100 Hari Menjadi Puteri Joseon

100 Hari Menjadi Puteri Joseon
Pembalasan 1 (Ara vs Kim So Yoon)


__ADS_3

Putera mahkota yang menangkap raut serius pada wajah puteri Hwa, segera meraih tangan gadis itu, dan mendekat pada sisi kepalanya.


"Apa salah satu dari mereka membuatmu tak nyaman?" Tanya pria itu, membuat Ara terjengkit seketika.


Kapan pulak babang tamvan ini nyampirin telinganya cobak? Eh telinga puteri Hwa maksudnya. Tapi kan getarannya sampe juga ke Ara kali.


Mau menoleh, tapi khawatir ntar nie biboh nangkring di pipi ni cowok. Ara sontak mendapat sinyal sialan dari jantungnya yang mulai berpacu.


"Hah!!" Reaksi konyolnya. Membeku akan kedekatan pria ini.


Sialan lo putera Mahkota!!!!


"Apa mereka membuat hatimu sakit? Dan aku harus menolak mereka? Kalau iya, akan aku lakukan puteri Hwa." lanjut pria itu.


Please, siapapun itu. Tolong seret cowok ini menjauh dari Ara. Tak kuwawo ini!!!!


"Ti-tidak, op-oppa." Ucap Ara. Sialan, mulut dan lidahnya malah menegaskan kalau ia gugup.


Bisa kerjasama dulu bentaran gak sih!!! Para organ tubuh ini!!!!


Pria itu menjauh, memperhatikan sekilas wajah puteri Hwa, tersenyum.


Namun yang menangkap senyum itu justeru dua gadis yang menjadi calon puteri mahkota.


Aihhhhh!!! Mereka sekejap meleleh. Debar jantungnya dikalikan 4 kuadrat. Jelas terhipnotis. Karena ketampanan pria itu bertambah 10 kali lipat dalam sekejap.


"Baiklah. Kalau begitu mari kita ke atas." Ajak pria itu menggenggam tangan puteri Hwa.


Yaelah, ini kuping kagak ada yang denger pa ya??? Tolongin Ara dong!!! Dia gak kuat. Mana tangan kokoh ini mengantarkan gelenyar di hatinya lagi. Pleaseee, seret cowok ini!!! Racunnya bertambah parah woyy!!!


"Ke-kemana, oppa??" kembali, ia gugup.


"Bukankah, lebih baik jika kau ikut melihat lagi proses ini. Biar aku tak bosan, puteri Hwa." jelas pria sialan ini.


Menoleh, Ara sempat bengong beberapa detik. Namun. Matanya bergerak ke depan. Tepat tak sengaja melihat puteri menteri Kim tadi.


Wait!!!!


Itu mata kok tajem banget lihat Ara, eh puteri Hwa. Cemburu nie??


Fix, oke. Ara balas.


"Ayo oppa." Ara menarik pria itu untuk melangkah. Pun menarik aura mencekam dari wajah puteri menteri Kim itu.


'Gue gak tau lo punya masalah apa dengan puteri Hwa ini, tapi gue bakalan balas dengan cara gini. Hoh. Rasain' batin Ara yang merasakan punggungnya mendadak berdesir, ya... Ia tahu tengah dilaser oleh mata milik puteri menteri Kim itu. Tapi tak apa. Asalkan ia berhasil membalas.

__ADS_1


Sementara putera mahkota dengan senang hati mengikuti gadis ini menuju undakan tangga menuju atas bangunan tempat seleksi puteri Mahkota di mana rupanya sudah banyak yang datang. Sekitar lebih dari 10 orang gadis memakai hanbok berwarna merah dan putih serta dayang senior yang akan menyeleksi mereka tentunya.


"Duduk di sebelah oppa, boleh??" tanya Ara lembut. Ihhjhh sok deh lo, Ara. Hana bakalan ketawa lihat sikap sok manis ini.


Mengangguk pelan dan menebar racun senyum itu. Putera mahkota menepuk bantalan kecil di sebelahnya


yes!!!! Ara mendudukkan bokong puteri Hwa tepat di sebelah pria tampan ini.


Perhatian-perhatian!!! Attention please atuh, tolong kerjasama yang baik ya untuk organ dalam puteri Hwa.


Dan dua gadis tadi tak lama muncul. Segera menuju tempat duduk yang hanya berselisih 2 orang saja. Dan tentunya puteri menteri Kim berada di baris depan nomor 1. Yeeee pasti pakek koneksi bapaknya itu.


'Bokapnya kerja apa sih di istana?' batin Ara menyorot gadis itu sekilas.


"Ada apa, puteri Hwa.?" kembali, pria ini mendekati telinga puteri Hwa, terkejut.


"Ya ampun oppa, bisakah kau tak mengagetkan ku?" desis Ara sebal, dan itu membuat pria yang dimaksud terkekeh. Membuat banyak pasang mata menatapnya, TERPESONAHHH!!!


"Putera mahkota itu sangat tampan, tapi... Ketika aku melihatnya barusan dengan tawa kecil itu, ia bertambah sangat sangat tampan." Celetuk salah satu gadis peserta seleksi di baris dua.


"Iya, baru kali ini aku melihatnya seperti itu." sahut gadis yang ada di sebelahnya.


"Iya, dari yang aku dengar, putera mahkota itu dingin dan menyebalkan. Tapi, sekarang, ia tertawa." balas gadis lain tak jauh dari yang tadi.


Dan, yang berada di posisi pertama, sontak menambah panas ketika mendengar suara di belakangnya, pun karena adegan di depannya.


"Apa kau mengomeliku, puteri Hwa?" kini, balik lagi pada dua orang yang menjadi objek tontonan.


Ara menoleh, menatap sebal, "Apa oppa akan menghukumku, jika aku mengomeli, huh? Kau juga yang salah. Asal saja berbisik di telingaku." omel Ara lagi.


"Hahahaahaha." tawa menguar seketika di sana.


Hayolah!!! Tadi saja baru tawa kecil sudah membuat para penonton meleleh, dan ini tertawa lepas?? Bayangkan saja apa yang lebih parah dari meleleh.


Mata mereka mengunci pria itu. Seolah tak rela melepas pesona yang tidak pernah dilihat itu.


"Ada apa ini, bahagia sekali putera mahkota?" Suara permaisuri menyela dalam interaksi Ara dan putera mahkota.


"Ohh, nenek." pria itu segera menutup bibirnya, mengunci tawa tadi masuk lagi.


Sementara Ara, meski sebal tapi ia senang ketika netranya bersitatap pada puteri menteri Kim, dan gadis itu, terlihat benci.


Aishhh ini belum seberapa. Ara mau balas lebih parah. Setidaknya, kini gadis itu yang akan sakit hati pada puteri Hwa.


"Nenek." ucap Ara melihat permaisuri duduk di sebelahnya.

__ADS_1


"Kalian senang sekali? Apakah nenek melewatkan sesuatu?" tanya perempuan tua itu.


"Hanya putera mahkota yang senang, aku tidak." celetuk Ara membuat pria itu nyaris memuntahkan tawanya jika ia tidak segera menyadari banyak mata para gadis melihatnya.


"Maafkan aku, lain kali aku akan bilang dulu kalau akan berbisik." ucap putera mahkota dengan senyum kecilnya.


Dan sepanjang seleksi itu. Ara, memang tak bisa memungkiri. Para gadis yang mengikutinya memang cantik-cantik. Lebih cantik daripada peserta seleksi puteri mahkota dulu, saat Ara pertama tiba di sini.


Entah kenapa pada seleksi itu, hasilnya tak ditemui. Padahal 3 orang yang lulus waktu itu, tak jelek-jelek amat kok.


Lalu sekarang, Ara meskipun pernah melihat seleksi yang pertama itu, tapi ia ingat kalau saat itu tak ada sosok anak puteri menteri Kim ini. Kenapa baru ikut sekarang? Kemana dia waktu itu?


Ya. Jujur, Ara berniat mengacungkan 4 jempolnya kala melihat kemampuan gadis itu yang... Sempurna.


Bukan hanya wajah saja yang bisa disombongkan, tapi... Itu otak juga patut dipertimbangkan, ditambah kata mereka doi ini anak menteri di istana, kan gak adil banget rasanya, ya gak? Tuhan sedang bermurah hati waktu membentuk ini orang, kualitas grade super ini.


Meski sekarang, tak bisa Ara tolak jika gadis itu, melempar rasa benci level 3 padanya, setiap Ara berinteraksi dengan putera mahkota. Dan Ara suka itu.


Karena kini, Ara semakin bersemangat memupuk kebencian itu dengan.....


"Oppa, aku bosan." Rengek Ara menyentuh lengan pria yang tengah memperhatikan penjelasan jawaban dari puteri menteri Kim.


Menoleh, "Bosan? Haruskah kita pergi dari sini dan berjalan-jalan saja?" Jawab pria itu bernada tanya.


"Bolehkah?" tanya Ara balik melempar cengiran.


Pria itu membalas menggenggam tangan puteri Hwa. Yang sontak menggagal fokuskan puteri menteri Kim yang kini...


"Maaf, saya akan mengulangi jawabannya." Ucap puteri menteri Kim melihat permaisuri.


Eihhh, bukan karena Ara yang tengil kan??


Ya. Jelas lah. Ara kan mau membalas gadis yang katanya bersiteru dengan puteri Hwa. Dan, kini, sikap bodoh gadis itu yang tak fokus, adalah senjata Ara, bahwa putera mahkota adalah alat yang bagus untuk.....


"Ayo, oppa, aku bosan." bisik Ara di sisi wajah pria itu.


Yang tak lama, mengulurkan tangannya untuk segera pergi dari sana.


"Permaisuri, maafkan kami. Kami mau pergi dulu. Puteri Hwa pusing katanya." bohong pria itu yang berkata di sisi permaisuri.


"Ya sudah. Kalian pergi saja, minta tabib memeriksanya, putera mahkota." jawab permaisuri.


"Ayo, kita berjalan-jalan." bisik pria itu. Yang sigap berdiri, mengulurkan tangan besarnya yang tentu disambut Ara dengan mata tepat menembak puteri menteri Kim yang kini mendelik dan....


"Ada apa nona Kim, apa kau baik-baik saja?" tanya permaisuri melihat gadis itu kembali membuat kesalahan.

__ADS_1


Upsss!!! Sorry,, tapi, Ara suka!!!. Yihaaaa.


__ADS_2