100 Hari Menjadi Puteri Joseon

100 Hari Menjadi Puteri Joseon
Ucapkan Kata TOLONG


__ADS_3

Mendengar ucapan yang keluar dari bibir Ara, baik Kim Hee Sin juga Hana bengong berjamaah


Tidak kah kata-kata mengerikan tadi terbilang cukup santai diucapkan. Seolah sudah biasa menemui hal itu?


Ya. Tentu tidak heran, jika kalian berada dalam situasi dan alam Puteri Hwa, yang selalu dihampiri sapaan hangat dari malaikat maut melalui tangan-tangan oknum yang suka sekali memburu dirinya di sana.


Entah jika di dunia Ara, yang mampu menyaingi hal itu, jika sekelompok mafia gila mengincar dirinya.


Bisa jadi seperti itu perbandingannya.


"Kenapa dengan kalian?" puteri Hwa, menatap heran Hana dan juga Kim Hee Sin.


Apa ada yang salah dengan penampilannya?


Ahh tidak, Ara sangat cantik menurut penilaian puteri Hwa, tak salah dan tak menyesal dirinya terperangkap di dalam tubuh gadis ini.


"Ti-tidak apa-apa, Ara, eh Hwa." sahut Kim Hee Sin.


"Bos, kita akan bersiap-siap menemui klien, ayo." sayup suara di ujung panggilan membuat puteri Hwa tertegun.


Suara siapa itu? Mana wujudnya?


"Hwa, aku akan menemui klien, jadi nanti aku hubungi lagi, ok?" tutur Kim Hee Sin.


"Hah?" puteri Hwa belum paham


"Baiklah tuan Kim, kami akan mematikan panggilan." Hana, menyela panggilan, kepalanya menempel di sisi samping kepala Ara, lalu...


Klik.


Panggilan di matikan.


"Eh, mana orabeoni?" puteri Hwa panik saat benda yang ia pegang berubah menjadi tampilan wajah Hana dan gadis yang memiliki tubuh ini.


"Dia sibuk Ara. Nanti saja kita hubungi lagi." sahut Hana yang menuangkan air ke dalam gelas bening di atas meja samping brangkar.


"ooo." hanya itu jawaban puteri Hwa.


"Nanti sore kita akan pulang. Bersiap-siaplah." ucap Hana yang kini membuka toples kecil lalu mengulurkannya pada sahabatnya.


"Nah." lanjutnya.


"Apa ini?" puteri Hwa masih belum tahu benda yang terbungkus sesuatu yang bening dalam benda bulat yang diulurkan Hana.


"Manisan kesemek. Kau kan sangat menyukainya, dan juga ini " Ia menambahkan sekotak susu pisang yang juga disukai Ara tentunya.


"Ini manisan kesemek?" tanya puteri Hwa tertegun memandang bungkusan yang sudah berada di dalam genggaman. Lalu tatapannya beralih pada benda lain dengan pisang sebagai gambarnya.


Gambar apa itu?


"Itu apa?" tanyanya lagi, mengalihkan pada sekotak susu pisang.


"Ini? Susu pisang, bukankah salah satu minuman favoritmu?" Hana menjawab sekaligus melempar tanya ketika menatap Ara yang terlihat bingung.


Hingga tebakannya...


"Kau lupa soal susu pisang?" lanjut Hana melongo.


"Susu pisang? Susu tahu, tapi pisang itu apa?"

__ADS_1


"Pisang, itu, buah pisang." jawab Hana pelan.


"Pisang? Nama buah?" heran, puteri Hwa mendengarnya.


"Iya, buah pisss..... Lo juga lupa buah pisang!!!!????!!!!" pekik Hana kala berasumsi si Ara juga melupakan perihal buah tersebut.


"Aku tidak tahu, aku belum pernah melihatnya." begitu jawaban enteng yang dilontarkan lawan bicara Hana.


"Ya Tuhan!!!" Seru Hana menggelengkan kepala.


Tidakkah hal itu justeru sangat kelewatan?


Apakah orang yang amnesia bisa sampai melupakan perihal buah?


Memang, buah ini bukan komoditi asal Korea, tapi, buah-buahan ini juga termasuk salah satu bahan minuman komoditi produk favorit rakyat Korea?


"Segitu parahnya ya." gumam Hana menilai.


"Maksudmu apa? Memang tidak ada di tempatku buah pisang." balas Puteri Hwa menatap penuh selidik.


"Terserah." pasrah.


"Nih." lagi, Hana menyodorkan minuman tersebut.


"Iya." Diraih setelah sebelumnya sedotan untuk menggapai cairan di dalam kotak susu sudah ditancapkan oleh Hana


Ya kali sahabatnya lupa cara meminum kan? Jadi dia harus inisiatif dulu.


"Lalu aku harus bagaimana?" Ia bingung setelah Hana menyodorkan susu pisang padanya.


Ini mau digimanain?


"Sini, lihat aku." Hana mempraktekkan langsung tutorial meminum susu pisang.


Anggap saja ia mengajarkan seorang bocah baru lahir di sini.


Puteri Hwa mengikuti cara yang dicontohkan oleh Hana dengan pelan.


Hingga.


Srup!!!!!


Puteri Hwa memasukkan benda berwarna putih ke bibir Ara lalu menyeruput isinya.


Ekspresinya.


Diam


Hening


Mengedipkan mata beberapa kali.


Bibir saling mengatup, sesekali lidah mengelap bagian sudut bibir yang menyisakan minuman tersebut.


"Mmmmh, apa namanya tadi? Susu pisang?" ujar puteri Hwa pada Hana yang memperhatikannya sedari tadi.


Mungkin Hana sedikit tak percaya dan ingin membuktikan amnesia parah sahabatnya yang lupa perihal cara meminum susu pisang.


Hana menggangguk. "Iya." jawabnya.

__ADS_1


"Mhhh, enak. Ini sangat enak." ujarnya menyereput kembali susu pisang yang ada di genggamannya.


"Kau menyukainya?" tanya Hana menilai antusias Ara akan susu pisang.


"Iya, sangat." jawab puteri Hwa.


Jelas saja dia suka, kan memang favoritnya.


Srekkkk.


Suara bungkus manisan kesemek di sobek oleh Hana.


Jaga-jaga, siapa tahu si Ara juga melupakan cara membuka bungkus makanan. Jadi, daripada ia bertanya dengan kalimat konyol, lebih baik mengikuti saja arus amnesia itu.


"Lihat aku." Hana lupa mengajarkan tutorial membuka bungkus makanan.


Jadi, jika suatu saat Ara akan membuka lagi. Ia tak perlu sibuk mencarinya atau bingung sendiri.


Puteri Hwa kembali memperhatikan dengan lamat-lamat. Ia memang antusias dengan ragam keanehan dan keajaiban dunia ini.


Banyak hal baru yang tak ia jumpai di dunianya sebagai seorang puteri.


Terlebih buah pisang.


Kenapa di Joseon sana tidak ada buah itu, apakah kerajaan belum menemukan?


Entahlah.


Pastinya ia menyambut riang hal baru tadi, berikut kekagumannya akan paduan susu yang dicampur dengan buah pisang.


Ahhh, ia jadi penasaran dengan rasa asli dari buah tersebut. Dari gambar yang tertera di kotak yang ia pegang, ia menduga buah berwarna kuning itu pisang.


Dari rasa susu tersebut, ia memang tidak bisa memastikannya, karena yang nampak hanya cairan kuning, yang setahunya susu hanya berwarna putih dan hanya memberikan rasa manis, tapi minuman susu kali ini menyisakan sedikit aroma lain.


Mungkin itu karena campuran pisang. Benak puteri Hwa mengandai.


"Emmmmh. Hana." pelan, puteri Hwa memanggil Hana yang sudah sibuk dengan ponselnya.


"Hmm, iya." tanpa menoleh, ia hanya menyahut panggilan Ara.


"Aku mau merasakan buah yang ada di dalam susu ini." entah itu permintaan atau justeru sebuah perintah.


Pastinya Hana merasakan nada lain dalam ucapan itu.


Yang menuntut dirinya untuk memenuhi.


"Kamu meminta atau memerintahku?" Hana kini mengalihkan pandangannya dari ponsel ke wajah Ara.


Puteri Hwa yang sepanjang hidupnya selalu mendapatkan apa yang mau dengan kalimatnya saja, tanpa mengindahkan kesulitan yang disuruhnya.


Tentu saja akan menjawab, "Perintah." santainya menjawab.


Hana mengerutkan dahi.


Apa katanya tadi? Memerintah?


"Kenapa memerintah? Kau biasanya selalu mengawalinya dengan kata TOLONG." Tekan Hana pada kata terakhir.


Memang begitu kebiasaan seorang Ara. Pantang menyuruh asal, ia menghargai kemampuan orang yang dimintai bantuannya.

__ADS_1


Tolong? Tidak, ia tidak pernah mengucapkan kata itu, meskipun lawannya pernah menyuruhnya memohon mengampuni nyawanya, ia lebih memilih bertarung dan bertaruh nyawa daripada mengucap kata itu.


"Kau harus ucapkan kata TOLONG baru aku penuhi." pungkas Hana


__ADS_2