
Ara yang bangun dengan posisi dan dalam keadaan yang membuat kerja jantungnya menjadi keras, menjadikannya seketika lelah.
Seperti halnya mahkluk hidup lainnya, ia beralih ke sisi terdekatnya. Pada benda persegi panjang yang di atasnya terdapat benda lain sebagai wadah air.
Haus.
"Gue haus banget,.." ucapnya sembari tergopoh-gopoh mendekati meja.
Meraih tangkai ceret porselain berwarna putih dengan ukiran bunga biru kecil mengelilinginya lalu menuangkannya pada gelas kecil di dekat ceret tadi.
Dan.. Glek glek glek
"Ahhhh, leganya." cicit gadis itu setelah selesai mereguk air dari dalam geĺàs kecil tadi.
Namun, sesaat ia sudah meletakkan kepalanya pada bantal untuk kembali berniat melanjutkan tidur.
Ara tiba-tiba merasakan panas menjalar sepanjang lidah dan terus ke tenggorokkannya.
"Arghh gue kenapa." ujarnya mendadak panik.
Namun rasa terbakar itu semakin menjadi, hingga membuatnya sontak merasa mati rasa.
Racun?
"No,... Tidak, gue, gue belum mau mati sekarang. No way.!" ara semakin gusar tat kala jalan pikirannya mengarah pada hal tersebut.
Dengan gerakan gesit. Ia memaksakan tenaganya agar mampu menggerakan tubuhnya.
Lalu.
Prangggggg!!!!!!!!
Berhasil.
Ara berhasil menjungkir balikkan meja tersebut hingga benda-benda yang ada di atasnya jatuh serta mengeluarkan bunyi yang cukup nyaring.
Sreettttt
Berhasil.
Derap kaki lantas terdengar di telinga Ara. Menoleh sebentar.
Oh God! Thank you So much.
Dayang Han yang tiba pertama kali berteriak panik kala melihat hamparan benda-benda berserakan di dekat sang puteri.
Dan tak kala histeris ketika melihat majikannya seperti meregang akan rasa sakit dengan tubuh memerah.
"Puteri Hwa!!!" Teriak dayang Han berjalan cepat untuk menjangkau sang puteri, diikuti beberapa dayang dan pengawal lainnya.
Ara, merasa bersyukur seketika, saat melihat gadis muda berbaju hijau itu tak hentinya berteriak memberi perintah pada yang lainnya untuk segera memanggil bantuan agar bisa menyelamatkannya. Meskipun ia merasa kelu dan sulit bergerak, tapi ia memberikan seulas senyum bangga pada pelayannya itu, sebelum akhirnya perlahan Ara merasakan kantuk luar biasa dan kelopak matanya menutup pelan.
"Puteri!!!!!!" teriak dayang Han, ya.. Suara teriakan terakhir yang terdengar oleh Ara, sebelum ia terlelap seutuhnya.
*********
"Hahhhh!!!!" Ara kembali terbangun sekejap. Membuka matanya yang tadi tertutup setelah insi......
Hah??? Di mana ia?? Di mana dirinya sekarang.
Ara tak henti memasang guratan bingung akan keberadaannya yang...
__ADS_1
Ruang putih, bersih dan jelas menyengat aroma seperti di....
Rumah sakit??
Hah??? Tidak mungkin kan?
Ara mengedarkan matanya ke sekelilingnya, berusaha membiarkan netranya bebas memindai sekitarnya.
"Rumah sakit" cicitnya pelan
Lalu.
"Arghgg." erangnya kemudian setelah ia berusaha menggerakan tubuhnya yang kemùdian membuatnya merasakan sakit seketika, ya, sangat malahan.
"Gue, kenapa di sini..??" Tanyanya pada diri sendiri.
Ia tak menjumpai siapapun di dalam ruang putih ini.
"Apa gue pindah alam lagi? Terus ending gue jadi puteri-puterian gimana? Gitu aja??" tanyanya lagi yang kembali pada dirinya sendiri.
Ceklek!!!
Bunyi gagang pintu terdengar tak lama dari itu.
Lalu, munculah sosok yang...
Hana???
"Hana!!" kembali suara Arà mengudara dan tertangkap jelas di telinga sosok yang barusan saja tiba itu.
"Ara!!!!!" sambutnya, tak kalah histeris melihat seonggok manusia (hehehh) yang selama ini ia jaga terbangun juga.
"Ara. Huhuhuuhu" tangis haru jelas terasa dari tubuh gadis yang kini sudah meraih Ara untuk di peluk.
Ara masih merasakan kehangatan dari tubuh gadis yang menjadi sahabatnya itu. Ya, tidak berubah. Hana-nya masih seperti yang dulu. Ia merasakan pulang ke rumah kembali.
"Hana." ucap Ara pelan. Mengelus punggung Hana dengan rasa haru tak kala sama.
"Kau, kemana saja. Kenapa lama sekali baliknya, huh?" gerutu Hana menimpali panggilan Ara tadi.
"Maen puteri-puterian gue." sambar Ara begitu saja yang lantas membuat Hana menyentil dahi Ara setelah berhasil melepaskan pelukan mereka.
"Awww sakit semprul" Keluh Ara memegangi dahinya yang barusan menjadi sasaran jemari sahabatnya itu.
"Lagian, orang serius tau. Malah becandaan aja kayak biasanya." Gerutu Hana menyikapi tingkah tengil Ara yang tak berubah.
"gue juga serius loh. Eh, bentar." Jawab Ara yang juga memasang wajah serius.
Hana melirik dalam pada bola mata sahabatnya yang sudah bangkit dari alam komanya itu.
Serius??
"Halah, iyain aja deh biar fast." ucap Hana dengan melambaikan tangannya menghiraukan daya imajinasi sahabatnya yang mungkin belum sepenuhnya otaknya bekerja sempurna.
Lah. Ara serius loh!!!!
"Eh, gue di mana sih.?" Tanya Ara yang padahal sudah jelas di mana dirinya sekarang kan.? Ah loh Ara, buang-buang energi nanyain yang bisa dijawab sendiri deh.
Hana meraih gelas yang posisinya terbalik, membaliknya lalu mengambil ceret berisi air putih dan menuangkannya.
Berbalik dan melangkah kembali pada Ara yang masih terbaring itu.
__ADS_1
"Nih, minum dulu. Biar segeran otak Lo." Kata Hana memberikan gelas tadi pada Ara yang sudah ia posisikan duduk dengan kepala ranjang yang ia naikkan.
Ara, mengerenyitkan dahi kala melihat gelas berisi air itu.
Mendadak skeptis.
Wihhh, curigaan, suuzon Looo. Kagak boleh Ara, dosaaahhhh,
"Napa mata Lo gitu, huh..?? Kurang airnya?" tanya Hana melirik Ara yang seperti bingung bercampur kesal itu. Menoleh pada gelasnya yang memang terisi hanya setengah saja.
"Gak. Cumaaa...." ucap Ara terpotong. Meraih gelas dan memperhatikannya lamat-lamat.
"Cuma paan prul." selidik Hana menunggu.
"Airnya aman kan...??" tanya Ara kemudian.
Hana tentu bingung, paan coba maksud si semprul ini.
"Maksud Lo paan sih, yang jelas lah. Ambigu taoookk." Keluh Hana gemas.
"Airnya, ini airnya aman kan. Dari racun apapun." Dan, itulah pungkasan perkataan Ara yang akhirnya mendapatkan respon dari Hana berupa...
Gelegar tawa terpingkal
"Hahahahahaha, hahahahahha." tawa Hana yang malah mengundang ekspresi cemberut di dahi dan bibir Ara.
"So-sorry beib, sorry. Beneran, gue habisin dulu ya tawa gue ini. habisnya lucu banget. Sumpah deh." tawa Hana sembari membersihkan air mata yang juga ikut mengalir di sudut matanya saking tawanya begitu keras dan puas.
"Serah Lo deh." Sebal Ara melihat tawa sahabatnya itu.
Ara kan serius,, kok di tawain sih. Ara saltoin baru tau sih Hana.
"Oke, oke, nie dah kelar kok tawanya." Ucap Hana berusaha menyimpan sisa tawanya yang masih terlihat itu.
Ayolah, hari gini bahas racun?? Gimana Hana tak merasa lucu.
"Gue serius Hana. Makanya gue nanya, karena gue juga pernah di racun di minuman." jelas Ara dengan wajah serius.
"Seriusssss!!!!, kapan???" tanya Hana memasang wajah histeris akan cerita si bar bar barusan.
"Pokoknya gue udah pernah ngerasain. Makanya gue nanya." Keluh Ara akhirnya.
Hana juga akhirnya curiga dengan air yang berada di tangan Ara. Namun, curiganya tak sebesar milik si bar-bar.
Lalu..
Happp
Glek glek glek.
"Woyyy.!!!" Teriak Ara setelah melihat Hana sudah menghabiskan airnya sampai tak bersisa.
"Nah,, perhatiin. Kalo gue keracunan, lo yang selamatin gue ya." Kilah Hana kemudian. Menaruh gelas di meja sisi kiri Ara.
Ara, tak habis pikir. Sahabatnya ini, kagak sabaran banget sih ngebuktiinnya, ntar koit baru tau rasa Lo.
Nàmun,,, hingga menit-menit berlalu.. Tak nampak tanda-tanda pada sahabatnya itu akan tumbang atau merasakan kesakitan.
apa mungkin yang ia alami selama ini hanyalah bunga tidurnya saja? Berada di Joseon? Menjadi puteri raja?? Come on,,, itu bullshit kan..??
"
__ADS_1