
"Ara!!!" satu nama itu, meloloskan mata indah itu tertangkap netra hitam legam putera mahkota.
"Bukankah, kita yang tahu apa yang ada di dalam bangunan villa itu, bukan??"
__ADS_1
"Karena kau tahu sendiri, jika kita....."
"Berbagi rahasia yang sama."